“Dia menyelamatkan nyawaku lebih banyak daripada sebaliknya,” jawabku. Tak ingin kesal lebih jauh, aku bersandar ke pintu kereta dan kembali menerawang. “Perang sudah usai. Mestinya semua orang sudah bisa pulang, dan memulai semuanya lagi dari awal.”

RD. Villam

Penulis

Kembali ke Morova

RD. Villam

Ketika aku dan Alex memutuskan untuk pulang ke utara, dengan menumpang satu-satunya kereta tua yang bisa kami dapatkan di Sarajevo, perang sudah lama berakhir. Tentu saja aku tak berharap semua kota yang kami lewati bisa kembali normal atau ramai seperti dulu, tetapi mestinya paling tidak aku bisa melihat beberapa orang—petani yang bekerja di penggilingan, wanita yang memetik buah di perkebunan, atau anak-anak yang berlarian di tepi ladang. Sayangnya, selama perjalanan hanya desa-desa di selatan yang tampak masih berpenghuni. Begitu melewati perbukitan aku tak melihat seorang pun. Rumput liar dibiarkan menyelimuti ladang, gerobak dan bajak juga teronggok penuh debu di sudut-sudut jalan.

Perang tidak sampai ke sini, setahuku. Namun kemudian laki-laki asing yang menemani kami di gerbong paling belakang berkata, “Sebagian besar sudah mengungsi ke Zenica. Wanita, anak-anak, orang-orang tua. Karena yang masih muda dan kuat tentunya akan seperti kalian, bukan? Pergi berperang?” Orang itu berumur lima puluh tahunan, dekil—tak beda dengan kami—serta berjanggut tebal. Ia menyeringai kala menatap sahabatku. “Kau juga, Nona?”

Alex, yang berambut pendek dan gayanya mirip laki-laki itu, meludah di sampingku—ke arah luar kereta tentu saja. “Kau punya masalah dengan perempuan, Pak Tua?”

“Tidak.” Laki-laki itu terkekeh. “Hanya ingin tahu.”

“Temanku ini berbuat lebih banyak saat perang dibanding aku,” kataku pada si laki-laki tua, “kalau kau ingin tahu.”

“Dia mengira orang yang akan ditemuinya bakal mau menerimanya lagi,” kembali Alex yang menjawab.

“Oh. Maksudmu membunuh? Sudah membunuh lebih banyak?”

Aku menatapnya lekat-lekat, sementara wajah Alex memerah. Ya, laki-laki itu benar, tapi rasanya aku tidak suka caranya berbicara.

“Dia menyelamatkan nyawaku lebih banyak daripada sebaliknya,” jawabku. Tak ingin kesal lebih jauh, aku bersandar ke pintu kereta dan kembali menerawang. “Perang sudah usai. Mestinya semua orang sudah bisa pulang, dan memulai semuanya lagi dari awal.”

“Mmm … ya. Mungkin.” Laki-laki itu mengangguk ragu. “Maaf, jika ucapanku tadi mengganggumu. Tapi kau tampak khawatir. Kalian berdua. Kalian berasal dari sini?”

Alex mendengus. “Kami dari Zenica. Tapi kelihatannya hanya aku yang akan turun di sana nanti.” Ia melirik sebal ke arahku. “Dia lebih cepat, di Morova, walaupun sebenarnya itu bukan rumahnya.”

“Oh. Kenapa?” tanya laki-laki tua itu lagi.

“Dia mengira orang yang akan ditemuinya bakal mau menerimanya lagi,” kembali Alex yang menjawab.

“Diam.” Aku langsung mengeplak kepalanya. “Mulut besar.”

“Bodoh.” Alex tertawa kering. “Setelah lima tahun, kaupikir—”

Aku menatapnya tajam, dan gadis itu membuang muka.

Si laki-laki tua terkekeh sok tahu. “Tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu dia masih ada di sana. Kau sudah coba menelpon?”

