Dua: Rino (Bagian-4)

by | Jul 3, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Mungkin Rino lupa bahwa yang membuatku bisa berteman dengannya adalah banyak waktu-waktu diam dihabiskan di ruang tengah lantai dua rumahnya atau di kamarnya. Dia membaca, aku main The Sims. Aku membaca, dia asyik sendiri dengan komputernya—dan bukan main The Sims. Ketika Rino membawaku ke tengah teman-temannya, memperkenalkan, lalu beberapa dari teman-temannya itu ingin lebih dekat denganku, aku pun mulai merasa tidak nyaman. Ketika hari Minggu aku datang ke rumah Rino dan berharap bisa menghabiskan siang sampai sore tanpa banyak bicara tapi malah menemukan beberapa orang temannya yang aku kenal sekali lalu di sana, aku pun ingin pulang saja rasanya. Tapi Rino menahan.

“Ada yang mau banget ngobrol sama lo,” ujarnya sambil menunjuk salah satu cowok yang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Aku tahu cowok ini. Dia sekelas denganku dan karena itu aku tidak peduli.

“Bara?” tanyaku. “Dia sekelas sama gue. Udahlah.”

“Udahlah?” Rino balik bertanya.

“Iya, udahlah,” aku menjawab sambil menarik tangan Rino ke arah tangga. Aku sudah bersiap untuk turun dan pulang kalau obrolanku dengan Rino tidak berjalan baik. Aku tidak ingin mengambil pilihan lain. “Dia sekelas sama gue dan bisa aja buat ngobrol sama gue kalau dia mau.”

“Dia sering nyapa lo tapi lo cuekin,” kata Rino lagi.

“Dia nyapa gue basa-basi doang,” aku mencoba menjelaskan. “Mana paham gue kalau dia mau ngajak ngobrol atau apa. Gue pikir itu cuma nyapa doang. Lagian, gue enggak mau juga ngobrol banyak sama dia.”

Rino menatapku beberapa saat. Aku tahu kalau aku kelihatan sedikit marah—tentu saja aku marah, aku datang ke sini untuk mencari ketenangan, bukannya malah harus berhadapan dengan orang baru dan mengobrol dengan mereka.

“Lo kenapa, sih?” tanya Rino.

“Lo kenapa?” aku balik bertanya.

“Kita kenapa, sih?”

“Kita kenapa emangnya?”

Kami terdiam lagi. Aku tidak ingin memikirkan apapun dan Rino sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Gue datang ke sini cuma buat ketemu lo dan main, kayak biasa,” ujarku pelan. “Kalau gue mau ketemu mereka itu, gue bakalan datang ke sekolah.”

Rino menarik napas panjang, menghembuskannya pelan, lalu melirik ke arah beberapa orang di ruang tengah yang sekarang tampak sedang asyik membahas sesuatu.

“Dia suka sama lo,” kata Rino kemudian.

Aku terdiam. Bukan karena kaget atau apa, tapi karena aku tidak menyangka kalau harus berhadapan dengan hal-hal semacam ini sekarang.

“Bukan urusan gue,” jawabku ketus.

“… udah lama,” kata Rino lagi.

“Terus?” aku menantangnya.

“Yaaa … setidaknya hargailah itu.”

“Maksud lo?” aku makin sengit.

Aku tahu, di kecepatan berdebat seperti ini, aku dan Rino bisa bertengkar hebat sebentar lagi. Dia pun sepertinya tahu itu. Rino menatapku lagi. Kali ini lebih lama. Dia kembali menarik napas. Kali ini lebih dalam.

“Gue enggak tahu kalau harus mengurus yang beginian,” kataku lagi. Kali ini lebih pelan.

“Beginian?” Rino meminta penjelasan.

“Iya, beginian,” jawabku, “Harus mengurus cowok yang suka sama gue. Mengurus segala macam hubungan cowok dan cewek yang ribet. Pacaran…. Lo sebut, deh. Gue enggak tahu kalau kita harus membahas ini sekarang. Enggak bisa apa gue sama lo kayak biasanya aja. Gue enggak ada waktu untuk urusan kayak begitu dan gue enggak mau masuk ke sana. Enggak bisa apa kita temenan aja?”

“Bilang begitu sama dia,” ujar Rino.

“Lo yang bilang!”

“Enggak ada yang minta lo buat pacaran sama dia.”

“Lo nyomblangin seolah gue tertarik sama yang kayak begituan.”

“Lo enggak tertarik?”

“Enggak sama sekali.”

“Kenapa?” tanya Rino penasaran seolah hal ini benar baru buatnya. Rino sudah tahu karena aku sudah beberapa kali menjelaskan.

“Karena enggak mau,” jawabku.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah anak tangga yang harus aku turuni untuk pergi dari rumah ini setelah perdebatanku dengan Rino ini selesai. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan di rumah karena aku sudah lama sekali tidak pernah ada di rumah Minggu siang sampai sore. Aku bahkan tidak tahu acara televisi apa yang bisa aku tonton. Aku juga tidak tahu harus ke mana seandainya aku tidak ingin pulang sekarang.

“Kenapa enggak mau?” tanya Rino lagi. Mencoba mengejar jawaban yang lebih pasti dariku—terasanya.

“Karena … karena lo cukup buat gue,” jawabku agak ragu. “Karena lo cukup buat gue. Pertemanan kita ini cukup buat gue.”

