Resep Lima

by | Jul 14, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Bibirnya seketika saling mendekat, pemuda itu sekarang menarik kepala Cassie. Deru napas saling bertumbukan kasar di udara. Pemuda itu menekan bibir gadis itu semakin dalam. Tidak lama tubuh Cassie terhempas di atas bantal saat jari-jemari itu menjamah setiap jengkal kulitnya. Bibir mereka yang saling menaut kini terlepas.

“Aku ingin lebih,” bisik pemuda itu ketika wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

Cassie tidak bergerak atau pun mengangguk, napasnya tersentak keluar kala telapak tangan pemuda itu membungkam mulutnya. Napasnya menampar pipi Cassie lalu hidungnya menyentuh tulang rahangnya saat bibir pemuda itu sekarang bergerak ke leher. Bukan ciuman basah dan hangat yang diperoleh, akan tetapi rasa menyengat yang tiba-tiba terasa. Lehernya seperti tersengat kalajengking. Tidak! Rasanya seperti dua buah taring yang menancap tepat di sana. Matanya membola seketika dan ingin meluncurkan teriakan sekarang juga. Namun, mulutnya dibungkam sekarang.

Seketika Cassie tersentak. Napasnya tercekat. Dia buru-buru bangun sembari mencoba menenangkan napasnya yang terengah-engah. Jantungnya masih memacu di dalam dada. Gadis itu meraba keningnya, terasa panas di bawah punggung tangan. Rasa mual tiba-tiba menonjok perutnya, dia buru-buru berlari ke kamar mandi. Buru-buru membuka penutup kloset dan menumpahkan isi perutnya di sana.

Rasa pahit memenuhi mulutnya, tidak ada makanan atau isi lambungnya yang keluar. Hanya aliran air yang mengalir pasrah setelah beberapa kali muntah malam ini. Gadis itu menekan tombol untuk mengalirkan air lalu menutup kloset itu kembali lalu berjalan gontai kembali ke kamarnya. Cassie membanting pantatnya di kursi lalu menekuk kakinya untuk menaruh dagu di atasnya. Mencoba untuk tidak tertidur kembali karena malam sebentar lagi akan berakhir.

Pikirannya mengelana penuh dengan prasangka. Sudah dua hari ini selalu mengalami mimpi aneh. Mimpi mesum  lebih tepatnya dan kalau mengingat hal ini membuatnya sangat malu. Ah! Tidak, mesum sekaligus mengerikan. Dia selalu berakhir dianiaya di akhir, hubungan percintaan itu tidak pernah berakhir di ranjang dengan benar. Selalu saja ada hal yang menghalangi, eh—maksudnya bukan dia ingin berakhir dengan sesuatu. Hanya saja, rasanya dia seperti dilecehkan lalu dibunuh di akhir cerita, semacam itu. Akan tetapi, sosok pemuda itu terasa nyata seolah-olah dia baru saja pergi Cassie terbangun dari mimpi. Cassie juga masih bisa merasakan bekas senthan jemari pemuda itu di sekujur tubuhnya. Semua itu mungkin hanya sejenis aftertaste dari mimpi aneh itu. Rasa-rasanya tidak mungkin pemuda itu datang dan pergi beberapa kali ke flat-nya beberapa kali dalam semalam. Dia juga sudah memastikan pintu dan jendela rumahnya benar-benar terkunci rapat. Tidak ada celah untuk masuk kecuali pemuda itu hanya sejenis asap.

Kalau dipikirkan memang cukup aneh. Katanya dia meminum racun dan pemuda itu memberikan penawarannya. Dia memang tidak apa-apa selama dua hari terakhir. Selain, mimpi aneh selama dua hari berturut-turut. Mungkin mimpi yang mampir ke dalam tidurnya adalh jenis mimpi buruk yang baru. Mimpi itu mesum sekali hingga membuat suhu tubuhnya naik drastis saat terbangun lalu perutnya akan sangat mual dan membuatnya memuntahkan isi perutnya. Setelah itu, suhu tubuhnya pelan-pelan menurun setelah beberapa menit terjaga.

