Month: July 2018

Tunda Besok

Lea merebahkan tubuhnya di atas ranjang begitu sampai di kamar miliknya. Seketika rasa penat dan lelah itu sirna begitu punggungnya menempel di sana. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kenapa? Karena, para manusia yang sama-sama sulit untuk memahami, terlebih untuk bersabar. Crek! Seseorang membuka pintu kamarnya dan bertanya, “Le, kenapa baru pulang?” Lea menatap Ibunya dan menjawab dengan singkat, “lembur.” “Kamu sudah makan?” “Belum.” “Ibu sudah masak.” “Iya.” Sesingkat itu percakapan Lea dan Ibunya setiap habis pulang bekerja. Tidak ada pembahasan menarik yang membuat keduanya berbincang lebih lama.   Lea mendesah pelan menatap langit-langit kamar yang dihiasi...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-1)

Namanya Leo. Aku bertemu dengannya di Kamis sore, pekan terakhir di November tahun itu, di ruang guru, karena berbuat kesalahan yang sama; memakai bawahan abu-abu untuk seragam batik. Aku memberikan alasan kalau rok putihku belum kering—dan Leo sepertinya menyontek alasan yang sama. Di awal semester tahun ajaran itu, sekolahku mengganti aturan seragam lengkap dengan menukar batik dengan motif baru. Hal itu sangat merepotkan karena aku bersekolah tinggal satu setengah tahun lagi di sini dan membeli baju seragam baru adalah hal terakhir yang aku inginkan. Seragam batik yang baru ini harus dipakai dengan bawahan putih pula. Ide siapapun ini, sungguh,...

Read More

Resep Lima

Bibirnya seketika saling mendekat, pemuda itu sekarang menarik kepala Cassie. Deru napas saling bertumbukan kasar di udara. Pemuda itu menekan bibir gadis itu semakin dalam. Tidak lama tubuh Cassie terhempas di atas bantal saat jari-jemari itu menjamah setiap jengkal kulitnya. Bibir mereka yang saling menaut kini terlepas. “Aku ingin lebih,” bisik pemuda itu ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Cassie tidak bergerak atau pun mengangguk, napasnya tersentak keluar kala telapak tangan pemuda itu membungkam mulutnya. Napasnya menampar pipi Cassie lalu hidungnya menyentuh tulang rahangnya saat bibir pemuda itu sekarang bergerak ke leher. Bukan ciuman basah dan hangat yang...

Read More

Surat 21 & 22

Dear sayang, Ya, kadang aku bodoh aku ingin bertanya ini. Pertanyaan klise yang dipakai untuk memulai percakapan. basa-basi, atau apalah. Menanyakan bagaimana kabar kamu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang? Tapi, di sini aku. Aku ingin menanyakan itu. Benar-benar bertanya dan ingin tahu. Bukan sekedar memulai pembicaraan atau basa-basi. Sayang, bagaimana kabarmu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang? Aku menyadari ternyata selama ini aku enggak peduli seperti kamu peduli ke aku. Dan aku egois selalu membahas aku, aku, dan aku. Aku seperti anak kecil yang harus kamu mengerti dan pahami. Seharusnya aku bisa menjaga diriku sendiri sehingga...

Read More

Lose

Kaki jenjangnya diluruskan. Mata yang tidak begitu menarik itu terpejam rapat. Telinga yang dipenuhi lubang kecil bekas anting-anting sedang mendengar bisikan-bisikan nyaris tak terdengar. “Aku bisa mendengarmu!” Serunya dengan mata terpejam. Kemudian suara runtutan kaki berlari terdengar sekali hilang. Pria itu menghela napas. Mata sipitnya dibuka perlahan. Silau matahari menusuk begitu saja. Ah, semalaman dia tidak tidur. Pikiran konyol terus mengusiknya. Kaki telanjangnya menuruni tangga. Sepi. Rumah atau kuburan? Dia mendengus sambil terus berjalan. “Selamat pagi, Tuan.” Seorang pelayan membungkukkan tubuh pendeknya. Dia semakin terlihat pendek. Pria itu hanya melambaikan tangan sebentar dan pelayan menegakkan tubuhnya kembali. “Mau sarapan apa, Tuan?” Pria itu menatap pelayan di hadapan dengan mata sipit yang disipitkan. “Sarapan?” Pria itu tertawa kesal. “Kalau kau mau menghinaku karena aku bangun siang, itu hakmu. Tapi ini pukul satu siang. Bagaimana kau menganggap ini sarapan?” “Maaf, Tuan.” Pelayan itu menunduk dalam. Rasanya kepala yang ia punya akan tenggelam diantara ubin-ubin di bawah kakinya. Kemudian seseorang keluar dari pintu belakang. “Ah, selamat pagi, Tuan.” Sekretaris rumahnya langsung membungkukkan tubuh. “Apa yang kalian makan pagi tadi? Ini siang. Ya, Tuhan.” Pria itu memalingkan wajah. “Siapkan mobil, aku mau keluar.” “Baik, Tuan.” *** Pria itu berdiri di depan toserba. Mobilnya diparkir sedikit jauh. Sesekali dia bercermin, menatap penampilannya. Di dalam toserba itu ada wanita yang membuatnya tidak tidur semalaman. Cinta pada pandangan pertama. Konyol tapi nyata adanya. Pria itu tidak...

Read More
  • 1
  • 2