Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Gian Habib

Surat 13 & 14

Gian sayang, Beberapa hari kemarin, bukan hari yang baik buatku—dan mungkin juga akan jadi hari yang enggak baik buatmu karena aku membuka surat dengan cara seperti ini; dengan langsung mengatakan bahwa semua enggak baik. Aku enggak suka kita bertengkar. Itu saja. Walaupun pada kenyataannya, kita sering bertengkar. Masalahnya hanya berputar di situ-situ saja. Tentang ekspektasi. Memang pada akhirnya, jika bicara tentang relationship, maka kita akan bicara tentang ekspektasi. Apa yang diinginkan tiap pihak dari relationship yang mereka bangun. Begitu juga dengan kita. Mungkin ini juga pentingnya relationship itu perlu diberi label—dan kamu pernah bilang bahwa kamu enggak suka dengan...

Read More

Surat 11 & 12

Gian sayang, Aku enggak pernah—atau enggak suka, ya, aku belum tahu—film dengan tema olah raga seperti Rocky dan lainnya. Aku nonton The Blind Spot itu pun karena menang Oscar, enggak karena alasan lain. Jadi aku cuma bisa membayangkan ceritamu tentang film-film itu. Dini hari tadi, hujan datang tiba-tiba. Langsung lebat. Aku bangun karena melihat tetesan airnya mengenai jendela apartemenku. Di sini, hujan enggak terdengar. Bagunan apartemen ini, di setiap unitnya, dibuat kedap suara. Kalau aku bikin party di unit ini, misalnya, enggak akan terdengar sampai ke unit sebelah walaupun menyetel musik keras-keras sekalipun. Begitu juga dengan suara dari luar....

Read More

Surat 9 & 10

Gian sayang, Di pertengahan Mei ini, beberapa temanku lulus dan pulang ke Indonesia. Enggak ada persiapan yang rumit di pagi menjelang wisuda. Beberapa dari mereka bahkan hanya memakai pakaian biasa yang dipakai ke kampus dengan sedikit makeup sambil menenteng regalia ke hall. Aku datang ke sana. Bukan datang, lebih tepatnya. Aku mengantarkan Adrian. Kamu belum tahu nama ini karena aku belum pernah menyebutkannya padamu sekalipun. Dia datang setahun lebih dulu. Dia yang menjemputku di bandara dengan mobil yang dia punya karena aku yang paling terakhir datang di awal tahun ajaran. Iya, dia punya mobil dan sangat biasa untuk mahasiswa...

Read More

Surat 7 & 8

Gian sayang, Pohon ceri di depan apartemenku baru saja mengeluarkan bunganya ketika aku menulis surat ini. Tanda musim dingin sudah lewat. Dingin masih belum hilang dan tupai-tupai masih juga sanggup berlarian di tanah beku, di suhu sedingin itu. Harusnya hari ini aku ke kampus tapi dosen pembimbingku sedang konferensi ke luar kota. Jadi, aku memutuskan untuk berdiam saja di kamar seharian. Duduk di depan jendela. Teman satu apartemenku juga sedang sangat sibuk di kampus. Nyaris setiap hari dia pulang malam. Kadang kami enggak saling bertemu sampai beberapa hari padahal tinggal di satu unit yang sama. Ketika aku berangkat, dia...

Read More

Surat 5 & 6

Dear Gian, Apa kabar? Kamu ingat pohon rambutan di depan gang rumahku yang aku ceritakan dan pernah aku kirimkan fotonya padamu? Rambutan itu berbuah pekan lalu. Banyak sekali. Aku baru sadar ketika kemarin sampai di rumah, ada satu keranjang diletakkan di meja makan. Rasanya dulu, ketika aku masih kecil, rambutan berbuah di liburan sekolah. Juni atau Juli. Ini lebih cepat. Tapi, apa yang aku tahu tentang waktu. Kita ada adalah waktu dan ada di dalam waktu itu sendiri — kata Jorge Luis Borges di tahun 1946 ketika dia memikirkan tentang waktu dan apa-apa yang ada di sekitar waktu itu....

Read More