Resep Tiga

by | May 27, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

Saat mobil mendekat bersamaan dengan suara klakson yang menderu nyaring menembus kegelapan malam. Napasnya terhempas keluar saat seseorang menariknya berdiri—ah tidak, memaksanya berdiri. Lebih tepatnya menghempaskan tubuhnya hingga dia nyaris memekik saat merasakan tubuhnya melayang sesaat di udara. Namun, dia belum bisa berekasi saat benturan di punggung benar-benar membuat tulangnya terasa ngilu.

“Kau ingin membuat kita terbunuh!” Pemuda itu berteriak.

Cassie hanya bisa mengerjap saat melihat kendaraan itu melintas dengan cepat di bekas tempatnya terjatuh beberapa detik lalu.  Bukan hanya mobil, akan tetapi truk angkutan berat. Terlambat sedetik saja, dia jelas menjadi bubur. Matanya tidak berkedip menatap kendaraan yang lewat di depannya.

“Terbunuh katamu, aku ingin menolong-”

Eh? Ke mana dia?

Gadis itu menatap sekeliling, pemuda itu sama sekali tidak ada. Dia benar-benar menghilang. Cassie buru-buru bangkit, meski kepalanya berdenyut hebat hingga dia harus berpegangan pada pagar besi. Melongokan kepala ke bawah untuk melihat, mungkin saja sedetik lalu pemuda itu jadi benar-benar terjun. Hanya saja, permukaan sungai terlalu gelap hingga tidak terlihat.

“Tapi, rasanya tidak mungkin dia terjun secepat itu, tanpa ketahuan lagi.”

Rasanya semua ini aneh, bagaimana mungkin orang yang tadi baru saja ada di dekatnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Jemarinya meraih tengkuk, bulu kuduknya meremang. Bukan hantu, kan? Tetapi, tadi sempat benar-benar bersentuhan dan pemuda itu benar-benar nyata.

“Ah, tidak, tidak.” Dia menggeleng sembari berusaha untuk membuang semua pikiran buruk dalam kepala.

Sudahlah, kalau pun tidak bisa berterima kasih. Lagi pula hitungannya impas, bukan berhutang budi karena dia menyelamatkan pemuda itu. Wajar saja kalau dia gantian menyelamatkan. Selain itu, kalau bukan karena menolong pemuda itu maka dia tidak akan terjatuh di jalanan.

Gadis itu melangkah pulang dengan berpegangan pada palang besi sepanjang jalan, mencegah agar tidak limbung. Sekarang sudah terlalu malam untuk ke rumah sakit, mungkin besok pagi kalau sakitnya belum hilang, dia akan ke rumah sakit.

Saat Cassie membuka mata keesokan harinya, rasa pegal masih merajai tubuhnya. Lehernya terasa kaku hingga dia berulang kali menggoyangkan leher ke kiri dan ke kanan, berharap kalau lehernya akan berbunyi dan urat yang salah akan kembali ke tempatnya semula. Saat bangkit dari tempat tidur, dia melirik jam dinding yang bertengger di dinding sebelum akhirnya beranjak ke dapur. Gadis itu memanaskan bubur instan dan menaruhnya di atas kompor lalu dia masuk ke kamar mandi. Dia sudah menghitung estimasi waktu yang digunakan untuk membersihkan diri dan bersiap-siap sementara itu sarapan sudah matang.

Cassie mengaduk buburnya tanpa selera dan menjejalkannya ke mulut dengan paksa. Bubur itu sama sekali tidak ada rasanya. Bahkan asin pun tidak, semua hambar hingga lidahnya terasa ditempeli gumpalan cairan yang lembek dan sedikit menjijikan. Meski begitu, Cassie tetap memaksa makanan itu meluncur turun melewati tenggorokan dan beberapa kali meminum air putih agar bubur itu segera lenyap dari mulut.

“Semangat Cassie!” katanya sambil menyuapkan satu sendok bubur terakhir sebelum menaruh mangkok di atas bak cuci piring dan beranjak keluar.

Gadis itu buru-buru berangkat bekerja tidak lama setelahnya. Walaupun badannya masih terasa nyeri dan sakit di beberapa bagian. Namun, apalagi yang bisa dilakukannya selain memang harus bekerja untuk bertahan hidup.