Sialnya dia mengalami mimpi ini beberapa kali dalam semalam. Jika ada yang bertanya kenapa dia tidak mencoba untuk bangun saja dan tidak tidur lagi. Jawabannya sudah. Dia bahkan mencoba untuk duduk saja di setengah malam menjelang pagi. Hanya saja, entah bagaimana matanya selalu mengatup kembali dan mimpi itu senantiasa datang saat dia ketiduran sebentar saja. Mimpi mesum itu seberacun mimpi terpeleset yang akan muncul di masa peralihan antara terjaga dan terlelap. Selama dua hari ini dia benar-benar merasa kalau dia benar-benar telah keracunan, namun mana mungkin keracunan akan menyebabkan mimpi ‘panas’ yang membuatnya merasakan permukaan bibir seseorang menempel di miliknya serta membuatnya membayangkan jemari pemuda itu menyusuri kulitnya. Kalau mimpi itu hanya proyeksi bagian terdalam pikirannya, rasanya dia sama sedang tidak ingn beicuman atau sejenisnya. Cassie menyusuri tengkuknya dengan jari lalu berdehem pelan saat pipinya mulai memanas.

Memikirkan semua ini sendiri tetapi membuatnya merasa malu dan jengah juga. Rasanya seperti mengakui pada khalayak ramai kalau dia ingin disentuh atau diraba.

Satu hal yang ada dalam pikirannya sejak kemarin, misteri ini hanya bisa dijawab dengan dua jalan. Pertama mencari jawaban itu di dalam mimpi. Kalau mimpi itu memberikan pertanyaan maka akan ada jawabannya juga. Jawabannya mungkin hanya dengan menanyai pemuda itu di dalam mimpi dan semua itu mustahil. Sayangnya, apakah cara kerja dunia mimpi sama dengan dunia nyata, dia tidak tahu pasti. Kedua, dia hanya mungkin harus kembali ke kedai ramuan itu dan menuntut jawaban. Sayangnya, pilihan kedua ini semustahil yang pertama. Bertanya pada master pemilik kedai itu tidak akan menjadi solusi selain mungkin dia memilih untuk keracunan lagi dan mengalami mimpi lebih aneh dari yang dialaminya sekarang ini.

Cassie kembali tersentak kala seseorang menarik tangannya. Dia samar-samar masih mendengar suara kursi yang terguling memukul lantai. Tubuhnya tertarik ke bawah dan dia sudah bersiap untuk merasakan hempasan saat tubuhnya memukul lantai. Dia akan mendarat dengan wajah terlebih dahulu, Cassie menutup mata. Namun, dia tidak merasakan sensasi terjatuh hingga membuat tulang ngilu. Percikan air di wajahnya membuatnya terkesiap. Suara benda jatuh kini tergantikan dengan suara kecipak saat tubuhnya jatuh di permukaan air.

“Hei—aku-”

Dia tidak sempat mengucapkan apa pun saat sosok itu menangkap tubuhnya lalu menangkup wajahnya. Mengirim ciuman bertubi setelahnya. Cassie tercekat, dia sama sekali tidak bisa bernapas. Dia berusaha melepaskan diri dengan terus bergerak. Hanya saja tubuhnya terasa terkunci. Cassie membuka matanya lebih lebar, namun dia sama sekali tidak bisa menangkap sosok yang kini melilit tubuhnya bagai gurita. Selain lekuk bibirnya yang terasa tidak asing da hangat meski di dalam air, tidak ada hal yang lain lagi. Sosok ini adalah pemuda yang sama, pemuda yang memperawani bibirnya beberapa kali dalam dua malam terakhir.

Tubuhnya semakin tertarik ke bawah dan lehernya mulai tercekik. Paru-parunya serasa hampir meletus sementara jantungnya sudah melewatkan banyak deguban, ini saatnya dia harus bangun atau dia akan mati. Menggunakan sisa tenaga terakhirnya, Cassie mengepalkan tangan untuk meremas tengkuk pemuda itu. Dia menarik kepalanya sesaat sebelum mulai menyerang bibir pemuda itu dengan menggigitnya. Cassie memejamkan mata sesaat untuk melancarkan gigitan, hanya ini kesempatannya. Dia membuka mata saat rasa asin darah memenuhi mulutnya. Wajah pemuda itu semakin menjelas.

Gadis itu mengerjap dan menemukan langit-langit kamarnya. Tubuhnya sekarang berada di lantai. Saat menoleh, dia menemukan kursi yang semula didudukinya terguling tidak jauh dari tempatnya berbaring sekarang. Dia berusaha mengumpulkan ingatan di mimpi terakhir. Wajah pemuda itu, dia melihatnya. Tidak salah lagi, wajah itu milik Master Starlight yang ditemuinya beberapa hari lalu. Sekarang dia tahu kalau mendatangi kedai ramuan itu adalah pilihan satu-satunya sebelum mimpi itu semakin berbahaya dan merenggut nyawanya. Mati di dalam mimpi sama sekali bukan hal yang diimpikannya selama ini.