Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Ririn Ayu

Resep Tiga

Saat mobil mendekat bersamaan dengan suara klakson yang menderu nyaring menembus kegelapan malam. Napasnya terhempas keluar saat seseorang menariknya berdiri—ah tidak, memaksanya berdiri. Lebih tepatnya menghempaskan tubuhnya hingga dia nyaris memekik saat merasakan tubuhnya melayang sesaat di udara. Namun, dia belum bisa berekasi saat benturan di punggung benar-benar membuat tulangnya terasa ngilu. “Kau ingin membuat kita terbunuh!” Pemuda itu berteriak. Cassie hanya bisa mengerjap saat melihat kendaraan itu melintas dengan cepat di bekas tempatnya terjatuh beberapa detik lalu.  Bukan hanya mobil, akan tetapi truk angkutan berat. Terlambat sedetik saja, dia jelas menjadi bubur. Matanya tidak berkedip menatap kendaraan yang...

Read More

Ramuan Dua

Pemuda itu memainkan jemarinya, menurunkan laman-laman website untuk mencari fakta tentang Cassie, gadis yang patah hati itu.  Beberapa kali dia menarik ke atas kacamata yang terus saja melorot. Terkadang dia juga memijat pelipis sementara matanya tetap fokus pada setiap laman pencarian yang muncul. Dia sudah melakukannya lebih dari dua jam sejak kepulangannya dari laboratorium. Namun, dia tidak menemukan apa pun. Padahal seharusnya jejak-jejak patah hati mudah terlihat dengan banyaknya status galau atau postingan amarah. Namun, laman sosial media milik gadis ini bersih. Sebagai manusia, dia rentan patah hati dan seharusnya memiliki kecenderungan yang nyaris sama karena pola hidup manusia...

Read More

Resep Dua

Bau manis berayun-ayun di udara. Bau yang memuakkan berasal dari sekitar dua ratusan galon es krim dengan  dua puluh rasa berbeda. Setiap rasa memiliki lima belas buah sampel. Jadi ada sekitar  tiga ratus sampel yang harus dicobanya hari ini. Cassie sudah datang sejak pukul tujuh pagi. Sejak pagi tadi dia sudah ada di salah satu ruangan pabrik bersama tujuh orang lain untuk mencicipi es krim yang belum dilepas ke pasaran. Sekarang sudah hampir tengah hari sementara baru seperempat sampel yang berhasil dicoba sementara masih ratusan sampel dan rasa lain yang belum selesai dicicipi. Jemarinya gemetar memegang sendok kecil, sementara...

Read More

Bloody Syntagi

Hai jumpa denganku, Ravina…Hanya boleh dipanggil Ravi tidak boleh dipanggil yang lain. Aku diutus kepala dewan untuk berperan sebagai tour guide yang akan mengajak kalian berkeliling Anatolia. Kita bisa berkeliling ke komplek tujuh fraksi penting di negara ini. Kita bisa mulai dari Fraksi Briseis. Isinya cowok-cowok berotot dengan perut cokelat bergelombang, lengannnya juga menyegarkan mata, apalagi wajahnya… “Ehem!” Oh, ada Liron Cavern. Pantas saja, ada hawa-hawa negatif yang berkeliaran di sekitar sini. Aku yakin kalau kacamata itu tameng sihir, matanya itu bisa saja mengeluarkan laser. “Oke, man. Aku hanya akan membahas Ianthe kali ini dan tentu saja kau, santai,...

Read More

Ramuan Satu

Tabung reaksi yang kini berderet di rak kayu mungil ditatap olehnya. Setiap rak kayu mungil itu dapat menampung sepuluh tabung reaksi. Sementara itu, tangan sang pemuda dengan cekatan menyortir penataan rak mungil berdasarkan warnanya. Dia berdiri, melangkah ke kiri ke kanan bersama irama cekatan tangannya. Larutan dengan warna merah diurutkan berdasarkan gradasi warna. Demikian pula dengan warna lainnya. Pemuda itu tidak terlalu menyukai sesuatu yang tidak teratur serta nampak berantakan. Pipet, labu ukur, erlenmeyer, dan semua tertata rapi pada rak kayu itu. Tuntas dan rapi. Semua ramuan itu dia yang membuatnya. Ramuan dengan berbagai macam fungsi dan tertata rapi...

Read More