Resep Satu

by | Apr 20, 2018 | Heartbreak Recipe | 3 comments

Layar monitor masih berkedip beberapa kali. Cassie masih terpaku menatap kata demi kata yang terjalin di surelnya. Rasanya ingin menangis, tetapi untuk apa? Ditolak lagi setelah sekian puluh tes dijalani. Ini sudah yang kesekian kalinya, jadi untuk apa menangis. Menangis untuk hal besar saja dia jarang.

Cassie menarik napas lalu membuka kertas pembungkus burger yang tadi dibelinya di kedai pinggir jalan. Jemarinya masih terus bergerak lincah membuka satu tab ke tab lain untuk membaca berita gosip. Gosip di salah satu laman tentang Kylie Jenner yang menerima kritikan dari fans di sosial media setelah meninggalkan bayinya demi menghadiri pesta di salah satu festival musik. Cassie mendengus iri, gadis lain begitu beruntung. Sudah cantik, kaya pula dan hidupnya begitu mudah.

Gadis itu kembali membuka tab lain untuk membaca berita yang lebih hangat, berita gosip tentu saja. Sementara itu, geliginya sibuk mengunyah burger di tangannya lagi dan lagi sementara dia masih enggan bergerak. Namun, pikirannya masih sulit dialihkan dari email yang baru saja diterimanya.Dia gagal untuk kesekian kalinya dalam tes palate training untuk menjadi professional food taster.

Tes palate adalah salah satu tes untuk menjadi pencicip profesional, begitu Cassie menyebutnya. Ujian ini bukan hal yang mudah, dia membuktikan sendiri. Dan Schroeder menambahkan definisi yang membuatnya menemukan pembelaan atas kegagalan dan bisa mengatakan dengan bangga kalau tes palate bukan hal yang mudah. Menurut Schroeder, seseorang tidak akan bisa menjadi pencicip tanpa indra perasa yang kuat. Satu indra yang mampu untuk tetap fokus pada banyak lapisan rasa dan membedakan semua rasa itu.

Minggu ini, mereka sampai pada tes untuk mengindentifikasi berbagai macam rasa selai setelah melakoni tiga bulan pelatihan untuk mengenali dan menceritakan kembali tentang rasa yang spesifik, tekstur serta aspek lain semua bahan yang diujikan.

Tes kali ini dia gagal lagi karena botol sialan itu. Semesta mungkin mengamini kegagalannya melalui botol-botol selai yang bersekongkol memberinya cobaan. Cassie mendesah, bukan salah botol selai. Dia hanya belum ahli untuk melakukan semua itu. Lidahnya belum profesional begitu  kata pelatihnya di akademi.

Lidah yang ahli, terdengar menyebalkan, tetapi itu benar adanya. Faktanya, pada saat Cassie melamar pekerjaan sebagai pencicip rasa, bukan kata-kata yang diminta saat tes demi tes bukan otak dan kecerdasan yang teruji akan tetapi kekuatan lidahnya. Pengalaman seorang pencicip bukan diukur dari berapa lama bekerja di perusahaan tertentu, tapi pengalaman bersama makanan dan bagaimana lidahnya merasakan. Bahkan Cassie pernah menemukan tes untuk menyaring kemampuan untuk mengidentifikasi rasa-rasa dasar.

Setelah melalui berbagai tes dan mentalnya telah hancur berantakan beberapa kali, hanya impiannya saja yang masih membara untuk menjadi Lisa Schroeder  kesekian. Cassie begitu mengidolakan wanita itu. Schroeder bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pengindraan dan wanita itu bekerja sebagai pencicip cokelat. Pekerjaan yang menyenangkan, makan dan dibayar. Itu motivasinya saat awal menjalani tes, betapa menyenangkannya menjadi seperti Schroeder.
Kenyataannya setelah menjalani tes demi tes, pencicip profesional tidak semudah konsep makan saja lalu dibayar. Banyak orang yang pada akhirnya tidak tahan terus keluar dari training, akan tetapi dia bukan orang yang ingin keluar. Dia adalah orang yang dikeluarkan. Realita yang ironis dan menyebalkan.

“Menyebalkan, ya? Kau setuju denganku,  Miss Burger?” Jemarinya mengangkat burger di tangan lalu menatap. Dia merasa bahwa burger juga sedang balik menatapnya.

Burger ini enak, dagingnya lembut dan campuran saus keju serta mayonnaise membuat rasa gurih ini bercampur sempurna. Oh, iya ada selada, sayuran ini juga enak. Segar serta renyah.” Cassie tersenyum puas. “Lihatkan aku bisa mendeskripsikan rasa.”

