Pengukir Jiwa

by | May 8, 2018 | Appreciative April | 0 comments

Semburat warna jingga menyeruak dari arah barat, semilir angin yang membawa hawa lembab, menandakan siang akan berganti dengan malam. Aku menarik napas dalam dan kuhembuskan perlahan. Terasa begitu sesak seolah ada dinding batu yang menghimpit dadaku. Aku mendesah pelan memandang sebuah foto di layar ponselku. Ah! Andaikan waktu bisa diputar kembali. Sekelebat bayangan mulai memenuhi kepalaku, bagaikan rekaman video lama yang diputar ulang.

          Sepasang lelaki dan wanita dewasa dengan senyum sumringah menghiasi raut wajah mereka. Tidak nampak kelelahan sedikit pun meski baru saja bekerja di ladang. Bagi mereka, kebutuhan anak-anaknya tercukupi itu yang lebih utama. Apalagi kini kedua anaknya sudah masuk bangku sekolah dan yang dua masih balita. Rasa capai dan lelah hilang seketika melihat buah hatinya tersenyum dan rukun. Tidak banyak yang diinginkan lelaki itu kepada istrinya, cukup membantunya semampunya di ladang dan merawat anak-anaknya dengan baik. Jarang sekali ada pertengkaran di antara mereka, kecuali bila lelaki itu melihat putrinya menangis sudah dipastikan dia akan murka. Keempat saudaraku, termasuk aku, semuanya perempuan.

Aku ingat betul ucapan Bapak kepada Ibu waktu itu, saat ada anaknya yang menangis, tepat ketika Bapak yang baru saja pulang dari sungai mencari ikan, “Jadi perempuan, kok, enggak bisa jagain anak.”

Ada amarah yang terpendam di mata Bapak saat itu, tapi Bapak lebih memilih diam dan menghindar dari Ibu dengan memilih tidur setelah mendamaikan putrinya. Tapi, setelah bangun tidur sikap Bapak akan kembali seperti biasa terhadap Ibu. Bapak dan ibu mendidikku dan saudara-saudaraku dengan keras tapi penuh dengan cinta dan  kasih sayang.

 Ibu bukanlah wanita yang lemah lembut malah cenderung galak, berbeda dengan Bapak yang hampir tak pernah marah. Bapak dulu awalnya sama seperti lelaki pada umumnya, yang bisa dibilang lelaki nakal. Bapak dulu suka minum minuman keras dan judi setiap ada orang yang punya hajat di kampung. Meski begitu Bapak enggak pernah sekali pun selingkuh dari Ibu bahkan enggak pernah sekali pun main tangan. Bapak begitu mencintai Ibu dan putri-putrinya.Meski nakal Bapak tidak pernah lepas dari tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Selain sabar, penyayang Bapak juga orang yang ramah dan humoris terhadap siapa pun.

Dulu Bapak berhenti judi saat aku masih SD, sepele sebenarnya tapi bikin Bapak kapok sampai sekarang. Saat itu kakakku yang perempuan sudah di bangku SMP kelas satu. Sepatu satu-satunya yang dimiliki kakakku sudah enggak layak pakai. Aku dan kakak saat SD emang enggak pakai sepatu saat sekolah tapi memang hampir semua siswa di tempat tinggalku seperti itu dulu. Beda dengan sekarang yang wajib pakai sepatu. Hahaha …lucu memang kalau ingat masa dulu. Uang hasil jual ikan dan membuat arang sudah disisihkan sama Ibu dengan tujuan untuk membeli sepatu Kakak. Kebetulan saat itu tetangga ada yang lagi punya hajat, kebiasaan bapak pasti ikut judi kartu tanpa sadar Bapak pakai uang itu alhasil kalah. Ibu marah besar dan sejak itu Bapak enggak pernah judi lagi. Tapi, yang aku tahu Bapak berhenti judi bukan karena Ibu marah.

Ibu jarang sekali marah sama Bapak, kalau tidak keterlaluan. Bahkan saat Bapak mabuk pun Ibu cuma nasehatin Bapak tapi juga enggak ngelarang Bapak.

Ibu bilang, percuma saja diomelin terus kalo orangnya sendiri enggak mau sadar dari dirinya sendiri

Justru aku yang bisa bikin Bapak berhenti minum. Bisa dibilang aku anak kecil kurang ajar yang berani sama orang tua, memang enggak bisa dipungkiri aku anak paling nakal, galak, juga keras kepala. Hahaha.

