Biji

by | Mar 31, 2018 | Marvelous March | 2 comments

Lelaki itu berlari ke dalam rumah, tangannya digebaskan untuk meminimalisir air hujan. Siang terik, sore hujan.

“Sup kacang hijau, dude.”

Alex sedikit tersentak.

“Bagamana kau biasa masuk? Rumahku terkunci.”

“Aku membuat duplikatnya saat kau jalan-jalan ke Eropa.”

“Lancang….”

“Lancang kanan? Depan? Kiri?” Sam terkekeh.

Alex membuka jaket dan menggantungnya di tembok. Suasana rumah yang selalu ia rindukan. Ada tawa yang hilang, tawa yang selalu menyambutnya saat ia merasa lelah. Tawa yang akan jadi pengobat lelahnya. Pelukan yang akan menghangatkannnya. Hanya Sam yang tahu berapa sulitnya menjadi dia. Hanya Sam yang bisa mengerti dia, dan hanya Sam juga yang selalu membuatkan sup kacang hijau tanpa henti.

“Butuh pelukan, Lex?” Seolah bisa membaca pikirannya Sam cuek bicara sambil memindahkan sup kacang hijau ke mangkuk.

“Terima kasih.”

“Sama-sama,” Sam menaruh sup kacang hijau dengan asap mengepul.

“Kenapa kau bersikeras memanggil ini ‘sup kacang hijau’?” Alex mengaduk dan menyuapkan suapan pertamanya.

“Karena dalam bubur, kau tidak menambahkan lada.”

“Hanya itu?”

“Iya.”

Alex mengangguk sambil menguyah kacang hijau lembut yang terlalu lama direbus. Tidak mau menantang Sam memberikan penjelasan lebih rinci.

“Kau suka?” tanya Sam.

“Jelas tidak.”

“Ish!” Sam menendang kaki Alex.

“Setidaknya kau itu bilang kalau kau suka.”

“Kemudian kau akan buat sup kacang hijau lagi. Kau sudah mengurangi populasi toge.”

“Ubah topik.”

“Topik? Sejak kapan pembicaraan kita bertopik?”

“Alex….”

“Samantha….”

“Jangan panggil nama lengkapku.”

“Jangan panggil aku juga.”

“Panggil aku Sam. Itu lebih keren. Atau dude, itu juga terdengar keren.”

“Dan jangan panggil aku; dude.

Sam mengatupkan bibir. Entah mengapa Alex begitu alergi dengan panggilan dude.

“Alex.”

“Samantha.”

“Ngg, apakah kau akan berangkat?”

Alex diam. Sendoknya berhenti menyuap saat dentingan logam itu bertemu keramik bulat. Alex mengerti apa yang dimaksud oleh Sam.

Dia menarik napas panjang, kunyahan kacang hijau seperti ingin keluar dari lubang hidung—dia tersedak.

***

Dia pernah menyia-nyiakan. Sekarang dengan bangga kita bisa menyorakinya. Menyampaikan; bagaimana rasanya? Enak? Diabaikan? Sendiri? Tidak dianggap? Rasakan!

Tujuh tahun lalu hidupnya baik-baik saja, tujuh tahun lalu meminta seseorang memeluknya itu mudah saja. Tujuh tahun yang lalu tawa bocah itu biasa saja. Ya, tujuh tahun lalu semua baik dan biasa saja. Dipanggil ayah, pelukan dari belakang, ciuman mesra setengah sadar. Semuanya terasa biasa saja.

Namun, saat ini untuk meminta pelukan bahkan lebih sulit dari menaklukan macet. Semua ke-bi-a-saan itu nyaris membuatnya gila. Menyesal itu diakhir, diawal itu pendaftaran menuju menyesal. Semboyan sejuta umat apabila mereka menyesal.

Dia pernah menyia-nyiakan. Sekarang dengan bangga kita bisa menyorakinya. Menyampaikan; bagaimana rasanya? Enak? Diabaikan? Sendiri? Tidak dianggap? Rasakan!

Tawa bocah kecil yang sekarang baru disadari bahwa itu begitu berharga.

Kakinya lunglai, lutunya mendadak keropos dan lemas. Dia terduduk dengan napas terengah, kemeja putihnya basah dengan keringat. Di ujung mata, air mata tanpa tahu diri terus jatuh. Segaja membanjiri pipi. Biar orang tahu, pria ini sudah kehilangan segalanya.

“Ayah, esok aku akan naik kereta. Ayah ikut, ya?” Lidah cedal Dirly menggema di telinganya berulang-ulang tanpa henti. Air matanya jatuh lagi.

“Sayang, aku akan menemani Dirly besok. Kau mau ikut?”

Wajah ayu orang yang selalu di sampingnya itu menjadi layu saat mendengar penolakan Alex. Dia memeluk istrinya, membisikkan kanji di telinga, bisa atau tidak bisa dipenuhi itu urusan nanti. Yang terpenting dia bisa melihat cahaya di wajah istrinya bersinar lagi. Istrinya setuju dan Alex menciuminya dengan penuh kelegaan.

Hingga akhirnya mereka pergi berdua tanpanya. Sekarang dan untuk selamanya.

***

Sekarang dia di sini, tertunduk dan meraung. Bayangan Dirly kecil terus lalu lalang di benaknya. Masih segar tanpa cacat.

Hari itu Alex duduk santai di kursi kerja. Seperti tadi, langit mendung bukan berarti hujan. Begitu pun sebaliknya. Ada beberapa firasat, kemudian gejolak buru-buru ingin bertemu. Berita tentang tanah longsor yang menimbun kereta yang ditumpangi oleh anak dan istrinya, membuat dia bangkit dengan segera. Kepalanya dipenuhi dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi atau tidak sama sekali.

