Resep Dua

by | May 12, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Bau manis berayun-ayun di udara. Bau yang memuakkan berasal dari sekitar dua ratusan galon es krim dengan  dua puluh rasa berbeda. Setiap rasa memiliki lima belas buah sampel. Jadi ada sekitar  tiga ratus sampel yang harus dicobanya hari ini. Cassie sudah datang sejak pukul tujuh pagi. Sejak pagi tadi dia sudah ada di salah satu ruangan pabrik bersama tujuh orang lain untuk mencicipi es krim yang belum dilepas ke pasaran. Sekarang sudah hampir tengah hari sementara baru seperempat sampel yang berhasil dicoba sementara masih ratusan sampel dan rasa lain yang belum selesai dicicipi. Jemarinya gemetar memegang sendok kecil, sementara lidahnya mulai kebas.

Cassie meremas gagang sendok erat-erat, mencoba untuk tetap fokus dan berharap indra perasa di lidahnya akan bekerja dengan maksimal. Sendok itu tetap berkilau meski dia sudah sangat sering menggunakannya. Dia menggunakan sendok emas untuk mencegah aftertaste yang timbul jika menggunakan sendok dari kayu atau plastik. Beberapa kali dia ditertawakan karena ini,  bahwa dia memiliki tatacara yang paling baik, akan tetapi indra perasa yang payah. Namun, apalagi yang bisa dilakukannya selain mengikuti tata aturan yang benar, soal kekuatan indra perasa itu bisa diasah. Lagi pula dia tidak memiliki kelainan di indra perasanya, semua berfungsi dengan baik. Untuk itu, dia hanya perlu membuktikan dan tetap sabar menghadapi segala hinaan atau pun kata-kata merendahkan. Memikirkannya saja membuatnya sebal.

“Fokus Cas! Fokus!”

Gadis itu menarik napas panjang, melirik rekan-rekan lainnya yng juga tampak sibuk. Delapan orang termasuk dirinya hanya perlu mencatat rasa paling pas untuk setiap varian. Memangkas sampel itu menjadi lebih sedikit, dari tiga ratus sampel menjadi separuhnya hingga memudahkan pencicip profesional yang akan melanjutkan hasil kerjanya kali ini.

Dia hanya berperan pencicip awal untuk memilah rasa yang pas. Sebagai kelinci percobaan paling awal dengan bayaran tidak terlalu besar. Sampel yang sudah terseleksi selanjutnya akan dilanjutkan ke pencicip yang lebih profesional. Pencicip profesional yang akan melakukan pemilihan akhir untuk varian es krim dan menjadi produk yang akan masuk ke pasaran.

Rasanya tersiksa untuk mencicip es krim di cuaca yang cukup dingin seperti ini. Untung saja penghangat ruangan bekerja cukup baik, kalau tidak dia mungkin sudah menggigil kedinginan. Hidungnya juga mulai berair. Cassie diam-diam berulang kali mengusap hidungnya dengan tisu lalu membersihkan tangannya dengan hand-sanitizer. Dia tidak ingin tertangkap sebagai salah satu pencicip yang tidak profesional juga tidak menjaga kebersihan. Reputasinya harus dijaga sebaik mungkin demi pekerjaan yang jarang sekali ada.

Dia hanya perlu bersabar dan membulatkan tekad mengingat pekerjaan jenis ini tidak datang setiap hari untuk pencicip pemula sepertinya. Dia akan mendapatkan pekerjaan menjadi pencicip es krim  jika musim es krim sudah mendekat dan pabrik mulai kehabisan waktu untuk melakukan testing. Musim es krim akan dimulai dari Maret sampai September. Saat itu es krim sangat laris digunakan sebagai salah satu dessert yang paling diminati. Kalau diperhatikan dalam rentang waktu ini, es krim hanya beristirahat sebentar yaitu di akhir musim gugur hingga musim dingin berakhir. Makanya setiap pabrik es krim selalu berusaha meningkatkan produk setiap tahunnya, terkadang mereka menambah varian rasa. Di masa seperti ini pencicip sangat dibutuhkan, apalagi Maret tinggal sebentar lagi. Sedangkan untuknya, jatuh tempo untuk semua kebutuhan akan datang sebentar lagi. Terlepas dari impian muluk menjadi pencicip terkenal, dia membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Cassie menarik napas lagi, punggungnya pegal sejak pagi hari. Dia melirik teman-temannya yang tampak sibuk dengan clipboard dan catatan evaluasi di meja sambil tampak mencoba memilah rasa yang memukul lidahnya.

“Ayo, Cas tetap semangat!” bisik hatinya memberi semangat sembari mengambil satu sendok es krim rasa pisang dan memasukannya ke dalam mulut.

