Resep Empat

by | Jun 3, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Jika ada hal yang menakutkan untuk Cassie hanya dua, yaitu jatuh cinta dan kehilangan indra pencicipnya. Jika jatuh cinta itu racun maka indra perasa itu seperti sebuah penawar juga harapan untuknya. Rasanya pasti akan menyakitkan kalau kehilangan keduanya.

Soal ketakutan pertamanya, dia takut jatuh cinta. Bukan karena angkuh atau banyak memilih, dia tidak ingin patah hati. Patah hati mungkin hanya sejenis kasus kesedihan akibat kehilangan bagi orang lain, akan tetapi untuknya penyakit satu ini bisa membunuhnya secara tiba-tiba. Dia memang menderita penyakit aneh yang mungkin bisa membunuhnya kapan saja. Sindrom yang mungkin membiarkannya hidup, tetapi dalam fase kering cinta dan selalu merana.

Menyedihkan?

Tidak terlalu, setidaknya untuknya. Patah hati mungkin hanya perkara hati sedangkan penyakit yang menjeratnya lebih pada kesakitan yang nyata. Mungkin bisa dikatakan sakit yang tervisualisasi seperti novel yang diterjemahkan dalam bentuk gambar. Namun, bukan itu yang membuatnya benar-benar ketakutan sekarang.

Ketakutan kedua yang kini menghantuinya. Indra perasa yang lenyap dari lidahnya. Semua itu terasa lebih mengerikan daripada rasa patah hati yang tervisualisasi dalam rasa nyeri di dada, sesak napas lalu demam tinggi. Ketakutan itu tidak menimbulkan rasa sakit yang nyata, nyaris seperti bayangan yang mengintip dengan pisau di tangan dan siap menusuknya kapan saja.

Cassie mendesah, kalau mengingat semua kejadian sejak beberapa malam lalu, rasanya masih sebal. Setelah kegagalannya mencicip es krim, dia izin pulang dengan alasan sakit. Ya, dia memang sakit, sama sekali bukan kebohongan. Dia juga ke klinik setelahnya. Bukan memeriksakan kepalanya yang berdenyut sakit, akan tetapi lidahnya. Kondisi lidahnya lebih membuatnya gusar daripada lapisan kepala yang seperti dipukul palu berulang kali. Bukan hal yang berlebihan, kehidupannya bergantung pada lidahnya.

Menelan semua zat ke dalam mulutnya, akan tetapi tidak ada rasa terkecap. Pemeriksaan itu berlanjut sampai ke tahap berikutnya. Diagnosa sementara dia mengalami Hipogeusia total yaitu penurunan sensitivitas terhadap semua zat pencetus rasa. Mungkin ini bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Hanya saja, dia takut kalau sampai mengalami Ageusia total. Saat lidahnya mulai lumpuh dan tidak mampu lagi mendeteksi rasa. Maka mungkin karir juga mimpinya akan kandas di tengah jalan.

Hal ini bisa jadi disebabkan oleh benturan di kepala saat dia menolong pemuda yang hendak bunuh diri itu. Satu hal yang ingin sekali disesalinya, namun apakah harga indra perasa jauh lebih besar dari nyawa, jawabannya pasti tidak. Berharap untuk tidak melintas di jembatan itu saat kejadian berlangsung, jelas tidak mungkin. Semuanya sudah terjadi. Untuk itu, dia tidak ingin memikirkan kejadian itu lebih lama lagi dan terpuruk penyesalan yang mungkin akan membuat keadaannya lebih buruk dari sekarang.

“Oke, Cas! Lupakan!” katanya sambil menggeleng, berusaha untuk menghapus semua bayangan buruk di kepala. Termasuk melupakan penyesalannya.

Matanya kini beralih pada segelas susu di atas meja. Ini gelas susu kesekian, selain dia memang hanya minum susu dan takut untuk makan selama dua hari belakangan. Ngeri saat membayangkan lidahnya tidak merasakan sensasi apa pun. Selain itu, susu dingin bercampur madu banyak mengandung vitamin B12 yang katanya baik untuk fungsi lidah. Dia membacanya di artikel. Namun, semua itu belum ada hasilnya.

