Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Month: July 2018

Resep Tujuh

“Jadi kau itu hanya salah dengar!” Fil membuka pembicaraan setelah mengirimkan tatapan setengah takut ke arah Liron atau pun Cassie. Sepertinya pemuda terlalu jengah dengan kebisuan yang terlalu lama menggantung di udara. Kata-kata Fil hanya disambut desisan oleh Cassie, sementara itu Liron mengirimkan tatapan sebal seolah-olah apa pun yang dikatakan pemuda itu tidak ada gunanya. “Jadi kau memang hanya salah dengar, Nona Cassandra!” Dia memasang senyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya. Nampaknya dia tidak ingin menyerah begitu saja dengan argumen konyolnya itu. “Penambahan kata ‘memang’ dan ‘Nona Cassandra’ tidak memoles argumen lamamu menjadi jauh lebih baik. Di atas semua...

Read More

Surat 25 & 26

Pacar sayang, Aku telat lagi membalas suratmu. Aku kebetulan dalam perjalanan waktu ingin membalas. Namun karena aku enggak bisa fokus aku tunda dulu sampai aku sudah di tujuan. Aku melakukan ‘maraton’ perjalanan kemaren, ke Jakarta dari Jogja malam hari. Menghabiskan hari di Jakarta lalu malamnya langsung ke stasiun untuk balik lagi ke Jogja. Makanya aku namakan maraton, karena aku enggak menjadwalkan jeda istirahat. Aku memilih istirahat di atas kereta, walaupun itu pilihan yang bodoh. Walaupun sudah sampe tujuan, Jakarta, nyatanya aku juga belum bisa membalas suratmu. Aku masih harus mengurus satu dan lain hal di kota ini terkait kuliahku,...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-2)

Leo punya bekas luka di lehernya yang ketika aku tanyakan, katanya itu sisa dari operasi kelenjar getah bening. Aku melihat bekas luka itu seperti ranting yang mencengkeram bagian kanan lehernya, tersembunyi di balik kerah bajunya. “Masih sakit?” tanyaku. “Enggak,” jawabnya, “ini sudah beberapa tahun yang lalu. Kalau luka hati, biar pun bertahun-tahun, bakalan masih sakit kali, ya?” Aku tahu dia mencoba menggodaku karena itu aku tidak menyahut lagi. Kembali membaca halaman novel yang sedang terbuka di hadapanku. Tapi aku sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi. Beberapa menit lalu, Rino lewat di depan perpustakaan dengan seorang cewek anak kelas 1 dan...

Read More

Resep Enam

Pemuda itu melipat lengan di depan dada, mata hitam di balik kacamata persegi itu menyorot tajam. Manik kelam yang membuatnya merasa diselidiki—Ah! Dia benci mengakui ini—Hanya harus dikatakan. Dia merasa tengah dikuliti. “Jadi menurutmu aku datang ke dalam mimpimu untuk memperkosamu, begitu?” Sumpah! Saat melihat bibir tipis itu bergerak rasanya Cassie ingin menguncirnya dengan karet gelang  sesegera mungkin. Memperkosa! Yang benar saja! Gadis itu mendengus kasar hingga anak-anak rambut terdekatnya mulai beterbangan. “Ka-ka—kau menci-um-” Cassie menarik napas, membayangkan mimpi dua malam terakhir itu menyebalkan. “Mencium aku.” Akhirnya kata-kata itu terucap juga setelah bibirnya mulai bergerak maju tidak karuan dan...

Read More

Surat 23 & 24

Pacar sayang, Di Jogja mendingin atau lebih tepatnya beberapa bagian di Jawa ini mendingin. Kemaren aku bertanya pada temen satu rumahku kalau beberapa minggu ini mendingin, apa aku yang sakit atau memang hawanya berubah? Temanku menjawab kalau memang beberapa minggu terakhir semua mendingin. Bukan hanya di Jogja, di Bandung, Solo, Magelang juga mendingin kata temanku tapi aku enggak tahu tempat lain, aku hanya bertanya pada temanku satu rumah. Aku bertanya pada temanku karena aku tahu kalau kamu tidak suka kalau aku sakit. Kamu bahkan marah kalau aku sakit. Ya, aku tahu kalau kamu marah bukan ke aku, tapi ke...

Read More