Paradoks

Kukira kamu mengenal aku, tapi ternyata aku tak pernah sedikit pun mengenal kamu dan kamu tak pernah sedikit pun mengenal aku. Kamis, sore ini aku membereskan kamar kos, lalu kutatapi setiap sudutnya. Kosong. Seisi kamar sudah bersih. Bekas tempelan dan hijau toska yang mulai memudar yang tersisa. Kamar kos yang sudah kutempati selama empat tahun untuk mencapai tujuan;toga. Ah, tidak. Sekarang aku mengerti. Tujuanku bukan hanya toga. Tetapi lebih dari itu, memaknai setiap kehidupan dengan belajar dari orang lain, kesalahan, penyesalan, dan juga takdir.  Hatiku ingin menangis ketika suara pintu berderik menutup kamar itu. Lalu, menghela napas untuk meringankan hatiku yang masih ingin tinggal lebih lama di kota Yogyakarta ini. Seandainya saja Mama mengizinkanku bekerja disini, batinku. “Mbak Ana!” Lita memanggilku dari depan kamarnya. Lita berlari ke arahku, matanya seperti sedang membendung air mata. Lalu, dia memberi sebuah bingkisan kado dan memelukku. “Hei, Lit. Mbak Ana, kan, mau keluar dari Yogya, Bukan mau hilang dari muka bumi ini,” ucapku dengan nada meledek. “Lita sedih, Mbak. Enggak ada Mbak Ana disini, pasti kos rasanya sepi. Enggak ada yang bisa ajak Lita curhat dan gila-gilaan bareng,” ucapnya dengan wajah yang cemberut. “Kita, kan, masih bisa ketemu lagi di Solo. Makanya tahun depan kamu juga harus lulus!” ucapku menyemangati adik tingkat satu kampung yang sudah seperti saudara sendiri. “Tapi kata Mas Sultan, tahun depan orang tua kita mau pindah ke Bandung, Mbak”...

Read More