Ramuan Enam

by | Aug 19, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Liron ingat saat itu baru berusia tujuh tahun. Rumah itu begitu besar dan mengintimidasi. Rumah yang selama ini ditemati ibunya di pinggiran Anatolia tidak akan mampu bersaing. Jemarinya berulang kali menyentuh perut, sejak melihat rumah itu rasa ingin pipis semakin menjadi.

“Kita pulang saja Bu, aku ingin makan kofte ayam,” katanya sambil terus merengek.

“Kita akan makan banyak kofte di dalam sana nanti, Li.” Wanita itu tersenyum.

“Tapi, aku ingin kofte buatan Ibu sisa tadi pagi, itu enak.” Liron masih bersikeras mengajak ibunya pulang sambil terus menarik gaun wanita itu.

Wanita itu belum sempat menjawab saat pintu besar itu terbuka. Dia masih bisa melihat senyum ibunya kala menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah itu. Senyuman terakhir yang dilihatnya. Menenangkan, tetapi Liron sama sekali tidak menyadari getaran di sudut bibir itu. Saat itu dia juga tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir dia bisa bertemu ibunya. Hari yang sama ketika dia kehilangan ‘Li’ sebagai nama panggilan. Hari yang sama ketika dia melihat mata-mata biru menyambut di dalam ruangan. Mata sedalam lautan yang gagal dibacanya kala itu.

Dia ingat ketika dia nyaris menangis saat gandengan tangannya dan ibunya terlepas. Dia menoleh untuk menatap wajah wanita itu, dia hanya melambaikan tangan dengan mata berair. Liron nyaris terkencing-kencing di celana saat ayahnya mengajaknya ke tengah ruangan dan memperkenalkannya sebagai putra Cavern yang hilang, seorang putra yang nantinya bakal jadi kepala keluarga. Mata-mata biru itu menatap dingin, bibir mereka merapat tanpa ekspresi. Namun, wajah mereka penuh penghakiman seolah sedang meneliti tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ibu, ayo kita pulang. Di sini tidak ada kofte ayam,” rengeknya setelah acara selesai dan semua orang pulang. Liron lelah dengan semua acara ramah-tamah yang sama sekali tidak ramah itu, dia ingin berpelukan saja dengan ibunya di ranjang tua di rumah dan mendengarkan suara ibunya mendongeng cerita untuknya. Terlebih lagi, tidak ada kofte ayam di rumah ini, ibunya berbohong.

“Kita tidak bisa pulang, Li.”

“Kenapa? Memangnya kita mau ke mana?”

“Liron tidak akan ke mana-mana, akan tetap ada di sini, tinggal di sini,” katanya sambil menatap langit-langit.

“Ibu juga akan tinggal di sini, kan?”

 “Tidak.”

“Ibu mau ke mana? Ajak aku juga, Bu!” katanya sambil menarik gaun hitam ibunya.

Wanita itu menoleh lalu berjongkok untuk menyejajarkan kepalanya dengan milik Liron. “Liron sayang Ibu, kan?”

“Sayang sekali.”

“Kalau begitu Liron harus berjanji pada Ibu untuk jadi anak baik dan belajar di sini.”

“Aku tidak mau, aku ikut Ibu.”

Wanita itu menggeleng dua kali, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman. “Tidak, Liron sudah janji pada Ibu.”

“Kenapa Ibu harus pergi, Ibu bisa menemaniku belajar.”

“Tidak. Liron harus belajar sendiri.” Wanita itu sekarang menarik kepala Liron mendekat lalu mencium keningnya. “Ibu sayang sekali padamu, Li.”

Liron masih sibuk menangis untuk menyadari kalau saat itu adalah kali terakhir ibunya mencium kening dan menyebut namanya. Ibunya meninggalkannya sore itu, sendirian di rumah besar yang asing. Wanita itu sama sekali tidak menoleh dan terus saja berjalan menjauh bahkkan saat dia terus saja menangis. Jemari ayahnya meremasnya erat-erat seolah menunjukkan kalau dia akan aman ada di sana, namun Liron melihatnya sebagai tanda kepemilikan. Saat itu dia telah dimiliki dan dia tidak lebih dari sebuah barang milik ayahnya karena ada darah keluarga Cavern mengalir di nadinya. Setelahnya, Liron melewatkan malam pertama di rumah itu dengan mengutuk ibunya.

