Month: April 2018

Resep Satu

Layar monitor masih berkedip beberapa kali. Cassie masih terpaku menatap kata demi kata yang terjalin di surelnya. Rasanya ingin menangis, tetapi untuk apa? Ditolak lagi setelah sekian puluh tes dijalani. Ini sudah yang kesekian kalinya, jadi untuk apa menangis. Menangis untuk hal besar saja dia jarang. Cassie menarik napas lalu membuka kertas pembungkus burger yang tadi dibelinya di kedai pinggir jalan. Jemarinya masih terus bergerak lincah membuka satu tab ke tab lain untuk membaca berita gosip. Gosip di salah satu laman tentang Kylie Jenner yang menerima kritikan dari fans di sosial media setelah meninggalkan bayinya demi menghadiri pesta di...

Read More

Surat 1 & 2

Gian sayang, Jakarta mendung sejak kemarin tapi hujan enggak turun-turun. Bagaimana dengan di kotamu? Dua minggu setelah pertemuan kita yang terakhir itu, kota ini rasanya berbeda. Kamu percaya enggak kalau satu-dua hal yang terjadi padamu bisa mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu? Misalnya, pagi ini, sewaktu aku berjalan di jembatan penyeberangan di depan Gramedia Matraman, rasanya … langit jadi lebih muram, mobil-mobil di bawah jembatan itu berjalan lebih pelan, dan toko buku yang biasanya tampak megah itu, anehnya, menjadi sunyi. Aku berhenti tepat setengah jalan. Mengeluarkan ponsel dan hampir saja mau meneleponmu, tapi kuurungkan. Apa yang mau aku katakan? Bahwa...

Read More

Prolog

Undangan itu aku letakkan di sebelah toples kastangel yang isinya tinggal setengah. Aku masih ingat, di ruang tamu ini, beberapa tahun yang lalu, aku juga meletakkan sesuatu di sebelah toples kastangel. Undangan pernikahan juga, sama seperti hari ini. Sayangnya, itu bukan undangan pernikahanku. Waktu itu, dia menatap mataku dalam-dalam dan berkata bahwa semua sudah berakhir. Aku dengan bodohnya bertanya, apa yang berakhir? Bukannya menjawab, dia malah mendorong undangan itu ke arahku dan bicara tentang hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin aku tahu dan dengar; jawabannya. “Kastangel itu asalnya dari bahasa Belanda. Kaas, keju. Terus stengel,...

Read More

Suicide Mission

Sisa kenangan yang terkubur di dalam memori masih saja menghantui diriku pagi ini. Ya, tepat di bulan ini satu tahun lalu kita bertemu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku ada seseorang yang berani menghunuskan sebuah pedang padaku. Bukan hanya itu saja. Dalam sejarah kerajaan, tak ada satu pun yang bisa membantingku hingga jatuh ke tanah. Tapi dia bisa melakukannya. Padahal dia hanya seorang gadis. Secara harfiah, aku yang memiliki postur tubuh kekar seperti ini tidaklah mudah untuk dijatuhkan oleh seorang gadis kurus seperti dia. Tapi, nyatanya dia bisa melakukannya. Ya, dia bisa membalikan keadaan dan membuatku tersadar bahwa kekuatan fisik...

Read More

Ternyata, Kamu

“Heh, jelasin apa salahku?” Rahang atas dan bawah yang agaknya menyatu, disusul bunyi-bunyian akibat gigi yang beradu, nafasnya kembang kempis tidak teratur, kasar, area hidung menjalar pipi hingga mata terlihat agak merah karena kesan eksotis sedikit menyamarkan, ngarai beningnya dan pusat pekat yang menatap tajam. Entah apa artinya. “Jelasin di mana salahnya aku. Aku cuma mau ngobrol. Jawab! Jangan diem!” Ini semacam intimidasi, tepat sebelum membalas, kusempatkan membaca sekitar. Dari arah yang berlawanan, ternyata hampir semua penghuni kelas berkumpul, menatapku, oh … atau orang di depanku. Aku seakan tersadar menjadi pusat perhatian dan itu menjengahkan. “Diem lagi, jawab, Ra.”...

Read More