Belum. Dan bukan soal itu. Aku menggeleng perlahan.

Kali ini Alex tampaknya juga tak berminat menjawab.

“Ah, sudahlah. Aku nanti juga turun di Zenica,” kata laki-laki itu. “Tapi masih lama, sementara Morova sudah dekat. Jadi kupikir …” Ia mengeluarkan sebotol minuman dan tiga buah cangkir dari dalam tasnya. “Mungkin kita bisa minum-minum sebelum kau turun.” Ia menyerahkan cangkirnya padaku dan Alex, lalu menuangkan minuman. “Semoga kau beruntung, dan bisa kembali memulai semuanya dari awal.”

Aku sedang tidak berminat mabuk, tetapi tampaknya Alex justru sebaliknya dan langsung minum tanpa ragu. “Terima kasih, Pak Tua,” katanya. Gadis itu memandangiku, tersenyum—memaksa diri, aku tahu. “Minumlah, Niko. Ini enak. Dan semoga impianmu tercapai.”

“Aku ke Morova bukan untuk bermimpi, Alex.”

“Benarkah?” Gadis itu kembali minum, seolah menantangku.

Aku menatapnya beberapa saat, sebelum akhirnya mengikutinya.

***

Aku terbangun di tepi padang rumput. Di samping rel.

Lama aku terbaring, membiarkan sinar matahari menyengat wajahku, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Lalu aku duduk dan cepat-cepat meraba setiap kantong baju dan celanaku. Aku kehilangan uang, tas, berbagai peralatan dan pistol yang kupunya. Intinya, aku dirampok.

Bangsat! Laki-laki itu menipuku! Pasti ada semacam obat bius di minumannya! Untung aku masih selamat. Tapi Alex? Dia juga minum, bahkan lebih banyak daripada aku. Apakah dia masih ada di kereta?

Aku berdiri, memandang berkeliling. Angin bertiup lambat-lambat menggoyang rerumputan liar di sepanjang kiri-kanan rel. Tempat ini terasa lebih sunyi setelah aku tak lagi berada di atas kereta. Sudah jelas tak ada manusia sejak bermil-mil yang lalu, dan kereta berikutnya dari Sarajevo mungkin juga baru lewat seminggu lagi. Aku harus berjalan. Ke Morova. Semoga di sana masih ada orang, termasuk dia yang kucari. Juga telepon untuk menghubungi Alex. Atau mobil yang bisa kupakai, seandainya aku harus melanjutkan perjalanan ke Zenica.

Aku berjalan, dan tiba di Stasiun Morova sekitar sejam kemudian; aku tak tahu pastinya, tapi yang jelas matahari sudah lebih condong ke barat. Seperti yang kuduga, memang tak ada siapa-siapa. Dan jika di stasiun kosong, kemungkinan besar di kota sama saja. Aku mulai ragu. Debu tebal yang terbang bergulung-gulung seolah menyuruhku untuk segera pergi. Tetapi aku sudah telanjur tiba di Morova, dan seingatku kota ini juga tidak begitu luas. Aku bisa mencari sebentar.

Aku menyusuri jalanan ke utara. Setiap rumah, toko atau bangunan yang kutemui tampak gelap dan pintunya tertutup rapat. Tak ada juga mobil yang tertinggal, seolah semua orang memang telah berniat pergi entah sampai kapan. Aku sampai di tempat yang kutuju. Rumah tua di ujung kota, berhalaman luas, bertingkat dua dan berdinding kelabu, yang seingatku dulu tidaklah sekusam ini. Rumah itu kosong. Aku belum masuk, tapi jelas tak mungkin ada orang di dalam sana.

Selama beberapa saat aku berdiri termangu di terasnya, kemudian duduk di salah satu kursinya. Lejla. Di sini dulu kami berdua berbincang untuk terakhir kali. Dia tertawa, juga menangis. Ya, bukan pembicaraan yang menyenangkan pada akhirnya, namun kenangan itu, betapapun pahit, tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Aku mengangguk mantap. Aku masih punya kesempatan, bukan? Jika tidak ada di sini, kemungkinan besar Lejla ada di Zenica. Aku tak tahu nomor teleponnya, tapi aku bisa mencarinya.

