Ramuan Tiga

by | Jun 23, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Suara orang yang berteriak membuat Liron tersentak. Kelopak matanya mengembang terbuka. Dia mendengus sesaat lalu kembali menaruh lengan di atas kening. Masih ingin tidur sebentar lagi, perjalanan dari Anatolia cukup melelahkan. Apalagi menghadapi pemeriksaan di pos keluar, fraksi Renfrew kadang menyebalkan dengan urusan surat izin apalagi jika berurusan dengan Ianthe. Setidaknya rumor yang berkembang kalau anggota Ianthe adalah seorang kutu buku yang keras kepala dengan bentuk wajah mirip tabung reaksi cukup berhasil membuat banyak orang dari fraksi lain menyediakan stok antipati. Meski, wajahnya sama sekali tidak mirip botol. Dia tampan dan memesona tentu saja dengan otak paling cemerlang di Anatolia. Kalau bukan karena aturan, dia sudah akan menusuk penjaga itu dengan jarum beracun yang akan membuatnya menciumi pantat pot bunga terdekat.

Liron berbalik dan ingin kembali memejamkan mata, akan tetapi suara di lantai bawah benar-benar membuatnya terganggu. Pemuda itu melempar selimut lalu bergerak turun. Dia membiarkan saja pintu kamarnya terbuka, toh dia akan kembali lagi setelah melempar orang sialan yang mengganggu tidurnya. Langkah kakinya nyaris tidak terdengar saat menuruni anak tangga dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti kala dia melihat sosok yang ada di dekat kasir dan kini tengah berdebat dengan Fil.

Kepala hijau Fil bergerak gelisah. Hal yang sangat jarang terjadi, biasanya pemuda itu tidak pernah kehilangan ketenangan dalam situasi apa pun. Ini berbeda, sepertinya gadis itu berhasil memojokkannya. Fil dan kepala lumutnya menjadi fokus nomor sekian, matanya tertuju pada gadis yang kini ada di sana. Wajahnya terlihat jelas di bawah pantulan lampu, bahkan Liron bisa menangkap alisnya yang bertaut. Wajah yang tidak asing dan bibirnya pelan-pelan tertarik ke atas sebelum memandangi kedua orang itu dengan penuh minat. Dia juga memasang telinga untuk menguping. Agak tidak terhormat, namun hal ini terasa menyenangkan.

“Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan padaku!” Sembus gadis itu.

Fil menggeleng pelan lalu mengangkat kedua lengannya dengan menyebalkan. “Masalahnya kau menuntut tanggung jawab yang tidak masuk akal. Aku sama sekali tidak ingat padamu!”

“Tidak ingat bukan berarti kejahatan yang kau lakukan itu hilang!” Napas gadis itu mungkin memendek terlihat dari dadanya yang bergerak naik dan turun serta tangannya saling memilin.

“Sebentar, sebelum kau menuduh sembarangan. Kalau dirunut dari ceritamu, kau menolong orang yang akan bunuh diri, terus dia gantian menolongmu. Sialnya, orang itu mirip aku, bukan begitu?”

“Bukan hanya mirip, orang itu kau!” tudingnya cepat.

“Oke, oke, katakanlah orang itu memang aku, meski aku tidak mengakui. Jangan dicatat ini sebagai pengakuan, aku bersumpah orang itu sama sekali bukan aku.” Fil memutar bola mata. “Rasanya kalimatku berbelit. Intinya orang yang kau tuduh itu bukan aku.”

Liron tersenyum tipis saat melihat Fil kini memiringkan kepala ke kiri dan jemarinya di belakang punggung membentuk tanda silang, pemuda itu sedang berbohong. Kalimatnya yang membingungkan juga menunjukan kalau dia memang sedang memikirkan hal berbeda dengan yang dia ucapkan maka artinya dia tengah berdusta.

“Ya.”

“Nah, kalau begitu namanya impas. Kau hendak menolongnya, dia juga menolongmu. Jika ada resiko di belakangnya, itu sama sekali bukan kesalahan orang itu!”

“Tapi, aku kehilangan lebih banyak. Aku kehilangan lidahku!” Cassie mendengus kesal.

“Lidahmu masih ada!” Fil tampak menaruh tangan di bawah dagu sepertinya untuk mengesankan kalau dia berpikir keras mengenai keberadaan lidah. “Tidak terpotong.”

“Indra perasa maksudku.” Gadis itu nampak buru-buru mengoreksi.

“Bagaimana aku tahu soal itu. Indra perasa itu se-astral hantu, terasa namun tak nampak.” Fil mendesis. “Sebentar, dari mana kau bisa menarik kesimpulan ini?”

