Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Gian Habib

Surat 23 & 24

Pacar sayang, Di Jogja mendingin atau lebih tepatnya beberapa bagian di Jawa ini mendingin. Kemaren aku bertanya pada temen satu rumahku kalau beberapa minggu ini mendingin, apa aku yang sakit atau memang hawanya berubah? Temanku menjawab kalau memang beberapa minggu terakhir semua mendingin. Bukan hanya di Jogja, di Bandung, Solo, Magelang juga mendingin kata temanku tapi aku enggak tahu tempat lain, aku hanya bertanya pada temanku satu rumah. Aku bertanya pada temanku karena aku tahu kalau kamu tidak suka kalau aku sakit. Kamu bahkan marah kalau aku sakit. Ya, aku tahu kalau kamu marah bukan ke aku, tapi ke...

Read More

Surat 21 & 22

Dear sayang, Ya, kadang aku bodoh aku ingin bertanya ini. Pertanyaan klise yang dipakai untuk memulai percakapan. basa-basi, atau apalah. Menanyakan bagaimana kabar kamu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang? Tapi, di sini aku. Aku ingin menanyakan itu. Benar-benar bertanya dan ingin tahu. Bukan sekedar memulai pembicaraan atau basa-basi. Sayang, bagaimana kabarmu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang? Aku menyadari ternyata selama ini aku enggak peduli seperti kamu peduli ke aku. Dan aku egois selalu membahas aku, aku, dan aku. Aku seperti anak kecil yang harus kamu mengerti dan pahami. Seharusnya aku bisa menjaga diriku sendiri sehingga...

Read More

Surat 19 & 20

Dear Gian, Sengaja aku enggak menunggu lama untuk membalas suratmu kali ini karena ada banyak yang ingin aku jelaskan dan juga karena kamu masih belum mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku di chat. Kamu bahkan belum mau bicara denganku di telepon. Aku enggak tahu kamu sibuk atau apa, tapi aku berharap kamu memang sibuk. Kalau kamu melakukan itu karena kamu masih belum ingin menyelesaikan masalah ini denganku, aku harap kamu membaca suratku ini sampai selesai. Kamu enggak perlu membalas dengan cepat. Take your time. Oke? Masalah kita cuma satu; jarak. Ini sudah berkali-kali kita bahas dan sepertinya dulu hal ini enggak jadi...

Read More

Surat 17 & 18

Gian sayang, Aku baru saja turun dari bis ketika aku menyadari kalau kamu enggak membalas chat-ku seharian—sejak pagi. Aku berhenti sebentar dan memeriksa ponselku. Enggak ada kabar darimu sama sekali. Aku hanya tahu bahwa chat terakhir yang aku kirimkan kamu baca siang tadi. Itu saja. Sekarang sudah hampir malam di tempatku dan itu artinya; lebih dua belas jam kamu enggak menghubungiku sama sekali. Sampai di apartemen, aku menyalakan laptop dan melihat kalau terakhir aku mengirimkan email untukmu itu hampir sebulan yang lalu. Aku juga baru sadar kalau telepon terakhir kita lebih sepekan yang lalu. Gian, kita ini kenapa? Memang...

Read More

Surat 15 & 16

Gian sayang, Kamu bercerita padaku di malam itu—sewaktu kita sama tidak bisa tidur walaupun lelah—kalau kamu jatuh cinta pada perempuan yang sejak kali pertama kamu lihat fotonya, entah mengapa kamu tahu kalau dia akan jadi milikmu. Sekarang kamu tahu kalau itu benar adanya, dia milikmu, tapi tidak sepenuhnya. Kamu bercerita tentang perasaan-perasaan baru, yang belum pernah kamu tahu sebelumnya, yang ketika kamu rasakan, kamu memahami kalau yang dulu-dulu itu semu. “Bahwa cinta enggak serumit itu,” katamu, “cinta itu sederhana seperti apa yang kamu ingin bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek saja.” Aku balas dengan membantah, “Kalau benar demikian, pembicaraan...

Read More