Dua: Rino (Bagian-2)

by | Jun 4, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

“Jadi, lo bilang sama Mama lo, kalo roti bakar lo gue makan?” tanyaku siang itu di antara jam pergantian mata pelajaran. Rino datang ke mejaku untuk meminjam catatan mata pelajaran tadi pagi karena dia tidak memperhatikan apapun yang diajarkan guru di depan kelas dengan alasan, “Gue main The Sims sampai pagi.”

Aku tidak bertanya tentang apa itu The Sims karena memang tidak mengerti. Selain juga karena waktunya tidak akan cukup. Kalau ada sesuatu yang bisa membuat Rino tidak tidur sampai pagi, itu pasti sesuatu yang benar-benar mengasyikkan dan bisa jadi, dia akan bercerita panjang-lebar tentang hal itu—aku tidak ingin mendengarkannya. Aku lebih tertarik untuk bertanya tentang roti bakar yang aku makan di UKS pekan lalu.

“Iya,” jawabnya. “Gue cerita kalo lo hampir pingsan. Terus gue ngasih bekal gue buat lo. Terus Mama gue malah pengen buatin buat lo juga.”

Di kolong mejaku sekarang, ada kotak makan merah muda bergambar Shizuka dengan isi roti bakar keju yang diberikan Rino tadi pagi.

“Kapan mau ke rumah?” tanya Rino kemudian yang membuat aku terkesiap.

“Kapan maunya?” aku balik menantang.

“Minggu besok?” dia bertanya untuk meminta persetujuanku.

“Kita belum sedekat itu,” jawabku.

“Perlu sedekat apa, sih, kalo cuma buat main doang?” dia bertanya dengan nada menyerang dan membuatku berpikir sepanjang hari itu.

Perlu sedekat apa untuk main bersama?

Pertanyaan itu salah. Bukan itu masalahnya. Aku tidak pernah mempermasalahkan kedekatan. Tapi, rasanya … aku tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan hal-hal semacam ini. Tidak punya teman dekat dan melupakan bahwa banyak hal yang bisa dilakukan sepulang jam sekolah sampai menjelang malam selain belajar dan belajar membuatku tidak mengerti lagi bagaimana untuk memulai pertemanan dengan Rino.

Sejak Arya pergi, aku pun pergi dari banyak hal. Aku tidak lagi kumpul dengan teman gengku dan mereka pada awalnya mempermasalahkan itu. Tapi lama-kelamaan, mereka bisa menerima dan melupakan kalau aku adalah satu dari mereka dulu. Aku memberikan alasan untuk fokus dengan pelajaran dan aku yakin, mereka tidak paham—sama dengan tidak pahamnya aku mengapa aku mengeluarkan alasan itu padahal sebenarnya aku hanya ingin sendiri. Aku kehilangan dan itu membuatku ingin menghilangkan diriku sendiri.

Setelah pengumuman penerimaan siswa baru, teman-temanku itu akhirnya menyapaku ketika kami bertemu di sekolah ketika aku datang mengambil legalisir ijazah dan NEM. Mereka mengucapkan selamat karena aku diterima di SMA paling bagus di kota ini. Tidak satu pun dari mereka masuk ke sana dan aku yakin, setengah dari murid di SMP-ku ini memasukkan SMA tempatku sekarang bersekolah sebagai pilihan pertama. Banyak dari mereka yang gagal—atau lebih tepatnya, hanya selusin lebih sedikit yang berhasil. Salah satunya aku.

Setidaknya kesepianku ada hasilnya. Setidaknya.

“Kalo lo mau ke rumah Minggu ini, gue jemput, deh,” kata Rino sambil mengambil buku catatanku di atas meja.

“Oke,” jawabku singkat.

Ini bukan masalah sedekat apa, aku tahu itu dengan pasti. Ini tentang aku yang masih juga belum bisa—atau belum mau?—untuk punya teman sedekat itu dan aku yakin pertemananku dengan Rino akan mengarah ke sana. Sejak awal, aku yakin itu.

