Paradoks

by | Aug 4, 2018 | May(be) Tomorrow | 0 comments

Kukira kamu mengenal aku, tapi ternyata aku tak pernah sedikit pun mengenal kamu dan kamu tak pernah sedikit pun mengenal aku.

Kamis, sore ini aku membereskan kamar kos, lalu kutatapi setiap sudutnya. Kosong. Seisi kamar sudah bersih. Bekas tempelan dan hijau toska yang mulai memudar yang tersisa. Kamar kos yang sudah kutempati selama empat tahun untuk mencapai tujuan;toga. Ah, tidak. Sekarang aku mengerti. Tujuanku bukan hanya toga. Tetapi lebih dari itu, memaknai setiap kehidupan dengan belajar dari orang lain, kesalahan, penyesalan, dan juga takdir.

 Hatiku ingin menangis ketika suara pintu berderik menutup kamar itu. Lalu, menghela napas untuk meringankan hatiku yang masih ingin tinggal lebih lama di kota Yogyakarta ini. Seandainya saja Mama mengizinkanku bekerja disini, batinku.

“Mbak Ana!” Lita memanggilku dari depan kamarnya. Lita berlari ke arahku, matanya seperti sedang membendung air mata. Lalu, dia memberi sebuah bingkisan kado dan memelukku.

“Hei, Lit. Mbak Ana, kan, mau keluar dari Yogya, Bukan mau hilang dari muka bumi ini,” ucapku dengan nada meledek.

“Lita sedih, Mbak. Enggak ada Mbak Ana disini, pasti kos rasanya sepi. Enggak ada yang bisa ajak Lita curhat dan gila-gilaan bareng,” ucapnya dengan wajah yang cemberut.

“Kita, kan, masih bisa ketemu lagi di Solo. Makanya tahun depan kamu juga harus lulus!” ucapku menyemangati adik tingkat satu kampung yang sudah seperti saudara sendiri.

“Tapi kata Mas Sultan, tahun depan orang tua kita mau pindah ke Bandung, Mbak”

Aku tertegun dan kaget mendengar keluarga Lita mau pindah ke Bandung tahun depan, dan itu artinya Sultan juga akan menetap disana.

“Makanya, Mbak harus kerja di Bandung! Biar bareng selalu ketemu aku dan Mas Sultan,” ucap Lita lagi.

“Haha … Jika takdir masih bisa mempertemukan kita, ya. Oh iya,itu Mas Sultan suruh lulus dulu. Masa mau, sih, dikejar sama Mbak dan sama kamu juga?” tanyaku pada Lita, meski sebenarnya ada maksud ingin mengetahui kabarnya. Ah, paradoks sekali aku.

“Engga tahu, tuh, Mas Sultan. Sejak sibuk bikin proyek ini itu jadi enggak ada kabar sama sekali. Padahal kuliah aja masih satu kota!” rutuk Lita. “Padahal aku adiknya, lho, Mbak,” lanjutnya dengan nada kesal pada kakaknya itu.

“Mungkin, belum ada waktu buat mengunjungi kamu, Lit.”

Ah, lagi-lagi aku mengharapkan Sultan mengunjungi adiknya agar bisa sekaligus aku bertemu dengannya.

Aku sadar, aku seperti perempuan pengecut dan bermuka dua, menggunakan adiknya untuk kepentingan diriku sendiri.

Lalu, aku berpamitan dengan seluruh penghuni kos dan pulang dalam perasaan yang masih mengganjal. Ya, ingatan tentang Sultan menyembul-nyembul dari kotak memoriku memori yang telah lama kukunci. Aku tak ingin membukanya, namun kotak itu seperti memiliki kekuatan sihir, membuka sendiri tanpa pernah aku kendalikan. Lalu, menginduksi pikiranku lagi.

Wah… novel baru. Minjem, dong, Mas.

Ya, nanti setelah aku baca.

Satu hari kemudian

Kamu dimana? Jadi pinjem novel? Sudah selesai Mas baca.