Telepon? Hei, aku bisa menelepon Alex dari sini!

Semoga sambungannya belum putus biarpun telah lama terbengkalai. Kemungkinannya kecil, tetapi siapa tahu. Aku mencoba membuka pintu depan. Sayang handelnya ternyata tak mau bergerak sedikit pun; entahlah, mungkin sudah rusak. Aku lalu mengitari rumah menuju pintu samping. Namun kondisinya pun sama saja. Dua pintu yang tak hanya terkunci, tapi juga sama-sama rusak!

“Lejla, ini Niko. Lejla,” aku memanggil, karena jika benar orang ini Lejla, aku tak ingin dia meringkuk ketakutan di kamarnya ketika mendengar ada orang asing masuk ke dalam rumahnya.

Lalu aku teringat, di halaman belakang ada gudang bawah tanah yang menyambung ke dalam rumah. Aku ke sana, dan beruntung, karena ternyata papan pintu gudang itu sedikit terbuka. Aku pun coba mengangkatnya, yang rasanya lebih berat daripada yang dulu kuingat. Untunglah aku bisa membukanya lebih lebar dan masuk ke dalam. Aku menyusuri gang kecil, menaiki tangga kayu, hingga akhirnya sampai di pintu dapur. Pintu itu tidak terkunci.

Kali ini aku mulai curiga, jangan-jangan masih ada orang di sini.

Mungkinkah Lejla? Tidak, maling lebih mungkin. Tapi seandainya maling pun, mestinya ia sudah lama pergi. Tetap, rasanya lebih nyaman kalau aku memegang senjata. Aku pun mengambil sebuah pipa besi, lalu perlahan mendorong pintu dapur. Aku melangkah masuk dan memandang berkeliling. Sinar matahari yang menyelinap masuk ke dalam melalui celah jendela membantu penglihatanku. Sejauh ini aman.

Aku melanjutkan berjalan ke ruang tengah. Tak ada siapa pun. Tetapi tampaknya kini aku justru tidak bisa lagi bernapas lega. Kursi, meja, lemari atau benda-benda lainnya tidaklah berdebu seperti perkiraanku. Ya, ada seseorang, yang tinggal di sini, pasti. Lejla, mungkinkah?

Aku mendongak ke atas tangga, menatap sepasang pintu di lantai dua yang saling berhadapan. Pelan-pelan aku naik.

“Lejla, ini Niko. Lejla,” aku memanggil, karena jika benar orang ini Lejla, aku tak ingin dia meringkuk ketakutan di kamarnya ketika mendengar ada orang asing masuk ke dalam rumahnya.

Tapi, bagaimana jika bukan?

Kupegang pipa besiku erat-erat lalu kubuka pintu kamar sebelah kanan. Kuperhatikan setiap sudut. Gelap, rapi. Kosong.

Aku beralih ke kamar sebelah kiri. Sama saja. Lejla tak ada di sini.

Jadi, apakah aku mesti lega, atau justru sebaliknya?

Atau mungkin aku terlalu khawatir?

Kesal, aku menuruni tangga dan langsung menuju telepon yang tergeletak di atas meja di samping jendela. Aku meraih gagangnya dan mulai memutar nomor yang kutuju. Bunyi merdu mengalun—syukurlah, sambungannya masih ada—disusul suara ponsel diangkat.

“Halo. Alex?”

Tak ada jawaban, walaupun teleponnya juga tidak ditutup.

“Ini Niko. Aku di Morova. Tidak ada orang di sini.” Aku menunggu beberapa saat. “Alex? Kau di sana? Kau baik-baik saja?”

Telepon diputus. Sial!

Segera aku memutar nomornya lagi, lalu menunggu dengan jantung berdebar. Kali ini tidak diangkat.

