Lose

by | Jul 12, 2018 | May(be) Tomorrow | 1 comment

Kaki jenjangnya diluruskan. Mata yang tidak begitu menarik itu terpejam rapat. Telinga yang dipenuhi lubang kecil bekas anting-anting sedang mendengar bisikan-bisikan nyaris tak terdengar.

“Aku bisa mendengarmu!” Serunya dengan mata terpejam.

Kemudian suara runtutan kaki berlari terdengar sekali hilang.

Pria itu menghela napas. Mata sipitnya dibuka perlahan. Silau matahari menusuk begitu saja. Ah, semalaman dia tidak tidur. Pikiran konyol terus mengusiknya.

Kaki telanjangnya menuruni tangga. Sepi. Rumah atau kuburan? Dia mendengus sambil terus berjalan.

“Selamat pagi, Tuan.” Seorang pelayan membungkukkan tubuh pendeknya. Dia semakin terlihat pendek. Pria itu hanya melambaikan tangan sebentar dan pelayan menegakkan tubuhnya kembali.

“Mau sarapan apa, Tuan?”

Pria itu menatap pelayan di hadapan dengan mata sipit yang disipitkan.

“Sarapan?” Pria itu tertawa kesal.

“Kalau kau mau menghinaku karena aku bangun siang, itu hakmu. Tapi ini pukul satu siang. Bagaimana kau menganggap ini sarapan?”

“Maaf, Tuan.” Pelayan itu menunduk dalam. Rasanya kepala yang ia punya akan tenggelam diantara ubin-ubin di bawah kakinya.

Kemudian seseorang keluar dari pintu belakang.

“Ah, selamat pagi, Tuan.” Sekretaris rumahnya langsung membungkukkan tubuh.

“Apa yang kalian makan pagi tadi? Ini siang. Ya, Tuhan.” Pria itu memalingkan wajah.

“Siapkan mobil, aku mau keluar.”

“Baik, Tuan.”

***

Pria itu berdiri di depan toserba. Mobilnya diparkir sedikit jauh. Sesekali dia bercermin, menatap penampilannya. Di dalam toserba itu ada wanita yang membuatnya tidak tidur semalaman. Cinta pada pandangan pertama. Konyol tapi nyata adanya. Pria itu tidak akan tahu kalau tidak mencoba. Setidaknya itu menjadi saran yang akan ia terima. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Masuk.

Dia keburu melangkahkan kaki jenjang yang dihiasi oleh sepatu lari keluaran terbaru.

Jantungnya berdebar saat melihat wanita itu. Entah gemetar atau tidak, tapi ada perasaan aneh pada kakinya. Segera dia bersembunyi di barisan rak makanan.

Bodoh, apa ini pantas disebut sebagai ‘sembunyi’? Ini sama saja seperti dia sedang memilah-milih makanan. Ah. Pria itu menarik napas panjang. Mencoba menghilangkan gugupnya.

Dia mencoba memberanikan diri berjalan ke meja kasir.

“Oh!” jeritnya. Wanita di hadapannya yang malah tersentak.

“Ada yang bisa kubantu?”

Bagaimana ini? Jantungnya seperti ingin meledak.

“Ah,” nada ah-nya terdengar gugup, dia menggaruk kepala yang tidak gatal.

Wanita di hadapannya masih menunggu sepatah dua patah kata yang akan keluar dari bibir pria itu.

“Aku mau rokok,” katanya begitu saja.

“Ah, rokok.” Wanita itu mengangguk.

“Ya, rokok. Bisa kau berikan padaku, hmm…,” pria itu mencari papan nama pada seragam wanita di depannya.

“Rokok tidak ada dibarisan cokelat. Ada di tempat kasir. Mari.”

“Oh, ya.” Pria itu berjalan gugup. Sesekali ia memperbaiki suasana tenggorokannya.

“Anda mau rokok apa, Tuan?”

Pria itu menjawab dengan memberikan satu nama merknya.

