Resep Delapan

by | Aug 4, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Apabila selama ini  dua hal yang paling ditakutkan oleh Cassie adalah soal  indra perasa dan soal hatinya. Maka kejadian tadi sore bisa menambah daftar takutnya. Ketakutan lain yang muncul dan datang begitu saja terhadap kertas. Semua ini terjadi setelah dia terlibat dengan kontrak yang rasa-rasanya tidak beres. Dia memandangi lagi kontrak dari kertas putih yang bahkan dibungkus amplop warna cokelat itu. Jemarinya dengan cepat menelusuri tulisan demi tulisan di dalam sana.

Ingatannya melayang kembali saat dia membuka mata sore tadi di salah satu rumah sakit di dekat kedai. Bukan hanya dokter yang menyambut, tetapi juga Liron Cavern beserta satu pengacara yang katanya akan mengurus perjanjian ganti rugi. Hanya saja, entah kenapa dia bagai disihir dan setuju-setuju saja dengan semua pasal yang diterapkan dalam perjanjian padahal kalau dibaca ulang semua ini terasa aneh.

“Aku akan bertanggung jawab penuh, tapi dengan beberapa syarat,” katanya setelah bertukar pandang dengan pengacara wanita paling mengintimidasi yang pernah Cassie lihat seumur hidup. Lipstik merahnya sangat kontras dengan kulit putih dan rambut hitam panjangnya.

“Kau yang mencelakaiku maka seharusnya tidak perlu banyak syarat!” tukas Cassie sambil mencoba untuk bangun dan menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang.

 

“Apakah ini termasuk tindakan tidak menyenangkan?” Liron kembali menatap pengacaranya lalu wanita itu mengangguk.

Tindakan tidak menyenangkan katanya?

Cassie mendengus tidak percaya. Ya, Tuhan! Kenapa lagi dia harus terjebak dengan pengacara aneh dan kliennya itu?

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar menyenangkan. Smile all day long?” ketus Cassie sebal sembari menarik dua bibirnya ke atas membentuk senyuman palsu.

“Kalau kau mau silahkan saja!” Liron mengangkat bahu dan memandang dengan ekspresi lelah.

“Jadi begini Miss Cassandra, perkenalkan nama saya Louisa. Saya pengacara Tuan Liron Cavern dan dari beliau saya sudah mendengar duduk persoalan kalian berdua. Saya sependapat dengan klien saya kalau masalah ini tidak akan selesai tanpa campur tangan pihak berwajib. Tapi semua ini bisa diselesaikan dengan lebih bijaksana. Jadi saya mengajukan perjanjian dengan beberapa pasal untuk menyelesaikan masalah ini, bagaimana?” Wanita itu tersenyum, tetapi Cassie berani bersumpah senyuman itu mengerikan. Benar-benar mengerikan, mirip penyihir di dalam buku.

“Perjanjian apa misalnya?”

“Ini dia!” Gadis itu menarik satu kertas dari tasnya lalu mengangsurkannya ke arah Cassie. Kening gadis itu berkerut membaca perjanjian di dalam kertas itu.

Pasal perjanjian:

  1. Liron akan bertanggung jawab setelah terbukti meracuni Cassandra dengan mengganti rugi secara finansial serta mencari penyembuh untuk korban.
  2. Untuk memenuhi poin pertama, Liron sudah menguras tabungan sampai kering. Selain itu, Liron baru saja memulai usaha dan masih minim sekali pemasukan serta membutuhkan pegawai dengan gaji terjangkau. Sebagai gantinya dia meminta Cassandra untuk bersabar menunggu sisanya sambil menyicil.
  3. Untuk menyembuhkan Cassandra, maka Cassandra diminta datang ke kedai setiap hari untuk bekerja, Liron bersedia memberikan upah yang layak. Jadi sekalian berobat maka Cassandra akan mendapat penghasilan tambahan dengan bekerja.

 Cassie mendesah melihat perjanjian aneh yang baru saja diberikan oleh Louisa, wanita aneh seaneh klien-nya itu. “Menguras tabungan hingga kering lalu minim pemasukan, ini pelit sekali!”

Liron berdehem pelan lalu melipat tangan di depan dada. Cassie mengirim tatapan kesal pada pemuda itu dan tatapan berubah menjadi deheman kala Louisa berbicara.

“Anda menghina klien saya saya catat, Miss!”

“Oh ya? Kalau begitu bagaimana dengan percobaan pembunuhan dengan racun?” Cassie gagal menahan suaranya agar tidak menanjak naik.

“Percobaan pembunuhan, suatu tuduhan berat. Hati-hati berbicara, sebentar saya catat lagi!”

Cassie mendengus hingga poni di keningnya sekarang benar-benar terbang. Gadis itu pengacara atau notulen sebenarnya? Melihat gaya perlente Liron sekarang, meragukan sekali kalau dia sedang kehabisan uang. Bilang saja pelit dan tidak mau keluar uang ganti rugi, gitu saja kok gengsi.

“Kenapa tidak jual saja kedaimu untuk membayar ganti rugi?” tanyanya sambil menyeringai.

