Ramuan Empat

by | Jul 7, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

“A-apa ini?” Suara Cassie tertahan, jelas sekali nampak ketakutan. Ujung jemarinya mengusap bibir.

“Racun!” sahut Liron sembari memiringkan kepala.

Mata Cassie membola. “Ra-racun?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Ya.”

“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau aku mati!” Cassie berteriak kencang matanya membelalak.

Liron tersenyum sesaat, dia benar-benar merasa sangat ingin tertawa sekarang. Akan tetapi, melihat gadis tidak sopan di depannya ini memelototkan mata lalu berteriak dalam kepanikan membuatnya sedikit senang. Senang karena tidurnya yang terganggu akan terbalaskan dengan tuntas.

“Kau yang mengambilnya sendiri, bukan aku.” Bahunya terangkat bersamaan, ingin menambahkan efek dramatis bahwa racun itu memang pilihan Cassie sendiri dan tidak ada yang bisa dilakukannya.

“Berikan aku penawarnya, kurasa aku sudah mulai keracunan.” Suaranya mulai pecah saat jemarinya menggaruk ke leher.

Melihat semua ini, rasanya Liron ingin tertawa sekarang. Larutan itu sama sekali tidak beracun. Hanya campuran daun-daunan dengan sedikit sekali campuran kulit udang. Warna hitam di peroleh dari ekstrak bubuk Curcuma aeruginosa hingga menimbulkan kesan kalau ramuan ini mungkin sangat pahit dan berbahaya. Padahal, ramuan itu berkhasiat untuk mencegah anemia bukan membuat keracunan atau sejenisnya. Anehnya, bagaimana bisa gadis itu gatal-gatal? Sangat pintar berakting bukan? Kalau manusia pasti akan jatuh dalam akting abal-abal sejenis. Manusia kan makhluk kurang cerdas.

Tidak percaya? Atau tidak terima?

Coba pikir, manusia sangat menyukai film, drama atau sejenisnya, sudah tahu ditipu dan sadar juga kalau semua itu hanya rekayasa, tapi masih juga dinikmati. Kurang bodoh bagaimana coba? Kalau memikirkan semua kebodohan ini, rasanya aneh dan tidak bisa mengerti seberapa banyak pun  dia memeras otak. Jadi rasanya kata pepatah kalau orang bodoh itu lebih sederhana jalan pikirannya sama sekali tidak benar. Kebodohan mereka jelas masuk jenis kebodohan yang kompleks, mungkin ada mutasi di nukleotida penyusun DNA mereka. Atau kesalahan ini sudah berasal dari pembelahan sel yang salah sejak awal. Entahlah.

Hanya saja tipuan semacam itu, tidak akan mempan untuk penyihir. Mereka makhluk yang cerdas dengan kapasitas otak jauh di atas manusia.

Master, sepertinya dia keracunan!” Fil berbisik pelan.

Liron seketika tersentak, matanya membulat. Bagaimana bisa ada penyihir sebodoh Fil? Ada makhluk seperti ini di ras penyihir? Ya, Tuhan.

“Kau sakit?” tanyanya sambil menatap pemuda itu.

“Tidak, Master. Saya sehat.”

Benar juga, penyihir bodoh jarang sekali sakit makanya populasi mereka semakin membesar saja. Sementara banyak penyihir pintar yang mati muda. Otak mereka bekerja keras demi kehidupan panjang orang-orang bodoh ini. Kalau tanpa pengorbanan spesies yang lebih pintar, bagaimana mungkin makhluk semacam Fil bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Sejenis seleksi alam yang menyebalkan. Pasti begitu cara kerjanya. Dunia memang keras untuk spesies yang lebih pintar dan terlalu mudah untuk yang bodoh. Ya, jelas saja, yang kurang pintar kan tidak pakai otak. Bersyukur sekali dia terlahir pintar, tidak terbayangkan jika kepalanya terisi otak kompos seperti milik Fil sekarang.

Liron terkikik pelan lalu kembali mengeraskan ekspresinya saat Fil menatapnya tanpa berkedip. Dia lalu menarik napas kesal  dan memasang senyuman. “Besok lagi potong rambutmu!”

“Apa hubungannya, Master? Apa rambut saya sudah panjang?” Fil langsung memegangi rambutnya.

“Kalian pasangan homogen?”

“Kau sudah gila!” kata Liron dan Fil berbarengan sembari menatap gadis yang kini memberikan pandangan penuh ingin tahu.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Fil tertawa garing sambil menggaruk pipinya, matanya juga melirik ke arah Liron yang langsung tidak diacuhkan oleh pemuda itu.

“Kalau begitu, berikan penawarnya atau aku akan mati dan menghantui kalian dalam mimpi!”

“Tarik kembali kata-katamu Nona!”

“Kata-kata yang mana lagi?” Gadis itu mulai terdengar putus asa. Matanya nampak benar-benar berair sekarang.

“Pasangan homogen!” tegas Liron tanpa jeda, dia benar-benar tidak suka dengan sebutan Cassie barusan.

“Ah, itu!” Matanya kini melirik ke arah lantai di bawah sepatunya. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman gugup.

“Tarik kata-katamu atau aku tidak akan berikan penawarnya!” Liron kini bergerak maju. Kini dia menyeringai untuk mengancam dna rasanya senang melihat ekspresi ketakutan di wajah gadis itu.