Liron diam-diam tersenyum saat melihat reaksi Cassie. Jemari gadis itu mengepal, jelas sekali dia terpojok.

“Aku seorang pencicip, aku tahu kalau lidahku bermasalah.”

“Oke. Tapi bisa jadikan memang ada yang salah dengan lidahmu, semacam kelainan mental di permukaannya.”

“Kau gila! Memangnya lidah bisa mengalami cacat mental!”

“Lalu apalagi penjelasannya?” Fil mengedikkan bahu ke atas dengan sikap acuh tak acuh. “Indra perasa kan tidak bisa dijelaskan, kau tahu saja itu tidak cukup.”

“Terserah. Tapi, aku ingin kau bertanggung jawab!”

Tarikan napas terdengar dari dua lubang Fil. “Tanggung jawab seperti apa? Kau sudah mengataiku gila dan sejenisnya. Bukankah harusnya aku yang meminta ganti rugi, itu pencemaran nama baik dan menganggu kesehatan mentalku. Mungkin sebentar lagi aku depresi.” Pemuda itu mencondongkan tubuh ke depan sambil menarik napas berat.

“Tidak akan,” potong Cassie cepat.

“Bagaimana kalau kau lupakan saja masalah ini dan tidak perlu meminta yang aneh-aneh?”

“Bagaimana kalau aku memaksa?” Cassie mengangkat satu alisnya ke atas dan bibirnya menyeringai.

“Kau tidak akan bisa memaksa.”

“Bisa.”

“Coba saja!”

Liron memelesat turun tepat ketika gadis itu bergerak mendekati salah satu rak lalu meraih satu ramuan berwarna hitam dari tatakan. Dia meremasnya erat-erat. Sementara dia menatap Fil yang kini tengah menatap dengan ekspresi kebingungan bercampur kengerian. Gadis itu berbalik dan memandangi Fil.

“Kurasa kalau aku memecahkan benda ini maka kau akan kena masalah!”

“Kau yang akan kena masalah kalau memecahkannya!” Nada suara Fil sekarang terdengar penuh ancaman.

“Oh, ya? Apa kita coba saja!” Cassie terdengar putus asa. Sepertinya dia ingin sekali Fil mengaku hingga mengeluarkan ancaman. Jemarinya mulai memiringkan botol itu hingga cairan di dalamnya mulai memenuhi leher panjang botol tersebut.

“Dengar, meskipun kau memintaku bertanggung jawab, tidak ada yang bisa kulakukan. Kalau sekedar membayar biaya perawatan untuk lidahmu mungkin aku bisa tetapi apakah semua itu menjamin kalau indra perasamu akan kembali.”

“Lihat, kau benar-benar ketakutan! Mengaku sajalah atau-”

Cassie belum sempat menyelesaikan kalimatnya kala Liron menarik lengannya. Kepala gadis itu mendongak dan mata mereka bersitatap. Bibir gadis itu membuka sedikit dan Liron mempererat genggaman. Botol itu kini masih teremas di jemarinya.

“Lidahmu beracun, pantas saja Tuhan mencabut indra perasamu!” ucap Liron. “Kau pantas mendapatkannya!”

“Ap-apa?”

“Kau tidak tuli, kurasa aku tidak perlu mengulang kata-kataku!” Pemuda itu tersenyum. “Atau kau juga mulai tuli?”

Wajah Cassie kini memerah. Matanya tertuju pada Liron lalu beralih pada botol yang kini ada di tangannya. Gadis itu mulai menggerakkan lengan dan nampaknya ingin melepaskan diri dari cengkeraman Liron. Cairan di dalam botol bergolak dan menyembur keluar tepat saat Cassie berhasil melepaskan lengannya. Larutan hitam itu memerciki wajah Liron dan kini bergerak menuruni leher serta jatuh di kemejanya. Ada kengerian di wajah Cassie saat menatap, botol di tangannya terlepas begitu saja.

Master!” Fil nyaris memekik. Suara pemuda itu bergema dan memantul di ruangan.

Liron mengangkat tangan hingga suara Fil terhenti. Jemarinya lalu menyentuh cairan di wajahnya dengan jari telunjuk. Anehnya cairan itu seolah mengental seperti darah yang tidak bergerak turun dan tetap ada di ujung jarinya. Pemuda itu tersenyum tipis lalu bergerak mendekat. Cassie nampak gemetar dan bibirnya memucat seketika. Warna merah di pipinya juga berangsur menghilang. Yang tersisa di wajah itu hanya ketakutan.

“Sekarang kau yang harus bertanggung jawab, Cassandra!” Liron berucap sambil mengusapkan ujung jari telunjuk yang masih ada sedikit larutan itu ke bibir Cassie. Cairan hitam itu tetap ada di sana.