Di kampus, Mas! Kita ketemu di Minimoo eskrim, yuk!

Satu jam kemudian. Lalu bertemu dan makan es krim dengan remahan kata-kata, membahasakan aksara, mengekspresikan cerita-cerita hingga meniti dengan sabar apa yang inginkusampaikan.

Lalu, memori lain bercerita lagi.

Mas! Aku tulisi ini, ya!

Seraya mengambil foto sebuah tulisan ‘we not remember days, we remember moments’ di halaman depan novelnya yang baru dibeli.

Sudah Mas bilang jangan coret-coret. Tapi, yasudahlah enggak apa-apa.

Anna, kamu pasti bisa. Semangat! Sukses itu bakat 1% dan 99% usaha.

Anna, hidup ini seperti kaca spion dan kaca depan. Kaca spion itu masa lalu, sedangkan kaca depan itu masa depan. Kamu enggak bisa selalu melihat kaca spion, bukan?

Do it, now! Jangan nunggu nanti-nanti, Anna!

Semua percakapan itu hanya terjadi lewat pesan singkat! Lalu, entah kenapa suara-suara Sultan yang kebas mengatmosfer begitu saja di pikiranku hingga menutup pandanganku. Aku mengerjap-ngerjap mataku agar bayangan Sultan hilang.

“Seharusnya, aku tak boleh seperti ini,” batinku dalam hati.

Tak terasa perjalanan selama dua jam pun di akhiri dengan sapa sejuk udara Solo. Sudah lama sekali rasanya tak pulang, meski perjalanan hanya ditempuh selama dua jam, tapi pantang bagiku untuk pulang sebelum lulus.

Mulai detik ini, kehidupan yang sebenarnya akan dimulai. Berada di tanah kelahiran sendiri adalah suatu tantangan yang harus aku lakukan pasca wisuda. Sebab, disini banyak orang yang kukenal dan bagaimana caranya untuk selalu menjaga sikap dan menjaga nama baik keluarga. Tidak seperti di kota rantau yang bisa saja bersikap acuh tak acuh dan tak selalu percaya dengan siapapun.

Meski begitu, sebenarnya aku masih ingin tetap tingga di kota rantau. Sebab, masih ada urusan yang belum terseleseikan. Urusan hati, ah, tidak! bukan itu! Meski sebenarnya tak bisa kupungkiri jika aku sedang resah karena Sultan belum kunjung menghubungiku, setidaknya  mengucapkan ‘selamat wisuda Anna’.

“Ah, dia bukan siapa-siapa. Kenapa harus menghubungiku? Lagian sudah lama dia tak pernah menghubungi,” batinku lagi seraya menarik koper kamar yang berhadapan langsung dengan ruang keluarga.

“Kamarku! Ibu, terimakasih sudah menjaga dan merawat kamarku seperti anak sendiri,” kataku pada Ibu yang berada di belakangku.

“Kamu kira kamarmu anak Ibu? Lalu kamu siapa? Kamarnya anak Ibu, ya?” tanya Ibu yang masih kebingungan dengan ucapanku tadi. Aku tertawa kecil.

Ddrrrttt…dddrrrttt… ponselku bergetar.

Dek, sudah pulang? Selamat atas wisudanya, ya.

Satu pesan singkat yang membuat seluruh duniaku menjadi  taman bunga! Bibirku menyunggingkan senyum membaca pesan singkat dari Sultan. Aku tak langsung membalasnya, biarkan saja! Tunggu setelah aku memasukkan semua pakaianku ke dalam lemari. Tapi sayangnya belum sepuluh menit aku meraih ponselku lagi.

Sudah Mas. Terima kasih.

Hanya itu yang berhasil aku ketik untuk merespon pesan singkat Sultan. Hatiku terlalu bergembira. Aku tak ingin jika kegembiraanku itu terlalu terlihat dan terbaca oleh Sultan.

