Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Month: August 2018

Ramuan Enam

Liron ingat saat itu baru berusia tujuh tahun. Rumah itu begitu besar dan mengintimidasi. Rumah yang selama ini ditemati ibunya di pinggiran Anatolia tidak akan mampu bersaing. Jemarinya berulang kali menyentuh perut, sejak melihat rumah itu rasa ingin pipis semakin menjadi. “Kita pulang saja Bu, aku ingin makan kofte ayam,” katanya sambil terus merengek. “Kita akan makan banyak kofte di dalam sana nanti, Li.” Wanita itu tersenyum. “Tapi, aku ingin kofte buatan Ibu sisa tadi pagi, itu enak.” Liron masih bersikeras mengajak ibunya pulang sambil terus menarik gaun wanita itu. Wanita itu belum sempat menjawab saat pintu besar itu...

Read More

Surat 31 & 32

Pacar sayang, Bagaimana keadaan kamu? Akademik kamu bagaimana? Kamu risih, ya, aku selalu bertanya keadaan kamu di setiap surat yang aku kirim? Aku memang selalu ingin tahu keadaan kamu. Aku di sini baik-baik saja. Perkembangan akademikku juga seperti biasa, lambat tapi pasti. Aku mengembangkan akademikku sesuai yang kamu kasih tahu, rational dan doable. Jadi, semua rencana sudah mengikuti jalan yang kamu saranin. Bagaimana 17-an di sana? Apa banyak perbedaan sama yang terjadi di sini? Di Jogja semua desa berlomba-lomba mendekorasi desa mereka masing-masing untuk menyambut hari kemerdekaan ini. Mereka menghiasi trotoar dengan bendera juga menambahkan umbul-umbul merah putih. Ada...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-5)

Awalnya mudah. Leo akan datang ke Jakarta, berkereta di Sabtu atau Minggu. Lalu kami menghabiskan waktu sampai sore, jalan-jalan, duduk di kafe, atau di rumahku. Pernah suatu kali, aku yang datang ke Bogor dan dia menjemputku di stasiun. Kami lalu ke Kebun Raya Bogor. Tidak ada yang benar-benar kami lihat di sana selain pohon besar dan Istana Bogor dengan kolam teratai di depannya. Kebanyakan waktu dan perhatianku terpusat pada Leo yang menceritakan tentang kegiatan baru dan kuliahnya. Tapi awalnya juga sulit. Aku membiasakan diri untuk tidak berharap akan bertemu dengannya di sekolah—kebiasaan yang sudah berjalan lebih satu semester. Aku akan datang ke kantin di jam istirahat dan tidak menemukan dia di sana makan gorengan sambil mengisi lembar tugas siswa. Aku juga pulang naik angkot sendirian setiap hari. Kadang dia meneleponku. Tapi kebanyakan hari berlalu tanpa aku tahu kabar darinya. Lama-kelamaan, aku biasa dengan itu semua. Aku mulai pulang dengan beberapa siswa yang—setelah lebih dua tahun bersekolah di sini—aku baru tahu kalau rumah mereka satu jalan denganku. Tapi aku belum bisa juga bicara banyak selama di angkot. Aku lebih banyak melihat ke luar jendela atau memandangi buku yang sengaja aku buka di pangkuanku. Masuk bulan ketiga, kunjungan ke Jakarta atau ke Bogor mulai berkurang. Anehnya, aku merasa itu tidak mengapa. Aku tidak memaksa Leo untuk datang ke sini, tidak seperti bulan-bulan awal dia ada di sana. Aku juga tidak meminta...

Read More

Ramuan Lima

Suara denting gelas terdengar nyaring saat dua tangan itu mempertemukan ujung gelas dengan permukaan meja. Belum ada suara terdengar, sekarang sendok dan garpu yang saling beradu yang lebih banyak mengambil porsi. “Aku tidak menyangka kau selicik itu!” ketus gadis itu sambil memamerkan senyuman miring di bibirnya. “Aku juga tidak menyangka, Louisa. Ah! Yang benar saja Ge!” ucap pria itu tidak kalah ketus. Gadis itu terkekeh pelan. “Geraldine namaku di Anatolia, di dunia manusia aku memakai nama Louisa.” “Sok manis!” “Aku memang manis. Sialnya aku punya adik yang sama sekali tidak imut!” Liron mendengus mendengar sindiran kakaknya. Setidaknya Geraldine membantunya...

Read More

Surat 29 & 30

Pacar sayang, Puisi yang bagus. Beneran, aku enggak tahu harus berkomentar apa sama puisi yang kamu kirim kemaren. Setelah membaca surat dan puisi itu, satu hal yang terpikir olehku, kemampuan berbahasa Rosemarie brilian. Harus sebaik itu, aku mau kemampuan Bahasa Inggrisku sebaik itu. Kita pernah membahas soal bahasa, kan, di surat kita. Ketika aku membaca puisi dan prosa bagus, di situ aku berpikir kalau bahasa bisa menjadi simbol yang indah. Pola-pola yang dibuat di dalamnya bisa membawa orang larut dalam arus. Bahasa memang kuat. Terkadang juga bahasa adalah alat penyederhana. Situasi indah sampai sengkarut zaman bisa disimbolkan dengan bahasa...

Read More