“Apakah kau bisa merasakan bawangnya?” Cassie mulai bermonolog menirukan pelatihan pertamanya sebagai penyicip makanan.

“Oh hey, Mrs. Burger kau mewancaraiku?” Cassie mengerutkan kening.

“Iya, Nona.” Cassie menyahut sendiri.

“Jadi bagaimana tadi rasanya?”

“Aku bisa merasakan gurihnya dari bawang yang bercampur di daging giling.”

“Kalau begitu saus Worcestershire, bagaimana?”

“Rasanya kaya dan enak. Ada rasa asin dari ikan teri serta manis dari vinegar dan sirup gula yang khas dari sausnya,” katanya menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan olehnya sendiri.

“Oke. Lalu apa kau bisa merasakan Cayenne pepper, pedasnya berbeda dari lada jenis lain yang hitam atau putih?”

“Ahhh, entahlah. Kau hanya enak.”

Cassie menggigit burger di tangannya dan kembali mengunyah. Mulutnya penuh hingga dia tersedak di sela kunyahan. Gadis itu buru-buru meraih gelas air mineral di ujung meja. Sialnya, gelas itu malah terguling saat jemarinya menyentuh. Air mineral itu sekarang membasahi keyboard di meja.

“Uggh, shit!” gumamnya sebelum bangkit dan mengambil tisu untuk mencegah aliran air membasahi dan membuat komputernya konslet sekarang.

Jemari kanannya yang masih memegang burger bergerak mengikuti tubuhnya dan satu demi satu tetes-tetes saus barberque bercampur keju juga berjatuhan di permukaan keyboard-nya diikuti patties serta potongan tomat yang tergigit separuh.

“Kenapa lagi ini!” Cassie nyaris memekik dan memasukan sisa potongan burger di tangannya meski tanpa patties ke dalam mulut sementara jemarinya sibuk memunguti potongan daging yang tercecer di atas keyboard.

Cassie menarik napas lega setelah membersihkan semua kotoran yang menempel di atas permukaan keyboard-nya. Gadis itu membanting pantat di kursi lalu menghempaskan punggung di sandarannya. Pikirannya menerawang saat kegagalan demi kegagalan datang menerpa. Lalu senyuman pemuda itu. Lesung pipitnya yang dalam hingga dia sering menyorongkan ujung jemari ke dalam liangnya. Bayangan itu memudar kala senyuman itu lenyap berganti dengan wajah dingin dan bibir pemuda itu bergerak. Cassie tersentak.

“Ugghhh!”

Cassie buru-buru bangun dan meremas dada. Mulutnya membuka beberapa kali untuk mencari oksigen. Dadanya yang semula sesak mulai longgar. Di saat seperti ini sungguh rasanya lebih baik mati.

Sindrom sialan ini lagi! What the hell is wrong with me!

Gadis itu menarik napas lagi dan lagi hingga kini desakan di dadanya berangsur menghilang. Jemarinya yang semula mengepal untuk menahan nyeri yang tiba-tiba mendera mulai longgar. Satu tarikan napas lain sebelum akhirnya bangkit dari kursinya saat rasa sakit itu berangsur menghilang. Tepat ketika itu, sebuah suara berbunyi. Cassie menoleh ke arah datangnya suara. Notifikasi email baru kini tampil di layar. Dia buru-buru duduk kembali. Dengan cekatan memainkan mouse dan menekan notifikasi itu. Senyumannya merekah sesaat.

Dear Miss. Cassandra

Kami menerima email Anda untuk menjadi Professional Taster di toko kami. Sehubungan dengan rencana untuk memasarkan beberapa produk es krim di stand baru kami, maka kami menawarkan Miss Cassandra untuk menjadi Taster selama beberapa hari ke depan. Jawaban Anda sangat kami tunggu.

 Best Regards,

Will Moore

Cassie akan melonjak sekarang juga kalau saja sindrom anehnya itu tidak kambuh beberapa saat lalu. Meski rasa nyeri dan sesak napas itu hilang secepat datangnya. Akan tetapi, dia memilih berhati-hati daripada berakhir sakit atau semacamnya.

Pencicip es krim, bukan masalah. Makanan manis dan dingin enak di musim panas begini. Hatinya membuncah seketika saat membayangkan mangkok demi mangkok es krim berbagai rasa di meja yang siap untuk disantap dan akan ada bayaran untuk semua makanan enak itu. Gadis itu masih tersenyum saat notifikasi email lain yang tampil di layar. Nama pengirimnya juga tidak jelas, jadi Cassie lebih memilih untuk membalas email dari seseorang bernama Will Moore itu secepatnya.