Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Month: March 2018

Biji

Lelaki itu berlari ke dalam rumah, tangannya digebaskan untuk meminimalisir air hujan. Siang terik, sore hujan. “Sup kacang hijau, dude.” Alex sedikit tersentak. “Bagamana kau biasa masuk? Rumahku terkunci.” “Aku membuat duplikatnya saat kau jalan-jalan ke Eropa.” “Lancang….” “Lancang kanan? Depan? Kiri?” Sam terkekeh. Alex membuka jaket dan menggantungnya di tembok. Suasana rumah yang selalu ia rindukan. Ada tawa yang hilang, tawa yang selalu menyambutnya saat ia merasa lelah. Tawa yang akan jadi pengobat lelahnya. Pelukan yang akan menghangatkannnya. Hanya Sam yang tahu berapa sulitnya menjadi dia. Hanya Sam yang bisa mengerti dia, dan hanya Sam juga yang selalu...

Read More

Angel Falls

Oh, Angels Falls…. Tepat di mana aku berdiri merasakan desiran angin, membelai halus poriku. Aku teringat akan satu wajah. Dia tersimpan dengan nyata dalam pikiranku, serta mengisi kosongnya ruang hatiku. Hempasan air yang jatuh membasahi setiap tubuhku, membalut luka yang telah tercabik. Oh, Angels Falls…. Kuhirup segala desakan pahit, dengan sabar aku menelannya. Penawar apa yang pernah kudapat selain sentuhannya. Usapan halus jemarinya di setiap derai air mataku. Angels Falls … bagai dentuman drum, jantungku terhentak setiap kehangatan tubuhnya mendekapku. Oh, Angels Falls…. Dapatkah aku tetap tinggal di sana? Menjadi miliknya sampai Tuhan berkata kami harus berhenti. Aku tidak...

Read More

Kembali ke Morova

“Dia menyelamatkan nyawaku lebih banyak daripada sebaliknya,” jawabku. Tak ingin kesal lebih jauh, aku bersandar ke pintu kereta dan kembali menerawang. “Perang sudah usai. Mestinya semua orang sudah bisa pulang, dan memulai semuanya lagi dari awal.” RD. Villam Penulis Kembali ke Morova RD. Villam Ketika aku dan Alex memutuskan untuk pulang ke utara, dengan menumpang satu-satunya kereta tua yang bisa kami dapatkan di Sarajevo, perang sudah lama berakhir. Tentu saja aku tak berharap semua kota yang kami lewati bisa kembali normal atau ramai seperti dulu, tetapi mestinya paling tidak aku bisa melihat beberapa orang—petani yang bekerja di penggilingan, wanita...

Read More