Dua: Rino (Bagian-3)

by | Jun 26, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Teman Rino bukan hanya aku saja. Dia populer—lebih populer dari yang aku tahu sebelumnya. Masuk pertengahan semester, aku tahu dari beberapa anak cowok yang kadang mengobrol denganku di luar kelas kalau mereka suka main ke rumah Rino dan bahkan sampai menginap. Sepertinya mereka tidak datang—dan menginap—di hari yang sama dengan kedatanganku karena aku tidak pernah bertemu dengan mereka.

“Mau langsung pulang?” tanya Rino siang itu, berusaha menyamakan langkahku di selasar. Teman sebangkuku, Nina namanya, berjalan di sampingku dan ketika Rino mendekat, dia malah menjauh. Melambaikan tangan sambil senyum-senyum dan bergabung dengan sekumpulan cewek lain yang juga sedang berjalan keluar dari kelas menuju gerbang sekolah.

“Iya. Kenapa?” Aku langsung menanyakan apa yang dia inginkan dariku karena aku tahu, dia bertanya seperti itu bukan hanya untuk basa-basi saja.

“Nongkrong dulu di warung Pak Min, yuk!” ajaknya.

“Warung Pak Min?” aku bertanya dengan bingung.

“Warung di depan itu, loh,” jawabnya mencoba menjelaskan, “yang di pinggir jalan, yang jualan bakso sama mie ayam. Masak enggak tahu.”

Aku terdiam. Aku memang tidak tahu. Hampir sepanjang tiga bulan aku bersekolah di sini, aku langsung pulang setiap hari. Bukan karena aku tidak ingin bergaul atau melakukan hal-hal yang biasa dilakukan para murid sepulang sekolah seperti nongkrong atau yang lainnya, tapi karena memang pekerjaan di rumah banyak sekali. Setelah pulang, aku harus membantu Ibuku membereskan rumah, mencuci, menjemur, kadang memasak, dan membungkus kue di malam harinya. Ayahku baru saja dapat pekerjaan tetap tapi Ibuku berkeras untuk membuat kue dan menjualnya di pasar untuk sekolahku.

“Enggak,” jawabku jujur.

“Ayo,” ajaknya lagi, “sebentar aja. Oke? Nanti gue anterin pulang. Pak Husen jemput gue setengah jam lagi.”

“Kenapa dia jemput lo setengah jam lagi?” tanyaku. “Apa dia sibuk?”

“Gue emang minta dijemput jam setengah dua setiap hari. Gue pengen main dulu baru pulang,” jawabnya. “Ayolah. Sebentar aja.”

Aku pun menuruti keinginannya. Sebagian dari itu, aku ingin tahu apa yang dia lakukan dengan teman-temannya di warung itu sepulang sekolah. Ada beberapa tempat nongkrong di sekitar sekolah yang sejauh ini aku tahu. Setiap tempat, biasanya, ‘dikuasai’ oleh satu kelompok anak-anak nongkrong. Aku baru tahu kalau Rino juga punya kelompok nongkrong seperti ini. Mungkin juga karena dia tidak pernah cerita padaku—karena menganggap aku paham sendiri—dan juga karena aku tidak peduli dengan hal semacam ini.

Warung Pak Min penuh dengan anak-anak yang masih berseragam. Ada beberapa dari mereka yang makan bakso dan mie ayam sambil bercanda. Ada yang duduk-duduk di depan warung sambil bercerita—kebanyakan yang ada di depan warung ini cowok. Jumlah mereka mungkin hampir dua puluh orang dan semuanya adalah wajah yang asing buatku. Aku bisa mengenali kalau ada di antara mereka yang bukan kelas satu karena seragam mereka sudah berubah warnanya—sampai tiga bulan ini, seragam anak baru masih juga belum luntur penampakan barunya.

“Cewek lo, No?” tanya seorang cewek dengan rambut panjang digerai ketika aku masuk ke warung itu dengan Rino.

“Bukan. Temen gue. Gila aja, lo,” jawab Rino dengan santai. Dia lalu menyilahkanku duduk di salah satu meja lalu bertanya, “Mau bakso? Mie ayam? Minum?”

Aku menggeleng.

“Minum, ya? Oke?” tanyanya dengan agak memaksa, “Gue juga haus soalnya.” Setelah itu dia berteriak, “Pak Min, es campur dua!”

“Kenapa, sih, lo ngajak gue ke sini?” tanyaku lagi. Aku meletakkan tasku di meja dan menatapnya lekat-lekat. Rino tersenyum. Aku sering melihat senyumnya dan baru kali ini aku menyadari kalau senyumnya manis sekali.

“Yaaa … mau lo main aja. Abisnya lo setiap selesai sekolah langsung pulang,” jawabnya.

“Kerjaan gue banyak,” jawabku.

“Gue tahu,” ujarnya.

Es campur yang Rino pesan datang beberapa menit kemudian. Di siang seterik ini, es campur dengan serutan es yang disiram sirup merah dengan susu kental manis sebanyak ini, memang tidak akan salah. Aku pun mulai mengaduk es itu pelan. Berusaha agar tidak ada es atau potongan isinya jatuh ke meja.

“Gue cuma mau ngobrol sama lo,” kata Rino lagi.

“Kita sering ngobrol,” sahutku.

“Iya,” ujarnya, “enggak cukup.”

“Mau ngobrolin apaan emangnya? Ini gue udah di sini. Ngobrol, lah,” kataku sambil menyendok satu kolang-kaling berwarna hijau.

“Jangan sinis.” Rino mengatakan itu sambil tersenyum—lagi. Kali ini, aku baru mengerti, jangan-jangan yang membuat aku mudah mengikuti apapun kemauannya, termasuk untuk datang ke warung ini sekarang, adalah senyumnya itu. “Gue cuma mau lo main sama kayak anak yang lain. Enggak cuma sekolah terus pulang.”

