Ramuan Satu

by | Apr 28, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Tabung reaksi yang kini berderet di rak kayu mungil ditatap olehnya. Setiap rak kayu mungil itu dapat menampung sepuluh tabung reaksi. Sementara itu, tangan sang pemuda dengan cekatan menyortir penataan rak mungil berdasarkan warnanya. Dia berdiri, melangkah ke kiri ke kanan bersama irama cekatan tangannya. Larutan dengan warna merah diurutkan berdasarkan gradasi warna. Demikian pula dengan warna lainnya. Pemuda itu tidak terlalu menyukai sesuatu yang tidak teratur serta nampak berantakan. Pipet, labu ukur, erlenmeyer, dan semua tertata rapi pada rak kayu itu. Tuntas dan rapi. Semua ramuan itu dia yang membuatnya. Ramuan dengan berbagai macam fungsi dan tertata rapi sesuai urutan kode. Kode buatan Liron sendiri.

“Sibuk?”

Liron menoleh ke arah datangnya suara. Seorang wanita paruh baya kini berjalan ke arahnya. Wanita berambut hitam berantakan. Name-card yang menempel di saku jas putihnya itu kini bahkan miring ke satu sisi. Sangat menganggu pemandangan.

“Kau tahu sendiri, Ge,” sahutnya tak acuh setelah melirik sekali ke arah wanita itu, benar-benar tidak rapi dan berantakan.

“Ujian kenaikan pangkat?”

“Ya.”

“Apa subyek yang kau pilih?” Geraldine terdengar benar-benar tertarik. Liron berani bersumpah kalau kedua bola mata itu bersinar.

“Perasaan manusia.” Liron sebenarnya enggan menjawab, namun Geraldine atasannya. Dia harus tetap berbasa-basi demi menjaga sopan santun. Meski, sunggu melirik saja pemuda itu enggan.

“Hmm, oke. Obyek yang cukup sulit,” Geraldine mengangguk. “Kira-kira kapan kau akan menyelesaikan ujian akhir ini?”

“Mungkin seminggu cukup,” katanya sambil menundukan kepala, kembali menatap tabung reaksi di meja sambil berharap kalau wanita itu cukup sadar diri untuk segera pergi.

“Seminggu?” Geraldine nyaris memekik.

“Kenapa?” Liron mengangkat satu alisnya.

“Kau yakin? Perasaan manusia bukankah itu rumit?” Geraldine kini duduk tepat di sampingnya.

Liron mendengus tertahan ketika pantat wanita itu duduk, sungguh saking terganggunya dia ingin sekali menghitung kecepatan menempelnya daging bulat itu ke kursi bisa dihitung. Namun, pemuda itu hanya bisa membenarkan letak kacamata sambil berpura-pura tidak peduli. Kepala laboratorium ramuan ini memang sedikit menyebalkan. Kalau bukan sekarang posisinya masih rendahan, dia pasti akan melibas wanita menyebalkan itu.

“Memangnya manusia bisa apa dibandingkan kita kaum penyihir?”

“Yah, kesombonganmu memang patut untuk mendapatkan penghargaan tahun ini, Ron!” Wanita itu mengangkat bahu.

“Kenyataan berbicara, Madam,” sahutnya ketus.

“Memang, kau penyihir paling muda untuk tingkatan empat selama seratus tahun terakhir, beruntung sekali mendapatkanmu di sini,”cibirnya lagi.

“Seminggu lagi, aku akan naik pangkat.” Liron mengangkat satu alis untuk menganggapi cibiran Geraldine. “Tunggu saja!”

Wanita itu tampak tidak berniat jahat, hanya bergurau seperti biasanya. Dia pasti merasa beruntung mendapatkan Liron masuk ke divisi ramuan setelah beberapa divisi lain memperebutkannya. Liron cukup sadar diri, dia memang sangat jenius dan pintar, pantas menjadi rebutan setiap divisi. Dia juga ahli dalam segala hal termasuk meracik mantra, memanah, bermain hingga bermain pedang.

Oh iya, hierarki penyihir juga sudah maju, ada tujuh fraksi yang aktif hingga saat ini yaitu Ianthe, Briseis, Hannelore, Saoirse, Daire, Renfrew dan Tearleach. Setiap fraksi membawahi segala hal dalam wilayahnya. Liron lolos dalam semua tes untuk masuk ketujuh fraksi, akan tetapi dia memilih Ianthe. Fraksi yang bergerak dalam bidang penyembuhan dan ramuan. Alasannya, dia lebih suka bermain di laboratorium bersama ramuan dan tabung reaksi. Menurutnya, meracik ramuan itu elit. Sesuatu yang tradisional dan klasik.

Kaum penyihir hidup di negeri yang disebut Anatolia. Sebuah negeri di Turki kalau dilihat dalam peta manusia. Padahal Anatolia ada di balik lain dunia, hanya saja manusia tidak pernah tahu itu. Jangan bayangkan kaum penyihir dengan tongkat kayu yang mudah patah. Kaum ini telah memasuki peradaban yang lebih maju sekarang. Hidup berdampingan dengan manusia dan mereka tidak tahu itu. Hanya segelintir yang tahu dan ya, bukan masalah besar. Kaum penyihir bisa langsung menghapus ingatan mereka. Mereka yang mengetahui hal ini kemungkinan adalah makhluk campuran, keturunan penyihir dan manusia. Mereka bisa menjadi penyihir tentu saja, namun tidak akan pernah masuk level elit. Bukan masalah diskiriminasi ras. Bukan itu. hanya saja, ras penyihir memang lebih cerdas. Makhluk campuran tidak memiliki otak yang cukup brilian untuk bisa lolos ujian masuk.