Aku meletakkan telepon. Kekhawatiranku memuncak. Sudah jelas ada yang tidak beres! Apa nasib Alex lebih buruk dariku? Ia dirampok, dan yang mengangkat telepon tadi bukan dia?

Gelisah, aku menyingkap tirai dan melihat ke halaman. Matahari hampir terbenam, lebih baik aku segera pergi. Kalau berlari aku bisa sampai di Zenica besok, dan menemukan kereta tua sialan itu.

Tatapanku berhenti ke satu titik, pada bayangan gelap di seberang halaman depan. Itu … ada seseorang di sana?

Dadaku berdegup kencang. Aku terpaku. Kemudian cepat-cepat aku berbalik, lari menuju ruang belakang, ke dapur dan akhirnya turun ke gudang. Aku keluar dan segera menyusuri dinding samping rumah. Kalau benar ada orang di sana, aku harus tahu siapa dia.

Aku berlari menyeberangi halaman, namun lalu berhenti. Matahari sudah menghilang di balik atap-atap bangunan, menyisakan kegelapan di setiap sudut kota. Aku memandang jauh ke ujung jalan.

Ada orang di sana, berdiri menatapku, benarkah?

Tidak, mungkin hanya perasaanku.

Suara berderit terdengar. Aku menoleh ke arah rumah di belakangku. Pintu sampingnya, tadi baru saja terbuka? Ragu, aku menoleh lagi ke ujung jalan, lalu akhirnya memutuskan untuk kembali. Dan benar, pintu samping yang tadi siang terkunci, kini sedikit terbuka. Keringat dingin merayapi tubuhku. Memang benar-benar ada orang di rumah ini!

Kudorong pintu perlahan. Di dalam sana adalah ruang tengah tempat tadi aku menelpon, yang sekarang tampak lebih gelap.

Tidak. Ada sedikit cahaya, remang-remang, dari lantai dua.

Aku melangkah masuk sambil melongok ke atas tangga. Entah hanya perasaanku atau bukan, tapi ruangan ini sekarang terasa lebih hangat, seperti … sebuah rumah yang sebenarnya?

Cahaya itu turun. Kini aku bisa melihat. Sesosok wanita bergaun putih berjalan menuruni tangga. Ia membawa sebatang lilin beralaskan tatakan kayu. Rambutnya panjang dan kulitnya pucat.

Bibirku bergetar. “Lejla?”

***

Aku semakin bingung. “Tapi, kenapa kalian kembali? Apa yang kalian harapkan di sini? Kota ini sudah … mati.”

Wanita itu tidak menjawab. Ia menghampiri meja makan bundar di tengah ruangan dan meletakkan lilinnya. Di sana barulah ia menoleh, dan berkata, “Duduklah, Niko.”

Aku menatapnya ragu, tapi lalu menurut. Aku duduk, dan ia duduk di depanku. Selama beberapa saat kami hanya saling memandang. Setelah semua yang kualami tadi ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Masalahnya aku tak harus mulai dari mana.

“Kau … masih di sini?” tanyaku.

“Aku tak pernah pergi,” jawabnya.

“Aku tadi mencarimu ke atas …”

“Dan kau belum melihatku.” Lejla menatapku lekat-lekat sambil tersenyum. “Kau tampak lelah. Kau ingin beristirahat?”

Aku menggeleng. “Aku punya banyak pertanyaan, Lejla. Tentang kota ini. Kenapa semua orang pergi, … dan kenapa kau tidak.”

“Semua orang pergi. Tapi, beberapa lalu kembali.”

“Maksudmu, di luar sana ada yang lainnya?”

“Ya.” Ia mengangguk.

“Aku … tidak melihat mereka,” kataku ragu.

“Hanya pada saat siang.” Ia tersenyum lagi.

Aku semakin bingung. “Tapi, kenapa kalian kembali? Apa yang kalian harapkan di sini? Kota ini sudah … mati.”