“Kedai itu hanya menyewa jadi tidak bisa dijual, Nona.” Louisa kembali bicara.

Ah! Ah! Louisa itu lebih tepat disebut juru bicara, sama dengan Fil. Heran kenapa Liron berat sekali bicara kalau soal seperti ini? Mungkinkah dia takut keceplosan mengeluarkan kata-kata ketus dan takut dituntut balik. Tawa Cassie nyaris meletus kalau saja Louisa tidak menggeser kursi. Entah mengapa, wanita sangat mirip alarm tanda bahaya.

“Bagaimana, Miss?”

 “Jadi aku harus bekerja di Starlight? Indah sekali!” tanyanya dengan alis terangkat ke atas.

“Apakah Anda sudah melihat pasal keempat?” tanya wanita itu, nampaknya menolak untuk terpancing.

Cassie membalik kertas di pangkuannya dan seketika matanya membola kala menemukan sisi pasal keempat. Lidahnya terasa kelu lalu dia beralih memandang Liron sebelum kembali ke kertas. “Kau yakin soal ini?” tanyanya dengan suara tertahan.

“Ya. Aku bisa melakukannnya kalau kau mau!” sahut Liron cepat, suaranya mantap tanpa keraguan.

“Kau yakin bisa menyembuhkan indra perasaku dengan gratis asal aku bekerja di sana?”

“Kalau kau mau?”

“Aku mau, di mana aku harus tanda tangan?”

“Di sini!”

Cassie mendengus lagi, sekarang ingatannya mulai buyar. Semudah itu Liron membuatnya tunduk. Dia telah jatuh dalam perangkap tanpa disadari. Seharusnya tadi dia tidak setuju untuk bekerja di sana meskipun bagi seorang penggangguran maka pekerjaan itu bagai ladang harta. Hanya saja kan, dia hanya perlu menuntut ganti rugi sangat besar tanpa harus bekerja di tempat terkutuk itu. Dia juga bekerja sebagai pegawai dengan gaji terjangkau, mengesalkan sekali!

Lalu pasal keempat itu sangat menggoda, menyembuhkan indra perasanya. Padahal Liron itu belum tentu bisa menyembuhkan sakit yang bahkan dokter saja angkat tangan, memangnya dia penyihir!

“Arggghhh!!!!” Cassie memekik sambil mengibaskan kertas di tangannya ke kiri dan ke kanan.

“Kenapa rasanya semua ini menyebalkan!”

Pekikan Cassie terhenti kala ada suara ketukan di pintu flat-nya. Awalnya suara itu pelan, namun lama-lama ketukan itu terdengar semakin keras. Gadis itu mengerutkan kening, siapa yang datang malam-malam begini? Ataukah ketukan itu hanya peringatan dari penghuni lain kalau dia terlalu berisik?

 

Cassie buru-buru melompat turun dari ranjang. Setelah memasukan kaki ke dalam sandal dan menaruh surat perjanjian itu kembali ke dalam amplop, dia buru-buru berjalan mendekati pintu. Jemarinya memutar kenop pintu. Saat pintu terbuka, tubuhnya membeku. Matanya membelalak ketika menemukan sosok di balik pintu. Bibirnya gemetar dan Cassie mengusapkan telapak tangannya ke paha. Jantungnya memacu keras, napasnya terengah ketika dadanya mulai terasa sesak. Inikah rasanya bertemu dengan seseorang yang mematahkan hatimu? Ah! Tidak, orang yang membuat hatimu menjadi butiran. Orang itu, Nyle. Seseorang yang sudah berhasil membuatnya menderita sindrom patah hati. Dia memang seorang pemenang, seperti arti namanya dan dia hanya pesakitan penderita sindrom aneh.

“Cas? Kau baik-baik saja!” Kening pemuda itu berkerut.

“Kalau ada orang yang membuatku tidak pernah merasa baik, maka kau adalah salah satunya!” ketus Cassie dengan napas memburu.

Gadis itu mulai mengurut dada dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya sibuk memegangi palang pintu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Cas! Jawab aku, apa kau baik-baik saja?” Pemuda itu tampak mencoba untuk menolong Cassie yang hampir saja oleng.

“Lepas!” Suaranya tersendat sembari mencoba menutup pintu. Dia hanya ingin Nyle pergi dari tempat secepatnya.

“Kau sudah gila, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?” tanyanya dengan ekspresi khawatir.

“Itu artinya aku sudah gila sejak dulu, Nyl!” Cassie benar-benar mendorong pintu sekarang, menutupnya dengan paksa.

Gadis itu melorot di dekat pintu saat kakinya mulai terasa lemas untuk menopang tubuhnya. Jemarinya masih meremas dada sementara dadanya seperti terhimpit benda keras dan besar. Jantungnya perih seperti ditusuk belasan jarum. Cassie membiarkan lantai menerima tubuhnya yang rasanya sekarang mirip daging tak bertulang. Tubuhnya hanya berupa onggokan dan dia memilih untuk memejamkan mata saat gedoran di pintu semakin keras terdengar. Dia tidak peduli lagi jika ini adalah akhir. Dia hanya bisa pasrah.