Rasanya ini seperti de javu. Rasanya pria itu sudah pernah menemuinya beberapa kali di tempat lain. Mungkin tempat itu mimpi. Kalau pun itu mimpi, seharusnya dia tidak pernah bangun. Melihat rambut kucir kudanya membuat hati pria itu merasakan senang yang aneh. Ini semua membuatnya gila. Pertemuan tempo hari akhirnya menuntun ia kemari.

“Ini saja, Tuan?” Suara wanita itu membuyarkan lamunannya.

“Ah, iya.”

Kemudian wanita itu memberikan resit dan rokok. Pria itu melihat resit dan tersenyum.

“Terima kasih, Hasley.”

Wanita itu hanya menatapnya dengan mata bingung.

***

Mungkin ini seperti bencana. Dadanya sesak tidak terhingga. Hasley hilang. Dia tidak ada di toserba itu lagi. Pria itu berlari tak tentu arah.

Dia telah menemui pemilik toserba. Namun, Si pemilik juga tidak tahu dia di mana.

Pria itu langsung merasa bodoh. Seharusnya jika ia ingin yang terbaik dia harus melakukan tindakan lebih ketimbang hanya membeli rokok yang akhirnya hanya masuk tong sampah. Pria ini tidak merokok dan rokok hanya sebagai jembatan untuk berjumpa dengan Hasley.

Mungkin pria ini terlalu percaya akan cinta. Tapi kenapa orang lain tidak bisa percaya. Dia percaya apa pun yang terbaik untuknya. Kenapa sulit untuk dipercaya. Dia sudah mempercayai Hasley seolah dia adalah cinta yang harus dipertahankan.

Pria itu tidak bisa menahan air matanya.

Beberapa orang menjadi dekat dan beberapa orang berpisah. Tapi pria ini sudah muak dengan perpisahan. Kenapa harus terulang lagi?

Pria itu berjalan gontai memasuki kamar.

“Tuan.”

“Keluar, jangan ganggu aku.” Dia menunjuk pintu keluar tanpa mau menoleh.

Pelayan itu menurutinya dan menutup pintu kamar.

Pria itu berbaring sambil menghela napas terlalu panjang.

“Hasley,” bisiknya pelan. Dia benar-benar merindukannya. Kenapa dia pergi? Kalau saja pria itu lebih cepat. Kalau saja pria itu tidak terlalu lama menunda waktu hanya untuk melihatnya. Kalau saja pria itu tidak menunda hari yang akhirnya malah menghancurkan hatinya saat ini.

Kehidupannya seketika langsung terasa seperti sebuah film. Orang-orang sedang menontonnya saat ini.

Pria kaya yang patah hati. Pria kaya yang ditinggal mati orang tuanya. Pria kaya yang kehilangan cinta pertamanya.

Apa yang harus dipelajari? Tidak ada. Apa pun yang mereka katakan tidak akan mengubah apa pun. Tidak ada manusia yang sempurna. Mereka hanya lupa kalau pria ini juga manusia. Sulit menunjukkan kesungguhannya.

Dia terlelap dalam kegundahannya sendiri. Seolah tersedu dalam lelapnya.

***

Hasley tersenyum manis, pria itu balik tersenyum. Apakah semua ini akan berubah? Apakah Hasley akan tetap di sampingnya. Menghilangkan segala tekanan hidup yang dia hadapi sendiri? Pria ini tidak akan menyerah. Setidaknya tanpa menunggu esok hari, hari ini dia akan menggenggam tangan Hasley tanpa melepasnya. Dia harus memantapkan pikirannya.

Jangan lakukan itu, jangan lakukan kepadanya. Dia tidak bisa melihatnya pergi lagi. Seluruh gerakan kaki menyedihkan itu meninggalkan sakit di hati.

 

Ini terlihat tidak masuk akal, tapi dengan melihat wajah Hasley sudah cukup untuk menenangkan kehidupan berantakan yang bertahun dia alami. Kehidupannya yang kosong kini terasa kembali terisi. Rasanya dunianya tidak sama lagi.

