Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Author: Trisnadrew

Lose

Kaki jenjangnya diluruskan. Mata yang tidak begitu menarik itu terpejam rapat. Telinga yang dipenuhi lubang kecil bekas anting-anting sedang mendengar bisikan-bisikan nyaris tak terdengar. “Aku bisa mendengarmu!” Serunya dengan mata terpejam. Kemudian suara runtutan kaki berlari terdengar sekali hilang. Pria itu menghela napas. Mata sipitnya dibuka perlahan. Silau matahari menusuk begitu saja. Ah, semalaman dia tidak tidur. Pikiran konyol terus mengusiknya. Kaki telanjangnya menuruni tangga. Sepi. Rumah atau kuburan? Dia mendengus sambil terus berjalan. “Selamat pagi, Tuan.” Seorang pelayan membungkukkan tubuh pendeknya. Dia semakin terlihat pendek. Pria itu hanya melambaikan tangan sebentar dan pelayan menegakkan tubuhnya kembali. “Mau sarapan apa, Tuan?” Pria itu menatap pelayan di hadapan dengan mata sipit yang disipitkan. “Sarapan?” Pria itu tertawa kesal. “Kalau kau mau menghinaku karena aku bangun siang, itu hakmu. Tapi ini pukul satu siang. Bagaimana kau menganggap ini sarapan?” “Maaf, Tuan.” Pelayan itu menunduk dalam. Rasanya kepala yang ia punya akan tenggelam diantara ubin-ubin di bawah kakinya. Kemudian seseorang keluar dari pintu belakang. “Ah, selamat pagi, Tuan.” Sekretaris rumahnya langsung membungkukkan tubuh. “Apa yang kalian makan pagi tadi? Ini siang. Ya, Tuhan.” Pria itu memalingkan wajah. “Siapkan mobil, aku mau keluar.” “Baik, Tuan.” *** Pria itu berdiri di depan toserba. Mobilnya diparkir sedikit jauh. Sesekali dia bercermin, menatap penampilannya. Di dalam toserba itu ada wanita yang membuatnya tidak tidur semalaman. Cinta pada pandangan pertama. Konyol tapi nyata adanya. Pria itu tidak...

Read More

Firasat

Langit sedang tidak terang-terangnya. Angin kuat meniup gumpalan awan dan menyisakan langit biru yang tidak terang. Aku menghitung waktu, kumulai dari detik, menit, jam, hari, bulan kemudian tahun. Aku rindu.  Pesan singkat yang terkirim begitu saja padanya. Pesan yang terkirim saat tombol ‘kirim’kutekan. Aku menunggu, dan seperti dugaanku, memang tidak ada jawaban. Ngomong-ngomong ini bukan pesan rindu pertama yang kukirim. Ada lebih dari sepuluh pesan rindu yang telah dicampur pesan kabar keadaanku. Pesan-pesan itu menumpuk rapih dengan centang satu. Dan aku harap-harap cemas menunggu centang biru. Serendah itu harapanku, mencoba mengharap kelabu menjadi biru. Aku beranjak dari duduk, kuraih...

Read More

Biji

Lelaki itu berlari ke dalam rumah, tangannya digebaskan untuk meminimalisir air hujan. Siang terik, sore hujan. “Sup kacang hijau, dude.” Alex sedikit tersentak. “Bagamana kau biasa masuk? Rumahku terkunci.” “Aku membuat duplikatnya saat kau jalan-jalan ke Eropa.” “Lancang….” “Lancang kanan? Depan? Kiri?” Sam terkekeh. Alex membuka jaket dan menggantungnya di tembok. Suasana rumah yang selalu ia rindukan. Ada tawa yang hilang, tawa yang selalu menyambutnya saat ia merasa lelah. Tawa yang akan jadi pengobat lelahnya. Pelukan yang akan menghangatkannnya. Hanya Sam yang tahu berapa sulitnya menjadi dia. Hanya Sam yang bisa mengerti dia, dan hanya Sam juga yang selalu...

Read More