Resep Enam

by | Jul 21, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Pemuda itu melipat lengan di depan dada, mata hitam di balik kacamata persegi itu menyorot tajam. Manik kelam yang membuatnya merasa diselidiki—Ah! Dia benci mengakui ini—Hanya harus dikatakan. Dia merasa tengah dikuliti.

“Jadi menurutmu aku datang ke dalam mimpimu untuk memperkosamu, begitu?”

Sumpah! Saat melihat bibir tipis itu bergerak rasanya Cassie ingin menguncirnya dengan karet gelang  sesegera mungkin. Memperkosa! Yang benar saja! Gadis itu mendengus kasar hingga anak-anak rambut terdekatnya mulai beterbangan.

“Ka-ka—kau menci-um-” Cassie menarik napas, membayangkan mimpi dua malam terakhir itu menyebalkan. “Mencium aku.”

Akhirnya kata-kata itu terucap juga setelah bibirnya mulai bergerak maju tidak karuan dan pipinya mulai memanas. Napasnya juga megap-megap tidak karuan. Benar-benar memalukan saat mengatakan semua itu pada pemuda aneh berwajah sinis yang kini duduk di depannya.

“Oh, kau bermimpi kalau aku menciummu?”

“Ya.”

“Kau suka padaku?” tembak pemuda itu langsung.

“Hah?” Cassie mendengus lagi, kata-kata ini sudah bisa diduga. Apalagi alasan seseorang untuk memimpikan orang lain, di atas semua itu memimpikan lawan jenis kalau bukan karena jatuh cinta.

“Sayangnya, aku tidak sudi kau mimpikan. Jadi hapus aku dari mimpimu, jangan libatkan aku dalam hal-hal kotor tidak  bermoral semacam itu!” katanya lagi sebelum Cassie menjawab.

“Tidak bermoral! Melibatkanmu dalam mimpiku yang benar saja, memangnya aku bisa memilih!” Kali ini Cassie tidak bisa lagi menahan kesabarannya lebih lama lagi.

“Sekarang aku tanya, kamu datang kemari untuk meminta pertanggungjawabanku kan soal mimpi tidak bermoral itu?”

“Kalau iya memangnya kenapa?” Suaranya benar-benar menanjak tinggi sekarang.

“Aku sekarang pakai kata-katamu, memangnya aku bisa memilih untuk masuk ke mimpimu atau tidak? Jika kau bisa bertanggung jawab untuk mengeluarkan aku dari mimpimu maka aku juga akan jamin untuk mengurus keluhanmu. Tawaran ini adil, bukan?”

Cassie menarik napas. Jemarinya mengurut permukaan celana jeans yang dikenakannya. Bibirnya mengatup rapat sementara semua hal berkejaran dalam pikirannya. Dia sudah menduga kalau Liron akan memojokkan begitu rupa, oleh karena itu dia tidak akan datang tanpa persiapan.

“Aku sakit-”

“Benar kau sakit mental!” ketus Liron tampak sengaja memotong.

“Bukan begitu, aku benar-benar sakit!” Cassie kali ini menaruh amplop putih di atas meja.

Pemuda itu menunduk dan menatap amplop putih yang baru saja dikeluarkan oleh Cassie. “Apa itu?”

“Surat keterangan sakit bukti kalau aku keracunan.”

“Sebentar, apa hubungannya mimpi erotis yang kau alami dengan keracunan. Lalu di atas semua persoalan itu, apa hubungan semua ini denganku?” Liron membenarkan letak kacamata setelah berdehem pelan.

“Ten-tentu saja ada hubungannya. Aku keracunan lalu mengalami mimpi buruk setelah meminum racun dari kedai ini. Kau sendiri juga bilang kalau yang ramuan yang kuminum beberapa hari lalu adalah racun. Bukan begitu, Master?”

Merasa di atas angin Cassie langsung melemparkan serangan. Sekarang dia mulai gemas pada reaksi santai Master pemilik kedai itu, rasanya dia ingin mengakhiri pembicaraan menyebalkan ini sekarang  juga. Liron sudah membuat argumen yang berputar-putar yang cukup memusingkan untuk diikuti kalau tidak disimak benar-benar.

“Kau yakin kalau keracunan karena ramuan di sini?” Dia membenarkan letak kacamatanya yang tiba-tiba saja merosot. “Bukan di tempat lain, kau minum minuma kadaluarsa misalnya?”

“Aku tidak meminum apa pun setelah pulang dari sini. Lagipula, kau yang menyentuhkan racun itu ke bibirku waktu itu!”

“Menyentuhkan ke bibir? Kau ingat sekali soal itu, kau menikmatinya?”

“Ti-tidak. Aku hanya mengatakan buktinya!” Cassie mengibaskan tangannya berulang kali. Pipinya rasanya benar-benar terbakar sekarang.

“Oh, baiklah. Tapi, hanya itu saja buktinya?”

“Sebentar—Ah! Ah! Aku ingat!” Cassie mengepalkan tangannya yang mengepal ke telapak tangan kirinya yang membuka. “Kau mengoleskan racun itu ke bibirku makanya aku selalu bermimpi berciuman, benar begitu bukan?”

