Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Octa Nurhasanah

Tiga: Leo (Bagian-3)

Aku mendengar suara langkah kakinya ketika dia berlari mendekati pintu UKS siang itu. Mataku masih nanar, bibirku terasa pedih, dan mencoba duduk di di tempat tidur ini membuatku menyadari kalau kepalaku juga rasanya sakit. Aku memegang bagian belakang kepalaku dan menyadari kalau ada sedikit benjol di sana. “Enggak apa-apa?!” tanyanya dengan napas terengah-engah. Dia berdiri di sampingku yang masih mencoba untuk duduk tanpa harus tumbang lagi—sebelum ini, aku sudah tumbang dua kali. Dia memperhatikan bibirku, lalu memegang puncak kepalaku. “Bukan di situ, di belakang,” ujarku sambil menunjuk bagian belakang kepalaku. “Itu juga cuma benjol.” “Muka lo kebaret aspal setengahnya,”...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-2)

Leo punya bekas luka di lehernya yang ketika aku tanyakan, katanya itu sisa dari operasi kelenjar getah bening. Aku melihat bekas luka itu seperti ranting yang mencengkeram bagian kanan lehernya, tersembunyi di balik kerah bajunya. “Masih sakit?” tanyaku. “Enggak,” jawabnya, “ini sudah beberapa tahun yang lalu. Kalau luka hati, biar pun bertahun-tahun, bakalan masih sakit kali, ya?” Aku tahu dia mencoba menggodaku karena itu aku tidak menyahut lagi. Kembali membaca halaman novel yang sedang terbuka di hadapanku. Tapi aku sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi. Beberapa menit lalu, Rino lewat di depan perpustakaan dengan seorang cewek anak kelas 1 dan...

Read More

Tiga: Leo (Bagian-1)

Namanya Leo. Aku bertemu dengannya di Kamis sore, pekan terakhir di November tahun itu, di ruang guru, karena berbuat kesalahan yang sama; memakai bawahan abu-abu untuk seragam batik. Aku memberikan alasan kalau rok putihku belum kering—dan Leo sepertinya menyontek alasan yang sama. Di awal semester tahun ajaran itu, sekolahku mengganti aturan seragam lengkap dengan menukar batik dengan motif baru. Hal itu sangat merepotkan karena aku bersekolah tinggal satu setengah tahun lagi di sini dan membeli baju seragam baru adalah hal terakhir yang aku inginkan. Seragam batik yang baru ini harus dipakai dengan bawahan putih pula. Ide siapapun ini, sungguh,...

Read More

Dua: Rino (Bagian-5)

Kami tidak bicara di jam istirahat itu. Tidak juga sepulang sekolah. Tidak juga sehari setelahnya. Aku menghindarinya walaupun aku tidak bisa menolak roti bakar dengan selai stoberi di tempat makan bergambar Shizuka berwarna merah muda yang dia tinggalkan di mejaku siang itu. Dia meneleponku Sabtu pagi, bertanya apa dia bisa menjemputku siang atau sore nanti. Aku menolak dengan alasan kalau aku masih harus membantu ibuku dan juga pekerjaan rumah yang belum selesai. Ini alasan yang bagus agaknya karena dia tidak lagi memaksa. Lalu keesokan harinya, di jam yang sama, mamanya menelepon. Mengundangku makan malam. “Tante akan masak nila rica...

Read More

Dua: Rino (Bagian-4)

Mungkin Rino lupa bahwa yang membuatku bisa berteman dengannya adalah banyak waktu-waktu diam dihabiskan di ruang tengah lantai dua rumahnya atau di kamarnya. Dia membaca, aku main The Sims. Aku membaca, dia asyik sendiri dengan komputernya—dan bukan main The Sims. Ketika Rino membawaku ke tengah teman-temannya, memperkenalkan, lalu beberapa dari teman-temannya itu ingin lebih dekat denganku, aku pun mulai merasa tidak nyaman. Ketika hari Minggu aku datang ke rumah Rino dan berharap bisa menghabiskan siang sampai sore tanpa banyak bicara tapi malah menemukan beberapa orang temannya yang aku kenal sekali lalu di sana, aku pun ingin pulang saja rasanya....

Read More