Month: May 2018

Surat 13 & 14

Gian sayang, Beberapa hari kemarin, bukan hari yang baik buatku—dan mungkin juga akan jadi hari yang enggak baik buatmu karena aku membuka surat dengan cara seperti ini; dengan langsung mengatakan bahwa semua enggak baik. Aku enggak suka kita bertengkar. Itu saja. Walaupun pada kenyataannya, kita sering bertengkar. Masalahnya hanya berputar di situ-situ saja. Tentang ekspektasi. Memang pada akhirnya, jika bicara tentang relationship, maka kita akan bicara tentang ekspektasi. Apa yang diinginkan tiap pihak dari relationship yang mereka bangun. Begitu juga dengan kita. Mungkin ini juga pentingnya relationship itu perlu diberi label—dan kamu pernah bilang bahwa kamu enggak suka dengan...

Read More

Resep Tiga

Saat mobil mendekat bersamaan dengan suara klakson yang menderu nyaring menembus kegelapan malam. Napasnya terhempas keluar saat seseorang menariknya berdiri—ah tidak, memaksanya berdiri. Lebih tepatnya menghempaskan tubuhnya hingga dia nyaris memekik saat merasakan tubuhnya melayang sesaat di udara. Namun, dia belum bisa berekasi saat benturan di punggung benar-benar membuat tulangnya terasa ngilu. “Kau ingin membuat kita terbunuh!” Pemuda itu berteriak. Cassie hanya bisa mengerjap saat melihat kendaraan itu melintas dengan cepat di bekas tempatnya terjatuh beberapa detik lalu.  Bukan hanya mobil, akan tetapi truk angkutan berat. Terlambat sedetik saja, dia jelas menjadi bubur. Matanya tidak berkedip menatap kendaraan yang...

Read More

Surat 11 & 12

Gian sayang, Aku enggak pernah—atau enggak suka, ya, aku belum tahu—film dengan tema olah raga seperti Rocky dan lainnya. Aku nonton The Blind Spot itu pun karena menang Oscar, enggak karena alasan lain. Jadi aku cuma bisa membayangkan ceritamu tentang film-film itu. Dini hari tadi, hujan datang tiba-tiba. Langsung lebat. Aku bangun karena melihat tetesan airnya mengenai jendela apartemenku. Di sini, hujan enggak terdengar. Bagunan apartemen ini, di setiap unitnya, dibuat kedap suara. Kalau aku bikin party di unit ini, misalnya, enggak akan terdengar sampai ke unit sebelah walaupun menyetel musik keras-keras sekalipun. Begitu juga dengan suara dari luar....

Read More

Dua: Rino (Bagian-1)

Namanya Rino. Dia memperkenalkan diri hanya dengan nama panggilannya saja dan itu membuatku tidak tahu nama panjangnya sampai waktu yang cukup lama—hampir satu semester. Dia lupa membawa pita berwarna merah hari itu sebagai tanda kalau kami ada di kelompok yang sama. “Udah gue masukin ke tas. Serius. Terus enggak tahu kenapa sekarang enggak ada,” katanya memberi alasan. Apapun alasan yang dia berikan dan buat, akhirnya aku harus menggunting pita sepanjang lima belas sentimeter dari gulungan pitaku untuknya. Aku memang sengaja membawa segulungan karena kebetulan aku punya di rumah. Bukan karena rajin atau apa. “Untung lo bawa sebanyak itu,” katanya...

Read More

Satu: Arya (Bagian-5)

Tidak ada yang menjelaskan padaku kalau banyak dari ketakutan hanya akan jadi ketakutan—tidak pernah benar jadi hal menakutkan yang berdiri di hadapanmu dengan pisau tergenggam di tangannya. Aku memahami itu setelah banyak waktu berlalu. Setelah sore-sore yang aku habiskan dengan membaca semua komik yang Arya tinggalkan dan menunggu teleponnya. Dia tidak pernah menelepon. Semua tentang masa ini terasa lambat, kering, dan panas. Kalau aku mengingat masa-masa ini, maka yang pertama muncul di kepalaku adalah lapangan di depan rumahku yang warnanya berubah menjadi cokelat muda, hampir oranye. Debu-debu yang beterbangan dan lapangan kosong yang entah mengapa membuatku merasa bahwa semua...

Read More