May

by | Jul 6, 2018 | May(be) Tomorrow | 1 comment

Sekarang…. Saya akan melakukannya sekarang…. Demi Tuhan, saya akan melakukannya sekarang.

Dalam hati Tara terus mengucapkannya, bahkan sudah ia tekadkan sejak bangun tadi pagi.Saking bulatnya itu tekad,ia sampai tidak mengindahkan acara perpisahan yang sudah dinanti teman-teman satu angkatannya selama tiga tahun; sebuah pesta yang menyatakan bahwa masa terindah hidupmu telah usai,masa terbaik penuh cerita suka dan sukamu telah berakhir,masa yang akan kamu kenang selamanya telah bubar, tamat,  uwis. Masa SMA.

Tara tidak berhenti memusatkan pandangannya ke seseorang yang duduk di barisan dua dari belakang.  Kalau saja Cikal, teman satu band-nya tidak mengingatkan dia untuk persiapan sebelum tampil, niscaya lehernya akan salah urat karena ia duduk di barisan dua dari depan.

*

“Ayam saya kemarin juga suka bengong, besoknya mati, persis kaya kamu sekarang.” Cikal mengomentari Tara yang sudah bengong sambil menengok ke belakang dari pertama datang satu jam yang lalu.

“Ayammu jatuh cinta juga?” balas Tara.

“Enggak, dia bengong dengan alasan yang lebih logis dan saintifik, dikagetin tetangga saya pake uler-uleran.”

“Jatuh cinta juga logis!” Tara nyengit.

“Enggak dalam kasusmu.Campuran kimiawinya ada yang salah, membuatmu lebih mirip kesambet jin ketimbang jatuh cinta.”

Cikal bukan menyindir, ia mengatakan yang sebenarnya.Sudah tiga tahun Tara menyimpan rasa pada seseorang, dan tidak sekali pun ia ungkapkan. Yang ada hanya ia terdiam dan membeku setiap kali memandangnya, lurus menatap langkahnya yang agak mengangkang, namun gemulai di matanya Tara. Hatinya terpaku setiap kali gelung rambut setengah pirangnya melambung lembut setiap dia melangkah.  Jantungnya berhenti mengalirkan darah ke otak setiap kali dia menghampiri Tara dan berkata, “Ngapain kamu  liatin saya,” lalu menarik paksa tangan Tara, membawanya ke kelas.

 “Sudah mau tampil, ayo siap-siap,”ajak Cikal.  Tara mengikutinya dengan berat hati, ia tetap berusaha memusatkan pandangannya ke dia yang sibuk berkisah ke kanan dan kirinya.

Tidak sampai dua puluh menit, setelah meramaikan acara dengan aksi agak brutalnya, Tara dan band-nya akhirnya dipaksa turun oleh ibu guru,  padahal mereka masih punya satu stok lagu lagi.  Tapi kayanya ibu guru kurang memahami aliran gothic metal dengan sentuhan kelam ala Lana Del Rey. Tara dan band-nya pun segera turun setelah diancam penahanan ijazah kalau masih nekat mengisi acara.

Keluh hanya dirasa Cikal dan teman-temannya. Sedangkan Tara, ia turun dari panggung dengan sigap dan berniat melanjutkan aktivitas, memperhatikan dia.  Namun ternyata dia sudah hilang entah kemana, tidak lagi duduk di barisannya.  Tara menyapu pandangannya ke seisi ruangan, dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi ke kiri dan ke kanan lagi. Begitu seterusnya hingga Cikal mengajaknya makan.

“Makan dulu, Ra.”

“Belum lapar.”

“Menghayal pun butuh energi, Ra.”

“Saya bukan menghayal, saya akan melakukannya sekarang.”

“Dari dua tahun yang lalu juga begitu rencananya, kan.”

“Ini hanya soal timing, Kal.”

Bullshit! Ini soal keyakinan, perasaanmu dipertanyakan!” Tiba-tiba Cikal menyengat.

 “Timing hanya alasan klise untuk orang-orang yang enggak punya keyakinan dengan perasaannya sendiri. Orang-orang yang butuh penguatan dari orang lain, butuh di ceng-ceng-in, habis itu malu-malu,  akhirnya nembak. Fuck! Jadi artis FTV saja kau,” lanjut Cikal dengan menggebu, mulutnya sampai monyong-monyong, dan sempat memuncratkan beberapa amunisi. Ini yang terjadi saat seseorang menghayati genre metal terlalu dalam dan berkawan dengan orang yang kasmaran.

