Month: May 2018

Satu: Arya (Bagian-5)

Tidak ada yang menjelaskan padaku kalau banyak dari ketakutan hanya akan jadi ketakutan—tidak pernah benar jadi hal menakutkan yang berdiri di hadapanmu dengan pisau tergenggam di tangannya. Aku memahami itu setelah banyak waktu berlalu. Setelah sore-sore yang aku habiskan dengan membaca semua komik yang Arya tinggalkan dan menunggu teleponnya. Dia tidak pernah menelepon. Semua tentang masa ini terasa lambat, kering, dan panas. Kalau aku mengingat masa-masa ini, maka yang pertama muncul di kepalaku adalah lapangan di depan rumahku yang warnanya berubah menjadi cokelat muda, hampir oranye. Debu-debu yang beterbangan dan lapangan kosong yang entah mengapa membuatku merasa bahwa semua...

Read More

Ramuan Dua

Pemuda itu memainkan jemarinya, menurunkan laman-laman website untuk mencari fakta tentang Cassie, gadis yang patah hati itu.  Beberapa kali dia menarik ke atas kacamata yang terus saja melorot. Terkadang dia juga memijat pelipis sementara matanya tetap fokus pada setiap laman pencarian yang muncul. Dia sudah melakukannya lebih dari dua jam sejak kepulangannya dari laboratorium. Namun, dia tidak menemukan apa pun. Padahal seharusnya jejak-jejak patah hati mudah terlihat dengan banyaknya status galau atau postingan amarah. Namun, laman sosial media milik gadis ini bersih. Sebagai manusia, dia rentan patah hati dan seharusnya memiliki kecenderungan yang nyaris sama karena pola hidup manusia...

Read More

Surat 9 & 10

Gian sayang, Di pertengahan Mei ini, beberapa temanku lulus dan pulang ke Indonesia. Enggak ada persiapan yang rumit di pagi menjelang wisuda. Beberapa dari mereka bahkan hanya memakai pakaian biasa yang dipakai ke kampus dengan sedikit makeup sambil menenteng regalia ke hall. Aku datang ke sana. Bukan datang, lebih tepatnya. Aku mengantarkan Adrian. Kamu belum tahu nama ini karena aku belum pernah menyebutkannya padamu sekalipun. Dia datang setahun lebih dulu. Dia yang menjemputku di bandara dengan mobil yang dia punya karena aku yang paling terakhir datang di awal tahun ajaran. Iya, dia punya mobil dan sangat biasa untuk mahasiswa...

Read More

Satu: Arya (Bagian-4)

Hari itu Kamis, aku ingat sekali. Bukan hanya karena aku ulangan Fisika keesokan harinya, tapi juga karena di perjalanan pulang, Arya memanggil dari depan pintu kelas. Dia berdiri menyandarkan sebelah bahunya di daun pintu sementara aku masih sibuk merapikan buku-buku masuk ke dalam tas. Meraih pulpen yang masih tergeletak di meja dan memasukkannya dengan asal saja ke dalam tas—toh, nanti di rumah aku juga akan membongkar isi tas ini dan merapikannya lagi. “Mau makan bakso lagi?” tanyanya setelah aku mendekat. “Kayak semalem?” “Kenapa harus diulang?” aku balik bertanya. “Apa yang semalam masih kurang?” Arya tertawa kecil. Aku berdiri di...

Read More

Resep Dua

Bau manis berayun-ayun di udara. Bau yang memuakkan berasal dari sekitar dua ratusan galon es krim dengan  dua puluh rasa berbeda. Setiap rasa memiliki lima belas buah sampel. Jadi ada sekitar  tiga ratus sampel yang harus dicobanya hari ini. Cassie sudah datang sejak pukul tujuh pagi. Sejak pagi tadi dia sudah ada di salah satu ruangan pabrik bersama tujuh orang lain untuk mencicipi es krim yang belum dilepas ke pasaran. Sekarang sudah hampir tengah hari sementara baru seperempat sampel yang berhasil dicoba sementara masih ratusan sampel dan rasa lain yang belum selesai dicicipi. Jemarinya gemetar memegang sendok kecil, sementara...

Read More