Resep Tujuh

by | Jul 28, 2018 | Heartbreak Recipe | 0 comments

“Jadi kau itu hanya salah dengar!” Fil membuka pembicaraan setelah mengirimkan tatapan setengah takut ke arah Liron atau pun Cassie. Sepertinya pemuda terlalu jengah dengan kebisuan yang terlalu lama menggantung di udara.

Kata-kata Fil hanya disambut desisan oleh Cassie, sementara itu Liron mengirimkan tatapan sebal seolah-olah apa pun yang dikatakan pemuda itu tidak ada gunanya.

“Jadi kau memang hanya salah dengar, Nona Cassandra!” Dia memasang senyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya. Nampaknya dia tidak ingin menyerah begitu saja dengan argumen konyolnya itu.

“Penambahan kata ‘memang’ dan ‘Nona Cassandra’ tidak memoles argumen lamamu menjadi jauh lebih baik. Di atas semua itu, aku tidak salah dengar!” ketusnya dengan tangan terlipat di dada dan mencoba memasang wajah paling masam.

“Berarti aku salah bicara,” katanya lagi, agaknya masih mencoba memperbaiki kesalahan. Mendengar kata-kata pemuda itu membuat Cassie jadi semakin kesal, Tuan dan pembantunya sama saja. Sama-sama menyebalkan.

“Atau aku salah minum ramuan?” tembak Cassie dengan alis kiri terangkat.

Master, saya sepertinya harus membersihkan toilet!” Pemuda itu menunduk lalu mundur setelah Liron mengangguk mempersilahkan.

“Hey! Urusanmu di sini belum selesai!” Cassie bergerak maju, mencoba untuk mencegah Fil pergi dari tempat kejadian perkara, semua itu bisa menutup kemungkinannya untuk mendapatkan keadilan.

“Urusanmu yang belum selesai itu bisa diurus bersamaku!” Liron dengan cepat memposisikan diri di depan Cassie dan menghalangi gadis itu untuk mengejar Fil. “Kalau kau tidak keberatan, Nona Cassandra!”

Suara berat itu membuat Cassie berjengit. Gadis itu lalu menghentikan langkah lalu mendongak menatap pemuda berambut gelap dengan kacamata persegi yang berwajah dingin dan menyeramkan itu. Bibirnya mengulum senyuman, Cassie bersumpah senyum yang baru saja dilempar pemuda itu mengandung hawa bengis yang kental.

Well, baiklah. Bawahanmu keceplosan barusan, jadinya harusnya kau juga tahu kalau aku masih meminta pertanggungjawabanmu!” Cassie mengangkat tangan lalu memandangi kuku-kuku jarinya dengan menyebalkan. Dia harus tegar, terlihat cuek  dan bertingkah seolah mendapatkan satu informasi penting demi lancarnya negoisasi. Meski memang, hal yang baru dibeberkan Fil memang informasi. Fakta berharga yang mungkin membantunya untuk memukul telak pemuda sombong itu.

 “Kita akan urus itu nanti kalau semuanya sudah jelas!”

“Semuanya sudah jelas, kau hanya perlu bertanggung jawab!”

“Memangnya kau hamil hingga perlu ditanggung-jawab olehku?”

“Apa?” Mata Cassie membola seketika lalu dengusan tidak percaya keluar dari bibirnya. “Wah, bisa-bisanya kau!” Gadis itu mengipasi wajahnya yang memerah. “Ketus ya ketus saja, tapi kenapa sikapmu begitu! Wah! Wah!”

“Sampai mana kita tadi?” tanya Liron tidak mempedulikan keluhan Cassie yang tidak ada habisnya.

“Sampai mau minum racun yang tertunda, masih mau lanjut?” Gadis itu menyeringai. Rasanya ingin memukuli bibir pemuda itu dengan sepatu sekarang juga. Sial! Kenapa pula bibirnya semerah dan sepenuh itu! Huft!

Cassie berdehem pelan untuk melenyapkan apa pun yang melintas di benaknya, wajahnya benar-benar sudah memerah sekarang.

Liron menatapnya tanpa berkedip lalu senyuman menghiasi bibirnya. “Tentu. Aku akan buktikan kalau kau hanya mengada-ada.”

Pemuda itu mengangkat gelas dan bersiap meminumnya. Dia sepertinya benar-benar percaya diri bahwa ramuannya sama sekali tidak beracun.

“Tunggu!”

“Apalagi sekarang?”

“Bagaimana aku bisa tahu ramuan itu beracun atau tidak kalau efeknya baru akan terlihat setelah tidur dan tidak mungkin aku mengamatimu saat kau tidur nanti?”

“Kau boleh mengamati atau tidur bersamaku kalau kau mau,” tawar Liron hingga membuat Cassie rasanya ingin mengikat bibir pemuda itu memakai karet gelang.

“Kau sudah gila!”

“Kau yang gila kalau kau lupa!”

“Kau!” Cassie benar-benar mengangkat gelas terdekat sekarang.

“Hey, sabar! Letakkan itu!”

“Serius sedikit!” Cassie menurunkan gelas di tangannya dan Liron buru-buru menarik benda itu menjauh.