Pria itu menjadi sendiri lagi tanpa bayangan wajahnya. Ini tidak masuk akal. Tapi rasanya semuanya tidak berguna tanpa Hasley. Walau sepatah suara, rasanya seperti energi baru untuk pria ini.

Hasley satu-satunya wanita yang bisa mendebarkan hati setelah beberapa tahun. Walau di dalam benaknya mungkin ini adalah awal, awal ketidak mungkinan mereka bersama. Cinta memang buta, tapi logika pria ini masih berjalan. Namun, apabila ini ialah sebuah awal. Pria ini harus tetap mencarinya. Pria ini harus menemukannya. Pria ini harus mendekap dan tidak boleh melepaskannya. Pria ini, harus menumpahkan isi hatinya. Tidak ada kemungkinan, tidak ada esok. Hari ini dia harus menemukannya.

“Tuan…,” suara dari kejauhan terdengar dari telinga.

“Tuan….”

“Tuan….”

“Tuan….”

Susah payah pria itu bangun, pipinya telah basah. Rasa sesak di dalam dada masih tersisa.

 Sialan, mimpi.

Tapi kenapa rasanya menyakitkan saat dia melangkahkan kaki untuk menjauh. Walau dari mimpi sekali pun.

“Tuan, Anda belum makan sejak pagi, saya akan memasukkan makanan ke kamar.”

“Tidak perlu,” jawab pria itu singkat.

“Baik, lah, Tuan.”

Pria itu keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Dia terlihat tenang dengan sedikit bengkak di matanya. Dia duduk sambil menghela napas. Meja makan selebar ini hanya untuknya sendiri. Bayangan orang tuanya datang begitu saja.

“Tuan,” seorang pelayan menaruh air untuknya. Hatinya mencelus begitu saja. Dalam lima detik dia membisu. Otaknya sedang mencerna apa yang dia lihat.

“Hasley!”

Pelayan itu memasang wajah bingung.

“Ke mana saja kau!” Dia memeluk pelayan itu sambil meneteskan air mata.

***

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 68%
  • Setting 63%
  • Karakterisasi 61%
  • Poin Tambahan 60%

Ide Jajang Trisna selalu sederhana, tentang seorang pria kesepian yang jatuh cinta pada pelayan minimarket. Sederhana tapi mudah dibayangkan, Ndoro jadi membayangkan cowok yang sengaja belanja hanya untuk menemui pelayan toko yang cantik. Umumnya Jajang Trisna cukup telaten mengolah detail kecil hingga menjelma jadi alur cerita yang mudah diikuti. Tapi, hal itu Ndoro masih rasakan kurang di cerpen ini dibanding tulisan lain. Banyak kesan yang timbul seperti melompat seakan menunjukan kalau Jajang Trisna tergesa menulisnya. Berasa pengen cepat kelar terus pembaca diajak berpikir ‘kamu paham kan ceritanya, ya gitu ikuti aja!” semacam itu.

Meskipun Ndoro lihat, kekuatan utama tulisan Jajang Trisna yaitu  dialog yang pendek, witty dan tajam masih sangat terasa di sini. Semangat Jajang,  Ndoro tunggu cerpen berikutnya ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • 70%
  • Plot 66%
  • Setting 64%
  • Karakterisasi 60%
  • 60%
Dari semua cerpen punya Jajang Trisna yang mampir ke Aksarayana, ini yang paling ‘mentah’ menurut daku. Bukan mentah secara tulisan dan teknis, ya, tapi ide. Idenya klise. Tapi masih tertolong oleh penulisannya yang baik.

Mungkin udah pada tahu kalau kekuatan Jajang Trisna itu ada di kalimat pendek, diksi tajam, dan enggak bertele-tele. Di semua cerpennya, ketiga hal ini bisa ditemukan. Di cerpen ini pun demikian. Walaupun itu tadi … ide. Eksekusi rapi dan bagus seperti biasanya. Oh, ada beberapa kesalahan penulisan dan EBI, sih. Tapi enggak banyak.

Total Apresiasi