“Gue enggak apa-apa kayak gitu,” kataku. “Lagian, nyari temen, kan, enggak musti dengan nongkrong kayak gini. Temen gue banyak, kok.”

Rino terdiam beberapa lama sebelum menjawab, “Lo enggak punya temen. Lo mungkin punya beberapa orang yang ngobrol sama lo di kelas atau pas jam istirahat. Tapi lo enggak beneran punya temen.”

“Cowok-cowok—”

Rino memotong sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.

“Cowok-cowok itu suka sama lo. Mereka enggak pengen temenan sama lo. Mau macarin lo, mungkin. Temenan, enggak.”

“Kenapa lo nuduh mereka begitu?” tanyaku sengit.

“Karena lo cantik dan gue denger sendiri dari mereka,” jawab Rino pelan.

Lalu kami terdiam lagi beberapa lama. Sama-sama menghabiskan es campur dengan banyak pikiran yang tiba-tiba datang dan minta diluruskan sengkarutnya.

“Lo temen gue,” kataku kemudian.

“Gue mau mereka lihat itu,” kata Rino.

“Gue enggak cantik,” kataku lagi.

“Lo cantik,” ujar Rino. “Mereka aja pada aneh ngeliat gue bawa lo ke sini.”

“Aneh?”

“Iya, aneh,” jawab Rino. “Aneh buat orang kayak gue bisa dapetin orang kayak lo.”

“Lo enggak ngedapetin gue,” kataku lagi.

“Ngedapetin dengan cara yang lain, mungkin.” Rino tersenyum lagi. “Kita temenan deket. Mereka enggak tahu.”

“Lo mau mereka tahu, gitu?” tanyaku.

“Gue mau mereka tahu biar lo enggak lagi diganggu,” jawabnya.

“Gue enggak diganggu.”

“Lo digodain kalo jalan di depan kelas.”

Aku terdiam. Itu memang terjadi dan aku tidak pernah menganggapnya serius. Biasanya aku hanya terus berjalan tanpa mempedulikan cowok-cowok yang memanggil-manggil namaku atau mencoba menggodaku. Buatku, selama bisa diacuhkan, aku akan mengacuhkannya.

“Mama nanya kapan lo mau dateng lagi,” kata Rino sambil melirik jam tangannya. Aku pun ikut melihat ke arah pergelangan tangannya. Hampir jam setengah dua. Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Rino karena sepertinya akhir pekan ini Ibuku ada pesanan kue dan aku harus membantunya.

“Minggu sore. Gimana?” tanyaku.

“Oke. Gue jemput,” ujarnya.

Kami berdiri dan aku mengambil tasku.

“Gue dateng sendiri. Jangan dijemput,” kataku menolak.

“Gue jemput,” Rino berkeras.

“Enggak. Gue dateng sendiri,” kataku tidak kalah keras.

“Kalo lo enggak mau dijemput, lo enggak boleh main The Sims gue.”

Aku pun melunak.

“Oke, jemput. Gue pulang sendiri,” tawarku.

“Gue jemput dan antar!”

“Oke. Jemput. Antar,” kataku. Muak dan menyerah.

Alasan lain; aku mau main The Sims di komputernya. Aku sangat suka permainan itu dan pekan lalu, Rino baru saja meng-install expantion pack tambahan yang membuat aku makin kecanduan saja.

“Enggak,” jawabku jujur.

“Ayo,” ajaknya lagi, “sebentar aja. Oke? Nanti gue anterin pulang. Pak Husen jemput gue setengah jam lagi.”

“Kenapa dia jemput lo setengah jam lagi?” tanyaku. “Apa dia sibuk?”

“Gue emang minta dijemput jam setengah dua setiap hari. Gue pengen main dulu baru pulang,” jawabnya. “Ayolah. Sebentar aja.”

Ketika aku ada di angkot menuju rumah siang itu, aku baru menyadari kalau aku memang tidak punya teman dekat. Paling hanya Nina dan beberapa anak lain di kelas yang aku ajak mengobrol ketika jam pergantian kelas atau ketika istirahat. Aku tidak ke kantin dan makan di sana seperti anak-anak lain karena kadang aku membawa makanan sendiri. Mungkin itu yang membuatku tidak banyak mengenal anak kelas lain. Aku juga tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun karena tidak melihat ada waktu luang untuk itu.

Malamnya, aku mencoba berpikir lagi; apa aku harus mencari teman dan mulai lebih ‘gaul’ seperti apa yang dibilang Rino. Bagaimana kalau aku tidak kesepian dan mencari lebih banyak teman bukan hal yang benar-benar aku inginkan? Bagaimana kalau dengan Nina yang ada di sampingku sepanjang jam waktu di sekolah dan dengan Rino yang jadi temanku sepulang sekolah semua terasa cukup?

Ketika aku main ke rumah Rino di hari Minggu, dia bilang bahwa aku tidak perlu mencari banyak teman kalau memang tidak butuh.

“Asal lo enggak kesepian,” ujarnya.

“Gue enggak kesepian,” sahutku.

“Kalau lo enggak ada, gue kesepian,” kata Rino dan kemudian kami terdiam beberapa lama. Aku dengan The Sims yang ada di hadapanku dan Rino dengan buku yang sedang dia baca. Aku melirik ke arahnya yang duduk bersila di karpet di belakangku.

“Lo enggak kesepian,” kataku lagi.

“Tahu apa lo tentang kesepian?” tanyanya.

“Tahu kalau itu bukan masalah lo,” jawabku.

Rino tidak menyahut lagi tapi aku mendengar tawa kecilnya setelah aku mengatakan itu.

* * *