“I-iya, aku salah. Maafkan aku.”

“Kurang keras!”

“AKU SALAH, MAAFKAN AKU!” pekik Cassie.

Liron mengulum senyuman, masih berusaha keras untuk menahan tawa yang sejak tadi ingin sekali meledak. Meski, dia sempat sebal saat gadis itu mengatakan kalau dirinya pasangan homogen. Enak saja! Pasangan homogen bersama Fil lagi si otak rumput. Meskipun hanya Fil satu-satunya penyihir tersisa di dunia, dia mana sudi.

“Pintar!” katanya sebelum berbalik ke rak dan meraih satu ramuan bening dalam botol kaca.

Pemuda itu menuangkan ramuan itu ke dalam gelas hingga terisi separuhnya dan menyerahkannya pada Cassie yang tampak ragu menerima benda itu.

“Minumlah, ini penawarnya!” kata Liron sambil menggoyangkan gelas di tangannya.

“Ini bukan racun, kan?”

“Bukan.”

“Baunya aneh!” katanya saat dia mendekatkan hidungnya ke permukaan gelas.

“Minum sampai habis atau racunnya tidak akan hilang dari peredaran darahmu!”

Cassie menerima benda itu lalu meneguknya. Keningnya mengernyit sedikit, akan tetapi dia terus meminum cairan di dalam gelas itu sampai habis. Dia menaruh gelas di meja dengan tangan gemetar lalu menghembuskan napas lega.

“Jadi bagaimana setelah ini?”

“Kalau kau tidak sembuh atau mungkin mati, kau boleh kembali kemari,” tukas Liron ramah.

“Mati!”

Master hanya bercanda, jangan diambil hati. Kau akan sembuh, tenang saja!” Fil tiba-tiba saja menyela dengan tawa garingnya.

“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian kalau aku sampai sakit atau sekarat.”

“Tentu, sudah ya. Pulang, sudah malam!” Fil langsung mendorong punggung gadis itu.

Liron masih terpaku di tempatnya saat dua orang yang sama-sama kurang cerdas itu bergerak keluar. Cassie keluar tanpa perlawanan. Namun saat Fil berbalik Cassie kembali membuka pintu.

“Aku akan menghantuimu meski di alam mimpi kalau kau berbohong!” katanya sambil lantang dengan mata melebar maksimal. Melihat hal itu Fil langsung menutup pintu depan dengan paksa lalu menguncinya.

“Aku yang akan menyihirmu jadi lalat kalau kau berani macam-macam,” sahut  Liron pelan. Nyaris berbisik hingga mustahil Cassie akan mendengarnya.

“Gadis itu melelahkan!” Fil menimpali lalu  berjalan mendekat ke arah Liron dnegan mimik wajah lelah. “Kita harus membalasnya!”

“Aku sudah membalasnya!”

“Hah?” Pertanyaan itu belum terjawab tapi pekikan muncul setelahnya dari bibir Fil saat menarik botol bening yang sekarang berkurang isinya setelah diberikan pada Cassie. “Kencing kuda poni!”

“Memangnya kenapa?”

“Ini bukan penawar? Bukankah gadis itu keracunan?” Fil benar-benar menjerit sekarang dengan suara beratnya.

Liron mendengus sebal. “Potonglah rambutmu!”

“Kenapa sejak tadi Master menyuruh saya potong rambut? Kita membahas orang keracunan di sini, seorang manusia. Kalau ketahuan kita akan kena masalah.” Fil memiringkan kepala dengan bibir mengerucut sedikit ke depan.

Liron melipat lengan di depan dada. “Agar kanopinya berkurang jadi ada asupan sinar matahari dan klorofil di dalam otakmu bekerja maksimal untuk berfotosintesis.”

Fil mengerutkan kening sesaat. “Klorofil ada di daun tumbuhan bukan otak.”

“Kalau begitu kenapa tumbuh daun di kepalamu! Kalau sudah serimbun itu maka harusnya sebentar lagi berbunga dan berbuah.” Liron mengangkat satu alis dan bibirnya tertarik satu sisi membentuk senyum miring menyebalkan.

“Ini rambut asli, Master!” serunya tidak terima.

“Kalau begitu beri pupuk sebelum otakmu jadi kompos!” ketus Liron sambil beranjak pergi, tidak lagi memedulikan Fil yang terdengar menggumam di belakangnya. Kalau dia sebal biarlah, memalukan saja ada penyihir sebodoh dia.

Diam-diam dia tersenyum puas saat menapaki anak-anak tangga. Kencing kuda poni dipadukan dengan Ginosa maka akan membuatnya mengalami mimpi aneh. Bukan mimpi aneh biasa, akan tetapi mimpi mesum setiap kali memejamkan mata. Efek ramuan itu akan berangsur menghilang setelah tiga hari, namun selama itu gadis itu akan tersiksa dengan mimpi ‘panas’ yang membuatnya merindukan kekasih. Langkah awal untuk membuatnya datang kemari dan menjadikannya spesimen patah hati untuk penelitiannya karena ramuan itu adalah ramuan pembawa mimpi yang akan membuatnya juga merindukan tempat ini. Sejak awal Cassie mengambil ramuan yang salah.