Firasat

by | Apr 30, 2018 | Appreciative April | 0 comments

Langit sedang tidak terang-terangnya. Angin kuat meniup gumpalan awan dan menyisakan langit biru yang tidak terang. Aku menghitung waktu, kumulai dari detik, menit, jam, hari, bulan kemudian tahun.

Aku rindu.

 Pesan singkat yang terkirim begitu saja padanya. Pesan yang terkirim saat tombol ‘kirim’kutekan. Aku menunggu, dan seperti dugaanku, memang tidak ada jawaban. Ngomong-ngomong ini bukan pesan rindu pertama yang kukirim. Ada lebih dari sepuluh pesan rindu yang telah dicampur pesan kabar keadaanku. Pesan-pesan itu menumpuk rapih dengan centang satu. Dan aku harap-harap cemas menunggu centang biru. Serendah itu harapanku, mencoba mengharap kelabu menjadi biru.

Aku beranjak dari duduk, kuraih vas bunga yang airnya mulai berkurang. Kalau kuingat lagi, sudah dua hari aku belum mengganti airnya. Batang demi batang pokok bunga mungil ini kukeluarkan, melihat akarnya yang panjang membuat aku tersenyum.

Kuharap, hubunganku dengannya akan seperti akar ini. Terus memanjang walau terendam di dalam air keruh sekali pun. Tetap memanjang walau anak-anak nyamuk hidup di sekeliling. Tetap memanjang dengan alasan apa pun.

 Ya, memanjang. Sesederhana itu harapanku untuk hubungan kami. Sampai tak jarang aku merasa sakit sendiri.

Kalau kuingat kembali, memang terlalu banyak luka. Tapi sikap naifku selalu berkata; suka yang ia tinggalkan sudah cukup menambal semuanya.

Kalau kuingat dulu, hanya akan ada lengkungan bulan sabit tersemat di bibir. Masa-masa di mana aku benar-benar kasmaran separuh mati. Masa-masa di mana aku begitu terpesona akan parasnya—hingga saat ini.

Hai.

Itu adalah pesan singkat terbodoh yang kukirim tanpa berpikir panjang. Pesan singkat yang memulai semua kerumitan rindu yang aku sendiri juga bingung untuk memecahkannya. Pesan yang membuatku tertawa akan tingkahnya pada masa itu. Tingkah ‘jual mahal’ yang sulit untuk dijelaskan.

“Siapa, ya?”

Pertanyaan normal untuk orang lain kepada orang lain. Jujur, antara keki dan entah apa namanya itu, aku mati gaya untuk seketika. Namun, lambat laun kami menikmati obrolan demi obrolan yang kami lewati. Obrolan kurang penting yang tidak bisa dipungkiri kalau itu menyenangkan. Mulai dari saling memperhatikan makan dan apa yang baru saja kami berdua alami hari ini. Tertawa, merajuk, senyum geli dan masih banyak lagi. Hari cukup menyenangkan sejak ada dia dan kuharap ia pun sama.

Satu, dua, tujuh, sampai beratus harapan kupanjatkan dalam do’a. Nanti apabila datang saatnya dan kami benar bersama alangkah senang aku rasanya. Jarak bukan halangan. Jarak bukan apa-apa. Rinduku bisa jadi tolak ukur, suaranya bisa menenangkan rindu yang terlanjur membara.

Namun, sekarang dia hilang. Harapanku tidak lagi seperti akar bunga yang memanjang. Harapanku berubah jadi seperti bunga dengan daun kekuningan yang batangnya terendam air. Ingin terus nampak segar tapi busuk di dalam air tidak bisa dinafikan. Seolah pikiran kurang dewasaku datang kembali. Pikiran secetek air becek di jalanan. Mungkin sekarang dia sedang bersama wanita lain. Saling bicara dan bertukar tawa. Mungkin dia sekarang sedang asik dengan kehidupannya, aku yang jauh dan bukan siapa-siapa pasti bukan prioritasnya. Aku yang—ah!

