Angel Falls

by | Mar 31, 2018 | Marvelous March | 3 comments

Oh, Angels Falls….

Tepat di mana aku berdiri merasakan desiran angin, membelai halus poriku. Aku teringat akan satu wajah. Dia tersimpan dengan nyata dalam pikiranku, serta mengisi kosongnya ruang hatiku. Hempasan air yang jatuh membasahi setiap tubuhku, membalut luka yang telah tercabik.

Oh, Angels Falls….

Kuhirup segala desakan pahit, dengan sabar aku menelannya. Penawar apa yang pernah kudapat selain sentuhannya. Usapan halus jemarinya di setiap derai air mataku. Angels Falls … bagai dentuman drum, jantungku terhentak setiap kehangatan tubuhnya mendekapku.

Oh, Angels Falls….

Dapatkah aku tetap tinggal di sana? Menjadi miliknya sampai Tuhan berkata kami harus berhenti. Aku tidak sanggup menatap semua yang dia lakukan. Aku merasa tak berdaya, bagai terhempas kedalam curam air yang menurun, bagai kau Angel Falls. Mengapa dia menjatuhkanku di sini bersama semua kesakitan ini?

Oh, Angels Falls….

Ceritakan padaku dengan angin yang kau bawa. Bahwa, dia tidak sebaik diriku. Dia tidak secantik diriku. Lalu, mengapa Angels Falls, dia menggantikanku dalam detak jantungnya? Katakan padaku bahwa dia tidak terlalu berarti. Ceritakan padanya bahwa aku lebih pantas.

***

“Saat sebuah bangunan runtuh kau perlu waktu yang begitu banyak untuk membangunnya lagi, benar bukan?”

Aku menatap Julian—menunggu argumen lainnya meluncur dari bibir mungil itu.

“Aku tak bermaksud mengguruimu. Kau tahu? Kau semakin terlihat buruk setelah Alfred meninggalkanmu dan memilih Lusi. Aku ingin kau baik-baik saja, Ana.” Julian menatapku dengan tatapan seram. Api kemarahan berkobar di atas kepalanya.

“Apa kau bisa meninggalkan dunia pelangimu, Jul?” tanyaku dengan mata menyipit, “Ju-ly.”

Julian menggebrak meja kencang membuat mata-mata di sekitar restoran menatap ke arah kami.

“Ah … Julian, kita sama-sama terjebak oleh sebuah cinta. Bedanya, aku menghindari cinta itu dan kau justru semakin gila dengan cinta itu. Lebih gila lagi karena kau menyukai Robert,” tekanku dengan suara pelan. “Kita pernah sama-sama merasakan patah hati hanya karena sebuah cinta. Jadi, apa salah jika aku terpuruk oleh cintaku sendiri?”

“Cinta yang membutakan hati dan pikiranmu!” tegas Julian menatapku dengan wajah merah padam.

“Kau pun, Julian. Kau juga!” ucapku menegaskan dengan sangat jelas.

“Apa aku harus melakukan ini agar kau bisa berhenti membuat dirimu terlihat menyedihkan? Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi.”

Julian bangkit dari tempat duduknya dan menyeretku keluar dari restoran.

“Kita mau ke mana?” tanyaku mencoba melepaskan genggamannya.

“Tutup mulutmu!” Julian menatap ke arahku dengan mata yang hampir meloncat keluar.

“Lepaskan tanganku Julian atau aku akan teriak?”

Tiba-tiba Julian menghentikan langkahnya, melepaskan tanganku lalu berbalik menatapku.

“Aku melepaskan tanganmu,” ucapnya dengan seringgai senyum kemudian menarik tubuhku ke atas bahu kananya lalu berjalan lurus di tengah padatnya jalan trotoar.

“Julian!” teriakku memukul punggungnya kesal.

“Tutup saja mulutmu, Ana,” sahutnya dengan nada pelan dan akupun menyerah—melipat bibirku—menuruti ucapannya.