Malam ini aku pulang. Besok ketemu, ya?

Aku mengernyitkan dahi. Kenapa mendadak begini? Mungkin dia sudah rindu sama aku? Masa, sih? Hmm… apa ini yang dinamakan dengan telepati?

Ada apa, Mas? Kok tumben banget? Tanyaku dalam pesan singkat. Bodoh! Kenapa aku harus tanya ini? Tentu saja dia mau menyelamati kelulusanku.

Ya sudah Mas, besok kita ketemu .

Sebab aku juga ingin bertemu setelah sekian bulan tak berjumpa meski satu kota. Aku tahu, Sultan adalah seseorang yang ambisius, selalu memiliki target dan wish list yang ingin dia capai. Terbukti tahun lalu, sukses membuat buku kumpulan prosa yang banyak digemari mahasiswa. Tahun sebelumnya lagi berhasil menjabat sebagai ketua KAMMI Yogyakarta. Tahun sebelumnya sibuk di Senat BEM tingkat fakultas di kampusnya. Tahun sebelumnya lagi sibuk di BEM fakultas. Targetnya dan ambisinya begitu besar untuk menjadi seorang aktivis. Tidak seperti diriku yang terlalu nyaman mengikuti arus.

Sultan juga entah kapan akan mengurusi seorang perempuan. Ya! Perempuan.

Aku berlari kecil menghampiri motor di bagasi dan segera menyalakannya, sudah pukul 09.55 WIB. Padahal janji bertemu pukul 10.00 WIB. “Ah, aku selalu begini!” kataku uring-uringan karena rok yang kukenakan tersangkut standar motor.

Cukup 5 menit untuk sampai di kedai mpek-mpek yang baru buka satu bulan lalu. Sultan sudah menunggu di atas motornya sambil memegangi ponselnya. Aku buru-buru memparkirkan motor lalu menghampiri Sultan dengan langkah yang tidak dibuat terburu-buru.

“Hei, kamu sudah sampai,” ucap Sultan dengan senyum khasnya yang memamerkan gigi gingsulnya. Aku hanya mengangguk seraya tersenyum juga. Lalu kami masuk dan memilih meja dekat dengan tembok.

Sultan tersenyum, aku pun begitu. Suasana sungguh canggung, tak seperti di pesan singkat, aku sungguh heboh dan ramai sendiri, tapi diriku yang seperti itu tidak kutemukan jika  bertemu langsung.

Setelah memilih pesanan, Sultan membuka pembicaraan.

“Gimana kabarmu, Dek? Oh iya, selamat atas wisudanya, ya,” ucap Sultan.

“Ya Mas, makasih. Mas sendiri?” tanyaku kembali.

“Mas? Kapan wisuda? Aduh…,” katanya seraya menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.

“Eh, bukan itu maksud Anna,” kataku cepat-cepat.

“Haha…. Kabar Mas baik juga,” jawab Sultan, “Kabarnya kamu mau langsung ngajar?” tanya Sultan.

“Ya Mas, Alhamdulillah” jawabku dengan perasaan sumringah karena dia tahu keadaanku meski lama tak berkomunikasi. “Kalau boleh tahu, skripsi Mas udah sampe mana?” tanyaku dengan hati-hati

“Wah…. Skripsi, ya. Sudah satu tahun aku tinggalin gara-gara terlalu fokus ke buku. Tapi insyallah tahun ini mau Mas selesaikan,” jawabnya tanpa beban dan penuh keyakinan.

“Alhamdulillah kalau begitu,” ucapku.

“Hmm…. Dulu kamu pernah bilang, kalau kamu bakal wisuda duluan. Ya, kan?” tanya Sultan meminta persetujuan.

“Haha…. Masih ingat rupanya,” aku membenarkan.

“Iya. Padahal waktu itu Mas enggak percaya, soalnya kamu, kan, baru masuk kuliah sedangkan Mas di atasmu dua tahun,” ucap Sultan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Firasat wanita memang selalu benar” kataku dengan bangga.