Cassie sudah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan indra perasanya dari artikel yang dibacanya satu jam lalu. Dia sudah menaruh batangan es batu di permukaan lidah, mengisapnya hingga lidahnya terasa nyaman. Tidak terjadi apa-apa setelah belasan batang es batu. Lidahnya tetap membisu tanpa sedikit pun memercikan rasa.

Sekarang dia memandangi kamarnya yang berantakan, sudah berapa hari dia tidak keluar? Dia sama sekali tidak ingat.  Sekarang sudah malam lagi atau selama beberapa hari ini hanya malam saja? Entahlah. Sepulang dari klinik, dia hanya meringkuk di bawah selimut. Meminum susu lalu kembali tidur.

Jemarinya meraba bagian perutnya yang mulai melilit kelaparan. Gadis itu menarik gelas susu itu lalu meneguknya. Tidak peduli rasa hambar yang memenuhi lidah saat cairan itu bergerak turun. Ia hanya perlu mencari makanan sekarang juga. Gadis itu menarik mantel lalu memelesat keluar.

Jalanan memang sudah gelap, tidak banyak orang yang bergerak di pinggir jalan. Cassie berbelok  di tikungan gang lalu menuruni anak tangga. Semilir angin menyapu rambutnya hingga membuat helainnya beterbangan. Gadis itu merapatkan mantel saat mencapai jembatan dan berusaha mengabaikan kelebatan kejadian beberapa malam lalu. Kalau ada yang mau bunuh diri lagi terutama pemuda itu lagi, maka dia akan terus berjalan dan berlagak tidak peduli.

Kakinya berjalan lebih cepat di jalanan yang menurun. Langkah kakinya terhenti saat melihat salah satu kedai mungil di pinggir jalan. Dia memiringkan kepala, rasanya ada yang aneh.

Sejak kapan kedai ini mulai ada?

Rasanya kemarin saat pulang ke rumah, tidak ada apa pun di sana selain ruko kosong yang lama terbengkalai. Dia lupa barang apa yang dijual di sana sebelum ini, mungkin menyediakan berbagai alat tulis atau mungkin malah toko perabotan—entahlah. Letaknya yang berada persis di tanjakan jalan membuat ruko itu sama sekali tidak strategis. Lokasi yang mempersulit pengunjung untuk datang. Lagi pula, bagaimana mungin  orang akan datang dengan mobil atau kendaraan lain saat tidak ada area parkir tersedia dan harus melewati tanjakan curam saat hendak berkunjung. Mungkin itu sebabnya ruko itu kosong selama berbulan-bulan sampai muncul kedai mungil itu.

Starlight, nama itu yang tertera pada papan kayu tepat di atas pintu. Perutnya yang berteriak minta diisi membuatnya urung untuk bergerak dan terus memerhatikan kedai itu. Kerlip lampu biru dan emas yang bercampur cantik dengan pendar menenangkan. Meja-meja kayu yang nampak juga botol-botol bening yang berjajar rapi dengan pantulan warna-warni.

Kedai itu tepat berada di seberang jalan. Menggoda untuk dilihat seolah jendelanya melambai untuk mengajak seseorang mampir ke sana. Tidak lama setelahnya, dia benar-benar berjalan mendekat seolah sedang tersihir. Jemarinya dengan cepat mendorong pintu kedai itu dan melangkah masuk.

“Permisi!” katanya sementara matanya masih menatap isi kedai itu.

“Selamat datang di kedai ramuan, Starlight!”

Seseorang menyambut dari dalam. Cassie bergerak gugup untuk membenarkan mantel, berharap harum parfum murahan yang menempel di sana akan menutupi bau badannya. Akan malu sekali jika ada lawan jenis yang mengatakan kalau dia bau.

Cassie terpaku di tempat. Jemarinya yang memegang tepian mantel mulai terlepas, mulutnya menganga saat seorang pemuda berambut hijau kini melangkah keluar dengan celemek menutupi dada. Tidak salah, rambutnya memang hijau. Namun, bukan itu yang membuatnya terperangah. Walaupun rambutnya sekarang hijau—atau entahlah dia lupa warna rambutnya. Hanya saja, dia tidak akan salah mengenali. Wajah dan suaranya masih sama. Pemuda itu adalah orang yang akan bunuh diri beberapa malam lalu. Orang yang membuat indra perasanya hilang. Seseorang yang seharusnya mempertanggungjawabkan semua ini karena dia telah merusak hidupnya.