Dia bisa mengerti dengan apa yang aku bicarakan. Dia tertawa pada lelucon yang aku lemparkan. Dia tahu banyak hal yang aku suka, komik salah satunya. Dia bisa diajak bicara panjang tentang berbagai hal. Semua itu menyenangkan dan aku hampir lupa rasanya. Dengan Arya, aku tidak banyak bicara. Arya adalah keanehan yang datang di sore hari, yang membuatku bisa merasa berteman tanpa harus mengeluarkan banyak hal dari mulutku. Kami bisa duduk terdiam sampai malam, membaca komik, dan setelah itu, ketika dia pergi dari teras rumahku, rasanya … aku baru saja melewati obrolan paling menyenangkan. Itu aneh. Aku suka. Aku merindukan itu.

Aku masih juga merindukan itu.

Hari Minggu itu, aku datang ke rumah Rino. Dia janji menjemput dan itu dia tepati. Dia datang ke rumahku siang itu dengan sepedanya.

“Mana sepeda lo?” tanyanya.

“Enggak punya,” jawabku.

Lalu bisa jadi dia berpikir, kalau dia sudah salah perhitungan. Rencana awal bisa jadi seperti ini; dia datang ke rumahku dengan sepeda, lalu aku dan dia bersepeda bersama ke rumahnya. Itu tidak pernah terjadi. Aku tidak punya sepeda.

“Telepon punya?” tanyanya lagi.

Untung tunggakan telepon di rumahku sudah dibayar beberapa hari sebelumnya jadi bisa dipakai menelepon ke luar.

“Ada,” jawabku.

“Bisa pinjam?” tanyanya lagi.

Aku mengiyakan dan mengajaknya masuk. Ke ruang tengah yang berantakan karena siang itu aku baru selesai mencuci pakaian dan menyetrika, belum sempat menyelesaikan pekerjaan rumah yang lain. Dia menekan nomor-nomor dengan cepat, lalu tanpa banyak basa-basi setelah menyapa, dia langsung bicara, “Bisa minta tolong Pak Husen jemput aku enggak, Ma? Hmm … iya. Sekarang. Aku kasih tahu ancer-ancernya. Jadi setelah Pesanggrahan—”

Aku tidak mengikuti lagi apa yang dia katakan karena aku tidak mengerti mengapa dia bisa dengan mudah memerintah  seseorang untuk mengirimkan mobil ke depan rumah ini—dan parkir di lapangan di depan teras rumahku—dengan cepat. Tidak sampai lima belas menit, mobil itu sudah sampai.

“Gue masukin sepedaku ke bagasi dulu, deh,” katanya sambil menuntun sepedanya mendekat ke mobil. Dari dalam, seorang lelaki paruh baya membantunya membukakan pintu bagasi mobil.

Kalau kamu berpikir ini adalah kisah gadis miskin dengan lelaki kaya-raya, kamu salah. Rino tidak sekaya itu. Dia bukan pangeran di cerita-cerita cinta seperti itu. Dia tidak tampan, setidaknya begitu. Dia manis. Aku bisa mengatakan ini karena kalau dibandingkan dengan cowok-cowok lain di sekolah, dia tampak biasa saja. Rambutnya dipotong pendek, posturnya tidak tinggi, kulitnya tidak putih (kalau seleramu adalah cowok dengan kulit putih-bersih), dan dia juga tidak seasertif cowok lain yang aku tahu—yang di pekan pertama sudah berani mengajakku kenalan dengan agresif. Menanyakan nomer telepon dan terang-terangan mencoba merayu. Aku tahu, SMA adalah masa di mana kamu bisa meninggalkan semua yang tidak keren, cupu, dan aneh tentang dirimu dan mencoba membentuk diri yang baru. Tapi, yaaah.…

Balik lagi ke Rino, suaranya dalam dan dia bicara dengan nada yang begitu halus, ini hal yang paling aku suka darinya. Mamanya pun bicara dengan nada yang sama halusnya. Bertanya apakah aku sudah makan—yang aku jawab dengan sudah, padahal belum. Lalu dia memaksa untuk makan siang bersama yang aku tolak. Tapi kemudian dia membawakan kami es sirup dengan kue-kue ke ruang tengah di lantai atas. Ruang ini tepat berada di depan kamar Rino yang pintunya terbuka lebar. Aku bisa melihat tempat tidurnya koleksi bukunya, dan juga sebuah komputer ada di meja belajarnya. Waktu itu komputer termasuk barang langka, belum sebiasa sekarang untuk memilikinya.