Julian mengajakku menuju sebuah hotel bintang lima yang berada di sudut Logous Street. Jaraknya sekitar tiga meter dari restoran. Sepertinya dia sudah merencanakan ini agar aku berhenti memikirkan Alfred.

Sesampainya di salah satu kamar hotel Julian menurunkan tubuhku di atas ranjang.

“Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu?” tanyanya menatapku intens.

“Apa kau selalu melakukan ini dengan Robert?” Aku menatap wajah Julian jijik.

“Kita sudah menjadi sahabat sejak sepuluh tahun lalu, tapi kita tidak pernah saling tahu, bagaimana perasaan kita masing-masing.”

Julian berjalan menuju pintu balkon dan membukanya sedikit—membiarkan angin malam masuk melebur suhu ruang kamar.

“Aku tak pernah berhasil dalam urusan cinta. Semua wanita tak pernah mencintaiku dengan tulus, mereka hanya suka dengan apa yang ada di balik dompetku, tapi tidak dengan apa yang ada di balik dadaku.”

Aku bangkit dari ranjang, “Aku tak mau tahu urusanmu,” sahutku dengan nada kesal, berjalan menuju sebuah rak kaca yang terisi oleh beberapa botol anggur.

“Kau suka anggur, Julian?” tanyaku mengetuk pintu kaca lemari.

Julian berjalan menghampiriku dan membuka salah satu tutup botol tersebut, meneguknya hingga beberapa teguk.

“Aku tidak perlu menjawabnya, cukup dengan tindakan kau akan tahu, apa aku suka atau tidak,” sahutnya memberikan botol itu padaku.

“Kau tahu aku bukan pemabuk,” tolakku menyimpan botol anggur tersebut di atas nakas.

“Aku tak menyuruhmu untuk minum.”

Dua sudut bibirku terangkat naik, satu teguk cukup untuk membasahi tenggorokanku yang kering.

“Aku tak ingin kau hancur, Ana. Cukup aku saja yang merasakan cinta sebagai jeruji,” ucapnya menatapku dengan sorot kesedihan.

“Kau terlambat, Julian,” jawabku kembali berciuman dengan mulut botol, merasakan airnya menggalir ke dalam tubuhku.

“Ana … apa kau pernah berpikir bahwa aku dan kau…,” Julian menatapku ragu, “Aku….”

“Kau ingin menciumku, bukan? Aku pernah membaca jurnalmu saat tertinggal di rumah.”

“Itu tiga tahun lalu saat kau menikmati masa bahagiamu dengan Alfred. Aku kira kau sudah menemukan apa yang kau cari, nyatanya tidak.”

“Julian, apa ada cinta lain yang bisa menyelamatkanku?” tanyaku menatap Julian.

“Aku pikir Alfred adalah satu-satunya pria yang dapat aku percaya. Aku mengorbankan segalanya untuk Julian, aku memberikan apa yang ada pada diriku untuknya, tapi dia mengkhianatiku….” Aku mulai menangis ketika menceritakan kisah perihku dengan Alfred pada Julian.

“Jangan katakan kau pernah melakukannya dengan Alfred?” Julian menatapku dengan tatapan membunuh.

“Aku mencintainya, Julian!” sambarku dengan tegas berusaha menahan air mataku yang berusaha turun.

“Bodoh! Ana, kau tahu? Cinta tidak menjatuhkan pasangan, tapi menjunjung pasangannya. Kau memberikan apa yang tidak seharusnya kau berikan, Ana.”

Aku tertunduk diam dan duduk di ujung ranjang—menangis, itu yang dapat aku lakukan.

“Apa kau masih mendapatkan masa periodemu?” Julian tertunduk di depan tubuhku.

“Ya, aku baik-baik saja,” sahutku mengangguk.

Tiba-tiba kepalaku terasa sedikit sakit dengan sensasi berputar.

“Julian, apa ada cinta lain yang bisa menyelamatkanku?” tanyaku menatap Julian.

Julian bangkit dari atas karpet dan duduk di sampingku.

“Bagaimana jika kita bermain truth or dare?” tawarnya seraya memperlihatkan botol anggur yang sudah kosong.

