Dua: Rino (Bagian-1)

by | May 25, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Namanya Rino.

Dia memperkenalkan diri hanya dengan nama panggilannya saja dan itu membuatku tidak tahu nama panjangnya sampai waktu yang cukup lama—hampir satu semester. Dia lupa membawa pita berwarna merah hari itu sebagai tanda kalau kami ada di kelompok yang sama.

“Udah gue masukin ke tas. Serius. Terus enggak tahu kenapa sekarang enggak ada,” katanya memberi alasan.

Apapun alasan yang dia berikan dan buat, akhirnya aku harus menggunting pita sepanjang lima belas sentimeter dari gulungan pitaku untuknya. Aku memang sengaja membawa segulungan karena kebetulan aku punya di rumah. Bukan karena rajin atau apa.

“Untung lo bawa sebanyak itu,” katanya lagi.

Aku ingin menggodanya balik dengan berkata, “Untung lo enggak bawa jadinya kita bisa kenalan.” Tapi kalimat itu tidak mampu aku ucapkan. Aku tidak sedang ingin memulai apapun dengan siapapun. Sehari sebelumnya, aku menerima surat dari Arya yang mengatakan selamat atau kelulusanku dan di bagian bawah, dia menulis; gue pengen banget satu sekolah sama lo.

“Dari SMP mana?” tanya Rino yang sedang berusaha menempelkan pita tadi ke lengan kemeja sebelah kirinya dan gagal.

Aku menyebutkan nama SMP-ku yang terdiri dari tiga dua angka dan dia melanjutkan dengan mengatakan kalau dia punya banyak teman di sana.

“Beneran banyak? Kok enggak kenal gue?” tanyaku yang di titik ini, sudah gagal berbasa-basi.

“Gue, sih, terkenal. Lo yang enggak terkenal kalo gitu. Lo enggak main sama anak sekolah lain,” jawabnya.

Aku memang tidak berminat untuk main dengan siapapun di tahun terakhir sekolahku; banyak komik yang harus dibaca—dan dibaca ulang sampai beberapa kali—dan banyak waktu yang aku tidak ingin ditemani siapapun.

“Punya pacar?” tanya Rino dengan ringan—seolah pacar itu benda yang bisa kamu beli di warung dan bawa di tasmu di hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah.

“Enggak,” jawabku. Singkat dan kalau dia bertanya lagi, aku enggak akan menambahkan dengan penjelasan apapun.

“Bagus,” katanya.

“Kok bagus?” tanyaku penasaran. Ini bukan reaksi yang aku perkirakan.

“Lo bisa mulai dengan lembaran baru. Ini SMA, beda dengan SMP,” jawabnya sambil tersenyum lebar. Dia menyodorkan pita yang sudah beberapa kali gagal dia penitikan di lengan bajunya dan sekarang bentuk pita itu sudah tidak keruan. Ujung-ujungnya berbulu.

“Sini!” Aku mengambil pita dan peniti kecil dari tangannya dan memasangkan di lengan kemejanya dengan hati-hati.

“Kenapa enggak bantuin dari tadi, sih?” tanyanya.

“Kenapa enggak minta tolong dari tadi?” aku balik bertanya.

“Kenapa kita harus sebangku begini, sih?” Dia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas yang masih berisik dengan anak-anak yang sedang berkenalan atau bercerita dengan teman lama mereka. Hanya kami yang duduk sebangku cowok-cewek. Di barisan paling depan pula. Buatku itu tidak jadi masalah. “Apa ini diurutkan berdasarkan NEM, ya?” tanyanya lagi.

“Nanti gue minta pindah, deh,” usulku.

“Kalo dikasih,” sambarnya, “kakak-kakaknya galak begitu.”

Aku tetap minta pindah dan tidak dikabulkan. Jadi, sepekan itu kami duduk sebangku di sepanjang MOS. Rino tidak menyebalkan, tidak seperti perkiraanku ketika melihat wajahnya untuk pertama kali. Dia juga tidak banyak menyusahkan. Setelah dia meminta bantuan untuk memakaikan pita merah di hari pertama itu, dia tidak meminta pertolongan apapun lagi. Kami bisa mengerjakan apapun yang disuruh selama sepekan itu tanpa bantuan satu dan lainnya. Tentang mengapa kami diletakkan di bangku paling depan, memang alasannya ternyata NEM. Jadi, NEM kami sama dan karena semua bangku sudah pas, hanya kami yang harus ‘dikorbankan’ untuk duduk bercampur seperti ini. Buatku, itu bukan dikorbankan, sih. Aku lebih suka seperti ini karena teman cewek di saat seperti ini pastilah sangat merepotkan. Sementara dengan Rino, semua bisa damai dan terkendali.

“Nilai NEM kita paling tinggi di satu angkatan ini,” ujarnya di suatu hari. “Apa itu artinya kita sama pintar?” tanyanya dan aku tergelak. Menurutku itu pertanyaan yang tidak penting. Nilai NEM waktu itu hanya dihitung dari lima mata pelajaran, tidak akan memperlihatkan siapa lebih pintar dari siapa.

“Enggak,” jawabku sinis. “Enggak gitu cara mainnya.”

“Hmm … gimana cara mainnya menurut lo? Kita saingan tiap semester?” tanyanya.

