Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Ririn Ayu

Ramuan Enam

Liron ingat saat itu baru berusia tujuh tahun. Rumah itu begitu besar dan mengintimidasi. Rumah yang selama ini ditemati ibunya di pinggiran Anatolia tidak akan mampu bersaing. Jemarinya berulang kali menyentuh perut, sejak melihat rumah itu rasa ingin pipis semakin menjadi. “Kita pulang saja Bu, aku ingin makan kofte ayam,” katanya sambil terus merengek. “Kita akan makan banyak kofte di dalam sana nanti, Li.” Wanita itu tersenyum. “Tapi, aku ingin kofte buatan Ibu sisa tadi pagi, itu enak.” Liron masih bersikeras mengajak ibunya pulang sambil terus menarik gaun wanita itu. Wanita itu belum sempat menjawab saat pintu besar itu...

Read More

Ramuan Lima

Suara denting gelas terdengar nyaring saat dua tangan itu mempertemukan ujung gelas dengan permukaan meja. Belum ada suara terdengar, sekarang sendok dan garpu yang saling beradu yang lebih banyak mengambil porsi. “Aku tidak menyangka kau selicik itu!” ketus gadis itu sambil memamerkan senyuman miring di bibirnya. “Aku juga tidak menyangka, Louisa. Ah! Yang benar saja Ge!” ucap pria itu tidak kalah ketus. Gadis itu terkekeh pelan. “Geraldine namaku di Anatolia, di dunia manusia aku memakai nama Louisa.” “Sok manis!” “Aku memang manis. Sialnya aku punya adik yang sama sekali tidak imut!” Liron mendengus mendengar sindiran kakaknya. Setidaknya Geraldine membantunya...

Read More

Resep Delapan

Apabila selama ini  dua hal yang paling ditakutkan oleh Cassie adalah soal  indra perasa dan soal hatinya. Maka kejadian tadi sore bisa menambah daftar takutnya. Ketakutan lain yang muncul dan datang begitu saja terhadap kertas. Semua ini terjadi setelah dia terlibat dengan kontrak yang rasa-rasanya tidak beres. Dia memandangi lagi kontrak dari kertas putih yang bahkan dibungkus amplop warna cokelat itu. Jemarinya dengan cepat menelusuri tulisan demi tulisan di dalam sana. Ingatannya melayang kembali saat dia membuka mata sore tadi di salah satu rumah sakit di dekat kedai. Bukan hanya dokter yang menyambut, tetapi juga Liron Cavern beserta satu...

Read More

Resep Tujuh

“Jadi kau itu hanya salah dengar!” Fil membuka pembicaraan setelah mengirimkan tatapan setengah takut ke arah Liron atau pun Cassie. Sepertinya pemuda terlalu jengah dengan kebisuan yang terlalu lama menggantung di udara. Kata-kata Fil hanya disambut desisan oleh Cassie, sementara itu Liron mengirimkan tatapan sebal seolah-olah apa pun yang dikatakan pemuda itu tidak ada gunanya. “Jadi kau memang hanya salah dengar, Nona Cassandra!” Dia memasang senyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya. Nampaknya dia tidak ingin menyerah begitu saja dengan argumen konyolnya itu. “Penambahan kata ‘memang’ dan ‘Nona Cassandra’ tidak memoles argumen lamamu menjadi jauh lebih baik. Di atas semua...

Read More

Resep Enam

Pemuda itu melipat lengan di depan dada, mata hitam di balik kacamata persegi itu menyorot tajam. Manik kelam yang membuatnya merasa diselidiki—Ah! Dia benci mengakui ini—Hanya harus dikatakan. Dia merasa tengah dikuliti. “Jadi menurutmu aku datang ke dalam mimpimu untuk memperkosamu, begitu?” Sumpah! Saat melihat bibir tipis itu bergerak rasanya Cassie ingin menguncirnya dengan karet gelang  sesegera mungkin. Memperkosa! Yang benar saja! Gadis itu mendengus kasar hingga anak-anak rambut terdekatnya mulai beterbangan. “Ka-ka—kau menci-um-” Cassie menarik napas, membayangkan mimpi dua malam terakhir itu menyebalkan. “Mencium aku.” Akhirnya kata-kata itu terucap juga setelah bibirnya mulai bergerak maju tidak karuan dan...

Read More