Aku tidak tahu kapan persisnya perasaan itu datang. Yang kuingat adalah pagi-pagi saat aku resah menunggu kehadiran Khalid. Degup-degup tak menentu saat kami berbagi earphone untuk mendengar lagu. Atau perasaan kecewa yang kutelan berkali-kali setiap kali Khalid mengabariku tentang pacar barunya di kelas lain.

Erlin Natawiria

Penulis

Versi audio dari cerpen ini bisa didengarkan langsung atau diunduh dari situs ini. Ndoro paham kalau ada cerpen yang bagus dan kalian suka, bisa jadi kalian akan mendengarkan lebih dari satu kali, jadi … Ndoro buat audio ini bisa diunduh dan kalian simpan.

Di bawah, ada versi tulisan dari cerpen ini buat yang kesel dengerin suara Yayang Gian dan Yayang Octa. Selamat membaca~

Klik tautan di bawah ini, ya:

Percikan

Erlin Natawiria

High school has a special place in my life.

Kakiku berhenti melangkah saat aku menangkap gerbang tinggi abu-abu dari seberang jalan. Meski matahari sedang terik-teriknya, tubuhku malah merasakan desiran dingin. Bukan karena terpaan angin kering, melainkan luapan emosi setiap kali aku berada di lingkungan ini. 

Setelah memastikan tidak ada kendaraan melintas, aku menyeberangi jalan.

Sekelompok pemuda sedang nongkrong di gerbang saat aku menyelinap masuk. Aku sempat terkejut melihat satpam yang menyapaku. Masih bapak itu! Pria paruh baya yang mungkin sudah bertugas sebelum aku masuk ke sekolah ini. Walau beberapa helai rambutnya telah memutih, senyumnya tetap seperti yang kuingat.

Memasuki taman depan sekolah, aku melambatkan langkah. Jalan menurun dari gerbang langsung mengantarkanku ke kantin. Rupanya tempat itu juga belum banyak berubah. Gerombol siswa berseragam putih-abu berdesakan di antara meja dan bangku panjang. Ada pula yang antre di depan stan-stan makanan. Sepertinya aku datang saat jam istirahat kedua berlangsung.

“Indira!”

Panggilan itu muncul saat aku berbelok ke jalan pintas di belakang kelas-kelas IPS. Aku menoleh ke berbagai arah. Tidak ada siapa-siapa. Namun, suara itu kembali menyerukan namaku dan kini aku melihat seorang pemuda menaiki tangga dari jalan di belakangku.

“Khal? Ya ampun, maaf. Pangling banget lihat kamu. Gimana aku bisa tahu,  foto profil di Path kamu pemandangan mulu.”

“Indira? Indira, kan? Kita sekelas dulu.” Tanpa ragu, dia melebarkan senyumnya. “Kamu lupa? Kita temenan di Path.”

Mataku terpicing; mengamati wajah asing itu. Sejak lulus SMA tujuh tahun silam, aku jarang bersua dengan teman-teman satu sekolah. Jangankan mengingat wajah, nama pun kadang lupa. “I have no clue.”

Senyumnya dengan cepat memudar. “Khalid.”

“Khalid?” Aku spontan terkesiap mendengar nama itu. Sial, bagaimana aku melupakan dia? “Khal? Ya ampun, maaf. Pangling banget lihat kamu. Gimana aku bisa tahu,  foto profil di Path kamu pemandangan mulu.”

Dia mencibirku. “Pangling? Gue makin ganteng, ya, sekarang?”

“Your confident hasn’t changed much.” Benar, sih. Salah satu hal yang membuatku nyaris tak mengenali Khalid adalah penampilannya. Dia semakin tinggi dan lebih terawat. Rambut pendeknya dibiarkan tertiup angin. Dengan gaya ini, Khalid cocok jadi model pria di katalog pakaian bermerek. “Lagi apa di sini? Bukannya kamu kerja di Jakarta?”

“Kamu pengin balik lagi jadi anak SMA, enggak?” tanyaku.

“Ada tugas di Bandung sampai minggu depan. Selagi sempat, gue napak tilas ke sini.” Khalid mendahuluiku berjalan menuju kantin. “Kamu? Enggak kerja?”

