Meraba Rasa

by | May 7, 2018 | Appreciative April | 0 comments

Menghadiri nikahan mantan, dan (masih) sendiri, tak pernah menjadi angan apalagi inginku. Kukira, aku akan menjadi orang yang paling bahagia dulu sebelum mantan. Itulah definisi baik-baik saja menurutku sebelum saat ini, sebelum kabar bahagia itu.

Radian Aji Pamungkas, aku memanggilnya Ian, dulu, dan kini kunamai mantan. Namun entah julukan apa yang Ia sematkan padaku.

Semenjak jaman putih merah dan putih biru, Ian selalu ada di mana ada aku. Setiap yang memandang, selalu memasangkan kita dan menamai kita pasagan. Bahkan orang tuaku, entah mantra apa yang kamu gunakan, mereka seolah mendukung semua mauku, asal itu bersama Ian. Aku mensyukuri itu semua, awalnya. Namun kelamaan rasa jenuh yang muncul.

Saking sayangnya Ayah dan Ibu sama Ian, mereka terkesan berlebihan. Tak jarang menjadikan Ian sebagai rivalku. Ian yang memang pada dasarnya cerdas, Ian yang semua maunya disokong keluarga. Malah aneh ketika namanya tenggelam, bukan? Namun, ketika dia terpampang menjadi jawara kelas? Itu sudah sewajarnya, kan?

“Ayah, Wilan ketrima di SMA Negeri kan?” aku bertanya dengan begitu tidak sabarnya. Tapi itu tidak seirama dengan respon Ayah. Mimik yang beliau tunjukkan begitu sulit diartikan. Semacam ketidakpercayaan dan kekhawatiran, mungkin, entahlah. Namun, dengan sendirinya aku menciut, takut menjadi alasan munculnya ekspresi yang sangat jarang ditunjukkan itu.

“Radi, enggak keterima, Lan?” ucapnya tiba-tiba. Hah? Radi. Lagi dan lagi. Beliau selalu membadingkanku dengan Radi, membuatku muak. Untuk saat ini aku ingin menjadi tokoh yang sedikit jahat. Tertawa di atas kesedihannya, mungkin. Padahal ini bukan juga kali pertama aku keluar menjadi seorang pemenang dalam kesempatan yang Ayah jadikan ajang membandingkan kami.

“Masa, Yah?” responku formal. Tapi tetap saja sepertinya Radi yang nomor satu.

Sejak saat itu, jujur aku kesal. Aku merasa Ian mengambil sesuatu terlalu banyak. Selain hatiku, perhatian orang tuaku pun ia genggam.

Masa putih abu-abu aku mulai menjarak. Kalau memang hati dan perhatian orang tersayang sudah Ian ambil, untuk apa aku bertahan? Aku memilih menunjukkan pada mereka semua, aku bisa, sendiri.

Entah apa yang Ian pikirkan, dia juga seakan mendukung aksiku. Meski akhirnya beda sekolah, tapi sebenarnya kita masih dipertemukan dalam lingkaran yang sama, berhadapan dalam angkot ketika pagi dan siang, kala itu.

Kuakui lelah, menahan asa untuk sekadar menyuarakan aksara. Bertanya perihal afeksi. Berharap setitik atensi. Barangkali kau sudi.

Semacam gencatan senjata, ini berlanjut hingga masa tak berseragam. Aku benar-benar lelah membahas rasa yang tak teraba. Kuputuskan mengalah. Memberikanmu ruang untuk melangkah, dan aku pun. Tanpa tautan tangan yang mengiringi untuk menyamakan arah.

***

Bodoh, sangat-sangat bodoh. Dan aku sekarang bingung siapa yang hendak dipersalahkan. Semuanya terjadi dalam diriku, dan hanya aku, tak seorangpun terlibat dalam kesalahan ini. Kesalahan fatal yang tak pernah dikehendaki, memang seharusnya tak terjadi dan tak boleh terjadi.

Semuanya benar-benar di luar kendali, tak kuasa aku mengendalikannya. Mata ini, ya mata ini untuk sesaat benar-benar berontak. Entah apa sebabnya. Oh ya, mungkin karena orang asing itu. Kusebut orang asing karena memang untuk beberapa lamanya—sampai aku tak sadar seberapa lama—orang itu benar-benar asing, tak sedikitpun darinya yang aku ketahui. Sinyal-sinyal yang menyebutkan semua itu familiar pun belum sempat menjalar dalam sarafku. Semuanya terasa begitu kaku dan beku. Terkecuali mata ini, dengan sangat berani dan tanpa malu-malu menguliti sesosok asing itu.