“Apa sampel manusia yang kau gunakan sudah ditentukan oleh dewan?”

Geraldine lagi-lagi memecah arena nyamannya untuk berkhayal lebih lanjut dan bercerita secara monolog di dalam pikiran. Liron mendengus sebal.

“Sudah,” jemari panjangnya mendorong clipboard ke arah wanita itu. “Seorang gadis manusia.”

Geraldine membuka lembaran profil wanita yang terpampang di kertas. Liron sudah melihat profil wanita itu. Wanita berambut cokelat bergelombang dengan mata kucing dan bibir bulat mirip tomat. Lumayan cantik, namun tampak bodoh. Seorang manusia yang tampak sekali tidak berguna.

“Keluhannya?”

“Patah hati.” Liron menyahut santai.

Keluhan yang ringan, menyebalkan dan terkesan merepotkan. Benar-benar, hidup kan bukan hanya soal cinta dan cinta. Makanya, gadis itu pantas patah hati. Mana ada pria yang tahan bersama gadis seperti itu. Cantik, tidak terlalu. Kalau dimasukan dalam tipe produk, gadis itu tipe paling rendah, tidak cantik, otaknya juga lembek. Sama sekali tidak berguna.

“Liron, kau bercanda?” kali ini Geraldine menatap tajam, sedetik kemudian wanita itu terbahak.

Liron menatap sebal melihat tingkah wanita itu. “Aku hanya perlu membuat ramuan penyembuh patah hati, hatinya tersambung kembali dan beres, aku naik jabatan.” Pemuda itu merespon dengan acuh tak acuh. Hanya saja penuh optimisme.

“Oh, ya?” Geraldine masih sibuk tertawa.

“Memang apa lagi?”

“Tapi, setahuku tidak sampai lima orang yang berhasil membuat ramuan ini,” Wanita itu menimpali. “Tanpa menjadi gila.”

“Aku tahu. Maka aku akan masuk lima besar orang itu,” ujarnya yakin. Gadis bodoh itu mudah untuk dirayu dan tentu saja menyembuhkan patah hatinya. Mungkin dengan sedikit sentuhan menggoda. Tidak akan sulit.

Geraldine memutar tubuh lalu menatap dengan mata besarnya. “Kenapa kau harus mengambil ujian sesulit ini, Ron? Kalau kau gagal maka itu akan menodai kesuksesanmu selama ini.”

Kali ini Liron menatap Geraldine. “Aku tidak akan gagal dan menodai kesuksesanku. Aku jamin.”

“Kau yakin?” Wanita itu mengangkat alis. Lalu beranjak berdiri.

“Ya. Jangan lupa motto fraksi Ianthe, igneum fortius quam amor, fiery passion stronger than love. Aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan. ”

“Baiklah, aku paham.” Geraldine mendesah. “Aku hanya tidak tahu kenapa kau seyakin itu.”

“Karena aku Liron Cavern, penyihir paling jenius abad ini,” katanya pongah. Kali ini dia mulai merapikan ramuan-ramuan dalam tabung reaksi dan menatanya di rak.

“Semoga kau berhasil, Ron!”

“Tentu, karena aku akan naik ke level tujuh dan menjadi atasanmu seminggu lagi.”

“Apa?”

Bibir pemuda itu terangkat ke atas membentuk senyuman. Senang rasanya melihat Geraldine terperangah.

“Tujuanku bukan level lima tapi level tujuh, Ge.” Dia tersenyum lagi. “Itulah kenapa aku mengambil resiko. Kurasa resiko itu sepadan dengan bayarannya.” Liron menyeringai.

Geraldine kali ini menaruh clipboard di meja. Meremas pundak pemuda itu lalu melempar senyuman. Tampak sekali dia muak.

“Aku harap kau berhasil, Ron,” katanya pada akhirnya. Terdengar mencoba mengatakan kalimat tulus. “Jangan sampai gagal dan mempermalukan dirimu sendiri!”

“Terima kasih.”

Mata kelamnya masih menatap Geraldine yang kini melangkah pergi. Dia tidak akan gagal seperti wanita itu. Geraldine pernah gagal mengikuti ujian membuat ramuan patah hati. Dia akan membuktikan, ramuan patah hati tidak sesulit yang diklaim semua orang selama ini. Dia tidak akan menjadi gila dan menggilai manusia. Ramuan itu akan tuntas tujuh hari lagi. Waktu tercepat yang mungkin terjadi dalam sejarah sekaligus tercatat dalam arsip nasional. Tercerdas dan tercepat dalam sejarah. Namanya akan selamanya harum. Pikirannya telah dipenuhi bunga-bunga.

Liron tersentak saat ponselnya berbunyi. Nama Will Moore tertera di layar. Pemuda itu tersenyum sebelum mengangkat telepon dari manusia yang tampak judes dengan rambut pirang klimis itu. namun, dia tahu kalau Will akan memberikannya kabar baik. Kabar seorang gadis bodoh yang selalu gagal, namun sukses mematahkan hatinya sendiri. Benar-benar menarik.

keterangan:

fiery passion stronger than love diambil dari Nongae’s Poems