Okay,” Aku mengangguk setuju.

“Baiklah.”

Aku dan Julian duduk di atas ranjang dengan botol anggur yang berada di tengah-tengah kami.

Ladies first,” ucapnya menatapku.

Aku tersenyum menatapnya, sebelum bermain kuikat rambutku menjadi satu dan memutar botol tersebut.

“Julian, truth or dare?” tanyaku menatapnya menahan tawa.

“Bahkan, botolnya tidak mengarah padaku,” jawabnya mengangkat kedua bahu.

“Sudahlah, lagipula hanya kita berdua yang bermain di sini.”

“Baik, aku memilih truth.

“Apa kau benar-benar mencintai Robert dan suka berada di dunia itu?”

Julian mengacak rambutnya kesal lalu menatapku. “Awalnya aku hanya ingin melampiaskan rasa sakitku dengan masuk ke sebuah club. Di sana aku tak sengaja bertemu Robert yang sedang mengalami pembulian, pemerasan. Aku hanya kasihan pada tampang polosnya, dia juga masih sekolah hukum. Singkat, aku mengantarnya pulang. Dia menawariku masuk dan memaksaku agar mau ikut. Aku tidak tahu apa yang dia masukan ke dalam kopi yang di hidangkannya, saat aku bangun aku terkejut dan aku pergi tanpa dia tahu. Sampai saat ini itulah kenapa dia selalu mengejarku. Aku bukan bagian dari pelangi, aku hanya terjatuh di sana.”

“Mungkin, seseorang menjebakku. But, i don’t really care. Saat kau menelponku setelah sekian lama menghilang aku tahu sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan aku di sini sekarang.”

Aku menatap Julian takjub, bagaimana mungkin? Selama ini aku menyangka dia adalah gay karena sebuah email yang masuk padaku dan menunjukan foto Julian bersama Robert di ranjang.

“Apa kau tahu kenapa aku menjauhimu?”

“Mungkin, seseorang menjebakku. But, i don’t really care. Saat kau menelponku setelah sekian lama menghilang aku tahu sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dan aku di sini sekarang.”

“Aku tahu, kau bukan pria berengsek.”

“Oh, giliranku. Truth or dare?

Dare.

“Berikan aku sesuatu yang hangat.”

Aku mengangguk dan meminta Julian menutup mata.

“Berbaringlah,” ucapku seraya membantunya berbaring di atas ranjang.

“Wow! Aku harap, aku tidak bermimpi.”

Aku mengikik pelan. Menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya lalu berbaring di dekat Julian seraya memeluk tubuhnya. Aroma sejuk penuh ketenangan merasuk ke dalam indra penciumanku. Parfum yang selalu di gunakannya sejak masa sekolah dulu.

“Apa sudah hangat?” tanyaku.

Not yet,

Wait,

Aku memutuskan turun dari atas ranjang, merobek lengan bajuku lalu menyimpannya di atas piring dan menyalakan pematik api untuk membakar bajuku. Diam-diam kusimpan di atas perutnya.

“Buka matamu!” titahku.

Julian membuka matanya lalu bangun seraya berteriak menjauhkan api.

“Kau gila, An! Kau ingin membakarku hidup-hidup!” teriaknya dengan wajah pucat, mematikan api tersebut dengan air dari wastafel, dan aku entah kenapa tertawa lepas melihatnya seperti itu.

“Kapan terakhir kali kau tertawa?” tanyanya tiba-tiba.

Aku diam menggulum bibirku. “Kau benar, sudah beberapa bulan ini aku hanya memikirkan Alfred dan menangisi diriku sendiri. Baiklah truth or dare?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Julian mengangguk sekali, “Dare.

“Berteriaklah di depan balkon katakan bahwa; Julian Weysel adalah seorang pecundang dan katakan kau mencintai Anna Rosela,”

“Apa?! Yang benar saja?!” Julian menatapku dengan wajah mengerut.

“Lakukan saja!” titahku melipat dua tangan di dada.

Julian berjalan lesu menju balkon, menatap sekitarnya lalu berteriak pelan.