“Tapi engga apa-apa. Ini pilihan kamu buat lulus cepat dan ini juga hidup Mas untuk menunda kelulusan lagi,” katanya sebelum akhirnya pesanan datang.

Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa dia lagi-lagi menunda kelulusan? Target apa yang ia kejar lagi? Bukankah sudah seharusnya dia memikirkan masa depan? Kuurungkan pertanyaan itu setelah makanan selesai kulahap.

“Anna,” ucap Sultan setelah makanannya habis. “Mas mau bicara serius sama kamu,” lanjut Sultan yang entah kenapa membuat jantungku seperti meloncat-loncat.

“Kamu tahu Nada? Lia? Rahma?” tanya Sultan

“Iya mas, mereka, kan, seangkatan aku di kampusnya, Mas,” jawabku yang masih belum selesai dengan mpek-mpek kapal selam.“Mas sering banget main ke kosan mereka, kadang makan bareng mereka juga. Sering juga hangout bareng mereka. Kadang mereka juga yang ngajak Mas jalan,” ucapnya diikuti dengan satu seruput es jeruk yang ia pesan.

“Mereka nganggap Mas kayak kakak sendiri di kota rantau. Pernah, tuh, Nada tiba-tiba sakit, lalu Rahma cs berbondong-bondong manggil Mas buat nolongin Nada ke rumah sakit,” lanjutnya, lalu aku menatap Sultan, terlihat di sana wajah yang kebingungan untuk menyampaikan sesuatu.

“Ya … mereka, kan, angkatan kamu dan Mas anggap mereka juga seperti adik Mas sendiri,” lanjutnya lagi, “Emmm … bagaimana, ya, bilangnya. Gini, Anna. Mas mau tanya, Anna pernah suka sama Mas?”

Degdegdeg. Hal yang paling aku takutkan selama ini, hal yang paling aku hindari jika Sultan bertanya seperti itu. Ah, kenapa juga dia harus bertanya ini tiba-tiba. Seperti apa raut mukaku sekarang? Merah padamkah? Apa yang harus aku jawab? Haruskah aku mengakui? Kalau aku mengakui, apa aku sudah siap mendengar jawabannya yang ternyata akan menyakitiku? Aku sadar, aku bukan tipe perempuan yang ia cari.

Entah dari mana kekuatan yang ku dapatkan hingga aku memutuskan untuk menjawab dengan gelengan kepala.

“Oh, oke kalau begitu,” respon Sultan lalu menyeruput es jeruk lagi.

“Begini, Anna. Mas sudah menemukan seseorang dan rencananya bulan ini Mas mau mengkhitbah dia.”

Lalu setelah itu semuanya buram. Aku tak sanggup mengingatnya, yang kutahu bibirku hanya menyunggingkan senyum sambil mendengarkan kicauannya dan permintaan maafnya. “Kenapa pula harus meminta maaf?” tanyaku dalam hati. Aku hanya ingat, aku mendengar suaranya yang sengau dan tak jelas. Lalu, aku tetap terdiam sampai akhir, tak ada sepatah kata pun ucapan yang keluar dari bibirku, meski itu hanya ucapan selamat.

Malam ini, kotak-kotak memori Sultan di pikiranku terkoyak, berantakan, saling berebutan untuk diingatkan. Aku menangis di kegelapan kamar. Semestaku seolah hancur dari geraknya yang teratur. Ikhlas? Ke mana ikhlas itu? Ke mana ia pergi? Kenapa meninggalkanku sendiri meski sudah tiga bulan berlalu? Kenapa ikhlas tak kunjung menghampiri di hatiku?

