Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Gian Habib

Surat 31 & 32

Pacar sayang, Bagaimana keadaan kamu? Akademik kamu bagaimana? Kamu risih, ya, aku selalu bertanya keadaan kamu di setiap surat yang aku kirim? Aku memang selalu ingin tahu keadaan kamu. Aku di sini baik-baik saja. Perkembangan akademikku juga seperti biasa, lambat tapi pasti. Aku mengembangkan akademikku sesuai yang kamu kasih tahu, rational dan doable. Jadi, semua rencana sudah mengikuti jalan yang kamu saranin. Bagaimana 17-an di sana? Apa banyak perbedaan sama yang terjadi di sini? Di Jogja semua desa berlomba-lomba mendekorasi desa mereka masing-masing untuk menyambut hari kemerdekaan ini. Mereka menghiasi trotoar dengan bendera juga menambahkan umbul-umbul merah putih. Ada...

Read More

Surat 29 & 30

Pacar sayang, Puisi yang bagus. Beneran, aku enggak tahu harus berkomentar apa sama puisi yang kamu kirim kemaren. Setelah membaca surat dan puisi itu, satu hal yang terpikir olehku, kemampuan berbahasa Rosemarie brilian. Harus sebaik itu, aku mau kemampuan Bahasa Inggrisku sebaik itu. Kita pernah membahas soal bahasa, kan, di surat kita. Ketika aku membaca puisi dan prosa bagus, di situ aku berpikir kalau bahasa bisa menjadi simbol yang indah. Pola-pola yang dibuat di dalamnya bisa membawa orang larut dalam arus. Bahasa memang kuat. Terkadang juga bahasa adalah alat penyederhana. Situasi indah sampai sengkarut zaman bisa disimbolkan dengan bahasa...

Read More

Surat 27 & 28

Pacar sayang, Aku belajar banyak istilah denganmu, kamu mengajarkan banyak. Take it for granted salah satunya. Kamu bukan cuma ngajarin, kadang beberapa istilah yang kamu ajarkan langsung kita alami dalam relationship kita. Kadang menyenangkan, di beberapa waktu juga melelahkan saat kita mengalami langsung istilah-istilah itu. Aku tahu apa itu take it for granted, tapi aku rasa aku belum paham. Hanya tahu. Waktu itu kita berantem, kamu ingat? Hari-hari dalam seminggu itu kita isi hanya dengan berantem, capek banget minggu itu. Sumpah, itu membuat kita letih. Di pagi hari kita baik-baik saja, tiba di sore atau menjelang malam, konflik mengalir...

Read More

Surat 25 & 26

Pacar sayang, Aku telat lagi membalas suratmu. Aku kebetulan dalam perjalanan waktu ingin membalas. Namun karena aku enggak bisa fokus aku tunda dulu sampai aku sudah di tujuan. Aku melakukan ‘maraton’ perjalanan kemaren, ke Jakarta dari Jogja malam hari. Menghabiskan hari di Jakarta lalu malamnya langsung ke stasiun untuk balik lagi ke Jogja. Makanya aku namakan maraton, karena aku enggak menjadwalkan jeda istirahat. Aku memilih istirahat di atas kereta, walaupun itu pilihan yang bodoh. Walaupun sudah sampe tujuan, Jakarta, nyatanya aku juga belum bisa membalas suratmu. Aku masih harus mengurus satu dan lain hal di kota ini terkait kuliahku,...

Read More

Surat 23 & 24

Pacar sayang, Di Jogja mendingin atau lebih tepatnya beberapa bagian di Jawa ini mendingin. Kemaren aku bertanya pada temen satu rumahku kalau beberapa minggu ini mendingin, apa aku yang sakit atau memang hawanya berubah? Temanku menjawab kalau memang beberapa minggu terakhir semua mendingin. Bukan hanya di Jogja, di Bandung, Solo, Magelang juga mendingin kata temanku tapi aku enggak tahu tempat lain, aku hanya bertanya pada temanku satu rumah. Aku bertanya pada temanku karena aku tahu kalau kamu tidak suka kalau aku sakit. Kamu bahkan marah kalau aku sakit. Ya, aku tahu kalau kamu marah bukan ke aku, tapi ke...

Read More