Sebelum akhirnya kusadari, ternyata dia, seorang yang pernah membuat hidupku begitu susah. Susah dijalani ketika itu, diingat untuk sekarang, ataupun sekedar dilupakan. Semuanya tak bisa kulakukan. Ingin rasanya kumaki, bisa-bisanya mata yang memaksaku tetap menatapnya itu tidak selaras dengan jalan pikiranku.

Tapi bagaimanapun tak bisa disangkal, sejurus kemudian secercah cahaya terasa menerangi dunia yang gelap, perasaan tak menentu tiba-tiba muncul, degup jantung mengencang semaunya, ada suatu kenyamanan tak terkira yang sempat singgah, membuat ujung bibir tertarik ke atas.

Sekuat tenaga aku menahannya, aku harus konsisten pada peranku, menjadi orang orang asing untuknya.

Namun serupa ombak yang menyapu bibir pantai, tak pernah terpikir bagaimana perjuangan butiran pasir untuk bersatu, Rabi dengan tanpa rasa bersalahnya mendekat, menyapaku.

“Hai, Lan! Lama enggak ketemu ya? Padahal sekampus? Ck,” ucapnya riang, semacam reuni teman lama, tak memedulikan hati dan perasaanku yang ambyar.

“Oh, oh iya … hai,” jawabku semampunya. Masih sedikit terkejut dengan jalan yang dipilihnya.

Ketika takdir yang mempertemukan kita, namun bukankah kita punya pilihan bagaimana harus bersikap? Dengan ringannya dan tanpa bergeser sedikitpun dari motor, Ian menanyakan kabarku, kabar orang tuaku, kabar kuliahku, dan entah apa saja yang membuat kita nyaman mengobrol tanpa ada kecanggungan. Bahkan dia berkelakar ingin meminta bantuanku untuk mengerjakan projeknya.

“Mas, dicariin juga.” Suara yang syahdu, pikirku. Dan mampu mengalihkan fokusku dan Ian. Ternyata bukan cuma fokus, bahkan Ian langsung beranjak, menerima bungkusan dengan logo tempat makan dari tangan perempuan cantik itu—yang tak lama kutahu namanya Septa.

“Hehe, Mas ketemu temen lama tadi, kenalin Dek, Wilan. Lan, kenalin, Septa.” Dan kusambut uluran tangan Septa. Halus.

“Mbak, duluan ya,” ujar Septa memecah lamunanku, ternyada dia sudah berda di boncengan Ian. Sejurus kemudian mereka berlalu. Aku kembali gamang, teringat perasaan yang sempat muncul.

***

Dalam senja, kucoba memaknai mesranya horison menanti sang surya kembali ke peraduannya. Sambil berpikir pertemuan yang sama sekali tak terduga tadi siang. Mungkinkah takdir?

Alunan piano klasik mengusikku, membuatku mengarahkan pandangan pada balok kaca yang teramat canggih. Terpampang nomor tak dikenal yang membuatku bertanya-tanya, siapa gerangan?

“Halo, selamat sore?” sapaku sedikit ragu.

“Hai, Lan.” Respon teramat riang di seberang membuatku mengernyit. “Ian nih, Lan” lanjutnya.

“Ian?” aku kembali memastikan, takut hanya sebuah delusi.

“Iya, Ian, Radian. Masa lupa, tadi kita baru ketemu lagi loh, Lan.” Dari nadanya, seakan sedang merajuk. Aku kembali terkekeh. Dia Ianku.

“Eh, dapet kontakku dari mana?”

“Iseng nyari di grup kampus, eh, ketemu,” icapnya diakhiri kekehan yang kurindukan. “Oh iya, tadi aku serius loh, Lan. Need your help, bantuin projekku, ya, Lan.” Kubayangkan ekspresi memohon sedang dipasangnya, sayang tak terlihat.

“Hmmm,” jawabku sekenanya. Memang apa lagi? Ian paling tahu kalau aku tak mampu menolak.

***

Entah siapa di antara kita yang membuat keputusan, berawal dari projek, kita jadi sering bersama. Sekadar jalan dan atau makan bareng, biasanya. Dalam setiap kebersamaan yang tercipta, tak sekalian ada nama Septa terselip. Aku semakin yakin ini rencana dari yang maha merencanakan untuk mempersatukan aku dan Ian.

***

“Lan, temenin aku kondangan di Septa dong, weekend besok.” Bukan ajakan kondangannya yang membuat aku bergeming, tapi namanya. Septa itu orang yang sering kulihat bareng dia, kan?

