Dua: Rino (Bagian-5)

by | Jul 11, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Kami tidak bicara di jam istirahat itu. Tidak juga sepulang sekolah. Tidak juga sehari setelahnya. Aku menghindarinya walaupun aku tidak bisa menolak roti bakar dengan selai stoberi di tempat makan bergambar Shizuka berwarna merah muda yang dia tinggalkan di mejaku siang itu. Dia meneleponku Sabtu pagi, bertanya apa dia bisa menjemputku siang atau sore nanti. Aku menolak dengan alasan kalau aku masih harus membantu ibuku dan juga pekerjaan rumah yang belum selesai. Ini alasan yang bagus agaknya karena dia tidak lagi memaksa. Lalu keesokan harinya, di jam yang sama, mamanya menelepon. Mengundangku makan malam.

“Tante akan masak nila rica rica kesukaanmu,” ujarnya. Iya, menu itu yang paling aku suka kalau aku makan di rumah mereka. Bikinan mamanya itu luar biasa enaknya. “Makan malam saja. Mengobrol sebentar,” katanya lagi.

Aku tidak bisa menolak. Jam tujuh malam, aku dijemput. Rino yang datang dengan sepeda motornya. Aku terpaksa membonceng di belakang sambil berpikir kalau mamanya yang mengundangku, bukan dia. Ternyata benar saja, setelah nila rica rica itu tandas—dan aku dipaksa untuk membawa pulang dua ekor ikan yang sudah dimasukkan ke tempat makan—Rino pergi dari meja makan. Tinggal aku dan Tante Rita. Bicara tentang hal remeh-temeh; sekolah, pelajaran, dan lainnya. Obrolan kami masih seperti dulu ketika aku juga banyak menghabiskan waktu di sini dan bicara dengannya setelah makan atau membantunya di dapur untuk mencuci piring dan membereskan meja makan.

“Rino kangen sama kamu, kayaknya,” katanya kemudian sambil memindahkan piring kotor ke tempat cuci piring. Aku berjalan di belakangnya, membawa tiga buah gelas yang tadinya terisi jus jeruk. Sekarang gelas itu kosong dan mendadak aku ingin mengabiskan satu gelas air putih karena tenggorokanku terasa kelu. Tante Rita melanjutkan, “Kalian itu kenapa, sih?”

“Enggak kenapa-kenapa, Tante,” jawabu—berbohong. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Menjelaskan semuanya dari awal, aku tidak akan bisa karena aku pun tidak mengerti masalah kami apa.

“Kamu enggak suka dicomblangin sama temennya itu?” tanyanya lagi. Dia sudah berdiri di depan tempat cuci miring, sedang memakai celemek tahan air dengan motif bunga matahari berwarna kuning yang keterlaluan cerahnya. Aku berdiri dan mengatur gelas-gelas yang aku bawa agar mendapat tempat di antara tumpukan piring kotor. Aku sudah menawarkan diri untuk mencucinya tadi tapi Tante Rita menolak. Aku tahu kalau sudah malam begini, pembantu di rumah ini sudah pulang dan Tante Rita tidak akan menumpuk semua peralatan kotor ini sampai besok pagi. Aku sudah tahu kebiasaannya.

“Hmmm … itu iya, Tante,” jawabku tidak yakin, “tapi bukan itu penyebabnya, sih.”

“Terus apa?” tanyanya lagi.

Aku tetap berdiri di sampingnya. Berusaha membantu untuk membuang sisa makanan ke tempat sampah agar tidak menyumbat saluran air.

“Aku sendiri enggak tahu, Tante,” jawabku lagi. “Memang udah enggak bisa temenan lagi, mungkin.”

“Kenapa begitu?” tanyanya.

Aku terdiam. Sungguh aku enggak mengerti. Sekarang, kalau aku lihat lagi ke masa itu, aku tentu bisa dengan mudah mengatakan apa yang terjadi sebenarnya karena sudah lama berlalu dan aku tidak lagi ada di dalamnya dengan berbagai perasaan yang aku rasakan waktu itu. Aku sudah melihatnya seperti orang luar yang melihat masalah orang lain. Waktu itu, aku tidak menjawab ada apa karena memang tidak paham yang sebenarnya itu apa. Bukan karena aku ingin menyembunyikan sesuatu.