Hal yang rajin dilakukannya hingga bertahun setelahnya, setiap malam tidak pernah absen dia mengirim kutukan dalam tangisan berharap akan melihat ibunya dalam mimpi meski sekali saja. Akan tetapi, dalam mimpi pun ibunya juga enggan datang. Liron mengubah kutukannya menjadi jampi-jampi. Dia mengirimkan jampi-jampi agar ibunya merindukannya setengah mati lalu menjemputnya. Semua kutukan dan jampi-jampi itu sudah dilepaskan, namun ibunya tidak kunjung datang. Maka Liron menghukum ibunya dengan tidak ingin mencari meski dia telah menggambar rute untuknya pulang. Ibunya tahu kalau dia bisa mengingat jalan ke mana pun dengan menggambar toko atau tempat yang pernah mereka lewati. Dia mampu untuk pulang, tetapi dia memilih menunggu. Meskipun, dia sama sekali tidak menyukai rumah besar dengan pelayan dan mereka memanggilnya tidak dengan namanya. Pelayan yang selalu kepala menunduk, akan tetapi saat menatapnya ekspresi mereka seolah jijik melayaninya.

Liron membenci mata-mata biru yang menatapnya setiap kali dengan kerut dalam di keningnya seakan mempertanyakan kegunaannya ada di rumah itu. Dia bahkan tidak menyukai mata biru ayahnya dan kakak perempuannya karena mereka memiliki mata yang sama dengan semua orang. Mata mereka seolah yang menegaskan kalau hanya dirinya yang berbeda.

Setiap kali dia berjalan di rumah itu, dia merindukan rumah pertaniannya. Jika makanan terhidang di meja dan dia bisa mengambil sebanyak apa pun, namun dia menginginkan kofte hangat ibunya. Ketika dia berpindah dari satu pelajaran ke pelajaran yang lain di rumah itu dan menatap lorong-lorongnya, dia ingin berlari. Saat dia dimarahi karena terlalu banyak berlari, dia ingin kembali di padang rumput di samping rumahnya. Hanya saja, kata-kata itu tidak pernah terlepas dari bibirnya karena tidak ada yang mengerti apa yang dia inginkan.

Suatu hari, dia tidak sanggup menahan rindu. Maka dia akan melawan ibunya dengan pulang dan tidak lagi mematuhinya untuk tetap berada di rumah besar itu. Tengah malam, dia berhasil berlari keluar. Dia terus saja berlari, mencoba mengingat jalanan dengan berpathokan pada tempat-tempat yang pernah dilewati ketika mereka pergi bersama ibunya. Tidak berhenti berlari sampai fajar menjemput, mendesah lega ketika menemukan rumah pertanian tua itu.

Rumah itu kecil, tetapi ada kesan hangat di dalamnya. Dirinya tidak berhenti tersenyum saat menaiki anak tangga kayu yang menimbulkan derit saat dipijak. Mencium bau kayu-kayu lapuk dan rerumputan segar di udara, rasanya memang dia benar-benar di rumah.

Kelegaan itu berubah menjadi kekecewaan saat melihat rumah itu tidak lagi berpenghuni. Barang-barang di dalamnya sudah hilang. Tidak ada ranjang tua yang bisa dirindukan, perabotan mungil-mungil kesukaan ibunya juga lenyap tak berbekas. Ibunya juga tidak ditemukan di mana pun. Dia berlari di padang rumput hingga tepian hutan, namun ibunya benar-benar hilang. Dia tidak menyerah, dia memilih menunggu. Ibunya selalu mengajarkannya untuk bersabar, jadi sekali dia menuruti nasehatnya dan mencoba untuk menahan kesabaran.

Seharian dia menunggu hingga matahari tenggelam di ufuk barat. Dengan marah karena merasa terkhianati, Liron memutuskan untuk kembali menghukum ibunya dengan kembali pulang ke rumah besar itu. Rumah besar itu seperti penjara. Hanya saja, jika tidak memiliki tempat kembali maka neraka bisa saja disebut rumah. Dia berjalan terseok-seok dengan perut lapar dan kaki letih. Tidak pernah merasa lega saat menemukan rumah itu ketika malam sudah turun. Dia ingat juga kalau ibunya akan berlari keluar untuk menyambutnya saat dia tidak pulang seharian. Liron akan dengan senang hati membenamkan kepala dalam pelukan wanita itu.

Ketika melihat pintu rumah itu tertutup. Megah dan dingin seperti yang pertama kali dilihatnya ketika datang. Dia mengepalkan jemari dan tidak lagi menangis. Meyakinan dirinya kalau tangisan tidak akan mengubah apa pun. Dia harus mengukum orang itu. Namun, setelah satu hingga belasan kali ketukan tanpa sambutan. Liron menyadari kalau kembali ke rumah itu bukan menghukum ibunya, akan tetapi dia menghukum dirinya sendiri.  Dia tetap merindukan ibunya dan mulai membenci kofte ayam. Saat itu dirinya belum menyadari bahwa dia telah patah hati untuk pertama kalinya.