Bukan Cinta Monyet

by | Aug 8, 2018 | Jubilant July | 0 comments

Julia sadar, semakin dewasa, semakin sulit pula baginya untuk percaya bahwa kebahagiaan itu ada di setiap lini terkecil dalam hidup. Tapi, semakin dewasa, semakin pandai pula ia berpura-pura baik-baik saja. Termasuk saat ia terpaksa harus bekerja di kafe kopi, bukannya duduk di bangku kuliah untuk mendapat gelar sarjana.

“Es kopi susu satu,” kata gadis manis dengan kulit sawo matang.

Julia mengangguk, mengetikkan pesanan di tablet. Sekilas ia menatap penampilan si gadis manis, yang sepertinya anak kuliahan. Ia memakai jaket kaos, celana jins, dan sepatu keds. Tas ranselnya tidak penuh tapi juga tidak terlihat amat ringan—mungkin hanya diisi laptop.

“Ada lagi?” tanya Julia ramah. Senyumnya merekah dari pipi kanan ke pipi kiri.

Si Gadis Manis berambut lurus sebahu menggeleng sambil tersenyum.

Ini hal kecil yang bagi Julia mampu membuatnya berpikir, setidaknya senyumnya terbalas. Ia tidak tersenyum sendiri, ia tidak berusaha bersikap ramah seorang diri. Meski banyak yang mengaggap remeh, tapi ia sadar kalau senyum adalah hal sepele yang menyenangkan.

“Baik. Ditunggu, ya, Kak.”

Gadis Manis membalikkan badan, mengamati seisi kafe kecil yang dipenuhi aroma kopi baru diseduh. Dia memilih untuk duduk di pojok, melangkahi satu meja kosong dari pelanggan lain.

Julia senang mengamati anak kuliahan seperti gadis itu. Apabila ia bisa, ia juga ingin hidup seperti itu. Mengerjakan tugas dari dosen yang katanya seabrek, menulis laporan sampai rasanya pergelangan tangan mau copot, kerja kelompok dengan teman-teman yang pikirannya jauh lebih dewasa dari anak SMA, ikut kegiatan klub hingga pulang larut malam karena mau mengadakan acara esok harinya, kangen rumah karena jauh dari orang tua, dan … jika dia beruntung, mungkin ia bisa mencari cinta atau persahabatan di sana.

Gadis berumur sembilan belas tahun itu menyentakkan kepala ke depan. Ada pelanggan lain yang datang. Jangan sampai ia bengong dan larut dalam pekat impiannya.

Sebenarnya, memiliki impian itu tidak akan pernah salah. Julia tahu itu. Bila ia berusaha keras, mungkin ia bisa melanjutkan pendidikan saat uang hasil ia bekerja sudah cukup. Tapi kapan? Julia selalu bertanya-tanya.

Apa ia harus menutup keinginan kuliah, menguncinya di dalam peti di dalam kepalanya, seperti kenangan akan cinta pertamanya selama ini?

Julia tiba-tiba gelisah. Senyumnya pada pelanggan yang datang setelah si Gadis Manis pasti terlihat tidak tulus, terkesan dipaksakan.

“Di sini ada teh, kan?”

“Uhm?” Julia memajukan kepala.

“Teh?” Kini wanita muda bergincu merah dan tampak seperti pekerja kantoran itu yang memajukan kepalanya. Tangannya menunjuk ke daftar menu minuman yang ada di papan tulis di depan bar.

“Oh, iya. Mulai hari ini ada menu aneka macam teh.” Julia sumringah. Teh. Minuman kesukaannya.

Akhirnya, Gincu Merah memilih teh anjuran sang kasir, yang serta merta berubah menjadi orang paling antusias dan riang menjelaskan keunggulan teh kamomil setelah memasang senyum setengah hati di awal.

Kamomil memang bukan cinta pertama Julia. Tapi karena obsesinya pada teh yang bisa memberi ketenangan itu, setidaknya ia jadi tidak terlalu benci merasa sendiri. Ia selalu suka menyeduh secangkir teh sepulang kerja, menghirup aroma dan menyesap rasa flowery lembut, tanpa gula. No Sugar! kata Julia pada setiap orang yang ingin mencoba teh kamomil untuk pertama kali. Gula akan merusak semuanya.

Julia memijit punggungnya, pandangannya beralih dari wajah-wajah pelanggan ke jendela kaca besar. Di balik kaca itu, seorang laki-laki bertubuh jangkung dan berbadan langsing berdiri. Ia mengintip ke dalam, seperti mencari seseorang atau mengecek apakah orang yang janjian dengannya sudah datang atau belum.

Seakan ada aliran listrik yang menjalar dari jantung ke seluruh tubuh, Julia membatu. Bila mata dan otaknya masih berfungsi dengan baik, laki-laki itu bukan orang asing.

Laki-laki itu dulunya bocah nakal, yang lucunya menjadi cinta pertamanya saat SD.