Tangannya menjelaskan betapa gugupnya ia saat mengenakan jas. Dasi yang melingkar dilonggarkan dengan buru-buru. Napas sesaknya lega seketika. Akankah dia bisa terus bernapas selega ini? Detik ini? Bagai mengikuti kuis dan berharap menang ia berjalan dengan begitu cepat. Padahal kakinya biasa saja tapi hari ini entah mengapa ia terlihat seperti pincang. Berjalan seperti tidak tahu arah. 

Masih dengan tangan gemetar ia telah menekan nomor telepon istrinya beberapa kali. Dan tidak ada jawaban.

Sekarang dia di sini, tertunduk dan meraung. Bayangan Dirly kecil terus lalu lalang di benaknya. Masih segar tanpa cacat.

“Ayah!”

“Ayah!”

“Ayah!”

Kemudian susulan tawa renyah di benaknya membuat tangis pecah. Alex meraung lagi. Dia merapatkan diri ke dinding, membenturkan kepala sampai dia merasakan seseorang memeluk dari belakang. Nyaman. Sampai dia tak kuasa untuk memeluknya.

“Sam….” Bibir gemetarnya menyebut nama itu sambil memeluk balik Sam. Samantha.

***

“Bolehkah kutanyakan pada Tuhan, kenapa dia hanya menyiksaku seorang?”

“Aku tahu ini bukan tujuh tahun yang mudah,”

“Dan kau tahu kenapa aku masih mencintainya.”

Sam meremas pundak Alex.

“Kedua anakku bersamanya,”

Sam menatap wajah Alex.

“Dia mengandung anakku di dalam rahimnya, dua minggu.”

Dan Sam tidak dapat menahan tangisnya,

“Alex….”

“Aku membunuh mereka semua.”

“Tidak….”

“Seharusnya aku bersama mereka,”

“Dan kalian semua mati?!”

“Bukankah itu lebih baik? Bukankah tidak ada yang lebih baik daripada mati?!”

“Alex!”

“Bolehkah kutanyakan pada Tuhan, kenapa dia hanya menyiksaku seorang?”

“Alex….”

“Bolehkah?”

“Aku harus mati dulu untuk bertemu Tuhan.”

Alex terkekeh ditengah tangisnya.

“Mari, hari semakin larut. Letakkan bunga dan kecup kening istrimu. Kemudian aku akan membuatkanmu–“

“Sup kacang hijau.”

Sam tersenyum hingga matanya hilang.
Alex meletakkan bunga di atas makam istrinya. Ia berlutut agar mudah mencium nisannya.

“Sam…,” katanya sambil berdiri.
Sam menatap mata Alex dengan penuh haru.

“Terima kasih.” Alex mengecup kening Sam, kemudian tubuh Sam berubah  membeku. Wajahnya berubah pucat pasi. Alex mencium keningnya. Mengingat pembicaraan cium kening, artinya pria itu menyayangimu. Bukan filosofi berat, hanya filosofi yang ia dapatkan dari bibir kehitaman bekas penghisap rokok. Filosofi yang tidak sengaja didengarnya saat membeli kacang hijau.

“Terima kasih untuk setiap mangkuk sup kacang hijau dan tawa hilang yang susah payah kau gantikan.”

“Ah, dude….”

“Berhenti memanggilku dude.” Alex menyangkutkan sejumput rambut merah Sam ke daun telinga.

Kemudian ada jeda yang cukup lama.

“Maukah kau jadi istriku?”

“Alex, tidak mungkin….”

“Samantha aku serius. Kurasa untuk berdiri tanpa ada orang yang mendapingi selama ini tidak mudah. Ini adalah saatnya aku harus berpindah. Aku harus membuka lembaran baru untuk hidupku. Dan kau adalah orang yang paling tepat.”

“Tapi istrimu….”

“Jika kau yang mendampingiku, dia pasti akan bahagia.”

“Tapi aku kakaknya….”

“Kenapa tidak?”

***

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 73%
  • Plot 72%
  • Setting 65%
  • Karakterisasi 71%
  • Poin Tambahan 70%

Sup kacang hijau jadi perantara Alex dan Samantha untuk membawa ke masa lalu dan masalah-masalah mereka. Ndoro suka cuap-cuap dan seneng dengan cerita banyak dialog. Cerita ini hampir 95% berisi dialog yang asik untuk diikuti. Pengemasannya ringan dan menyenangkan.  Jajang Trisna ini jago membuat dialog yang nakal , tetapi bisa mengantarkan cerita pada pembaca. Akan tetapi, Jajang kurang tajam mengasah konflik utama. Jadi saat seharusnya puncak ketegangan, sayangnya belum sampai ke titik itu. Tetapi, Ndoro suka twist di akhir cerita.

Selamat  ya Jajang atas cerpennya yag ‘marvelous’ , sini Ndoro kasih peluk ^-^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 65%
  • Plot 68%
  • Setting 70%
  • Karakterisasi 65%
  • Poin Tambahan 70%

Cintu itu sulit, cuuuy~ *membuka review dengan curhat* Hahahaaa.

Yayang suka cerpen ini karena sedari awal banyak yang ditahan–enggak dikasih semua, dijelasin semua. Jadi, waktu di akhir, baru deh ketahuan gimana-gimananya dan itu nampol. Juga tentang sup kacang hijau yang enggak cuma jadi hiasan doang.

Selamat, yaaa … Jajang Trisna~ ^^

Total Apresiasi