“Ini rumah kami. Kami akan tetap di sini, sampai waktu kami tiba.”

“Waktu?”

“Ketika kami memang harus pergi.” 

“Kau menunggu sesuatu?” tanyaku.

“Ya. Dan mungkin kau tahu. Itulah kenapa kau datang kemari.”

Maksudnya, ia memang menungguku?

Aku tersenyum lega. “Lejla, aku kemari untukmu. Maafkan aku karena tak pernah bicara padamu selama lima tahun. Tetapi aku masih mencintaimu. Perang sudah usai, dan sekarang aku ingin membawamu pergi. Kita bisa memulai semuanya lagi, dari awal.”

Lejla menatapku tanpa berkedip, seolah hendak melihat jauh sampai ke dalam diriku. Saat itulah, mendadak, aku merasa semua ini salah.

Perasaannya, atau perasaanku, tidaklah seperti yang kuharapkan.

“Kau yakin masih mencintaiku, Niko?”

“Ya,” jawabku ragu.

“Terima kasih. Itu hal paling indah yang kudengar setelah sekian lama. Tetapi, bukan itu yang kutunggu. Maaf.”

Bukan itu. Aku terpaku. Bukan aku.

Suara tawa kecil lalu terdengar dari tangga di sampingku. Aku menoleh, dan hampir saja terlonjak begitu seorang gadis kecil berlari sedemikian cepatnya melewatiku. Umurnya sekitar tiga tahun, dan ia langsung melompat ke pelukan Lejla. Keduanya tertawa-tawa saat saling memeluk. Tetiba aku ikut merasa senang.

Sekarang aku mengerti, dan yang menyenangkan adalah ternyata ini bukan hal yang menyakitkan sama sekali.

“Dia putrimu?” Aku tersenyum. “Siapa namanya?”

“Melika,” jawab Lejla. “Tadi sebenarnya dia sudah melihatmu di samping rumah, tapi dia takut, lalu naik lagi.”

Aku mengangguk. Jadi dia yang membuka pintu. “Hai, Melika. Ini Paman Niko. Kau tidak mau memberi salam?”

Gadis itu melirik sebentar, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada ibunya. Aku tertawa kecil, dan Lejla tertawa bersamaku.

“Dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya,” kataku.

Namun begitu senyumannya tiba-tiba menghilang, buru-buru aku melanjutkan, “Oh, maaf. Aku tak tahu kalau kau sudah …”

“Tak apa. Aku senang kau mengatakan semuanya tadi.”

“Ayahnya, apa aku mengenalnya? Di mana dia sekarang?”

“Dia … dia pergi tak lama setelah kami menikah, empat tahun silam. Ke barat, seperti kau. Dia belum pernah bertemu putrinya. Tapi setahun yang lalu kukirimi dia foto Melika, dan dia bahagia, kurasa, karena dalam surat balasannya dia menjawab … seperti yang kaubilang.”

“Apa?”

“Dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya.”

Aku tertegun. Rupanya itu. Sekarang aku tahu, dan tanpa tertahan air mataku mengalir. “Azmir. Diakah suamimu?”

Lejla tertegun. “Kau tahu?”

“Ya. Dia salah seorang prajuritku. Baik, berani, tapi jarang bicara, jadi kami tak tahu banyak tentang dirinya.”

Lejla mengusap air matanya. “Dia memang seperti itu.”

“Ya.” Aku tertawa kecil. “Tapi malam itu tiba-tiba dia menemuiku dan berkata, ‘Kapten, boleh aku minta tolong, aku ingin menulis surat untuk istriku’. Maka aku pun membantunya memilihkan kata-kata. Kemudian ia menunjukkan foto putrinya. Kubilang, ‘Tulis ini di suratmu: dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya.’ Hei, aku tidak bohong, Melika sangat cantik di foto itu, dan karenanya ibunya pasti cantik juga.”

“Terima kasih.” Lejla kembali memeluk putrinya erat-erat.