“Wooy, ngelamun lagi,” lanjutnya gemas, sambil sesekali tangan usilnya merup mukaku.

“Hehehe,” aku terkekeh, kelakuan bocahnya sedikit mengurai kerja otot yang lumayan ekstra akibat terkejut.

“Septanya Radi, kan?”

“Iyeee, dia. Kamu kenal juga, sih, harusnya. Radi kan sempet tinggal di deketan rumahmu itu, loh.”

“Iya, temen kecil kok.”

Ini kenyataan bahagia yang benar-benar mengoyakku. Ketika dia tak pernah menganggapku mantan, bukankah harusnya dia tak perlu ikutan melakoni aksi perang dingin? Atau mungkin juga mengakuiku sebagai mantan? Buaknkah tak perlu acara jalan dan makan bareng? Yang paling tidak masuk akal, kalau saja dia hanya pernah merasa aku sebagai mantan, dan semuanya sudah kelar.

“Mas, dicariin juga.” Suara yang syahdu, pikirku. Dan mampu mengalihkan fokusku dan Ian. Ternyata bukan cuma fokus, bahkan Ian langsung beranjak, menerima bungkusan dengan logo tempat makan dari tangan perempuan cantik itu—yang tak lama kutahu namanya Septa.

“Hehe, Mas ketemu temen lama tadi, kenalin Dek, Wilan. Lan, kenalin, Septa.” Dan kusambut uluran tangan Septa. Halus.

“Mbak, duluan ya,” ujar Septa memecah lamunanku, ternyada dia sudah berda di boncengan Ian. Sejurus kemudian mereka berlalu. Aku kembali gamang, teringat perasaan yang sempat muncul.

***

Apa salahnya membagi kabar bahagia? Sedang hampir setiap hari kita bertemu. Bahkan aku mendengarnya dari orang lain. Mungkin memang aku tak seberarti itu dalam hidupnya.

Untuk seseorang yang sedang berdiri di depan sana.

Ingin kuucap, ‘Hai, apa kabar?’ tapi bakal aneh. Karena orang buta pun bisa dengan gamblang melihat kebahagiaan yang diwujudkan berupa senyum tulus dari mata dan tawa ringan nan renyah yang terkesan lepas namun hangat.

Bohong ketika aku bilang tak tahu kabarmu selama ini. Ini bukan jaman praaksara di mana semua terbentur ruang dan waktu. Selama masih dalam dimensi yang sama, selama masih menghirup udara yang sama, dan selama masih beratapkan langit yang sama, serta berpijak pada bumi yang sama, aku masih berani menamani aku dan kamu sebagai kita. Nyatanya untuk sekedar tahu kegiatanmu setiap hari aku tak perlu memelihara merpati. Aku cukup memanfaatkan kecerdasan entah siapa, yang sekarang diberi nama internet. Internet, sepaket dengan semua sosial medianya.

Dari sana pula, aku tahu bahwa kamu baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Terlalu baik-baik saja (menurutku), karena padahal tak ada aku di sana. Sedang aku tak mampu untuk sekedar berpura-pura baik-baik saja.

Tujuan awalku nge-stalk semua akun sosial mediamu hanya untuk mencari tahu keadaanmu.

Namun sepertinya itu hanya kamuflase.

Seharusnya, aku bahagia bukan saat tahu kamu bahagia? Seharusnya. Tapi, selalu dan selalu ada tapi, aku selalu menemukan tapi untuk melakukan semua pembenaran. Aku kecewa saat tahu kamu bahagia, karena ternyata bahagiamu bukan aku.

Ternyata yang selama ini jadi tujuanku adalah, untuk tahu bagaimana hatiku, apa akan baik-baik saja ketika tahu kamu baik-baik tanpa aku? Dan tenyata aku (sangat) tidak baik-baik saja.

Untuk kamu yang sedang menatap orang di depanmu dengan pemujaan tertinggi.

Untuk saat ini saja, biarkan aku sedikit egois. Karena setelah kamu baca tulisan ini, itu artinya aku sudah benar-benar menutup harapan. Sampai saat ini aku masih berharap menjadi alasanmu tertawa. Bukan tanpa alasan aku seberani ini dalam berharap. Aku hanya merasa berhak saja.

Entah ini menurutmu penting atau tidak, tapi aku selalu mengingatnya. Saat pertama kali setelah sekian lama kita tak bertemu, ketika aku sudah berusaha menjadi orang asing diantara yang tak saling kenal. Namun bukannya membantu, kamu malah berperan sebagai teman lama yang dekat. Hancur sudah. Karena memang pondasi yang belum kuat, benteng pertahananku roboh. Aku kembali tak imun pada pesonamu. Kamu kembali menyapa setiap pagiku, dan aku sedikit (demi sedikit) berharap itu akan berlangsung seterusnya. Dalam hubungan yang lebih bermakna dan bernama.