Sebenarnya, aku mulai lelah menjelaskan keadaanku sekarang. Satu tahun lalu, aku masih bisa menjawab, karena aku masih bekerja sebagai staf di sebuah lembaga penelitian. Namun, satu dan lain hal mendorongku keluar dari sana.

“Single and unemployed.” Khalid menganga saat mendengar jawabanku. “Not that bad, Khal. I have a job interview tomorrow, so, wish me luck.”

Khalid mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. “Gue lapar. Makan dulu, yuk, keburu mejanya penuh.”

* * *

Selanjutnya, aku dan Khalid mengadakan tur singkat. Karena kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung, kami hanya mendapati lorong-lorong sepi. Sesekali, kami berpapasan dengan siswa-siswi yang membawa tumpukan buku dari perpustakaan atau mereka yang berlari ke toilet dengan pakaian olahraga.

Kemudian, Khalid duduk di depan laboratorium komputer yang menghadap kolam ikan di depan kelas IPA. Sementara aku duduk di sampingnya.

“Kamu pengin balik lagi jadi anak SMA, enggak?” tanyaku.

Khalid termenung sambil melipat tangan di dada. Dia baru menjawab setelah pasukan siswa berseragam olahraga melintas di belakang kami. “Kadang-kadang, apalagi kalau kerjaan lagi banyak. Setelah dipikir ulang, jadi anak SMA enggak seberat kerja kantoran.”

“Jadi anak SMA juga dapat uang saku terus.” Aku terkekeh. “What do you miss the most?”

“Banyak. Kalau diceritakan semua, kita bisa nginep di sini tiga hari tiga malam,” selorohnya yang kusambut dengan desisan. “Hmm, berhubung lagi sama kamu, gue jadi kangen masa-masa awal jadi anak SMA.”

Aku mencondongkan tubuh ke arahnya. “Maksudnya, kamu kangen duduk semeja sama aku, Khal?”

Giliran Khalid yang sekarang menoyor keningku. “Bisa, bisa. Kalau enggak ada kamu, stok lagu di memori ponsel gue pasti enggak akan berkembang.”

Kami bertatapan, lalu tergelak sambil lalu. Aku dan Khalid dulu sering bertukar stok lagu, sebab kami punya selera musik yang sama. Kami  membuat kompilasi dengan CD, lalu bertukar flashdisk sampai dipenuhi virus. Aku bahkan masih menyimpan keping-keping berisi koleksi lagu pemberiannya. 

The old, good days.

Thus, it took my feelings to another level.

Aku tidak tahu kapan persisnya perasaan itu datang. Yang kuingat adalah pagi-pagi saat aku resah menunggu kehadiran Khalid. Degup-degup tak menentu saat kami berbagi earphone untuk mendengar lagu. Atau perasaan kecewa yang kutelan berkali-kali setiap kali Khalid mengabariku tentang pacar barunya di kelas lain.

Mengingat perasaan itu mengantarkan penasaran ke dalam benakku. He’s here. Aku menatapnya tanpa ragu dan Khalid membalasnya secepat kilatan petir.

After all this time, I’ve been wondering. And after all this time, I’ve pulled to keep it for myself.

Sepertinya, aku sudah memilih keputusan tepat untuk kami.

* * *

Indira makin terlihat makin dewasa.

Sayang sekali kami baru bertemu lagi sekarang.

Jauh sebelum lulus SMA, gue sudah kesulitan buat ketemu Indira. Terutama sejak kami masuk jurusan berbeda. Selama di kelas X, gue dan Indira jadi tim solid gara-gara duduk satu meja. Dia sangat berbakat dalam materi hafalan, sedangkan gue lihai dengan pelajaran eksak. Ranking kami pun selalu berdekatan.

Cuma, gue enggak bakal nyangka bakal suka sama Indira.

Siang ini, waktu lihat dia kelayapan di sekolah, gue girang bukan main. Dari cara jalannya yang masih sama, gue tahu kalau itu teman sebangku gue. Indira masih seperti yang dulu—dia cuek sama pakaiannya. Sweatshirt dan jin, serta rambutnya diikat kuda. Satu yang berbeda, wajahnya sekarang mulus; bebas jerawat.

Indira makin terlihat makin dewasa.

Sayang sekali kami baru bertemu lagi sekarang.

“Jadi, sambil cari kerjaan, kamu ngapain aja?” Gue bertanya.