“Itu resikonya,” ucap Liron dengan nada lelah. Cassie membelalak sesaat, kenapa Liron yang lelah, harusnya dia yang lelah. Kenapa ini berkebalikan?

“Resiko apa maksudmu?”

“Kan tuduhanmu memang begitu. Ramuan yang membuat mimpi mesum, itu menurut informasi yang kau berikan, entah benar atau tidak. Bisa jadi ramuan ini akan bereaksi padaku, tetapi belum tentu aku serewel dirimu untuk menghebohkan mimpi panas.” Pemuda itu melempar senyuman tipis yang langsung berhasil membuat Cassie sebal.

“Tidak bisa begitu!” potong Cassie cepat.

“Sayangnya harus begitu!”

“Kita butuh pengaman!” katanya menolak untuk menerima begitu saja argumen yang diajukan Liron. “Maksudku pengaman sebagai parameter untuk mengukur efek larutan.”

“Apa misalnya?”

“Berikan aku ramuan yang bisa membuat mimpiku dan mimpimu terhubung, jadi aku tahu apa yang kau mimpikan nanti malam,” ucapnya.

“Ngaco!” Liron berdecak, saat itu Cassie bisa melihat tatapan mengejek terpapar di bola matanya. “Mana ada ramuan seperti itu!”

Cassie melipat lengan di dada, kata-kata Liron seperti pencerahan untuknya. Pemuda itu selalu bertingkah menyebalkan dengan memandang rendah orang lain. Dia seolah-olah terlahir dari jenis rahim yang berbeda dan tumbuh dengan organ tubuh yang tidak sama pula dengan orang lain. Pada kenyataannya dia bahkan tidak memiliki ramuan penghubung mimpi. Dia memang hanya mengada-ada soal ramuan penghubung mimpi itu. Hanya saja, dia tidak menyangka akan menemukan kepuasan batin dengan mendorong masalah ramuan konyol itu pada Liron.

Reaksi gugup Liron yang kentara sekali ingin menyumpal mulut siapa saja di dekatnya, membuatnya ingin tertawa. Sayangnya, dia harus menahan tawa hingga membuat perutnya terasa kaku. Ah! Andai dia bisa tertawa sekarang, dia akan benar-benar terbahak sampai menangis. Tertawa agak kurang bijak saat berada di dalam teritori musuh, maka Cassie berusaha untuk terus merekatkan kedua belah bibirnya.

“Kau pasti tidak bisa membuatnya!” ketus Cassie tanpa mau membuang kesempatan untuk membalas kelakuan pemuda itu.

“Bisa.” Suaranya terdengar bergetar sekarang dan pipinya memerah. Dia sepertinya benar-benar kaget dengan kata-kata Cassie barusan.

“Mana?”

“Ada. Tapi, tidak sekarang.”

“Artinya kau tidak punya ramuan itu sekarang!”

“Bukankah kau membutuhkan parameter, aku punya!” katanya cepat-cepat seolah-olah tidak ingin Cassie membahas lagi perihal ramuan penghubung mimpi yang konyol itu.

“Oke,” gumamnya nyaris tidak terdengar, apalagi yang bisa dilakukannya selain mengiyakan dan menunggu pemuda itu untuk mengeluarkan parameter entah apa itu.

Liron berjalan cepat menuju salah satu rak. Cassie menunggu hingga pemuda itu kembali beberapa menit setelahnya dengan satu ramuan kaca di tangan. Ada cairan berwarna bubblegum pink di dalamnya. Tampak manis dan enak, rasanya ingin mencicip ramuan itu. Dia mengggeleng, cepat-cepat menghapus keinginan sesaat yang menyesatkan itu.

“Aku akan menuangkannya ke dalam larutan, jika memang larutan yang kuminum ini beracun maka aku akan pingsan seketika. Saat itu, panggil Fil dan katakan semuanya padanya.”

“Hah? Bagaimana kalau kau sakit atau mati karena mencoba ramuan itu?” Ada ketakutan yang menyembul di dalam hati. Kalau sampai ada masalah dengan pemuda itu maka dia akan bertanggung–jawab, bisa juga menjadi tersangka.

“Tidak akan terjadi apa-apa karena ramuan ini sama sekali tidak beracun,” ucapnya santai sambil mengangkat gelas yang telah ditetesi ramuan merah muda. Cassie menahan napas kala tepian gelas itu menyentuh permukaan bibirnya.

“TIDAK! HENTIKAN!”

“Apalagi?” Liron kali ini mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya nyaris menyatu.

“Aku tidak akan bertanggung jawab pada apa pun yang terjadi padamu!”

“Memangnya aku itu kau, apa-apa minta tanggung jawab!” katanya sambil meneguk minuman di dalam gelas sampai tandas.

“Sial!”

 Liron mengernyitkan kening lalu wajahnya kembali normal. Cassie hanya bisa menatap dengan ludah besar menuruni tenggorokan dan mulut menganga lebar. Jantungnya rasanya jatuh ke kaki dan berdetak berkali lipat lebih cepat. Bagaimana bisa dia melakukan semua? Mungkinkah dia akan playing victim lagi nanti seperti yang baru saja dilakukannya. Dia nampak jago memainkan trik ini. Oh, tidak! Ini buruk!