Bahkan hingga saat ini aku membayangkan diriku yang semenyedihkan ini untuk berada disampingmu. Saling menautkan tangan, mengisi kekosongan ruang antar jemari. Mempertemukan logam yang tersemat diantara jari manis kita. Menebar senyum pada siapa saja yang sudi menyapa. Dan mengajak semua berbahagia bersama.

Untuk kamu yang masih saja tertawa, padahal aku tidak.

Setelah membaca ini nanti, kamu seharusnya bersyukur karena semua yang kutulis di atas hanya harapan maupun bayangan, dan selamanya tak tergapai.

Dua orang petugas ambulans menurunkan tandu, bersiap mengangkat tubuh Julian, tapi kurasakan sesuatu menarik jemariku. Aku menatapnya, “Julian?” Kedua mataku melebar menatapnya.

“Kakiku cedera, Ann.”

“Maafkan aku, Julian. Pasti sakit.”

“Lebih sakit untuk kedua kalinya aku kehilanganmu.”

Aku memeluk Julian erat dan menciumi wajahnya dan menamaninya masuk ke dalam ambulans.

***

Setelah membaca ini nanti, kamu juga akan tahu, kenapa saat tulisan ini sampai di tanganmu, tak ada sepatah kata pun terucap. Meskipun kau sangat ingin. Tolong jangan paksa aku untuk mengucap, selamat atas pernikahanmu, selamat menempuh hidup baru. Karena itu terlalu menyakitkan untuk luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Selamat tinggal, Mantan. Semoga aku bahagia (melebihi bahagiamu).

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 60%
  • Setting 42%
  • Karakterisasi 55%
  • Poin Tambahan 64%

Pertama-tama, Ndoro ucapkan selamat ya Jajang Diyah yang terpilih untuk cerpen pilihan bulan ini. Mantan. Hmmm, kata yang umum, namun berat. Berat untuk diingat hak hak hak!!!

Idenya umum dan sederhana, ditinggal mantan yang menikah. Sebenarnya ide yang umum sekalipun akan berasa unik kalau dikemas dengan tepat. Ndoro rasa yang ingin disampaikan Jajang adalah kegalauan Wilan setelah ditinggal Radi menikah dan sialnya dapat kabarnya dari orang lain. Sayangnya, rasa itu belum dapat di sini. Iya, Wilan sedih tapi kesedihannya kurang tersampaikan, setidaknya begitu menurut Ndoro. Perpindahannya adegan demi adegan belum terlalu halus, ini bisa diperbaiki, Jajang. Tetapi, Ndoro suka kata-kata puitis dan pesan terakhit buat mantannya. Semangat terus ya, Jajang Diyah ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 64%
  • Plot 68%
  • Setting 64%
  • Karakterisasi 68%
  • Poin Tambahan 70%

Cerita ini sederhana; tentang seseorang yang berusaha memahami perjalanan cintanya pada seorang lelaki–yang sayangnya, enggak mengetahui kalau ‘aku’ sudah lama menaruh hati padanya. Dia mencoba mengingat apa saja yang sudah terjadi sebelum memutuskan apa yang seharusnya dia lakukan. Saya suka dengan eksplorasi perasaan di sepanjang cerpen ini. Beberapa hal yang masih menjadi catatan adalah; keteraturan EBI (ini penting kalau kamu ingin serius menulis), lalu scene construction–namanya. Scene (atau adegan di dalam cerpen) itu harus ditulis untuk kepentingan cerita. Boleh panjang kalau memang diperlukan untuk menceritakan sesuatu dengan dalam dan detail. Kalau enggak, usahakan padat dan cepat–jangan sampai ada yang terbuang. Di cerpen ini, ada beberapa hal atau dialog yang bisa dipotong dari adegan karena tanpa itu pun, ceritanya akan sampai tanpa berkurang maknanya.

Untuk Jajang Diyah, semangat terus, ya. Bulan depan, ikutan lagi, ya. Kita belajar bersama. Kalau mau daku komen lebih panjang lagi, minta aja. Kita bisa lanjut di komen. Untuk image seperti kaver, promo, dan lainnya, bisa minta ke Ndoro Yayang kalau dikau perlu atau mau koleksi. Ndoro akan kirimkan buatmu. ^^

Total Apresiasi