“Bagaimana jika aku juga mencintaimu?” tanyaku seraya melangkah ke dekatnya.

“Teriak Julian. Tunjukan bahwa kau pria sejati,” ucapku menatapnya dengan seulas senyuman.

Julian kembali melakukan apa yang aku katakan. Selintas, aku menatapnya takjub. Dia selalu berusaha membuatku baik-baik saja bagaimanapun caranya. Dia selalu ada untukku bahkan saat aku mengucilkannya dan meminta bantuannya, dia tidak pernah menolak atau melakukan hal yang sama. Dia tak pernah sedikitpun membuatku terluka. Dia lebih suka membuatku kesal.

“Aku mencintai Anna Rosella,” teriaknya seperti Tarzan.

“Bagaimana jika aku juga mencintaimu?” tanyaku seraya melangkah ke dekatnya.

Julian memutar tubuh dan menatapku dengan menaikkan satu halus.

“Apa itu bagian dari dare?” tanyanya.

Kedua telapak tanganku mendarat di kedua pipinya, kubiarkan bibirku menempel di mulutnya. Menyesap pelan kurasakan Julian menarik tubuhku untuk lebih mendekat pada tubuhnya. Kami saling menikmati dengan bara api yang terasa berkoar sampai rasanya dadaku terasa sesak.

“Kita adalah dua orang yang sama jatuh di Angel Falls, terpuruk karena cinta dan sama-sama terjebak di sana. Namun, kau masih berusaha menyelamatkanku dari keputusasaan. Jadi, Julian, bisakah kau berikan aku jalan lain untuk kembali merasakan cinta tanpa harus mendorongku untuk mencinta orang lain?”

Julian menarik tubuhku dalam pangkuannya dan membawaku masuk ke dalam kamar. Sebelah kakinya menutup pintu balkon dan mendaratkan tubuhku di atas ranjang.

“Aku menunggumu selama bertahun-tahun. Berharap kau akan menerimaku. Aku memang seorang pecundang, membiarkanmu bersama orang lain dan menunggumu patah hati untuk mendapatkan hatimu lagi.”

Aku menatap kedua manik mata Julian. Tidak ada kebohongan yang tersimpan di sana. Aku tahu dia jujur dan tulus.

Teett…. Tett….

Bel pintu kamar terdengar berbunyi.

“Aku yang akan membukanya,” ucapku buru-buru menuju pintu dan menarik handle-nya.

Seorang wanita berdiri di depanku dengan gaun merah setengah paha. Dia tampak habis menangis dengan mata hitam sembab.

“Apa Julian ada di dalam?” tanyanya.

“Maaf, kau siapa?”

“Aku hanya ingin bicara dengan Julian,”

Julian menghampiri kami dan seketika wanita itu masuk dan memeluk Julian.

Aku menatapnya dengan hembusan napas kasar lalu pergi keluar dengan membanting pintu.

“Anna!” teriak Julian menyusul langkahku.

Secepatnya lenganku menekan tombol lift untuk terbuka lalu masuk ke dalam dan menutupnya dengan cepat. Air mataku berjatuhan ke bawah bagai deras hujan yang tak mampu aku hentikan.

Aku kira Julian berbeda, untuk malam ini dia benar-benar menyakitiku. Aku harusnya berpikir bahwa Julian juga seorang pria, dia manusia dan manusia sangat umum dan bisa saja berubah karena sesuatu.

“Aku memang bodoh!” hatiku menghardik dengan sendirinya.

“Anna!” Julian berhasil menyusul langkahku di tepi Logous Street.

“Anna, kau salah,” ucapnya mencoba menjelaskan.

“Cukup! Aku kira kau berbeda Julian. Astaga, bagaimana mungkin seorang Julian jatuh cinta pada wanita sepertiku,” gumamku dan kembali berjalan.

“Anna….” Julian menarik lenganku kencang membuat tubuhku terbawa ke dalam pelukannya. “Aku tidak berbohong. Aku bersumpah, aku benar-benar mencintaimu, Anna. Aku tak ingin kau menangis.”