Hari itu tepat Hari Raya Lebaran seperti biasa keluarga kami pasti berkunjung ke rumah Nenek. Aku sudah punya firasat kalau di sana pasti ada yang nyediain minuman keras kalau lagi kumpul kelurga gitu. Aku nempel terus sama Bapak karena aku emang enggak suka sama orang mabuk meskipun Bapak aku sendiri. Karena emang ramai saudara dan tetangga yang berkunjung di tempat Nenek, aku terpisah dari Bapak dan asyik bermain dengan saudara-saudaraku yang berkumpul di sana. Hari sudah semakin siang Ibu mengajak pulang karena masih ada beberapa tempat saudara yang juga akan dikunjungi. Karena Bapak enggak keliatan aku mutusin buat nyariin Bapak. Awalnya, aku bersemangat dengan ceria aku mendekati Bapak yang ada di halaman rumah tetangga nenek. Aku bener-bener kecewa liat Bapak yang di hadapannya sudah ada teko dan beberapa botol miras. Aku langsung pergi dan enggak peduli Bapak manggil aku. Aku terus merajuk sampai beberapa hari dan enggak mau ngomong sama Bapak. Kelakuanku memang berbeda dari saudara-saudaraku. Super nakal, kata orang tuaku. Aku selalu tertawa sendiri kalau ingat masa kecilku.

Semua putrinya memang sangat dekat sama Bapak. Kami sering bercanda atau sekedar ngobrol ringan. Saat waktu senggang, terkadang keluargaku bermain bersama.Untuk menjaga kerukunan, kata Bapak. Banyak teman-temanku yang iri karena kedekatan dan kebersaman keluargaku. Tapi, semua tinggal kenangan karena sekarang kami sudah tidak bersama dan berada didaerah yang berbeda karena faktor pekerjaan dan pernikahan.

Ibu tak pernah membela anak-anaknya. Ketika kami ada masalah sama teman sedang bermain bersama. Justru anak-anaknya lah yang akan dimarahi. Ibu selalu berprinsip; anak-anaknya tidak boleh jadi anak yang manja, harus bisa bertanggungjawab, dan yang pastinya harus jujur dan tidak melupakan ibadah.

“Jadilah orang yang selalu bersikap jujur dan bertanggungjawab baik pada diri sendiri, dan terlebih pada orang lain karena dengan kejujuran hidup kamu akan lebih beruntung.”

Bapak dan Ibu bukanlah orang kaya yang serba berkecukupan. Bukan. Mereka hanyalah petani kecil dan nelayan. Dulu Bapak sempat bekerja sebagai pengrajin mebel. Tapi setelah keluar dari pabrik, Bapak jarang membuat mebel kecuali kalau lagi ada pesanan saja.Dengan usaha dan kerja keras, dia bisa membiayai pendidikan semua putrinya. Pagi di ladang dan petang ke sungai. Ibu pernah jadi pedagang ikan keliling di daerah Solo dengan jalan kaki. Berangkat pukul dua pagi dan pulangnya tidak tentu. Terkadang dagangannya tidak habis. Semua dilakukan demi anak-anaknya tanpa peduli panas dan hujan, bahkan tak peduli siang atau malam. Ibu dan Bapak tak pernah mengharapkan hadiah atau penghargaan apa pun.

Aku dan Kakak dari kecil sudah dilatih hidup mandiri. Memasak, mencuci pakaian sendiri, dan bekerja di ladang. Agak berbeda dengan kedua adikku yang masih kecil. Ibu selalu tersenyum kalau pulang dari berdagang, rumah sudah bersih dan ada makanan yang siap makan. Tapi kalau masih berantakan, jangan tanya lagi apa yang akan terjadi. Aku dan saudaraku memaklumi ibu yang sering marah kalau pekerjaan rumah tidak beres. Semarah apa pun Ibu, kasih sayangnya tak tergantikan.

Keadaan keluarga semakin buruk saat aku memasuki kelas tiga SMK. Kakakku sudah lulus satu tahun yang lalu tapi adikku sama kelas tiga SMP dan adikku yang terakhir kelas satu SMP. Iya, jarak usia kami memang tidak terlalu jauh. Biasanya biaya pendidikanku mendapat bantuan dari pemerintah bagi keluarga yang kurang mampu. Tapi saat kelas tiga, aku tidak mendapatkannya. Sebenarnya sejak kelas dua, aku sudah mulai merasa kalau orang tuaku cukup berat menanggung biaya pendidikan kami. Tapi Bapak dan Ibu selalu meyakinkanku kalau aku pasti bisa lulus. Ibu sudah tidak jualan keliling dan pindah jualan ikan bakar di pasar yang cukup dekat dengan desa, satu setengah jam jalan kaki. Saat itu kendaraan di tempatku masih jarang tidak seperti sekarang yang hampir setiap orang punya sepeda motor. Listrik di desaku saja baru ada pas aku kelas tiga SD. Urusan jalan masih cukup buat keluargaku meski kadang hanya makan dengan nasi jagung. Selama aku sekolah, aku selalu membawa bekal dari rumah. Lumayan buat irit uang jajan. Uang sakuku empat ribu rupiah waktu aku kelas tiga SMK itu. Dua ribu buat bayar angkutan umum dan sisanya uang jajan.