Cassie mengangkat alis saat melihat Liron tidak juga merespon, bibir pemuda itu nampak berkedut sesaat. Hal yang membuatnya sadar satu hal, tebakannya kali ini benar. Meskipun sungguh dia tidak percaya ada ramuan sejenis itu di dunia ini, kecuali Liron ini bukan manusia atau pembuat ramuan ulung legendaris melebihi Frankenstein. Di atas semua itu, ramuan itu hanya dioleskan tetapi efeknya sampai sebesar itu rasanya juga terdengar mustahil.

“Kau tidak bisa menjawab maka itu artinya benar, Master!” tandasnya cepat berusaha untuk mengakhiri pembicaraan secepat mungkin.

“Jadi kau percaya ada ramuan segila itu di dunia ini, Nona?” katanya sambil menarik kertas keterangan dokter dari meja dan nampaknya dia mulai membaca. Saat dia menyebut ‘Nona’ dengan nada dipanjang-panjangkan terdengar benar-benar menyebalkan dan dia menjadi sejenis spesies yang pantas untuk dicubit.

“Ke-ke-nyataannya begitu, kan? Wajar kalau kalau aku percaya.” Bola matanya berputar sementara kepalanya bergerak sementara itu jemarinya sibuk memuntir helaian rambut.

“Tidak ada bukti valid untuk semua itu. Aku tidak akan bertanggung untuk hal yang tidak ada dan hanya kau karang-karang saja!”

“Aku tidak mengarang. Bagaimana kalau kita buktikan, kau minum ramuan itu sekarang dan kita lihat hasilnya?”

Sekali lagi bibir Liron berkedut dan semua ini tidak luput dari pengamatan Cassie. Rasanya pemuda ini memang tengah berkelit, hanya saja dia terlalu lihai untuk tertangkap. Otaknya sepertinya bekerja sangat cepat untuk mengarang alasan yang bermacam-macam dan sialnya terdengar masuk akal.

“Kau takut?”

“Tidak. Tentu saja tidak, aku Liron Cavern tidak kenal rasa takut.”

“Kalau begitu silahkan buktikan!”

Cassie mengangkat pantatnya dari kursi dan mengulurkan tangan dengan gaya mempersilahkan. Liron juga beranjak dari kursi lalu bergerak mendekati rak berisi botol-botol kaca dengan berbagai ramuan berwarna di dalamnya.

“Ini, kan?” katanya sambil meraih ramuan berwarna hitam yang kemarin nyaris dipecahkan oleh Cassie.

“Ya.”

Liron mengambil gelas dari tatakan dan menuangkan ramuan itu di sana. Dilihat dari jarinya yang sama sekali tidak gemetar saat meremas permukaan gelas, dia sepertinya sangat siap untuk meminum ramuan itu. Rasanya sungguh aneh, sungguh aneh. Meskipun dia ahli ramuan dan mampu membuat penawarnya atau memang penawarnya sudah ada, hanya saja jika memang itu racun seharusnya dia tidak setenang ini. Pemuda itu juga santai mengangkat gelasnya dan bersiap meneguk entah ramuan apa di dalamnya.

“Tunggu!” Cassie nyaris berteriak hingga Liron seketika menghentikan tindakannya.

“Kenapa?” tanyanya, matanya benar-benar memelotot sekarang.

“Rasanya ini tidak benar. Bagaimana kalau kita mengulang proses yang sama seperti yang kau lakukan padaku kemarin?”

“Huh?”

Cassie menggaruk pipinya dengan jari ujung jari telunjuk, matanya melirik tepian meja. Entah dipikir bagaimana pun rasanya ini aneh. “Proses yang sama.”

“Bukankah akan lebih terpercaya kalau aku minum dalam dosis yang lebih banyak? Kenapa kau ragu karena aku tidak takut minum ini? Kau takut teorimu termentahkan?” berondongnya tanpa jeda.

“Ti-tidak, aku hanya ingin proses yang sama.”

“Baiklah kalau begitu!”

Liron kali ini bergerak mendekati deret lain dan menarik satu botol dari tatakan. Kali ini larutan itu bening. Dia juga tampak tenang saat menyiapkan gelas.

Master, pamflet untuk lowongan sudah dicetak!” Suara itu memecah ruangan hingga membuat Cassie terkesiap dan menatap ke arah pintu.

Fil menghentikan langkah dan berdiri dengan tumpukan kertas di tangan. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman kaku. Pandangannya berpindah dari Cassie, lemari larutan lalu pada Liron dan terus begitu sampai beberapa detik berikutnya.

“Oh, taruh di ruang kerja!” sahut Liron yang memecah kekakuan seketika itu juga.

“Baik.”

“Kita lanjutkan yang tadi, aku akan minum ramuan ini!” lanjut Liron lagi.

“Silahkan, Master!” Cassie mencoba menimpali dengan tenang, meskipun jantungnya sekarang benar-benar berdebar dan rasanya ingin melompat dari dalam dada.

“Aku akan minum dua gelas.”

“Oke.”

Cassie melirik Fil, pemuda itu melangkah menjauh lalu berhenti ketika hendak mencapai ujung pintu. Sedangkan Liron nampak tenang dan hendak minum ramuannya. Fil lalu berbalik lalu mendekati Liron dan merebut gelas dari tangannya.

“Apa yang Master lakukan, minum racun sebanyak ini berbahaya!” katanya nyaris berbisik, sayangnya bisikan itu terlalu keras untuk disebut bisikan.

“Racun?” Cassie kali ini melipat lengan di depan dada dan menraik bibirnya membentuk seringai.  “Bisa jelaskan semua ini, Tuan-tuan?”