Kupukul kepalaku beberapa kali, yang benar saja. Sampai kapan aku seperti ini? Berharap dengan orang yang sama sekali tidak mengharapkanku. Bagaimana dia bisa begitu tahan untuk tidak meghubungiku sedangkan aku hampir mati dililit rindu? Bagaimana dia bisa tetap makan sedangkan aku, ingin makan saja aku teringat padanya. Ah, apakah dia sudah makan hari ini? Apakah keadaanya baik-baik saja? Apakah aku akan terus menghawatirkannya? Dunia tidak adil untuk seketika. Kenapa hanya aku yang merasakan hal seperti ini?

“Apa kau merindukanku?”

“Aku?” 

“Iya.”

Ada jeda yang cukup lama.

“Aku sangat merindukanmu.” 

Saat itu, aku menarik napas panjang. Ada keraguan yang kusimpulkan secara sepihak. Ada keraguan saat dia ingin menjawabku. Coba saja pertanyaannya dibalikkan kepadaku, dalam hitungan kurang dari tiga detik pasti jawabanku; rindu. Terkadang perasaan konyol seperti ini cukup mengganguku, aku sengaja melontarkan pertanyaan remeh temeh yang begitu ingin kutahu jawabannya. Seperti meyakinkan diriku sendiri dengan seberapa cepat ia menjawabku. Menjawab semua pertanyaanku.

“Bagimu apa artinya aku?”

Pertanyaan ini sering kali kutanyakan pada diriku sendiri. 

“Bagiku kamu cukup istimewa. 

“Hanya itu?” 

“Sayang, istimewa itu menyangkut semuanya.”

“Misalnya?” 

“Hmmm….

“Hmmm? Ah, kamu mikir dulu. Itu artinya aku gak istimewa.”

Aku mendengar sedikit tawa di balik telepon. 

“Ya, sudah. Kamu dulu, deh. Menurut kamu aku ini seperti apa?”

 

“Kamu itu cinta pertama. Akan sulit melupakan kamu. Jadi, aku gak akan pernah melupakan kamu.”

Kami berdua terdiam. Hanya ada suara kipas angin dari ruangannya yang terdengar masuk ke dalam panggilan telepon. Kemudian dia terbatuk. Mungkin dia gugup.

“Aku cinta pertama?”

“Iya, kenapa? Shock?”

“Ah, nggg, apa aku harus percaya?”

“Kalau begitu, apa aku juga harus percaya kalau kamu bilang; aku mencintaimu?”

“Apa kamu punya alasan untuk tidak percaya?”

“Lah, apa kamu juga harus dikasih alasan untuk percaya?”

“Sayang, kamu sudah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga,”

“Hehehe.”

Konyol, bahkan jenis perbualan yang kusebut; perbincangan perasaan ini terus main-main di telingaku. Dan lebih sialnya lagi aku sudah merindunya lagi. Ke mana dia?

Kenapa seolah-olah hanya aku saja yang tersiksa setelah dia tiada? Ah, tidak. Dia bukan tiada. Dia ada, hanya saja sedikit lambat menunjukkan diri.

Rasa resah ini mulai naik ke ubun-ubun. Kucuci vas bunga dan mulai kuletakkan pokok demi pokok bunga ke dalamnya. Kuisi air perlahan dan kusimpan di sebelah foto aku dan dia yang kuedit melalui Photoshop.

Kuraih ponselku dan pesanku masih cetang satu. Ke mana dia?

Kamu ke mana?

Kamu enggak rindu?

Sudah makan, kah?

Apa kamu tidur nyenyak semalam?

Sayang….

Sayangku kamu sedang apa?

Aku menjatuhkan kepala ke atas meja. Kenapa rasanya sefrustasi, ini? Setidaknya yang harus dia lakukan sekarang adalah membuka ponselnya dan membaca semua pesan menumpuk dariku. Seharusnya yang dia lakukan sekarang adalah meneleponku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Seharusnya yang dia lakukan juga saat ini ialah bertanya apakah aku merindukannya!

