Tuta dan Mika bicara tentang potong kuku. Mika bilang kalau Tuta terlalu keras pada dirinya sendiri karena memotong kukunya mulai dari jari tangan kanan. Mika sendiri menilai kalau dirinya berkebalikan dengan Tuta. Octa Nurhasanah

Penulis

Versi audio dari cerpen ini bisa didengarkan langsung atau diunduh dari situs ini. Ndoro paham kalau ada cerpen yang bagus dan kalian suka, bisa jadi kalian akan mendengarkan lebih dari satu kali, jadi … Ndoro buat audio ini bisa diunduh dan kalian simpan.

Di bawah, ada versi tulisan dari cerpen ini buat yang kesel dengerin suara Yayang Gian dan Yayang Octa. Selamat membaca~

Klik tautan di bawah ini, ya:

Potong Kuku

Octa Nurhasanah

“Tuta, kemarikan tanganmu.”

“Aku sedang potong kuku. Kamu lihat, kan?”

“Aku lihat. Karena itu aku minta, kemarikan tanganmu. Dan juga gunting kukunya.”

“Kenapa, sih?”

“Kemarikan saja.”

“Jelasin dulu. Jangan tarik tanganku.”

“Aku enggak suka ngelihat kamu potong kuku.”

“Jangan ngelihat kalau begitu.”

“Kemarikan!”

“Jangan tarik tanganku. Jangan ambil gunting kukunya!”

“Tuta, tanganmu aneh sekali.”

“Kenapa lagi, sih? Sekarang tanganku salah apa lagi?”

“Tanganmu seperti tangan perempuan, Tuta. Jarinya panjang-panjang. Kamu ingat enggak nenek-nenek yang kita temui waktu itu, yang ngejual buah di Farmer’s Market?”

“Aku ingat. Kenapa?”

“Tangannya enggak keriput.”

“Lalu apa hubungannya dengan tanganku. Aw! Hati-hati! Jangan potong ujung jarinya.”

“Aku hati-hati. Kamu yang terlalu banyak bergerak.”

“Jadi kamu mau menceritakan tentang nenek-nenek itu dulu atau tentang tanganku? Apa ada hubungannya dua hal itu?”

“Ada. Nenek-nenek itu tangannya enggak keriput. Padahal lehernya sudah berlipat-lipat kulitnya. Tanganmu ini, mengingatkanku pada tangannya. Panjang dan bagus.”

“Apa itu aib?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Enggak ada. Teringat saja.”

“Kenapa kamu enggak suka melihatku potong kuku?”

“Karena memang menyebalkan untuk dilihat. Hasil potongannya pun enggak bagus.”

“Alasan bodoh. Pelan-pelan….”

“Mau alasan yang pintar?”

“Boleh.”

“Karena kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.”

“Maksudmu? Eh, apa kamu akan membersihkan kutikulanya juga?”

“Iya. Tapi aku kasih olive oil dulu biar lebih mudah.”

“Olive oil? Yang untuk masak? Untuk salad?”

“Keberatan?”

“Enggak. Kenapa kamu bilang aku terlalu keras pada diriku sendiri?”

“Karena kamu memotong kuku mulai dari tangan kanan dulu.”

“Jelaskan.”

“Aku akan menjelaskannya. Tenang saja. Ini kelingking kirimu susah sekali dibuat rapi potongannya karena kamu sudah memotong dengan asal tadi.”

“Aku enggak asal.”

“Ini asal. Asal pendek saja.”

“Yaaa … memang harusnya begitu, kan? Dipotong pendek?”

“Aku berusaha membuat ujungnya sedikit melengkung agar jarinya kelihatan lebih rapi, Tuta.”

“—dan agar lebih mirip jari nenek-nenek?”

“Senyummu sinis. Aku enggak suka.”

“Aku enggak bermaksud begitu, Mika. Jelaskan yang tadi.”

“Yang mana?”

“Oh, Mika. Yang tadi. Tentang aku yang terlalu keras pada diriku sendiri.”

“Yaaa … itu. Kamu mulai memotong dari jari-jari tangan kananmu. Itu, kan, sulit. Kamu mulai dari yang paling sulit. Kamu selalu begitu.”

“Aku lebih suka meninggalkan yang mudah untuk yang terakhir. Dengan sisa tenaga dan waktu.”

“Kamu menunda bersenang-senang untuk mengerjakan tugas yang bahkan deadline-nya masih lama.”

“Itu kadang-kadang saja. Buktinya sekarang aku di sini. Bersenang-senang denganmu. Diperlakukan seperti bayi. Dipotongkan kukunya.”

“Kamu sinis lagi.”

“Eh, jangan berhenti. Lanjutkan memotong kukunya.”

“Kemarikan tangan kananmu!”

“Jangan marah, Mika.”

“Aku enggak marah. Aku enggak suka kalau kamu mulai sinis.”

“Aku enggak sinis.”

“Kamu sinis.”

“Penilaianmu tentang sinis atau enggaknya omonganku itu beda denganku.”

“Kalau begitu, samakan penilaiannya.”

“Lanjutkan dulu yang tadi. Tentang aku yang menurutmu suka menunda kesenangan untuk hal yang lebih sulit.”

“Oke. Tapi aku sudah enggak punya lanjutannya lagi.”

“Jadi menurutmu, orang yang memotong kuku dari jari-jari tangan kiri itu lebih suka memilih kesenangan?”

“Mereka memilih yang paling mudah dulu.”

“Agar yang sulit bisa ditunda?”

“Bukan.”

“Lalu? Mika, jempolku jangan terlalu pendek dipotongnya.”

“Kenapa?”

“Aku membuka kopi botolan dengan kuku.”

“Cari cara lain. Itu merusak, kan, kukumu.”

“Misalnya?”

“Misalnya apa?”

“Cara lain?”

“Pikirkan sendiri, lah!”

“Dengan memintamu membukakannya?”

“Sinis lagi.”

“Maaf. Oke. Lanjutkan lagi. Jadi, kenapa mereka menunda yang paling sulit di akhir?”

“Mereka menunda sampai enggak ada pilihan selain menyelesaikannya.”

“Ada orang seperti itu?”

“Ada.”

“Siapa?”

“Aku. Jangan tertawa!”

“Enggak. Kamu lucu.”

“Ketawamu nyebelin. Sudah. Ini sudah selesai.”

“Makasih. Apa kamu akan memotongkannya lagi pekan depan?”

“Enggak. Usaha sendiri, lah.”

“Kenapa kamu mau memotongkannya sekarang?”

“Aku hanya ingin memperlihatkan padamu bagaimana caranya.”

“Mika….”

“Hmmm?”

“Kalau ada yang sulit, jangan segan untuk meminta bantuanku.”

“Aku tahu. Kamu enggak bilang pun, aku enggak akan segan.”

“Kamu selalu tahu cara memanfaatkanku.”

“Aku enggak memanfaatkanmu. Jangan sinis, kataku!”

“Oke. Jangan marah.”

“Aku enggak marah!”

“Suaramu meninggi. Tatapanmu seperti mau memakanku.”

“Oh, seandainya aku bisa melakukan itu.”

“Apa?”

“Makan kamu.”

“Itu enggak lady like.”

“Jarimu tuh, lady like!”

—&—