Author: Octa Nurhasanah

Tiga: Leo (Bagian-1)

Namanya Leo. Aku bertemu dengannya di Kamis sore, pekan terakhir di November tahun itu, di ruang guru, karena berbuat kesalahan yang sama; memakai bawahan abu-abu untuk seragam batik. Aku memberikan alasan kalau rok putihku belum kering—dan Leo sepertinya menyontek alasan yang sama. Di awal semester tahun ajaran itu, sekolahku mengganti aturan seragam lengkap dengan menukar batik dengan motif baru. Hal itu sangat merepotkan karena aku bersekolah tinggal satu setengah tahun lagi di sini dan membeli baju seragam baru adalah hal terakhir yang aku inginkan. Seragam batik yang baru ini harus dipakai dengan bawahan putih pula. Ide siapapun ini, sungguh,...

Read More

Dua: Rino (Bagian-5)

Kami tidak bicara di jam istirahat itu. Tidak juga sepulang sekolah. Tidak juga sehari setelahnya. Aku menghindarinya walaupun aku tidak bisa menolak roti bakar dengan selai stoberi di tempat makan bergambar Shizuka berwarna merah muda yang dia tinggalkan di mejaku siang itu. Dia meneleponku Sabtu pagi, bertanya apa dia bisa menjemputku siang atau sore nanti. Aku menolak dengan alasan kalau aku masih harus membantu ibuku dan juga pekerjaan rumah yang belum selesai. Ini alasan yang bagus agaknya karena dia tidak lagi memaksa. Lalu keesokan harinya, di jam yang sama, mamanya menelepon. Mengundangku makan malam. “Tante akan masak nila rica...

Read More

Dua: Rino (Bagian-4)

Mungkin Rino lupa bahwa yang membuatku bisa berteman dengannya adalah banyak waktu-waktu diam dihabiskan di ruang tengah lantai dua rumahnya atau di kamarnya. Dia membaca, aku main The Sims. Aku membaca, dia asyik sendiri dengan komputernya—dan bukan main The Sims. Ketika Rino membawaku ke tengah teman-temannya, memperkenalkan, lalu beberapa dari teman-temannya itu ingin lebih dekat denganku, aku pun mulai merasa tidak nyaman. Ketika hari Minggu aku datang ke rumah Rino dan berharap bisa menghabiskan siang sampai sore tanpa banyak bicara tapi malah menemukan beberapa orang temannya yang aku kenal sekali lalu di sana, aku pun ingin pulang saja rasanya....

Read More

Dua: Rino (Bagian-3)

Teman Rino bukan hanya aku saja. Dia populer—lebih populer dari yang aku tahu sebelumnya. Masuk pertengahan semester, aku tahu dari beberapa anak cowok yang kadang mengobrol denganku di luar kelas kalau mereka suka main ke rumah Rino dan bahkan sampai menginap. Sepertinya mereka tidak datang—dan menginap—di hari yang sama dengan kedatanganku karena aku tidak pernah bertemu dengan mereka. “Mau langsung pulang?” tanya Rino siang itu, berusaha menyamakan langkahku di selasar. Teman sebangkuku, Nina namanya, berjalan di sampingku dan ketika Rino mendekat, dia malah menjauh. Melambaikan tangan sambil senyum-senyum dan bergabung dengan sekumpulan cewek lain yang juga sedang berjalan keluar...

Read More

Dua: Rino (Bagian-2)

“Jadi, lo bilang sama Mama lo, kalo roti bakar lo gue makan?” tanyaku siang itu di antara jam pergantian mata pelajaran. Rino datang ke mejaku untuk meminjam catatan mata pelajaran tadi pagi karena dia tidak memperhatikan apapun yang diajarkan guru di depan kelas dengan alasan, “Gue main The Sims sampai pagi.” Aku tidak bertanya tentang apa itu The Sims karena memang tidak mengerti. Selain juga karena waktunya tidak akan cukup. Kalau ada sesuatu yang bisa membuat Rino tidak tidur sampai pagi, itu pasti sesuatu yang benar-benar mengasyikkan dan bisa jadi, dia akan bercerita panjang-lebar tentang hal itu—aku tidak ingin...

Read More