Sebenarnya, kesalnya Cikal bukan tanpa alasan. Sahabatnya si Tara sudah menyimpannya terlalu lama, begitu lama hingga cintanya berlumut di dalam hatinya, dipendam dan dieram hingga hampir menjadi tape ketan.

Tara pernah berjanji akan menyatakannya jika ia kembali satu kelas dengan dia di kelas dua. Kenyataannya, Tara kembali sekelas dan justru membantunya lagi untuk jadian dengan orang lain. Tidak bosan-bosan kamu simpan dia untuk orang lain, ujar Cikal setiap kali mengetahui dia sudah berhubungan dengan seseorang yang bukan sahabatnya.

Tara terdiam, ia tidak lagi membalas Cikal dan tidak lagi ke kanan dan ke kiri. Tatapannya kosong, pikirannya melayang ke masa lalu. Saat pertama seorang anak pindahan memasuki ruang kelasnya dan dengan santainya mengambil tempat disebelahnya.

“Saya duduk sini, ya.”

Tara hanya mengangguk bodoh, ia belum sepenuhnya sadar dari ritual tidur paginya. Jarak rumah yang jauh mengharuskannya berangkat sebelum adzan subuh, dan melanjutkan tidurnya di kelas lalu mandi di toilet sekolah.

Tingkah agak brutal dan konyol dia membuat Tara berjanji untuk menjadi teman selamanya, karena ia tidak ingin kehilangan momen heboh nan seru bersamanya. Namun hati bukanlah daftar belanjaan, ia tidak bisa direncanakan, ia spontanitas murni yang tidak mungkin bisa ditampik. Tara mulai mencinta, pertemanan pun beralih…. Ia tidak yakin.

Tara menyukai segala tentang dirinya. Mulai dari gaya bicaranya yang asal-asalan dan selalu melemparkan humor walaupun hampir lucu, rambutnya yang suka bergoyang lembut ke sana kemari setiap kali dia menoleh, matanya yang meruncing dan berkilat-kilat penuh antusias di balik kacamata bulatnya, dan wajahnya yang meruncing dengan bibir kecil dan pipi yang suka merona sesukanya, apalagi kalau setelah pelajaran olahraga. Dia adalah malaikat yang kebetulan terdampar di kursi sebelah Tara.

Di akhir semester kedua, Tara hanya sibuk menghapal lekuk wajah dia yang seperti dipahat oleh maestro semesta dalam keadaan riang gembira. Ia kerap terpaku menanti senyum yang bagi Tara lebih manis dari madu hutan Amazon. Kesibukan ini sukses mengantar Tara ke kelas yang berisi kompilasi anak-anak produk gagal sekolahnya. Tapi siapa peduli, ternyata dia juga produk gagal.

Setelah empat kali gagal menyatakan, Tara berniat untuk mengungkapkan hari ini. Ia bersumpah kalau dia mencintainya, bukan hanya perasaan numpang lewat atau witing tresno jalaran soko kulino.

Ia bukan jatuh cinta karena terbiasa bersamanya, tapi ia jatuh cinta karena dia adalah dia, seseorang yang diciptakan semesta untuk dicinta oleh Tara.

“Masih mau menghayal?” ujar Cikal.

“Ayo makan.” Tara akhirnya mengalah.

Tapi belum ada lima langkah kakinya berjalan, Tara kembali terhenti, bukan untuk kembali mencarinya, tapi karena dia tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya, mematung kaku dengan balutan kebaya hijau dan rambut yang sudah di cat hitam mengkilat, membuat kulit putihnya semakin terang.

Cikal sempat memperhatikan mereka berdua, lalu mengunci tatapannya ke Tara. Ia seperti sedang memberi kode, jangan jadi artis FTV. Lalu meninggalkan mereka berdua yang masih sama-sama diam.

“Jangan pergi dulu.” Tara buka suara lebih dulu.

“Kenapa?”

“Saya … saya … mau ngomong.” Suara Tara memelan, ia seperti tersedak kalimatnya sendiri. Ini akan berat.

“Saya juga,” dia membalas.

Namun Tara tidak mengindahkannya dan justru menghela napas dan mengucapkannya sekali lalu. “I love you,”

“I hate you.”

Kedua kalimat dengan jumlah suku kata yang sama namun memiliki arti yang saling bertolak tiba-tiba keluar bersamaan dari lidah yang berbeda.