Aku tersenyum dengan malas. Entah apa yang ada di kepala cowok ini. Baru juga beberapa hari masuk sekolah dan bahkan belum mulai tahun ajaran. Ini baru MOS dan setelah ini, apapun bisa terjadi—iya, apapun bisa terjadi termasuk aku dan dia yang sekelas di sepanjang tiga tahun SMA.

“Lo bakalan lebih cakep kalo pakai celana panjang abu-abu,” kataku yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari urusan persaingan akademik yang tidak masuk akal itu. Ketika itu masih pagi dan kami termasuk dari beberapa yang datang terlalu pagi ke sekolah. Kami sudah duduk di meja—yang setelah beberapa hari rasanya memang jadi milik kami berdua—dan mengobrol lebih santai dari biasanya.

“Lo juga,” katanya, “enggak akan keliatan secupu ini lagi.” Dia lalu tergelak. “Gue sarapan banyak hari ini karena tahu kita bakalan dijemur lagi sampai jadi ikan asin.”

Rino kemudian membuka tasnya dan memperlihatkan kotak makanan berwarna biru muda dengan gambar Doraemon dan Nobita sedang makan bersama—aku masih ingat sekali dengan bentuk dan gambarnya karena itu kemudian jadi bahan ledekan selama beberapa bulan.

“Gue bawa roti bakar,” katanya dengan nada ceria, “pakai selai nanas dan stoberi. Mau?” dia hampir saja membuka kotak itu ketika aku menolak dengan halus.

“Enggak. Gue udah sarapan,” jawabku.

Aku bohong. Aku belum sarapan.

Ayahku pindah pekerjaan bulan lalu. Di rumah, jarang sekali ada makanan akhir-akhir ini. Belum lagi uang masuk untuk sekolah dan biaya untuk membeli perlengkapan baru. Sudah setahun sejak krisis moneter dimulai dan keluargaku makin memburuk kondisinya. Seandainya orangtuaku tidak berkeras agar aku sekolah, bisa saja sekarang aku sedang membantu ibuku yang baru beberapa bulan membuat kue dan menitipkannya di pasar dan tidak duduk di sini, di samping Rino, yang sejak pertama kali aku melihatnya, aku tahu kalau dia anak orang berada.

Seperti cerita klise tentang pertemuan cewek dan cowok ketika MOS, menjelang siang, setelah latihan baris-berbaris hampir satu jam lamanya, aku juga pingsan dan dibawa ke ruang UKS dengan Rino yang menemani sambil membawa kotak makan biru mudanya dan memaksaku memakan roti bakar dan memesankan teh hangat dari kantin.

“Lo belum sarapan,” tuduhnya sambil membuka kotak makan itu.

“Gue enggak mau makan,” ujarku.

“Kenapa? Mual?” Rino tampak sedikit kuatir. Aku menyandarkan punggungku di tembok UKS yang gerah. Ada satu buah kipas angin di sana yang menyala tapi malah membuat ruangan ini makin terasa panas. Angin lemah yang bertiup itu malah menyebarkan hawa panas, bukan membuatnya mereda.

“Enggak,” jawabku.

“Terus?” Ada nada menuntut jawaban di pertanyaan Rino itu.

“Doraemon,” jawabku.

Rino terdiam sebentar sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

“Lo emang enggak suka Doraemon?” tanyanya setelah tawanya reda.

Aku ingin menjawab ‘tidak’ dan menjelaskan kalau aku lebih suka Detective Conan dan itu pun bukan yang versi kartun di televisi, tapi aku urungkan. Itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Rino sudah membuka kotak makannya dan mengancam akan menyuapkan roti bakar itu kalau aku tidak mau menyuap sendiri ke mulutku. Aku pun menyerah dan terheran-heran melihat roti bakar itu dipotong kecil-kecil dengan ukuran pas satu suap dan di tempat makan itu pun ada garpu yang warnanya juga biru muda—dengan kepala Doraemon di ujungnya.

“Enak, kan? Ini Mama yang bikin,” jelasnya. “Kalo gue, sih, paling suka selai nanas. Lo suka enggak?”

Aku pun tersenyum. “Lebih suka yang stoberi.”

“Oh, oke,” katanya lagi. “Ini yang stoberi kayaknya ada di bawah, deh.” Dia menunjuk-nunjuk ke arah bawah tempat makan. Tapi itu tidak perlu. Aku juga suka yang isi selai nanas karena hari itu, aku lapar sekali.

Anak cowok yang dekat dengan mamanya selalu saja membuat hatiku lemah sampai sekarang.

* * *

Hari pertama sekolah, Rino melewati mejaku dan meletakkan kotak makan bergambar Shizuka dengan warna merah muda di hadapanku.

“Roti bakar,” ujarnya, “dari Mama. Isi selai stoberi.”

Aku memanggilnya sebelum dia sempat pergi—mejanya ada di bagian belakang tapi masih satu baris dengan mejaku.

“Rhinoceros!” panggilku.

“Apa?” Dia berhenti. Beberapa langkah di belakang mejaku.

“Makasih, ya,” ucapku tulus. Aku pun tersenyum. Tapi senyumku pudar ketika dia malah meledek.

“Hmmm … gue udah lo kasih panggilan sayang, coba!” katanya sambil tergelak pergi.

* * *