Aku hampir saja bertanya tentang Papanya ketika dia memulai obrolan dengan berkata, “Papaku enggak ada.”

“Meninggal?” tanyaku hati-hati,

“Enggak,” jawabnya pelan, “dia pergi ninggalin gue sama Mama pas gue masih kecil.”

Lalu jeda keheningan yang membuat tidak nyaman. Aku memakan dua potong kue pukis dengan mesis di atasnya dan menghabiskan satu gelas es sirup. Rino mengisikan lagi gelas itu untukku. Dia menuangkan dari teko kaca bening yang isinya masih penuh.

“Sori, ya, jadi ngomongin ini,” katanya lagi.

Aku menggeleng, “Enggak apa-apa.” Aku lalu berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah lain, “Jadi, kenapa gue diundang ke sini?”

Rino tersenyum. Dia menyalakan televisi yang ada di depan kami tapi membuat suaranya terdengar sekecil mungkin.

“Gue mau temenan sama lo. Itu doang,” jawabnya. “Gue banyak temenan sama orang tapi enggak deket. Terus waktu kita ketemu pas MOS, gue ngerasa cocok banget sama lo. Jangan tanya kenapa, gue juga enggak paham. Gue cuma punya perasaan kalo lo bakalan jadi teman baik gue.”

“Bukan karena pengen macarin?” tanyaku bersungguh-sungguh. Aku tahu pertanyaan ini terlalu ‘langsung’ tapi aku berani menanyakannya karena aku sungguh ingin tahu jawabannya.

“Bukan,” jawabnya. “Gue bisa apa kalo untuk yang satu itu?” Dia lalu tertawa riang. “Bahkan cowok-cowok kece di sekolah aja lo tolak pas mau kenalan. Gue ini apa?”

Aku terdiam. Aku menolak kenalan bukan karena itu. Tapi aku tidak ingin menjelaskan apapun sekarang. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya. Bicara tentang banyak hal. Menjelang sore, dia menunjukkan apa itu The Sims dan aku pun terpana dibuatnya.

“Jadi ini … kayak main orang-orangan, ya?” tanyaku takjub.

“Iya,” jawabnya. “Lebih asyik dari orang-orangan kertas, laaah.”

Aku memainkan The Sims-nya sampai menjelang malam. Sampai ketika Mamanya memanggil kami dan memaksaku untuk makan dulu sebelum pulang. Pak Husen—yang akhirnya aku tahu adalah supir keluarga ini—mengantarkanku pulang.

Ketika makan, aku pun tahu betapa Rino sangat manja tapi manis. Bukan manja yang menye-menye yang membuat mual. Tapi sewajarnya dan menyenangkan dilihat. Mamanya menyendokkan nasi ke piring Rino dan juga piringku. Lalu kami bicara panjang-lebar tentang hal-hal yang sejujurnya aku pun tidak mengingatnya lagi sekarang. Bukan karena makan malam itu tidak berkesan. Tapi karena setelah hari itu, ada begitu banyak makan malam yang aku lewati di rumah itu dengan Rino dan Mamanya. Setiapnya dengan pembicaraan yang sama mengasyikkannya. Aku tidak bisa memilih mana yang paling berkesan dan pembicaraannya paling aku ingat … kecuali, ah, kecuali satu malam itu.

Ini nanti aku ceritakan. Kita tidak akan ke sana secepat itu.

* * *