Tak lama ia mengangkat wajahnnya. “Kau tahu apa yang akhirnya terjadi, pada Azmir?”

Aku menatapnya lekat-lekat. “Kau belum tahu?”

“Aku hanya mendengar dia sudah meninggal.”

“Ya …” Aku mengangguk pelan. “Tak lama setelah malam itu kami bertempur di perbatasan. Dan kami kehilangan banyak orang, begitu banyak hingga semua yang gugur langsung dimakamkan di tempat. Termasuk Azmir. Maaf. Kupikir kau sudah diberitahu.”

Mati? Ya, ya … pikiran gila itu memang sempat menghampiriku tadi, tapi benarkah … dia sudah mati?

Gadis itu melirik sebentar, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada ibunya. Aku tertawa kecil, dan Lejla tertawa bersamaku.

“Dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya,” kataku.

Namun begitu senyumannya tiba-tiba menghilang, buru-buru aku melanjutkan, “Oh, maaf. Aku tak tahu kalau kau sudah …”

“Tak apa. Aku senang kau mengatakan semuanya tadi.”

“Ayahnya, apa aku mengenalnya? Di mana dia sekarang?”

“Dia … dia pergi tak lama setelah kami menikah, empat tahun silam. Ke barat, seperti kau. Dia belum pernah bertemu putrinya. Tapi setahun yang lalu kukirimi dia foto Melika, dan dia bahagia, kurasa, karena dalam surat balasannya dia menjawab … seperti yang kaubilang.”

“Apa?”

“Dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya.”

Aku tertegun. Rupanya itu. Sekarang aku tahu, dan tanpa tertahan air mataku mengalir. “Azmir. Diakah suamimu?”

Lejla tertegun. “Kau tahu?”

“Ya. Dia salah seorang prajuritku. Baik, berani, tapi jarang bicara, jadi kami tak tahu banyak tentang dirinya.”

Lejla mengusap air matanya. “Dia memang seperti itu.”

“Ya.” Aku tertawa kecil. “Tapi malam itu tiba-tiba dia menemuiku dan berkata, ‘Kapten, boleh aku minta tolong, aku ingin menulis surat untuk istriku’. Maka aku pun membantunya memilihkan kata-kata. Kemudian ia menunjukkan foto putrinya. Kubilang, ‘Tulis ini di suratmu: dia cantik, seperti malaikat. Seperti ibunya.’ Hei, aku tidak bohong, Melika sangat cantik di foto itu, dan karenanya ibunya pasti cantik juga.”

“Terima kasih.” Lejla kembali memeluk putrinya erat-erat.

Tak lama ia mengangkat wajahnnya. “Kau tahu apa yang akhirnya terjadi, pada Azmir?”

Aku menatapnya lekat-lekat. “Kau belum tahu?”

“Aku hanya mendengar dia sudah meninggal.”

“Ya …” Aku mengangguk pelan. “Tak lama setelah malam itu kami bertempur di perbatasan. Dan kami kehilangan banyak orang, begitu banyak hingga semua yang gugur langsung dimakamkan di tempat. Termasuk Azmir. Maaf. Kupikir kau sudah diberitahu.”

“Tidak. Tapi tidak apa. Aku justru senang, karena akhirnya kau yang menceritakan ini padaku. Karena aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bahwa Azmir … sempat bahagia di sana.”

“Ya, dia bahagia, pada malam itu …”

Lejla kembali tersenyum. “Dan sekarang berarti kami bisa pergi.”

“Ke mana?” Entah kenapa aku merinding mendengar ucapannya.

“Kau belum menyadarinya, Niko?” Lejla mencium kening putrinya. Matanya kembali basah. “Kalau kami sebenarnya sudah mati?”

Mati? Ya, ya … pikiran gila itu memang sempat menghampiriku tadi, tapi benarkah … dia sudah mati?

Aku terdiam, ragu, dan mungkin juga terlalu takut untuk menjawab.