“Kalian itu cocok. Pas.”

Aku terdiam. Terdengar suara piring kaca yang beradu dengan sendok ketika aku membuang sisa tulang.

“Rino itu suka padamu,” ujarnya.

Aku tersentak. Kepala ikan jatuh ke lantai. Dengan gugup aku mengambilnya dan memindahkannya ke tempat sampah. Lantai itu menjadi sedikit kotor. Aku mengambil lap yang biasa dipakai untuk membersihkan lantai dan meghapus sisa kuah cabe yang ada di sana.

“Kayaknya enggak begitu, Tante,” jawabku ketika aku sudah kembali ke sampingnya. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Hampir semua piring sudah dicuci dan dengan sigap Tante Rita memindahkannya ke rak kecil yang ada di sampingnya untuk meniriskan sisa airnya.

“Dia suka padamu. Dia jatuh cinta padamu. Anggaplah itu cinta monyet, tapi kenyataannya seperti itu,” katanya lagi. Dia lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut sambil menatapku, “Tapi kalian masih terlalu muda untuk urusan itu.”

“Iya, Tante,” kataku. Kalimatnya memang tidak perlu ditanggapi seketika itu juga tapi aku tetap melakukannya agar dia merasa kalau dia didengarkan.

“Tante ingin kalian berteman saja dulu. Keadaan seperti ini,” dia berhenti sebentar dan mengangkat kedua tangannya ketika mengatakan kalimat ini, “enggak bisa dipakai untuk main-main. Tante tahu kalau Rino banyak main tapi dia serius dengan sekolahnya. Tante ingin dia tetap serius sampai lulus karena hanya dia satu-satunya yang Tante punya. Dia harus berhasil. Enggak ada pilihan lain. Semua selain dia, sudah lama berantakan.”

Aku melihat matanya memerah.

“Aku paham, Tante,” kataku lagi.

Dia menarik napas panjang. “Tapi kamu anak baik. Tante tahu itu. Rino pun akhir-akhir ini enggak karuan jadinya.”

Arah pembicaraan ini mulai tidak bisa aku tebak. Kalau yang aku tangkap dari semua yang Tante Rita katakan tadi, dia ingin aku menjauhi anaknya karena Rino satu-satunya harapan hidupnya. Pacaran hanya akan membuat Rino lengah dengan tanggung jawab yang lain. Tapi kemudian, perempuan yang masih kelihatan muda di umurnya yang lebih empat puluh tahun itu, mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Tante ingin kamu jangan tinggalkan dia….”

“Oke,” jawabku. “Jadi?”

“Kita temenan,” jawabnya.

“Kita temenan,” aku mengulang yang Rino katakan.

Kami tersenyum karena rasanya semua masalah sudah selesai.

“Rhinocheros,” panggilku, “temenannya yang lama, ya.”

“Oke,” jawabnya.

Yang dia dan bahkan diriku tidak tahu di malam itu; rasa sakit yang muncul ketika aku berjalan ke teras dan mendengar suara sepeda motornya menjauh. Aku baru paham sekarang, setelah belasan tahun berlalu, kalau ketika itu aku tidak menginginkan hal itu—dia pun begitu. Kalau aku juga menyimpan rasa padanya walaupun seperti kata Tante Rita, itu hanya cinta monyet saja. Kami tetap berteman. Merasa cukup dengan berteman. Sampai beberapa bulan kemudian, ketika seseorang datang, dan mengacaukan semuanya. Aku pun menyesali malam ini dan hari-hari setelahnya.

Aku pun memahami kalau tentang perasaan, sebaiknya dikatakan saja. Cinta monyet sekali pun. Sebaiknya diakui saja. Membawa itu diam-diam di dadamu ternyata sakit. Aku baru tahu itu.

* * *