Ramuan Lima

by | Aug 11, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Suara denting gelas terdengar nyaring saat dua tangan itu mempertemukan ujung gelas dengan permukaan meja. Belum ada suara terdengar, sekarang sendok dan garpu yang saling beradu yang lebih banyak mengambil porsi.

“Aku tidak menyangka kau selicik itu!” ketus gadis itu sambil memamerkan senyuman miring di bibirnya.

“Aku juga tidak menyangka, Louisa. Ah! Yang benar saja Ge!” ucap pria itu tidak kalah ketus.

Gadis itu terkekeh pelan. “Geraldine namaku di Anatolia, di dunia manusia aku memakai nama Louisa.”

“Sok manis!”

“Aku memang manis. Sialnya aku punya adik yang sama sekali tidak imut!”

Liron mendengus mendengar sindiran kakaknya. Setidaknya Geraldine membantunya untuk mengurusi Cassie sore tadi, kalau tidak hanya akan lebih rumit dari rencana awalnya. Kerumitan sama sekali bukan seleranya.

“Kapan kau pulang?”

“Kan, kau ini tidak imut! Selain kakakmu, aku masih atasanmu, Ron!” Bibir wanita itu mengerucut ke depan. Kalau sudah bertingkah seperti itu Liron lebih memilih untuk mengalah. Kakaknya kadang akan mencubitnya kalau sudah seperti itu.

“Itu dia, aku tidak ingin penelitianku diawasi terus-menerus oleh atasanku, rasanya tidak nyaman. Aku butuh konsentrasi penuh untuk naik pangkat.”

“Kau menyebalkan!”

“Memang.”

“Apa kau juga bertingkah seperti ini pada Cassie?”

“Tidak hanya padamu,” tukas Liron pendek. “Aku ingin kau enyah sesegera mungkin.”

Geraldine terkekeh. “Jadi kau memilih untuk menipu agar gadis itu tidak enyah?”

“Apa maksudmu?” Liron kali ini menatap manik biru kakaknya. Warna bola mata yang selalu membuatnya iri dan jika bisa dia ingin menukarkan bola matanya dengan warna itu meski imbalannya seluruh dunia.

Geraldine kali ini menaruh garpu di atas piring lalu mengibaskan rambutnya. Dia kemudian menarih dagu di atas telapak tangan lalu menatap adiknya. “Aku tahu apa yang kau lakukan, kau membubuhkan racun di dalam ramuan yang diminum gadis itu. Apa tujuanmu? Kau tahu kan kalau kita dilarang bermain-main dengan manusia.”

Liron tertawa pelan lalu berusaha membenarkan letak kacamata yang sama sekali tidak melorot. “Jadi kau tahu makanya kau datang?”

“Aku atasanmu jika kau perlu kuingatkan untuk kedua kalinya.” Mata birunya menatap tajam.

Ada penegasan dalam suara Geraldine. Suara itu mengandung bahaya, dia tahu itu. Meskipun, Geraldine sering sekali bermain-main dengan protokol dan aturan.

“Aku tidak membubuhkan apa pun yang berbahaya.”

“Kalau begitu kenapa gadis itu pingsan?”

“Entahlah.”

Geraldine mendengus, deru napasnya membuat poni di keningnya bergerak ringan. “Dengar, jelaskan padaku jadi aku bisa mengarang alasan untukmu. Aku meminta ini sebagai kakakmu bukan atasanmu.”

Liron tersenyum tipis saat mendengar suara nyaris putus asa yang meluncur dari bibir kakaknya. Diam-diam dia senang kalau Geraldine menyebut dirinya sebagai kakaknya. Untuknya itu lebih dari cukup meski seluruh dunia membuangnya.

“Aku hanya membubuhkan sedikit obat tidur,” katanya sambil mengangkat bahu.

“Sedikit dan dia langsung pingsan! Jangan bohong!” Wanita itu sekarang nyaris memekik.

“Sedikit untuk ukuran kita maksudku.”

“Oh, Ya Tuhan, Liron. Apa sih yang kau pikirkan? Sudah berapa kali kau membuat gadis itu terdesak, apa kau harus sampai tahap tidak punya pilihan terus datang padamu, begitu?”

“Ya.”

“Apa?”

Liron menunduk sekarang, jemarinya dengan cepat memainkan pisau di tangan untuk mengiris daging di piringnya. Bagian dalam steak masih menguarkan rona merah dan berair. Dia tidak bermaksud melakonlis, tapi sungguh bagian dalamnya mirip hati yang berdarah kala diiris pisau.