Kata kebanyakan orang, apa yang Julia rasakan pada salah satu anggota Geng Cungkring adalah cinta monyet yang kelak akan hilang—entah berapa bulan, minggu, hari, bahkan hitungan jam saat ada cowok yang dianggap lebih tampan muncul! Itulah definisi puppy love. Sungguh aneh mengapa kalau diartikan ke bahasa Indonesia malah menjadi cinta monyet bukan anak anjing.

Entah karena di masa SD teman-temannya belum paham pentingnya belajar atau lebih suka bermain, Julia menjadi salah satu anak yang berhasil mendapat peringkat dengan mudah—tidak pernah terlempar dari lima besar di kelas. Ia juga cukup populer karena dikenal oleh guru-guru sehingga sering dijadikan wakil sekolah untuk berbagai lomba.

Di antara ingatan semasa itu, Julia tidak pernah melupakan cinta pertamanya, anggota geng yang ditakuti hampir seluruh sekolah.Julia semula tidak paham mengapa ia senang sekali memperhatikan Geng Cungkring setiap lewat di depan kelasnya, bermain di halaman, berkumpul di kantin, atau ketika upacara bendera. Setiap ada kesempatan di luar kelas, mata Julia selalu mencari keberadaan geng itu. Mata almond-nya bergerak ke sana kemari, mencari sosok anak laki-laki kurus berkulit putih dengan seragam kekuningan, dasi morat-marit, sabuk yang dirapatkan dengan karet gelang, dan sepatu hitam kusam, yang sering berteriak-teriak cempreng mencari perhatian.

Terkadang dia meneriakkan nama temannya, mengolok-olok lalu tertawa terbahak bersama anggota geng lain. Terkadang dia bernyanyi keras-keras, lagu dangdut yang sedang beken atau lagu band yang Julia tidak kenal. Terkadang, Julia mendengar dia dan teman-temannya menyebut judul seri anime, klub sepak bola, gim terbaru, dan hal-hal yang disukai oleh anak lelaki kebanyakan di usia mereka dengan antusias. Julia begitu iri karena ia memiliki banyak teman meski perilaku mereka cenderung suka mengganggu.

Teman sekelas Julia mengaku pernah dipaksa memberi mereka sontekan, diolok-olok ketika lewat di depan Geng Cungkring, dan dimintai jajan. Tapi syukurnya, Julia tidak pernah kena usil. Mungkin karena dia adalah salah satu langganan perwakilan sekolah yang disegani walau sedikit.

Lama-lama, Julia merasa tingkah lakunya bukan hanya karena ia iri pada anak lelaki itu. Tetapi ada hal lain; sebuah ketertarikan yang sulit dijelaskan. Julia hafal detail-detail kecil yang ada di diri Adhi—nama si bocah lelaki. Adhi yang meski nakal tidak pernah membuat teman perempuan menangis. Adhi yang berpakaian dekil tapi kulitnya bersih. Adhi yang bila tertawa matanya akan menyipit hingga menghilang. Adhi yang berambut dan beralis lebat. Adhi yang suka dihukum guru. Dan … Adhi yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Julia.

Mungkin itu yang membuat Julia tidak bisa lupa.

Mungkin juga, cuma Adhi yang bisa membuat Julia merasa menyukai seseorang dalam diam itu tidak akan menyakitkan. Dan itu bukan hanya sekadar cinta monyet yang seperti orang lain katakan.

Julia mengikuti pergerakan Adhi dengan matanya. Kepalanya turut menoleh ke arah pintu yang dibuka dari luar oleh pemuda berpakaian kasual rapi. Kuncir ekor kudanya bergerak seperti bandul. Cinta pertamanya kini hanya berjarak tak sampai empat meter darinya. Julia merasa sendi-sendi di tubuhnya kaku.

“Dhi!” panggil Gincu Merah seraya melambaikan tangan, menyuruh Adhi datang ke mejanya. Adhi tersenyum.

Matanya … masih sama. Sama-sama tersenyum dengan bibirnya.

Julia berusaha untuk tidak melihat. Mungkinkah itu pacarnya? Kelihatannya lebih tua beberapa tahun.

Julia merunduk, menatap tablet tanpa benar-benar melihat. Ia tidak cemburu.

Ia hanya berpikir, terlalu kejam melihat cinta pertamanya yang telah tumbuh dari bocah SD bandel menjadi pemuda rupawan yang tidak lagi kurus kering, sedang janjian dengan kekasihnya di tempat Julia bekerja. Ia akan merasa tidak enak memperhatikan Adhi bila sudah ada yang punya begitu.

Ya, hanya itu.

Dirinya hanya penasaran dan terkejut.

“Sudah lama nunggunya?” Samar-samar Julia mendengar suara Adhi di antara alunan lagu milik Jason Mraz. Dia tidak berniat untuk mengingat judul lagunya karena suara Adhi lebih ingin ia dengar. Suara yang tidak lagi merusak gendang telinga.

