Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Octa Nurhasanah

Tiga: Leo (Bagian-5)

Awalnya mudah. Leo akan datang ke Jakarta, berkereta di Sabtu atau Minggu. Lalu kami menghabiskan waktu sampai sore, jalan-jalan, duduk di kafe, atau di rumahku. Pernah suatu kali, aku yang datang ke Bogor dan dia menjemputku di stasiun. Kami lalu ke Kebun Raya Bogor. Tidak ada yang benar-benar kami lihat di sana selain pohon besar dan Istana Bogor dengan kolam teratai di depannya. Kebanyakan waktu dan perhatianku terpusat pada Leo yang menceritakan tentang kegiatan baru dan kuliahnya. Tapi awalnya juga sulit. Aku membiasakan diri untuk tidak berharap akan bertemu dengannya di sekolah—kebiasaan yang sudah berjalan lebih satu semester. Aku akan datang ke kantin di jam istirahat dan tidak menemukan dia di sana makan gorengan sambil mengisi lembar tugas siswa. Aku juga pulang naik angkot sendirian setiap hari. Kadang dia meneleponku. Tapi kebanyakan hari berlalu tanpa aku tahu kabar darinya. Lama-kelamaan, aku biasa dengan itu semua. Aku mulai pulang dengan beberapa siswa yang—setelah lebih dua tahun bersekolah di sini—aku baru tahu kalau rumah mereka satu jalan denganku. Tapi aku belum bisa juga bicara banyak selama di angkot. Aku lebih banyak melihat ke luar jendela atau memandangi buku yang sengaja aku buka di pangkuanku. Masuk bulan ketiga, kunjungan ke Jakarta atau ke Bogor mulai berkurang. Anehnya, aku merasa itu tidak mengapa. Aku tidak memaksa Leo untuk datang ke sini, tidak seperti bulan-bulan awal dia ada di sana. Aku juga tidak meminta...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-4)

Beberapa kali aku dipanggil ke ruang BP untuk menceritakan kejadian itu dan setiap kali juga, aku meminta Leo menemaniku. Aku selalu dipanggil setelah jam sekolah usai dan Leo akan menunggu di luar ruangan, duduk bersila di lantai karena di sana tidak disediakan bangku. Dia akan mengerjakan soal-soal latihan atau membaca. Hari ini, dia mengerjakan soal matematika dan ketika aku keluar, sepertinya dia sudah mengerjakan belasan soal karena wajahnya terlihat kusut sekali. “Integral atau diferensial?” tanyaku sambil membetulkan letak tali tas di bahuku. “Keduanya,” jawabnya. “Sulit?” “Enggak,” jawabnya cepat sebelum bertanya lagi, “Jadi gimana?” Aku terdiam sebentar. Kami berjalan melewati...

Read More