Lejla yang berkata, “Tak lama setelah aku menerima surat terakhir dari Azmir, aku memutuskan pergi ke Zenica, bersama seluruh penduduk Morova. Saat itu kami semua ketakutan. Kabarnya musuh akan datang, entah benar atau hanya bohong belaka. Kereta yang kami naiki penuh, dan kami pikir semua akan baik-baik saja. Tetapi di tengah jalan tiba-tiba semua lenyap. Aku dan Melika terbangun di tepi rel, sendirian. Lalu kami bertemu beberapa orang yang lain. Kami semua kebingungan. Kejadian aneh kemudian muncul, beberapa dari kami menghilang. Akhirnya seseorang datang dan berkata, bahwa sebenarnya kami semua sudah mati. Ia sudah melihat gerbong kereta yang hancur berkeping-keping, mungkin karena bom, dan tubuh-tubuh orang mati, termasuk tubuhnya sendiri.

“Tidak ada yang mau percaya, awalnya. Semua menangis, atau marah-marah. Butuh waktu sampai kami benar-benar bisa menerima bahwa kami sudah mati. Ketika menerima, sebagian dari kami memutuskan untuk kembali ke Morova. Kami ketakutan, tetapi kami tahu, Morova adalah rumah kami yang terakhir, tempat yang seharusnya kami tuju, sampai tiba waktunya jiwa kami benar-benar pergi.” Lejla menatapku lembut, seperti berusaha menenangkan perasaanku yang campur aduk. “Maafkan aku, Niko, karena tidak mengatakan ini sejak awal. Aku hanya takut, kalau kau tidak bisa menerimaku dan Melika.”

“Aku juga bisa menelpon tadi! Suaraku bisa didengar di ujung sana.” Tubuhku gemetar, ketika tiba-tiba perasaan ragu semakin menyelimutiku. “Lejla, kumohon, jangan berbohong padaku.”

Aku menggeleng-geleng, masih belum percaya sepenuhnya. “Jika kau sudah mati, bagaimana aku bisa melihatmu?”

“Kurasa kau sudah tahu jawabannya.”

Tidak … Tidak …

“Menurutmu aku juga sudah mati, Lejla?” Suaraku berubah garang. “Aku masih bisa merasakan tubuhku. Darahku, jantungku! Aku masih bisa memegang pipa ini! Aku masih bisa berlari, aku masih bisa bernapas! Aku merasakannya. Aku masih hidup!”

“Itu semua tidak nyata.”

“Aku juga bisa menelpon tadi! Suaraku bisa didengar di ujung sana.” Tubuhku gemetar, ketika tiba-tiba perasaan ragu semakin menyelimutiku. “Lejla, kumohon, jangan berbohong padaku.”

“Tak ada yang bisa mendengar suaramu di sana. Niko, aku tahu ini sulit, tapi semakin cepat kau bisa menerima, akan semakin mudah bagimu untuk mengerti kenapa kau kembali ke Morova.”

“Aku kemari untukmu, kau bilang tadi!” kataku geram. “Jiwaku dibawa ke sini, entah oleh siapa, supaya aku bisa menyampaikan sesuatu yang kau butuhkan, supaya jiwa kalian tenang, dan akhirnya bisa pergi dari tempat ini! Sementara aku tetap harus tinggal, entah sampai kapan. Begitu, kan? Kaupikir aku tidak mengerti?!”

“Mungkin ada sesuatu yang belum kau tahu.”

“Ya, mungkin! Atau mungkin sebaiknya aku pergi.” Aku berdiri. “Mungkin tujuan terakhirku bukan di Morova.”

Lejla langsung menahan tanganku. “Jangan, kumohon. Tinggallah di sini malam ini.” Ia berdiri, perlahan meletakkan wajahnya di dadaku. “Biarkan aku menemanimu. Dan kau menemani kami.”