“Baca ulang beberapa buku favoritku. Jadi turis di Bandung—I haven’t explored this city that much. Indira menghela napas panjang. “I’m trying to reach my zen mode, too.”

“Mode apa?”

Indira menyandarkan salah satu sisi tubuhnya ke dinding. “Aku capek. Kuliah empat tahun ternyata menyita banyak hal. Pekerjaan sebelumnya juga membosankan. Penginnya istirahat dulu, tapi kamu tahulah ekspektasi keluarga dan lingkungan terhadap sarjana seperti apa. Go get a job or get lost.”

Kali ini, gue merasa Indira masuk ke topik serius. “Lalu, apa yang membuat kamu kelihatan lelah?”

Keningnya mengernyit. “Khal, most of my girl friends are getting married. Even expecting their first child. Aku mulanya cuek dan masih bisa kasih ucapan selamat sana-sini. Tapi, saat kami berkumpul, aku sadar kami sudah berada di dunia yang berbeda. Obrolan kami tidak sama seperti dulu.”

“I found myself playing with my smartphone, sedangkan mereka mendiskusikan hal-hal seputar kehidupan sebagai istri dan ibu. Meski mereka bilang, ‘Indira, nikmati hidup kamu sebelum menikah kayak kita’, it feels … irritating.”

“Khal,” panggilnya, “are you sure she’s the one?”

Gue mengangguk-angguk sambil memikirkan apa yang sebaiknya gue katakan. “Kamu lagi kejar target buat nikah atau gimana?”

Respons Indira, tanpa gue duga, cukup mengejutkan. Dia memberi tatapan penuh selidik—seolah ingin menceburkan gue ke kolam. Namun, setelah satu menit yang panjang, dia kembali mengambil napas untuk menenangkan diri. “To be honest, Khal, gue lagi alergi sama orang-orang yang sedang berhubungan serius.”

“Kamu baru putus?” Gue menembak tanpa basa-basi.

Indira mengulum bibirnya. Dia merunduk sambil menggerakan kaki. “Long short story, it was a mess. That is why I wanna reach my zen mode. Semacam detoks buat hati dan pikiran.”

Selain sama penampilan, Indira juga cuek sama hubungan asmara. Dia enggak pernah dekat sama cowok—selain gue—pas SMA dulu. Menurutnya, pacaran semasa sekolah juga hanya buang-buang waktu. Emang nanti kamu bakal nikah sama dia? sungutnya tiap kali gue pedekate sama cewek.

Makanya, gue memilih buat memendam perasaan suka gue sama dia. Nyiksa, sih, tapi setidaknya enggak ada yang tersakiti.

“Kalau kamu alergi sama hubungan serius, kenapa kamu masih ngobrol sama gue sekarang?” tanya gue penasaran. Dia pasti tahu. Dia memberi komentar pada foto yang gue unggah di Path dan Instagram tentang acara itu.

Indira menoleh. “Ada beberapa orang yang enggak bikin aku alergi, kok. Termasuk kamu. Aku sampai hafal tipe cewek idaman kamu kayak gimana. Ternyata enggak berubah, ya, sampai tunangan kemarin.”

Mendengar jawaban Indira tadi, gue enggak tahu harus merasakan apa. Kalau senang, kenapa gue kayak merasa sesak napas? Kalau sedih, kenapa gue juga lega di waktu yang bersamaan?

* * *

Kami melanjutkan tur ke lapangan di belakang sekolah. Indira beberapa kali mengajak gue mengintip kelas-kelas yang kami lewati. Termasuk kelas kami dulu. Meja kami terletak di sisi kiri kelas; tepat di samping jendela yang menghadap tempat parkir. Di dalam, papan tulis dipenuhi angka-angka dan huruf yang membuat Indira mual seketika. Gue cuma nyengir lihat mata pelajaran itu—Kimia, musuh terbesar Indira.

“Kalau enggak ada kamu, aku bakal tinggal kelas gara-gara Kimia,” gumamnya. Indira pasti bakal kena remedial terus kalau enggak gue bantu.

Kami berhenti di tepi lapangan dan sama-sama tercengang melihat perubahan drastis tempat ini. Gue tahu beberapa tahun lalu, lapangan di sekolah kami jadi lapangan indoor. Tapi, gue tetap kaget begitu lihat langsung kayak gini.