“Ya, begitu lebih baik. Tidak punya pilihan dan datang padaku,” sahut Liron cepat sambil mengirimkan satu potong daging ke dalam mulutnya.

Geraldine mendesah lagi dan sekarang dia benar-benar menaruh garpunya di atas piring. Dia memandang lurus ke arah Liron yang disambut tanpa kedipan oleh pemuda itu.

“Apa kau harus seputus asa itu untuk membuktikan dirimu?”

Pikiran Liron langsung kosong sedetik setelahnya. Kata-kata Geraldine rasanya benar-benar menyepak ulu hatinya. Dia berhenti mengunyah, takut kalau potongan daging itu menyumpal tenggorokannya. Kalau orang lain yang mengatakan itu maka dia akan balas menghina, tetapi ini kakak kandungnya. Seseorang yang mengenal dirinya lebih dari siapa pun di dunia ini. Satu-satunya orang yang selalu ingin mendengar ceritanya. Jemari Liron mengepal di gagang pisau dan matanya kini menatap tajam.

“Maaf—aku tidak bermaksud begitu, Ron—”

Wajah Geraldine memucat sementara tangan kanannya mengibas dengan gugup. Liron masih terdiam, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa dalam situasi semacam ini. “Jangan ambil pusing! Kau yang terbaik.”

“Liar!”

“Apa?”

“You’re such a liar!” Liron sekarang tidak mengiris sisa dagingnya yang masih sisa separuh menjadi potongan kecil, tetapi langsung memasukannya ke dalam mulut. Dia ingin mengunyah daging itu bulat-bulat. Rasanya menyebalkan kalau ada orang yang seenaknya saja bicara lalu meminta maaf seolah-olah kata-kata yang diucapkan orang tidak menyakitkan untuk orang lain. Lebih baik kalau berniat menyakiti maka sakiti sekalian dan jangan pernah minta maaf.

“Hentikan, kau akan tersedak!”

Geraldine sekarang berdiri dan menaruh tangannya di pergelangan tangan adiknya. Liron dengan cepat menepis pegangan kakaknya dan sekarang benar-benar memasukan potongan daging itu ke dalam mulutnya. Wanita itu buru-buru berdiri dan mendekati adiknya.

“Kakak minta maaf, Ron. Maaf.” Lengan Geraldine sekarang terjulur ke depan dan memeluknya. “Kakak tidak akan bicara begitu lagi, kau adikku. Apa pun yang kau lakukan tidak akan mengubah itu semua. Apa pun.”

Liron terdiam. Lehernya sakit. Potongan daging itu sekarang mengganjal tenggorokannya dan menolak untuk naik atau pun turun. Dia meremas leher, berusaha mendorong potongan daging itu untuk kembali naik ke mulutnya. Sekarang bunyi tercekik mulai muncul tanpa bisa dicegah.

“Kau tersedak! Apa kubilang, bodoh!” Geraldine langsung melepaskan pelukannya.

Liron meradang saat tangan Geraldine memukul punggungnya sekuat tenaga. Mulutnya membuka mencari udara, dadanya mulai sesak dan sakit. Setelah empat kali pukulan, daging itu meluncur dari keluar dari mulutnya dan jatuh di lantai. Dia mendesah lega dan menyeka matanya yang berair. Dia seperti itu, potongan daging yang menyangkut di tenggorokan. Tidak bisa dilepaskan, akan tetapi tidak akan pernah masuk ke dalam perut. Seperti dirinya di keluarga Cavern, tersangkut di gerbang depan tanpa pernah dibukakan pintu untuk masuk.

Semua kejadian gerbang itu terjadi dulu saat pertama kali dia datang dua puluh tahun lalu, sekarang pun masih sama. Dia anak lelaki satu-satunya yang tidak akan pernah menjadi kepala keluarga. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak pantas. Dia juga tidak akan pernah diakui sehebat apa pun dirinya. Oleh karena itu, dia berusaha membuktikan kalau dirinya yang terbaik. Dia merasa tidak aman, terancam dan selalu merasa insecure. Itulah sebabnya dia memasang topeng selama ini. Topeng yang tidak pernah mempan pada Geraldine, satu-satunya orang yang mengakuinya. Satu-satunya orang yang membuka sedikit celah jendela hingga dia bisa masuk hari itu. Juga orang yang membuka hatinya lebar-lebar untuknya. Liron masih membeku kala kakak perempuannya kembali memeluk tubuhnya. Ada isak tangis terdengar dan umpatan kata ‘bodoh’ mengiringi di sela-selanya. Kalau bisa memilih, dia memilih terus tersedak dan kakaknya akan memeluknya seperti ini. Selamanya.