 “Kenapa aku harus bersedih hati? Sultan sudah menemukan gadis yang tepat untuknya. Gadis yang sholeh, tidak seperti aku yang memakai kerudung pun suka tak rapih! Gadis pilihannya pasti lebih paham ilmu agama daripada aku! Ngaji pun aku masih belepotan dan malas untuk memperbaiki bacaan! Ngaji aja malas! Bagaimana mau belajar agama lebih dalam?” aku merutuki diri sendiri. Aku harus sadar itu, kualitasku tak lebih baik dari gadis pilihannya. Dan juga aku tak menyesali perasaanku yang belum tersampaikan, setidaknya aku tak menjadi bebas baginya.

Assalaamu’alaikum. Mas, pokoknya undangan harus sampai ke aku!

Tiba-tiba aku mengirim pesan singkatku tengah malam.

Aku tak bisa membayangkan ketika mereka menikah nanti, aku harus menghadiri! Aku harus siap bahwa wanita yang ada di sampingnya bukanlah aku! Dan aku tak boleh egois.

Mau tahu sebuah fakta?

Pesan singkat itu terbalaskan

Aku tak jadi menikah. Karena suatu hal, kami membatalkan pernikahan. Untuk alasannya cukup dua keluarga saja yang tahu. Trims.

DEG!

“Sudah berapa kali kejutan-kejutan yang ia luncurkan padaku! Sudah berapa kali Mas? Tentang caramu memberitahuku 3 bulan yang lalu dengan repotnya kamu pulang hanya untuk memberitahu rencanamu untuk mengkhitbah seorang gadis?Lalu sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?” batinku dalam hati.

Aku ingin marah! Kenapa wanita itu benar-benar melukai harga diri seorang lelaki? Terlebih lelaki itu adalah Sultan? Seorang yang menghargai wanita lebih dari apa pun! Seorang yang selalu berkata lembut dan selalu memberi kenyamanan?

Aku menangis tersengguk-sengguk. Hatiku lebih sakit dari sebelumnya. Aku tak ingin Sultan merasakan sakitnya seperti aku! “Seandainya kamu tahu perasaanku, Mas,” batinku dalam hati. Tapi, semua itu terlanjur sebab tiga hari yang lalu aku menyetujui untuk dikhitbah orang lain.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 69%
  • Plot 65%
  • Setting 60%
  • Karakterisasi 63%
  • Poin Tambahan 60%

Poin utama yang Ndoro tangkap dari cerita ajang Dyah yaitu menunda kejujuran. Suka menunda-nunda itu sudah cukup jadi masalah, apalagi soal perasaan ini akan fatal akibatnya. Ndoro menikmati cerita ini, bagaimana galaunya Ana menghadapi orang yang disukainya akan menjadi milik orang lain. Sayangnya, dia sendiri tidak berbuat apa-apa dan lebih memilih menyesali diri. Dari segi teknis, Ndoro lihat banyak salah ketik dan kata-kata yang terasa tidak pas hingga sulit dipahami. Tapi, Jajang Dyah bisa belajar lagi nanti dan membuat tulisan yang lebih keren. Kirim ke Aksarayana dan Ndoro siap membaca ya nanti. Semangat, Jajang ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 68%
  • Plot 64%
  • Setting 60%
  • Karakterisasi 64%
  • Poin Tambahan 60%

Cerpen ini sederhana untuk kisah cinta yang enggak sederhana. Daku enggak mengomentari ceritanya, ya … ada yang lebih penting soalnya, tentang cara penulisan dialog. Cerpen yang ada di atas, itu adalah versi yang sudah daku edit. Sebelumnya, di draf aslinya, penulisan dialog selalu kurang tanda baca di akhir. Jajang Dyah, perhatikan ini, ya. Dialog itu seperti kalimat lainnya; harus ditutup dengan tanda baca. Jadi, penulisannya begini, misalnya:

“Perhatikan lagi cara penulisan dialognya, ya,” kata Octa.

Lalu penulisan ku- yang harusnya disambung dengan kata kerja yang mengikutinya. Misalnya:

‘Kumenangis’ bukan ‘ku menangis’.

Jajang Dyah, semangat terus, ya. Ditunggu karya selanjutnya.

Total Apresiasi