Bukan Cinta Monyet

Julia sadar, semakin dewasa, semakin sulit pula baginya untuk percaya bahwa kebahagiaan itu ada di setiap lini terkecil dalam hidup. Tapi, semakin dewasa, semakin pandai pula ia berpura-pura baik-baik saja. Termasuk saat ia terpaksa harus bekerja di kafe kopi, bukannya duduk di bangku kuliah untuk mendapat gelar sarjana. “Es kopi susu satu,” kata gadis manis dengan kulit sawo matang. Julia mengangguk, mengetikkan pesanan di tablet. Sekilas ia menatap penampilan si gadis manis, yang sepertinya anak kuliahan. Ia memakai jaket kaos, celana jins, dan sepatu keds. Tas ranselnya tidak penuh tapi juga tidak terlihat amat ringan—mungkin hanya diisi laptop. “Ada lagi?” tanya Julia ramah. Senyumnya merekah dari pipi kanan ke pipi kiri. Si Gadis Manis berambut lurus sebahu menggeleng sambil tersenyum. Ini hal kecil yang bagi Julia mampu membuatnya berpikir, setidaknya senyumnya terbalas. Ia tidak tersenyum sendiri, ia tidak berusaha bersikap ramah seorang diri. Meski banyak yang mengaggap remeh, tapi ia sadar kalau senyum adalah hal sepele yang menyenangkan. “Baik. Ditunggu, ya, Kak.” Gadis Manis membalikkan badan, mengamati seisi kafe kecil yang dipenuhi aroma kopi baru diseduh. Dia memilih untuk duduk di pojok, melangkahi satu meja kosong dari pelanggan lain. Julia senang mengamati anak kuliahan seperti gadis itu. Apabila ia bisa, ia juga ingin hidup seperti itu. Mengerjakan tugas dari dosen yang katanya seabrek, menulis laporan sampai rasanya pergelangan tangan mau copot, kerja kelompok dengan teman-teman yang pikirannya jauh lebih...

Read More