Gerutuan itu masih menggema di dalam pikiran sementara jemarinya saling memilin. Telapak tangannya juga mengalami penurunan suhu hingga nyaris mendekati rasa dingin balok es. Namun, Liron masih berdiri dan menaruh gelas di atas meja. Pemuda itu nampak baik-baik saja.

“Kau lihat, aku baik-baik saja!” katanya santai. “Ramuanku sama sekali tidak beracun.”

Ekspresi percaya diri yang terpampang di wajah Liron sekarang membuatnya benar-benar marah. Bagaimana bisa ramuan itu beracun padanya tetapi tidak berpengaruh apa pun pada pemuda itu?

Bukannya mendoakan hal buruk akan terjadi, tetapi kalau ramuan itu tidak berpengaruh padanya maka kesaksian, tuduhan serta keluhannya akan diragukan. Tadi saja dia sudah dituduh mengada-ada, kalau dia masih baik-baik saja maka tuduhan itu bisa berbalik padanya, pencemaran nama baik dan sebagainya. Membayangkannya saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.

“Kita tunggu, sepuluh menit. Mungkin kau akan pingsan.”

“Oke.”

Sepuluh menit berlalu, penantian Cassie memanjang jadi tiga puluh menit dan disetujui Liron dengan enggan. Gadis itu juga terus- menerus mengetuk permukaan meja dengan ujung kuku. Jantungnya terus berdebar saat giginya mulai menggigiti bibir. Keringat dingin meluncur begitu saja seiring dengan ketakutan-ketakutan yang mulai membelah diri di dalam relung hatinya. Hanya satu pertanyaan, bagaimana ini bisa terjadi?

Matanya menatap pemuda yang nampak asik sendiri membuka buku di tangannya. Rasa-rasanya ada yang aneh. Melihat kejadian saat ini, mungkinkah dia dicurangi? Bisa saja ramuan merah muda itu tidak akan membuat peminumnya pingsan, itu hanya sweet talk, kata-kata manis untuk membuatnya percaya. Bisa juga Liron Cavern itu sudah memiliki penawarnya dan meminumnya sebelum kembali kemari tadi, jadi tidak akan terjadi apa-apa meski dia meminum ramuan itu. Kalau kedua kemungkinan itu benar, maka semuanya tipu muslihat. Dia telah ditipu mentah-mentah dan hanya ada satu cara untuk membuktikan semua itu.

Cassie berdehem pelan hingga membuat Liron mendongak dan mengalihkan perhatiannya dari buku yang sejak tadi dibacanya.

“Sudah menyerah?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Buatkan aku ramuan yang sama seperti yang kau minum!”

“Kau ingin aku minum itu lagi?”

“Tidak. Aku akan meminumnya!”

“Buat apa? Kau ini aneh!”

“Membuktikan kalau kau menipuku selama tiga puluh menit ini.”

“Kau yakin?”

Ujung bibir kiri Liron nampak gemetar dan semua ini tidak luput dari perhatian Cassie. Pemuda itu sedang ketakutan sekarang.  Dia pasti tidak membayangkan kalau kedoknya akan dibongkar.

“Ya.”

Pemuda itu mengangkat bahu lalu turun dari kursi. Dia mulai meracik ramuan di meja. Ya, ini satu-satunya cara. Kalau dia tidak pingsan setelah minum ramuan maka mungkin ramuan itu memang beracun atau Liron sudah meminum penawarnya. Kalau beracun maka dia pingsan dan dia akan menuntut pertanggungjawabannya. Diam-diam Cassie mengirimkan pesan kematian ke dalam email mantan pacarnya. Ya, mantan pacar. Hanya itu yang dimilikinya sekarang, seorang mantan pacar dan tidak ada orang lain yang bisa dihubungi. Mengatakan kalau terjadi apa-apa padanya maka dia ada di Starlight. Kalau dia mati, tentu saja. Meskipun, dia tidak peduli walau emailnya tidak dibaca. Dia juga menyalakan perekam di ponselnya untuk berjaga-jaga.

“Ini!” Liron menyodorkan gelas ramuan pada Cassie yang disambut gadis itu dengan tangan gemetar.

“Kalau kau takut, kau bisa berhenti!”

“Aku tidak takut!” tukas Cassie cepat lalu meneguk minuman di gelasnya sampai habis. Tidak ada rasa apa pun yang memukul lidahnya. Dia tersenyum lega saat larutan itu tandas dan dia menaruh gelas kosong itu di meja.

Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Tubuh Liron nampak mulai elastis dan melengkung sebelum pecah menjadi butiran-butiran warna. Senyuman itu memudar saat matanya mulai gelap, ruangan terasa ini berputar. Dia bisa merasakan kalau pipinya menampar lantai, namun tubuhnya benar-benar mati sekarang. Kalau ada penyesalan sebelum mati, Cassie menyesal meminum ramuan itu karena dia hanya memiliki mantan pacar yang tidak menuntut keadilan untuknya. Hanya mantan pacar.