Es krim berwarna kuning itu lumer seketika di mulut. Lidahnya berdecak untuk memutar es kirim di dalam mulut. Cara itu digunakan untuk menjatuhkan setiap partikel es krim ke semua indra perasa. Sedetik kemudian Cassie melontarkan sisa es krim dari mulut ke dalam ember kecil yang ada di bawah meja. Semua itu dilakukannya agar lidahnya tetap obyektif untuk menilai rasa dari sampel selanjutnya serta mencegah perutnya penuh oleh es krim. Kekenyangan akan menurunkan  lidah untuk terus mencecap, begitu setidaknya menurutnya karena perut yang kenyang membuat rasa makanan seenak apa pun akan terasa hambar. Meskipun teorinya ada sepuluh ribu ujung pengecap jadi lidah akan tetap sensitif terhadap rasa.

Mengingat beberapa pekerja lain juga melakukan hal yang sama dengannya maka mungkin metodenya juga termasuk yang benar. Lagi pula, tidak semua rasa sampel itu enak dan manis. Ada juga yang pahit karena campuran bahan yang tidak tepat.

Gadis itu menaruh sendok kemudian mencatat semua rasa yang dapat diingatnya dan mencoba mendeskripsikannya sebaik mungkin. Dia ingin bekerja sebaik-baiknya.  Semua orang tampak sibuk hingga seorang petugas masuk.

“Kalian boleh makan siang sekarang!”

Cassie mendesah lega lalu bangkit dari kursinya. Tersenyum sekilas pada rekan pencicip yang duduk tepat di sampingnya.

“Mau makan bersama!” katanya mencoba bersikap ramah.

“Tentu.” Gadis itu mengiyakan.

Cassie melangkah keluar bersama gadis itu. Setidaknya dia memiliki rekan untuk makan siang hari ini. Dia tidak lagi sendirian. Diam-diam dia melirik deretan gelas es krim di meja, semoga besok masih ada kesempatan untuk datang lagi.

Pekerjaan itu tidak selesai hingga petang datang. Mereka hanya bisa merasakan separuh dari sampel yang disediakan dan pekerjaan itu akan dilanjutkan esok hari. Cassie berpisah dari rekan-rekannya dan berjalan sendirian menuju rumahnya. Udara dingin mulai menusuk, gadis itu menarik syal hingga menutupi seluruh lehernya. Hawa musim dingin mulai mengintip di kejauhan. Beberapa kali gadis itu menepuk tangannya membentuk tepukan pelan untuk menghalau hawa dingin.

Udara semakin dingin memukul saat sampai di jembatan. Mungkin efek dari uap air yang nyaris beku di bawah jembatan itu. Lokasi itu cukup sepi, akan tetapi cukup aman. Jarang sekali terjadi kasus kejahatana di sini. Lagi pula, ada satu dua orang yang berjalan dari arah yang berlawanan.

Matanya terantuk pada sosok yang berdiri di dekat pagar besi di pinggir jembatan. Kalau diperhatikan, sosok berwujud pemuda. Gadis itu terus berjalan mendekat, mungkin memang ada orang yang menikmati pemandangan sungai di malam hari. Sama sekali bukan urusannya. Namun, langkah kakinya terhenti sesaat ketika pemuda itu memanjat naik dan bertengger di atas palag besi. Kedua lengannya terentang ke samping seolah dia bersiap untuk terbang.

“Jangan-jangan mau bunuh diri!”

Benar saja, tidak lama setelahnya pemuda itu bersuara.

“Selamat tinggal dunia, kalian busuk!”

“Hei! Hei!” teriaknya dengan frustasi. Eh! Eh! Bagaimana ini?

Pemuda itu menoleh ke arahnya, matanya membola sesaat. Cassie menggigit bibir, tidak sempat lagi menghitung jarak dan kemungkinan. Hanya beberapa detik yang dimiliki sebelum pemuda itu menerjunkan dirinya. Gadis itu berlari cepat, berharap kali ini aksinya cukup cepat. Jantungnya berdebar kencang dan semakin cepat kala jemarinya berhasil meremas lengan pemuda itu dan menariknya.

“Apa yang kau-”

Pemuda itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat tubuhnya oleng ke bawah setelah ditarik oleh Cassie. Napas kasar terhempas dari bibir gadis itu saat tubuhnya ikut terbanting saat pemuda tertarik turun dengan paksa. Tubuhnya ikut kehilangan keseimbangan. Rasanya pemukaan aspal begitu dekat, namun dia tidak bisa menghindar.

Rasa ngilu memukul bagian belakang kepalanya, mungkin sekarang dia memukulkan kepala tepat di pemukaan aspal. Belum sampai di situ, lengannya memuntir ketika pemuda itu jatuh berdebum tepat di atas tubuhnya. Tidak ada pandangan romantis selain kejatuhan yang membuat matanya mulai kabur. Cassie belum sempat meminta pemuda itu untuk menggeser tubuh saat suara klakson terdengar mendekat dengan lampu depan menyorot tajam.

Ini tidak nyata, kan? Tidak mungkin dia akan terlindas dalam posisi seperti ini kan?