Kenapa suaranya jadi dalam dan berat? batin Julia. Ingin rasanya ia menguping lebih lama lagi, tapi ada pelanggan lain yang harus ia layani.

“Hei.”

“Selamat datang, Kak. Mau pesan a—”

Julia tanpa sadar membelalakkan matanya seperti bola. Adhi tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya, memasang senyum mematikan yang semakin membuat tubuh Julia terasa lumpuh. Jantungnya berdentum tak keruan. Tangannya berkeringat. Julia merasa ingin kabur ke ruang karyawan.

“Julia, kan?”

Sekarang Julia nyaris lari dan bersembunyi. Wajahnya pasti semerah kepiting rebus.

Alis Julia bertautan. “Kok ta—” Julia meraba name tag di dada kiri, “ah, karena ini rupanya. Iya, saya Julia. Mau pesan apa, Kak?”

Bersikap normal, Julia.Mana mungkin dia ingat kamu.

“Kamu Julia yang dulu sekolah di SD 018?” tanya Adhi lagi.

Oke, dia ingat kamu. DIA INGAT KAMU!

Lagi-lagi Julia tak bisa mengontrol pikiran dan ekspresi wajahnya—terutama matanya yang besar. Adhi pasti tahu karena kini senyum di wajahnya melebar.

“Ternyata benar. Aku pesan teh kamomil, ya. Kata kakakku tehnya enak.”

“Kakak?”

“Iya. Itu yang duduk di situ.” Adhi menunjuk ke belakang dengan jempolnya.

“Mau pakai gula atau—”

“Nggak perlu. Kata kasirnya nggak enak kalau pakai gula.” Adhi tertawa jahil.

Julia tersipu. Sisi bocah SD yang memikat hatinya itu ternyata masih tersisa.

Satu jam kemudian Adhi dan kakaknya pulang. Tapi degup jantung Julia masih terasa lebih cepat dari normal. Ketika berkaca, ia tidak bisa tidak tersenyum hingga pipinya sakit. Dan matanya… mata yang biasa hanya mencoba bersikap ramah itu kini berbinar. Mata itu terlihat hidup. Ia kelewat bahagia. Julia terus mengulang kejadian itu di dalam kepala.

Julia tidak menyangka bahwa diingat oleh cinta pertamanya yang sudah lama tak ia lihat bisa membuatnya minum dua gelas teh kamomil agar bisa tidur nyenyak malam ini.

Itu berarti Adhi juga memiliki ingatan tentangnya, bukan?

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 71%
  • Plot 73%
  • Setting 71%
  • Karakterisasi 79%
  • Poin Tambahan 80%

Pertama-tama, Ndoro ucapkan selamat untuk Jajang Elsa Malinda yang menjadi pemenang dalam Jubilant July kali ini. Ndoro suka banget sama tulisannya. Idenya sederhana dan umum sebetulnya, tetapi diracik secara pas dan bisa memberikan rasa yang berbeda. Cerita bergerak cepat  dengan penyelesaian yang cepat pula, tapi diperhalus dengan detail-detail yang cakep. Selain itu, ada rasa ingin baca kelanjutannya, bagaimana kisah aku dan Adhi berikutnya. Poin yang paling Ndoro suka di cerita ini detail dan gesture yang ditampilkan, semua itu membuat Ndoro mudah membayangkan bagaimana gerak-gerak karakter di sini. Sekali lagi, selamat ya Jajang untuk upeti yang luar biasa. Ndoro tunggu cerpen berikutnya ya, semangat terus  nulisnya~^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 70%
  • Plot 74%
  • Setting 72%
  • Karakterisasi 78%
  • Poin Tambahan 80%

Saya suka cerpen ini pertama karena; EBI-nya bagus banget dan rapi. Hanya ada beberapa yang saya benerin, itu pun karena typo, bukan yang lain. Ceritanya pun sederhana, dibuka dengan cepat dan berjalan pelan. Walaupun ada satu yang hal yang mengganjal; janji di awal cerpen enggak terpenuhi di akhir. Yang saya maksudkan dengan ‘janji’ ini adalah masalah yang diceritakan di awal; tentang si protag yang mengorbankan cita-citanya untuk kuliah karena dia harus bekerja. Hal ini hanya disinggung dan berlalu begitu saja. Ini bisa jadi latar belakang karakter, sih, yang membuat protag jadi lebih kuat. Tapi tanpa adanya masalah yang berarti dan penyelesaian yang memang ‘kelar’, cerpen ini lebih tepat disebut slice of life–dan ini pujian, beneran. ^^

Sisanya, saya hanya punya hal yang baik-baik untuk dikatakan; dialog yang manis, deskripsi yang baik, dan cara penyampaian cerita yang menarik.

Jajang Elsa kayaknya baru sekali ini ikut sayembara, ya? Saya menunggu banget cerpen berikutnya karena you really did a good work~!

Total Apresiasi