Terkadang hidup begitu keras menghantam seseorang seperti dirinya. Dia hanya lelah berpendapat kalau hidup terkadang tidak adil. Dia hanya merasa kalau  porsi kesuksesan untuknya memang sama sekali tidak terlihat sejauh apa pun mata memandang. Untuk itu, dia hanya harus keras pada diri sendiri untuk terus bergerak maju dan membuat apa pun tidak terlihat akhirnya itu bisa diraba serta menggapai hal yang mustahil. Setidaknya sejauh ini, dia masih ingin bermimpi sebelum bermimpi saja mulai ada tarifnya.

Cassie menarik napas pelan, berusaha membuang jauh-jauh semua pikiran negatif dalam benaknya. Dia sedang tidak ingin berbincang-bincang dengan siapa pun sekarang, jadi memilih untuk diam. Matanya terfokus ke depan untuk mengamati karyawan yang tampak sibuk menyiapkan sampel di sudut ruangan. Bibirnya mengembang kala gelas-gelas es krim mulai ditata di depan mejanya.

Dia mulai menyendok satu gelas berisi es krim berwarna kecokelatan, memasukannya ke dalam mulut berharap ada hantaman rasa cokelat. Namun, tidak ada rasa cokelat di mulut. Gadis itu mengerutkan kening, rasanya ini aneh. Dia menyendok sekali lagi, hanya ada sensasi dingin lalu lembek di atas lidahnya. Cassie menggeser sendoknya pada gelas es krim yang lain, kali ini berwarna putih. Mengambil satu sendok penuh dan menaruhnya di mulut. Memutarnya beberapa kali di atas lidah. Tidak terasa  apa pun. Es krim itu hanya seperti gumpalan bubur dingin di dalam mulut.

Ah! Ini pasti karena sampel ini belum sepenuhnya jadi dan sempurna!

Cassie menggeser ke gelas berikutnya. Keningnya berkerut semakin dalam, sensasi yang sama dengan es krim dari gelas sebelumnya juga dirasakan di gelas ini. Jantungnya mulai berdebar dan jemarinya mengetat di gagang sendok. Firasat buruk mulai hinggap. Gadis itu menoleh ke samping kiri dan kanan, semua pencicip tampak mengangguk lalu menuliskan apa yang dirasakannya di atas kertas laporan. Dia menyendok satu lagi es krim berwarna hijau, mengunyahnya berlahan dan firasat buruk semakin menebal.

“Permisi, apakah aku boleh bertanya,” katanya sambil menoleh ke arah wanita dengan badan subur yang duduk tepat di sampingnya.

“Ya, soal apa?” Wanita itu menjawab dengan mulut penuh.

“Apakah es krim ini tidak ada rasanya?” Cassie menunjuk pada gelas berisi es krim cokelat yang tadi dicicip pertama kali. “Sampel pertama.”

“Apa maksudmu? Sampel pertama rasa cokelat. Campurannya kurang pas hingga nyaris pahit.”

Hatinya mencelos seketika saat mendengar jawaban itu. Keringat dingin mulai membanjir kala wanita itu juga memberikan jawaban yang sama untuk rasa es krim yang lain.

Cassie ingin sekali menangis ketika menyendok semua sampel es krim dan semuanya tidak ada rasanya. Sensasi yang bisa ditangkap permukaan lidahnya hanyalah lembek, dingin, tidak ada rasa  apa pun. Dia sudah ke toilet beberapa menit sebelumnya untuk mengamati permukaan lidahnya. Tidak ada yang salah di sana, lidahnya masih berwarna merah tidak putih atau kuning. Permukaannya juga kasar tidak seperti gumpalan serat kain di handuk. Namun, lidahnya benar-benar mati rasa sekarang.

Jemarinya memijat pelipis beberapa kali. Kalau dipikir ulang, lidahnya sudah agak bermasalah sejak dia bangun dan makan bubur tadi pagi. Tidak mungkin kan dia kehilangan indra perasanya di saat begini?  Mungkinkah gara-gara kejadian semalam? Gadis itu meraba bagian kepalanya yang terbentur. Apakah gara-gara benturan cukup keras di kepala hingga dia kehilangan indra pengecapnya?

Cassie bergidik sesaat saat membayangkan hal buruk yang terjadi pada lidahnya. Hipogeusia saja sudah berbahaya untuk seseorang sepertinya. Bagaimana kalau dia mengalami ageusia maka karir dan impiannya sebagai pencicip habis sudah?