Month: April 2018

Firasat

Langit sedang tidak terang-terangnya. Angin kuat meniup gumpalan awan dan menyisakan langit biru yang tidak terang. Aku menghitung waktu, kumulai dari detik, menit, jam, hari, bulan kemudian tahun. Aku rindu.  Pesan singkat yang terkirim begitu saja padanya. Pesan yang terkirim saat tombol ‘kirim’kutekan. Aku menunggu, dan seperti dugaanku, memang tidak ada jawaban. Ngomong-ngomong ini bukan pesan rindu pertama yang kukirim. Ada lebih dari sepuluh pesan rindu yang telah dicampur pesan kabar keadaanku. Pesan-pesan itu menumpuk rapih dengan centang satu. Dan aku harap-harap cemas menunggu centang biru. Serendah itu harapanku, mencoba mengharap kelabu menjadi biru. Aku beranjak dari duduk, kuraih...

Read More

Kevin

Pagi itu kembali kudapati Kevin dengan kekasih barunya. Ia sudah berganti pacar tiga kali sejak dua hari lalu. Padahal baru kemarin sore saya lihat dia sedang berasmara di kebun belakang rumah yang entah sejak kapan sudah menjadi wilayahnya untuk membuang sperma. Langkahnya sombong dengan wajah mendongak, kadangkala ia menengok ke belakang, memastikan pacar barunya tidak tertinggal oleh langkahnya yang tegas dan berjarak-jarak. Tidak peduli tatapan orang dan tetangga, ia tetap berjalan angkuh. Banyak sudah orang mengatakan kepada saya, untuk tidak lagi bergaul dengan Kevin, termasuk orang tua saya. Katanya, kevin itu sangat berbahaya, dia juga jorok, jarang mandi dan...

Read More

Ramuan Satu

Tabung reaksi yang kini berderet di rak kayu mungil ditatap olehnya. Setiap rak kayu mungil itu dapat menampung sepuluh tabung reaksi. Sementara itu, tangan sang pemuda dengan cekatan menyortir penataan rak mungil berdasarkan warnanya. Dia berdiri, melangkah ke kiri ke kanan bersama irama cekatan tangannya. Larutan dengan warna merah diurutkan berdasarkan gradasi warna. Demikian pula dengan warna lainnya. Pemuda itu tidak terlalu menyukai sesuatu yang tidak teratur serta nampak berantakan. Pipet, labu ukur, erlenmeyer, dan semua tertata rapi pada rak kayu itu. Tuntas dan rapi. Semua ramuan itu dia yang membuatnya. Ramuan dengan berbagai macam fungsi dan tertata rapi...

Read More

Surat 3 & 4

Catatan: Dua surat ini adalah surel yang dikirim ketika Pacar sedang ada di perjalanan. Masih juga bicara tentang rindu. Beberapa surat ada yang dikirimkan lewat pos dan kadang sambil mengirimkan barang-barang lain. From: anne.of.green.gables@gmail.com To: giant.brave@xxxxx.com Gian sayang, Kamu bicara tentang rindu seolah benar kamu tahu rasanya. Seperti orang yang menahun menahan dan rasa itu pun berubah jadi rindu-dendam. Aku setuju kalau rindu itu lebih dibanding kangen yang hanya selintas-lalu rasa ingin untuk bertemu atau bersama. Aku kangen terus denganmu. Tapi tidak dengan merindukanmu. Dilan benar, rindu itu berat—tapi aku kuat. Bukan tidak ingin aku merindukanmu, bukan. Hanya saja,...

Read More

Satu: Arya (Bagian-1)

Namanya Arya dan semua orang memanggilnya begitu kecuali aku karena huruf ‘r’ terlalu sulit dibaca. Aku memanggilnya Yaya. Dia memintaku untuk tidak memanggilnya seperti itu di sekolah dan aku selalu pura-pura tidak ingat. Rumahnya ada di ujung depan gang, dengan halaman, dan jalan setapak dari batu-batu kali kecil yang memanjang dari pagar sampai ke depan teras. Aku suka berjalan di atasnya. Bunyinya renyah. Apalagi kalau kami berlarian. Lebih dari itu, aku suka karena dia sering bawakan batu-batu itu ke rumahku—yang ada di dalam gang, lebih kecil, sempit, tanpa halaman, dan tanpa setapak dengan batu-batu. “Ini bisa untuk bakso,” katanya....

Read More