Para siswa di hadapan kami sedang berlatih teknik dasar permainan basket. Gue dan Indira menyaksikan dalam diam; terbawa nostalgia. Indira mungkin tidak tahu kalau gue suka nonton dia olahraga dari jendela kelas gue di lantai dua. Hanya satu tahun, mungkin kurang, selama gue duduk di kelas XI.

Selama itu pula Selasa menjadi hari favorit gue. Indira memang payah dalam pelajaran fisik, tapi toh gue tetap betah lihat dia lari ngos-ngosan keliling lapangan.

“Khal,” panggilnya, “are you sure she’s the one?”

Pertanyaan ini lagi. Nyokap juga pernah tanya buat meyakinkan keputusan gue dan gue selalu jawab, “Ya.”

“Bagaimana kamu tahu?” tanyanya, tanpa melepas pandangan dari gerombolan cewek di seberang lapangan.

“Kamu mungkin sudah pernah dengar ini: you just know.”

Indira tidak mendebat—entah bosan atau kurang puas dengan jawaban sejuta umat tadi.

“Kenapa?” Gue balik bertanya—gemas dengan diamnya.

“Kadang, aku was-was kalau aku melewatkan si the one.Gue yakin Indira mengerling sebentar ke arah gue. “What if I missed him somewhere. What if I didn’t catch the signs. Semacam itu.”

Berdasarkan pengalaman gue bersama beberapa cewek, gue sadar kadang mereka hanya ingin didengar. Mereka hanya ingin telinga ekstra yang menampung tanpa perlu solusi. Maka, gue hanya memberi tepukan singkat di punggung Indira.

“Eh, bentar.” Ponsel gue bergetar. Ada pesan baru masuk. Nama si pengirim langsung bikin gue salah tingkah.

Indira kayaknya tahu siapa yang menghubungi gue. “Doi, ya?”

“He-eh. Kami janjian di sini. Nanti malam mau dinner.”

Lovey-dovey. Kemudian, Indira berbalik. “Ayo kita pulang kalau gitu. Jangan sampai kencanmu berantakan.”

* * *

Siapa sangka gue bakal ketemu sama Indira? Cewek yang pernah bikin hati gue jungkir balik semasa SMA.

Indira sepertinya kaget waktu tahu gue masih pakai mobil lama. Eh, dia balik mengejutkan gue karena hafal nomor polisinya. Bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, dia masih ingat detail-detail seperti itu.

“Jangan meremehkan cewek yang ingat hal sampai sedetail itu,” katanya. Anyway, tunangan kamu di mana? Belum sampai?”

“Kayaknya kejebak macet.” Gue memeriksa pesan terakhirnya. Dia akan sampai ke sini sepuluh menit lagi. “Kamu mau pergi?”

Indira mengangguk, lalu melempar teh kemasannya yang kosong ke tempat sampah. Pandangan kami kembali tertuju pada bangunan bersejarah di seberang jalan. Satu jam paling berharga yang gue lewatkan hari ini.

Siapa sangka gue bakal ketemu sama Indira? Cewek yang pernah bikin hati gue jungkir balik semasa SMA.

Namun, sampai kami akan berpisah kembali, gue belum tahu perasaan Indira yang sebenarnya. Apa dia juga pernah menyimpan perasaan yang sama? Dari tindak-tanduknya dulu, gue sempat ge-er dan berpikir dia suka sama gue.

“Khal, aku pulang duluan, ya,” ujar Indira, membuyarkan lamunan gue. Kali ini, dia berdiri beberapa langkah dari tempat gue berdiri. Nice to meet you again. Senang juga melihat kamu baik-baik aja. Enggak menyedihkan kayak aku.”

“Apaan, sih. Jangan ngomong kayak gitu. Nice to meet you, too.Gue gatal ingin memberi kalimat tambahan. Gue pengin Indira tahu. Sayangnya, entah kenapa, semakin besar keinginan itu muncul, semakin kuat juga gue membendungnya.

Lalu, pada akhirnya gue malah bilang, See you later.

See you.

Begitulah, Indira pergi. Gue memandangi punggungnya perlahan menjauh; mengecil sampai mata gue enggak bisa lihat sosoknya lagi. Ketika itu gue sadar apa yang menghalangi gue buat menahan pengakuan tadi.

Percikan itu sudah lenyap.

* * *