Hatiku kembali terhujam ratusan panah beracun. Pikiranku gelap begitu saja.

“Jangan sentuh aku!” teriakku mendorong tubuh Julian lalu berlari pergi.

“Anna, aku mohon ini hanya kesalahan kecil.”

“Aku tidak peduli.” bisikku dalam hati.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?”

“Aku takan percaya walaupun kau mati sekarang!” geram hatiku dongkol.

“Anna….!” teriak Julian kencang seiiring dengan munculnya decitan rem sebuah mobil dan suara gebrakan yang cukup kencang.

Aku berbalik ke belakang, menatap Julian terbaring di atas jalan dengan sebuah motor yang berada di samping tubuhnya.

Secepatnya aku berlari ke sana, melihatnya menutup kedua mata. Kakiku melemas dan ambruk di samping tubuhnya.

“Julian…,” bibirku bergetar. “Tidak, Julian. Jangan tinggalkan aku. Aku lebih memilih kau bahagia dengan wanita lain ketimang melihatmu mati.”

Air mataku kembali berderai membanjiri wajahku. Dari jauh terdengar sirine ambulans berteriak kencang.

“Julian…. Saat aku percaya bahwa cinta akan mengembalikanku, kenapa saat itu juga kau harus pergi?” isakku memeluk tubuhnya. “Aku mencintaimu, Julian. Aku mohon … stay, Julian.”

Dua orang petugas ambulans menurunkan tandu, bersiap mengangkat tubuh Julian, tapi kurasakan sesuatu menarik jemariku. Aku menatapnya, “Julian?” Kedua mataku melebar menatapnya.

“Kakiku cedera, Ann.”

“Maafkan aku, Julian. Pasti sakit.”

“Lebih sakit untuk kedua kalinya aku kehilanganmu.”

Aku memeluk Julian erat dan menciumi wajahnya dan menamaninya masuk ke dalam ambulans.

***

Oh, Angel Falls…

Bersama setiap rintik yang kau ciptakan. Aku tahu semuanya akan jatuh tanpa sia-sia. Setiap tetes itu akan jatuh di tempat yang tepat, walau harus merasakan sakit lebih dulu.

Angel Falls…. Tempat di mana aku mencurahkan rasa deritaku ternyata dia adalah tempat terbaik yang telah kau berikan.

***

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 60%
  • Setting 42%
  • Karakterisasi 55%
  • Poin Tambahan 64%

Ide sederhana dengan banyak tebaran twist di awal. Selama membaca cerita kita dibuat menebak-nebak, apa yang sebenarnya terjadi pada Julian dan kenapa. Sayangnya, percikan-percikan kejutan itu kurang diolah dengan baik oleh Jajang hingga kurang meninggalkan kesan yang mendalam. Alur yang melompat-lompat juga yang menjadi faktor lain yang membuat cerita ini kurang dalam. Padahal kalau diracik dengan cara yang lebih detail dan fokus  pada satu atau dua adegan saja maka cerita ini benar-benar akan menyentuh. Namun, cerita ini bukan berarti tidak layak baca. Alur yang sederhana serta banyak kalimat yang bisa di-quotes bisa membuat pembaca betah berlama-lama. Ndoro suka cerita ini, semangat  terus ya Jajang.

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 62%
  • Plot 60%
  • Setting 40%
  • Karakterisasi 54%
  • Poin Tambahan 54%
Satu hal yang jadi pertanyaan saya ketika membaca cerpen ini sampai selesai: Jadi, apa itu ‘angel falls’ dan apa hubungannya dengan kisah cinta bersegi di sini? Tautan logikanya juga belum baik. Yayang paham tentang usaha membuat dialog untuk menjelaskan cerita–semacam usaha untuk memindahkan emosi ke dialog. Tapi … enggak akan ada gunanya yang signifikan kalau kemudian ceritanya sendiri kurang menarik. Belajar plotting, setting, dan konstruksi scene, ya, Sayang~ ^^

Total Apresiasi