Tara bergetar, tidak menyangka akan disambar dengan kalimat tersebut, lebih parah, dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, seperti sudah lupa dengan pertemanan mereka selama ini, dan lupa dengan perjuangan Tara yang selalu berdiri di warung dekat sekolah setiap pagi dan berpura-pura baru tiba padahal sudah dari subuh menantinya, hanya untuk menemaninya disetrap karena selalu terlambat masuk sekolah.

Sedangkan dia, tidak kalah bergetar dengan mata menatap nanar setelah mendengar Tara mengucapkannya dengan kesungguhan. “Akhirnya, yah,” ujarnya dengan nada setengah berbisik.

“Maksudnya?”

“Akhirnya ngomong juga,” tambahnya dengan senyum setipis uban. “Lumayan makan hati juga, lho, nunggu kamu ngomong begitu.”

Tara hanya mengernyit dan berusaha mendengarkan.

“Sekarang kamu punya dua pilihan, kembali menunggu atau merebut.”

May, would you be mine? Tiba-tiba sebuah suara terdengar di seisi ruangan, dan diikuti gemuruh semua murid yang memang rindu dengan acara katakan cinta. Seseorang berpakaian jas formal dan bow tie serta sepatu mengkilat hitam berdiri di atas panggung dan mengucapkannya melalui mikrofon. Matanya lekat menatap May, begitu juga dengan beberapa orang lainnya.

“Hardi?” Tara bergumam. Agaknya ia terkejut melihat murid pria idola adik kelas menyatakan cintanya kepada May.

May beringsut mundur, meninggalkan Tara. “Menunggu atau merebut,” bisiknya kepada Tara.

“Kamu bisa menolaknya!” seru Tara

“Ini cuma rekayasa, seru-seruan. Kita sudah jadian dari dua minggu lalu.”

What?

“Kamu enggak seharusnya menunda.” May menambahkan, lalu berlalu.

“Dan kamu enggak seharusnya menerima semua orang. Itu bukan menunggu namanya! ” Tara setengah berteriak, membuat May terpegun.

May memutar badannya sebentar, “Dan kamu! Menunda karena butuh keyakinan? Itu bukan cinta namanya!”

Ada harga untuk setiap penundaan.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 79%
  • Setting 70%
  • Karakterisasi 85%
  • Poin Tambahan 82%

Selamat untuk Dadang Kell Rawalangi yang memenangi sayembara bulan ini dan berturut-turut selama dua bulan. Ndoro tantang Dadang buat hattrick, menang tiga kali bulan depan, gimana? Siap? Hak hak hak!!!

Ndoro suka cerpennya, May ini tentang seseorang yang memendam cinta terlalu lama pada sang pujaan tetapi tidak kunjung punya keberanian untuk menyatakan perasaan. Umum, iya. Tapi, eksekusinya yang luar biasa. Dadang Kell berhasil menyajikan satu cerita unik tentang betapa ‘sakit jiwanya’ orang yang jatuh cinta. Yang Ndoro sukai antaralain karakterisasi yang apik, di mana sosok Tara mudah dibayangkan, sosok Cikal apalagi sebagai teman tapi cerewet (kayak judul lagu ya) yang sudah terlalu gerah sama sahabatnya yang kelamaan aksi. Cikal yang ceplas-ceplos tapi lucu tergambarkan dengan baik, demikian juga sosok Tara yang linglung karena cinta dan May si penerima cinta terpendam. Selain itu, humor recehnya juga asik untuk diikuti, jadi memendam cinta enggak melulu suram bisa juga ringan dan lucu tapi enggak maksa jadi enak buat dibaca.

Sekali lagi, selamat buat Dadang Kell, terima kasih sudah mengikuti sayembara bulan Mei dan menyetor upeti pada Ndoro. Ndoro suka sekali upetinya ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 74%
  • Plot 78%
  • Setting 70%
  • Karakterisasi 86%
  • Poin Tambahan 82%

Daku suka cerpen ini karena ringan, renyah, dan dialognya lucu sehingga perkara cinta tak terucap bisa dibaca sambil ketawa-ketawa. Beberapa dialognya sedap lucunya buat daku; enggak kebanyakan dan enggak aneh. Pas. 

Tapi … Bang Kell, tanda baca, dialog’s tags, hiks … aku benerin banyak. Kalau Bang Kell baca versi cerpen yang udah dimuat, ini adalah versi yang tanda bacanya udah aku edit dan aku punya softcopy-nya. Silakan loh, kalau mau minta…. ^^

Dua kopi satu kukis ya, Bang Kell. Ditunggu cerpen berikutnya~

Total Apresiasi