Ia memelukku. Mungkin, pada akhirnya aku memang bisa menerima. Aku balas memeluk tubuhnya, erat-erat. Tubuh yang Lejla bilang tadi tidak nyata. Bagiku ini nyata, aku tak peduli.

”Tapi kau bilang kalian akan segera pergi,” kataku.

“Kami akan tetap di sini, tetapi hanya sampai fajar. Beristirahatlah di sini, Niko … kalau kau mau.”

“Ya.” Aku mengangguk. “Tapi aku tak akan tidur.”

Maka malam itu aku dan Lejla berbincang di ruang tengah, tentang banyak hal, sementara Melika bermain dan berlarian ke sana kemari. Gadis cilik itu tak lagi takut, ia sudah mau kupeluk atau kupangku. Sempat aku berpikir kenapa ia ikut kembali ke Morova. Apakah Melika juga membutuhkan sesuatu di sini? Namun mungkin saja ia hadir memang hanya untuk menemani ibunya; aku tak tahu. Saat merasa sedikit lelah aku lalu berbaring di sofa, memandangi Lejla yang bercerita tentang kehidupannya di Morova. Aku mendengarkannya sambil tersenyum. Aku diam saja, karena memang tidak banyak hal menarik yang bisa kuceritakan dari tempatku berperang selama bertahun-tahun.

Kemudian fajar tiba. Lejla dan Melika duduk di depanku. Bersamaan dengan masuknya cahaya pagi tubuh keduanya perlahan menghilang, bersama bayang-bayang. Itulah saat terakhir aku melihat mereka.

Aku berdiri, lalu meninggalkan rumah. Di kepalaku terngiang ucapan Lejla sebelum ia pergi: semoga aku segera menemukan apa yang kucari. Tetapi aku juga tak lupa ucapan lainnya, bahwa sebaiknya aku bersabar. Saat ketika aku bisa pergi dari Morova mungkin tidak datang dalam waktu dekat. Aku hanya perlu menunggu, dan juga tak perlu khawatir bakal melewatkannya, karena ketika saat itu datang, aku pasti akan tahu.

Aku menyusuri setiap sudut jalan di Kota Morova. Lejla sudah bilang aku takkan bisa melihat siapa pun saat matahari masih bersinar, begitu pula sebaliknya, orang lain tak bisa melihatku. Saat siang makhluk-makhluk seperti kami hidup seorang diri, dalam sunyi. Hanya saat malam kami bisa saling bertemu. Tidak masalah, toh sudah lama aku tidak pergi ke lembah di kaki pegunungan. Jadi aku ke sana, duduk di samping sungai, dan menikmati kedamaiannya, sampai matahari terbenam.

Kemudian aku berjalan kembali ke kota. Dalam gelap akhirnya aku bisa melihat  mereka, sosok-sosok sepertiku yang telah lebih dulu datang ke Morova, yang kini mengamati dari balik jendela rumah, di sudut-sudut jalan, atau di mana pun. Tetapi aku tahu, bukan mereka semua yang kucari. Sesuatu membawa diriku berjalan terus, hingga ke stasiun.

Di sanalah, akhirnya aku melihatnya, seseorang yang sedang berdiri dengan sikap waspadanya yang biasa, seperti yang selalu ia tunjukkan di medan tempur, hanya saja kali ini tampak sangat kebingungan. Gadis dengan paras manis, berambut pendek seperti laki-laki, bermata biru tajam, berwatak keras sekaligus menyenangkan, yang kutahu benar-benar mencintaiku, dan selalu mendampingiku di saat-saat tersulit.

Gadis yang juga telah menemaniku di saat-saat terakhir sebelum aku mati, dan yang ternyata … juga kuinginkan bisa menemaniku sampai kapan pun waktuku nanti berakhir.

Alex. Dia ada di sini.

Akhirnya aku mengerti kenapa aku kembali ke Morova.

Kini aku punya waktu dengannya sampai besok pagi.

Ah, tidak. Kuharap aku tetap bisa terus bersamanya, hingga ke dunia selanjutnya.

***