Kami terdiam lagi. Beberapa orang di ruang tengah memandang ke arah kami dan aku mencoba untuk tidak peduli.

“Bagaimana kalau buat gue enggak cukup?” tanya Rino.

“Jadi lo merasa kalau lo harus memasukkan beberapa orang lagi? Kita berdua aja enggak cukup?” tanyaku.

“Bukan begitu,” jawab Rino. “Aku sudah kebanyakan teman. Mereka semua itu temanku.”

“Jadi?” tanyaku.

Rino terdiam. Aku pun terdiam menunggu jawabannya.

Siang itu, dia tidak bisa memberikannya. Kami hanya berdiri di sana beberapa lama dan setelah aku merasa kalau obrolan kami tidak akan ada kelanjutannya lagi, aku pun mulai menuruni anak tangga itu dan berjalan pulang. Sampai di rumah, aku membuka kembali koleksi komik yang aku punya—sekarang aku menyimpan semuanya dengan rapi di rak buku. Membuatku dengan mudah bisa mengambil judul mana yang ingin aku baca. Siang sampai sore ini, aku ingin membaca Topeng Kaca.

Hari Senin, aku dan Rino belum juga bicara. Aku bertemu dengannya di selasar menuju kelas dan kami hanya tersenyum. Buatku itu tidak aneh karena biasanya pun kamu begitu. Tapi karena kemarin kami terlibat perdebatan yang tidak—atau belum—diselesaikan, senyum itu pun terasa aneh. Aku tidak datang lagi ke rumahnya sampai akhir semester. Tidak lagi bicara dengannya di sekolah. Ketika itu, aku pun mulai merelakan bahwa memang setiap hal akan ada masanya. Masa-masa aku berteman dekat dengan Rino sepertinya sudah berlalu. Dia pun kelihatannya tidak keberatan dengan itu karena dia tetap populer seperti biasanya dan beberapa kali aku mendengar dia dekat dengan beberapa orang cewek di sekolah.

Tapi ketika kami naik ke kelas dua dan kami sekelas lagi, Rino mendekatiku. Aku baru saja akan meletakkan tas di laci meja dan dia sudah berdiri di depanku.

“Gue boleh sebangku sama lo?” tanyanya.

Aku terdiam. Tapi aku beranikan juga untuk bertanya, “Kenapa?”

“Kita harus menyelesaikan sesuatu,” jawabnya.

“Cara menyelesaikannya harus dengan duduk sebangku?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya. Rino meletakkan tasnya di meja yang ada di sebelahku dan duduk di sana. “Gue bukan mau deket sama lo buat mengalahkan rangking lo tahun ini. Lo akan selalu jadi rangking satu. Gue paham itu. Gue juga enggak duduk di sini buat nyontek.”

Aku terdiam. Sudah jelas ini bukan masalah akademik apalagi urusan menyontek. Aku tidak paham kenapa Rino malah meributkan hal itu.

“Bisa gue jelaskan?” tanyanya kemudian.

“Jelaskan apa?”

“Yang dulu?”

“Yang dulu apa?” tanyaku lagi, “Gue udah lupa.”

“Tentang cowok yang suka sama lo itu,” jawabnya.

“Urusan itu lagi,” ujarku jengah.

“Ke rumah gue, ya. Mau enggak? Gue jemput,” pintanya.

“Enggak,” jawabku.

“Kenapa?”

“Kita udahan, kan?”

“Udahan?” tanyanya bingung.

“Temenannya udahan.”

“Emang temenan bisa udahan?”

“Bisa dan kita udahan.”

“Kok gampang banget?”

“Lo yang bikin gampang!” suaraku mendadak meninggi.

Rino tersentak. Aku pun kaget karena tidak menyangka bisa mengeluarkan suara sekencang itu dengan nada yang seketus itu.

“Oke. Di bawah pohon mangga pas istirahat,” katanya lagi.

Ada bangku-bangku kayu di bawah pohon mangga di bagian samping sekolah yang biasa dipakai murid-murid untuk menghabiskan waktu istirahat. Di sana biasanya selalu ramai.

“Perlu banget?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya.

“Lo enggak boleh duduk di sini,” kataku. Aku tidak bisa membayangkan harus duduk di samping Rino sampai tahun depan.

“Gue maksa. Ini hak gue buat duduk di mana aja,” jawabnya.

“Oke,” aku berkata cuek. Tidak ingin memperpanjang urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara lain; aku pun pindah ke tempat duduk lain. Agak ke belakang tidak mengapa asal tidak dekat dengan tempat duduknya. Tapi Rino menahan tanganku.

“Please…,” ujarnya memelas.

“Ini ada apa, sih?” tanyaku tidak sabar.

Tapi bel tanpa pelajaran dimulai sudah berbunyi. Kelas menjadi riuh oleh murid yang baru datang dan berebutan tempat duduk.

“Pleaseee….” Dia memelas lagi.

“Whatever!” jawabku ketus.

“Mama nyariin lo,” sambungnya dan aku tidak menanggapi lagi kalimatnya yang selanjutnya, “Dia nitip roti bakar stoberi buat lo. Ini ada di tas gue. Nanti istirahat kita ngobrol, ya.”

Terakhir kami bicara, lebih empat bulan yang lalu, diakhiri dengan perdebatan. Pembicaraan kami yang pertama setelah itu, juga dimulai dengan perdebatan. Aku tidak melihat ada yang harus dijelaskan dari ini semua selain; masanya sudah lewat.

* * *