Author: Octa Nurhasanah

Satu: Arya (Bagian-5)

Tidak ada yang menjelaskan padaku kalau banyak dari ketakutan hanya akan jadi ketakutan—tidak pernah benar jadi hal menakutkan yang berdiri di hadapanmu dengan pisau tergenggam di tangannya. Aku memahami itu setelah banyak waktu berlalu. Setelah sore-sore yang aku habiskan dengan membaca semua komik yang Arya tinggalkan dan menunggu teleponnya. Dia tidak pernah menelepon. Semua tentang masa ini terasa lambat, kering, dan panas. Kalau aku mengingat masa-masa ini, maka yang pertama muncul di kepalaku adalah lapangan di depan rumahku yang warnanya berubah menjadi cokelat muda, hampir oranye. Debu-debu yang beterbangan dan lapangan kosong yang entah mengapa membuatku merasa bahwa semua...

Read More

Satu: Arya (Bagian-4)

Hari itu Kamis, aku ingat sekali. Bukan hanya karena aku ulangan Fisika keesokan harinya, tapi juga karena di perjalanan pulang, Arya memanggil dari depan pintu kelas. Dia berdiri menyandarkan sebelah bahunya di daun pintu sementara aku masih sibuk merapikan buku-buku masuk ke dalam tas. Meraih pulpen yang masih tergeletak di meja dan memasukkannya dengan asal saja ke dalam tas—toh, nanti di rumah aku juga akan membongkar isi tas ini dan merapikannya lagi. “Mau makan bakso lagi?” tanyanya setelah aku mendekat. “Kayak semalem?” “Kenapa harus diulang?” aku balik bertanya. “Apa yang semalam masih kurang?” Arya tertawa kecil. Aku berdiri di...

Read More

Satu: Arya (Bagian-3)

Pertengkaran kami yang kali ini membuatku gatal sekali untuk memberikan nama panggilan mengejek. Sejak kami kecil, aku enggak pernah melakukannya karena memang enggak terpikir mau memanggil dengan apa. Sementara dia juga melakukan hal yang sama; enggak pernah memanggil dengan sebutan apapun selain nama—namaku Amanda, apa aku sudah pernah menyebutkannya? Dia memanggilku dengan Manda. Iya, semembosankan itu memang. Siang itu, setelah jam istirahat kedua, aku melihat dia melewati selasar di depan kelasku. Aku pun bangkit dari duduk, cepat-cepat keluar dari kelas, dan menyusulnya. Kakinya panjang, langkahnya pun panjang. Sialnya, hari itu sedang ada pelajaran Agama Islam dan aku harus memakai...

Read More

Satu: Arya (Bagian-2)

Arya yang membawa komik, dua sampai lima setiap kali datang. Dia paling suka dengan komik Detektif Conan sementara aku membaca serial cantik. Awalnya, aku tidak menanyakan kenapa dia punya komik seperti Topeng Kaca dan Candy Candy yang ceritanya tentang cinta gadis muda lengkap dengan segala kerumitan tidak penting yang ada di dalamnya—Anthony harusnya bilang saja kalau dia suka dengan Candy, lalu selesai perkara! Tidak perlu dibuat sulit dengan segala drama. Tapi, ini pikiranku sekarang—hampir lima belas tahun kemudian. Di waktu itu, aku meneteskan air mata ketika tiga bersaudara di komik Miracles mengalami hal buruk. Arya tidak pernah bertanya kenapa...

Read More

Satu: Arya (Bagian-1)

Namanya Arya dan semua orang memanggilnya begitu kecuali aku karena huruf ‘r’ terlalu sulit dibaca. Aku memanggilnya Yaya. Dia memintaku untuk tidak memanggilnya seperti itu di sekolah dan aku selalu pura-pura tidak ingat. Rumahnya ada di ujung depan gang, dengan halaman, dan jalan setapak dari batu-batu kali kecil yang memanjang dari pagar sampai ke depan teras. Aku suka berjalan di atasnya. Bunyinya renyah. Apalagi kalau kami berlarian. Lebih dari itu, aku suka karena dia sering bawakan batu-batu itu ke rumahku—yang ada di dalam gang, lebih kecil, sempit, tanpa halaman, dan tanpa setapak dengan batu-batu. “Ini bisa untuk bakso,” katanya....

Read More
  • 1
  • 2