Aku kadang bolos sekolah tapi bukan karena aku nakal melainkan enggak ada ongkos kalau bapak enggak dapat tangkapan ikan. Aku terkadang ikut Ibu ke pasar jam tiga pagi demi bisa sekolah. Aku tak pernah malu karena perjuangan kedua orang tuaku.

Beruntunglah kalian yang punya kesempatan jadi orang berada. Jangan pernah sia-siakan apa yang orang tua berikan karena penyesalan datangnya terlambat.

Aku hampir putus sekolah. Biaya pendidikanku yang tersendat juga mahal karena aku sekolah di swasta. Buku-buku pelajaran yang cukup mahal, praktikum kejuruan, biaya bulanan, biaya tes ulangan umum, belum lagi biaya les privat, dan ujian nasional. Seolah bagai bara api yang siap membakar apa saja yang ada di dekatnya. Aku selalu mencari dispensasi saat akan ujian karena biaya sekolah yang belum dibayar. Bahkan saat ujian nasional pun aku menunggu dispensasi sampai jam empat sore.  Bagiku tidak masalah asal bisa ikut ujian.

Akhirnya aku bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan meskipun aku kecewa karena impianku melanjutkan sekolah harus pupus. Tapi demi Bapak, ibu, dan kedua adikku, aku merelakan semua. Bukan hanya aku, adikku yang ketiga akhirnya juga tidak melanjutkan sekolahnya. Meski sudah lulus, Bapak sama Ibu enggak pernah memaksa anak-anaknya untuk segera bekerja. Mereka selalu memberikan kasih sayang penuh kepada anak-anaknya dalam keadaan apa pun.

Semakin dewasa anak-anakmu semakin besar rasa takutmu akan masa depan anak-anakmu.

Bapak dan Ibu, aku tahu dalam diammu tersimpan harapan besar terhadap putrimu. Tak ingin anak-anakmu dalam kesusahan. Dalam senyummu menyimpan air mata yang tak pernah terlihat saat engkau tak mampu memberikan keinginan anak-anakmu. Tangan kokohmu yang selalu membelai lembut penuh kasih sayang, tersimpan kelelahan yang teramat sangat. Di balik kata baik-baik sajamu tersimpan sejuta luka yang tak terlihat demi senyum anak-anakmu. Dalam sujudmu selalu terselipkan do’a.

Cintamu tak terbatas dan kasihmu tak berbalas, Pengukir Jiwaku. Seribu juta cintaku tak akan bisa membalas cinta yang pernah engkau berikan padaku.Seribu juta kata teima kasihku tak akan pernah bisa membalas dekap hangat kasih yang pernah engkau berikan padaku. Kerja kerasmu, keringat yang mengalir sepanjang waktu, tangan kokohmu yang selalu membelai penuh kasih sayang, dan doa disetiap sujudmu yang selalu engkau panjatkan.

 

Maafkan putrimu yang selalu menyusahkan, sering melukai hatimu, sering membangkang akan nasehat-nasehatmu, selalu membuatmu cemas bahkan terkadang melupakanmu saat anakmu tengelam dalam dunianya sendiri.

Terima kasih Bapak dan Ibu telah membawaku kedunia ini.

          Love you more, I miss you.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 65%
  • Plot 61%
  • Setting 65%
  • Karakterisasi 60%
  • Poin Tambahan 60%

Ndoro ucapkan selamat ya, Jajang D’Indar sudah terpilih jadi salah satu cerpen terpilih bulan ini.

Temanya juga mengharukan, mengangkat orang tua sebagai inspirasi. Perjuangan mereka membesarkan anak-anak dengan penuh cinta, Jajang bisa menyampaikan semua hal itu dalam cerpen kurang dari dua ribu kata, luar biasa. Pesan moralnya juga banyak dalam cerita ini.

Sayang sekali, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki antara lain jalan cerita masih lempeng, konflik juga terasa datar, detail cerita masih kurang dan perasaan tokoh belum tersampaikan dengan baik. Ndoro yakin besok Jajang akan menulis lebih baik dari ini. Terus semangat ya, Jajang. Jangan sungkan untuk bertanya jika ada yang masih membingungkan ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 60%
  • Plot 60%
  • Setting 60%
  • Karakterisasi 60%
  • Poin Tambahan 60%

Cerita ini menyentuh karena bicara tentang bagaimana perjuangan sebuah keluarga dan bukan hanya karakter ‘aku’ saja. Yayang Octa suka dengan ‘rawness’ yang dibawa cerita ini. Hmm … komen lain, mungkin tentang EBI dan tanda baca, tapi ini bisa dipelajari.

Kita belajar bareng, ya, Jajang D’Indar. ^^

Total Apresiasi