Kenapa rasanya sesak sekali. Apakah aku terlalu berharap hingga rasanya seperti ini? Kenapa aku begitu takut kehilangan dia? Kenapa hanya aku yang merasakan semua ini. Seharusnya aku membangikan perasaan ini juga kepadanya biar dia tahu rasanya seperti apa.

Kamu ingin menjauh?

Sayang, ini sudah seminggu. Kamu ke mana?

Sayang!

Sayang!

Sayang!

Sayang balas aku atau kita tidak usah berhubungan lagi.

Kumohon, biru. Biru. Biru. Biru.

Ah! Kujatuhkan kepala untuk yang kesekian kalinya.

“Satu, dua, tiga, akan kuhitung sampai sepuluh. Dan kalau dia tidak membalas pesanku, artinya kami berakhir. Hubungan jarak jauh yang memalukan!” Kupukul wajahku beberapa kali.

Aku harus ulang dari satu.

“Satu.”

“Dua.”

“Tiga.”

“Empat.”

“Lima.”

“Enam.”

“Tu—ah, sayangku. Sungguh kau akan melakukan ini padaku?”

Aku berhenti menghitung. Tidak usah berhitung. Dia memang ingin berpisah denganku. Biarkan saja. Saat aku bangkit dari kursi, tiba-tiba ponselku berbunyi. Nah, kan!

“Sayang!”

“Maaf, ponselku rusak. Aku baru saja membenahinya dan semua kontak nomor yang tersimpan hilang. Aku susah payah mencari nomormu. Untung dapat kutemukan. Aku pernah menuliskannya di kertas kecil yang kusimpan di lemari,”

“Benarkah?”

“Jelas bohong! April mop!”

“Sayang, kamu serius?”

“Iyalah, segitu rindunya kamu sama aku? Engga nyangka.”

Langsung kututup telepon darinya. Sekarang aku menunduk malu sambil menangis. Si bodoh itu tidak tahu betapa aku takut saat dia tidak menghubungiku.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 81%
  • Setting 71%
  • Karakterisasi 73%
  • Poin Tambahan 80%

Selamat Jajang Trisna, upetinya sudah terpilih lagi untuk masuk lima besar bulan ini.

Seperti biasa, ide Jajang Trisna selalu sederhana, akan tetapi penekanan perasaan dan dialognya membuat cerita lebih bisa dibayangkan. Perasaan rindu karena pacaran jarak jauh bisa dikemas semanis ini, Ndoro suka. Ndoro juga baru tahu kalau inspirasi terbesar Jajang Trisna adalah centang biru. Baiklah….karena bukan hanya rindu yang berat perubahan warna centang di pesan singkat pun besar artinya hak hak hak!!!

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 68%
  • Plot 82%
  • Setting 72%
  • Karakterisasi 74%
  • Poin Tambahan 80%
Apa, sih, yang paling bikin galau pasangan LDR selain komunikasi enggak lancar? Hahahaaa. Ini adalah ide yang diambil oleh cerpen ini. Sederhana dan banyak mengeksplorasi perasaan karakternya–karakter cewek yang gampang banget sedih kalau pacarnya hilang sedikit dari laman chat. Ini bukan cerpen yang berat. Sederhana tapi bikin kamu bilang, “Ah, aku juga gitu, kok.” (Aku dan dua puluh juta gadis lain di Indonesia ini, bisa jadi. Ehem, statistik enggak dijamin.)

Saya suka cerita dengan ide yang bisa ‘dibawa’ oleh penulisnya dan dia bisa menyampaikan dengan baik karena bagaimanapun, menulis itu komunikasi. Urusan sampai apa yang ingin kamu ceritakan itu yang pertama, bagaimana menyampaikannya, itu masuk urusan kedua. Ide sederhana yang dituliskan dengan baik bisa membuat cerita terasa ‘selesai’, enggak kegedean ide, dan bisa dibaca dengan enak. Cerpen ini memberikan semua yang saya tuntut dari sebuah bacaan. Jadi, saya suka…. ^^

(Saya yakin ini setengahnya curhat, btw….)

Total Apresiasi