Satu: Arya (Bagian-1)

by | Apr 24, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Namanya Arya dan semua orang memanggilnya begitu kecuali aku karena huruf ‘r’ terlalu sulit dibaca. Aku memanggilnya Yaya. Dia memintaku untuk tidak memanggilnya seperti itu di sekolah dan aku selalu pura-pura tidak ingat. Rumahnya ada di ujung depan gang, dengan halaman, dan jalan setapak dari batu-batu kali kecil yang memanjang dari pagar sampai ke depan teras. Aku suka berjalan di atasnya. Bunyinya renyah. Apalagi kalau kami berlarian. Lebih dari itu, aku suka karena dia sering bawakan batu-batu itu ke rumahku—yang ada di dalam gang, lebih kecil, sempit, tanpa halaman, dan tanpa setapak dengan batu-batu.

“Ini bisa untuk bakso,” katanya. Dia meletakkan beberapa batu kecil dengan bentuk bulat sempurna di depan mainan orang-orangan kertas yang baru aku beli. Kamu tahu, kan, mainan orang-orangan kertas? Yang dijual berbentuk lembaran dan di sana ada gambar karakter hanya dengan baju tidur minimalis atau pakaian dalam sehingga mudah untuk dilapisi baju-baju lainnya nanti. Setidaknya, aku membeli orang-orangan ini sepekan dua atau tiga kali. Setiap ada gambar yang baru.

“Bakso?” tanyaku.

“Siomay? Tahu goreng? Oh, pisang goreng!”

“Pisang enggak bulat begini, Yaya.”

“Nanti Arya bawakan lagi yang panjang-panjang untuk pisang goreng,” ujarnya.

Dia main ke rumahku setiap sore. Membawa mobil-mobilan atau helikopter mahal yang dibelikan papanya. Sementara aku hanya main orang-orangan kertas dengan perabotan rumah yang dibuat dari halaman buku tulis bekas. Kami tidak pernah mempermasalahkan itu. Main yaaa … main saja. Tapi dia tidak main denganku, dia main di sebelahku, menjalankan mobilnya di depan rumah kertas dan orang-orangan yang aku sandarkan ke tempat pensil—mereka sedang makan bakso, ceritanya.

Ada beberapa anak lain yang main di lapangan bola dengan rumah tapi kami tidak ingin berbaur. Mereka sudah lebih besar sedikit. Kelas tiga atau empat SD. Sementara kami baru saja masuk ke SD di tahun ajaran baru kemarin. Beberapa kali kami bergabung main dengan mereka dan Arya pulang dengan menangis karena mainannya dipinjam sampai lama. Dia hampir tidak memainkannya sama sekali di sepanjang sore. Mau meminta balik, kami tidak berani. Teras kecil di depan rumahku lebih aman. Hanya kami. Berdua saja sepanjang sore sampai menjelang maghrib.

Aku masih ingat rambutnya yang tebal dan seperti duri kaktus. Seolah tegak berdiri di atas kulit kepalanya. Lalu kulitnya yang lebih cerah dari kulitku. Giginya lepas dua di bagian depan ketika itu. Aku sudah lepas tahun sebelumnya dan sudah tumbuh baru. Ompong di depan tidak membuatnya berhenti tertawa terbahak-bahak.

Tapi apa yang diketahui anak-anak tentang cinta? Tidak ada. Mereka hanya bermain, bersama, menghabiskan hari, dan waktu pun berlalu cepat.  Mereka hanya tahu bermain, berteman, dan bersenang-senang. Di suatu sore, aku tersadar kalau rambutnya tidak lagi tegak, wajahnya mulai memanjang, rahangnya tegas, dan ketika itu, dia tidak lagi memanggilku di depan rumah. Tidak lagi membawakan batu untuk dijadikan bakso atau menenteng mainannya sendiri. Dia hanya berdiri dan berlalu dari depan pagar rumahku dengan teman-temannya yang lain. Siang itu di sekolah, salah seorang temannya bertanya apa aku pacarnya dan dia sepertinya malu dengan pertanyaan itu. Kami sudah SMP dan masih satu sekolah. Rumahnya masih di depan gang tapi sekarang lebih besar dan halamannya banyak berkurang. Batu-batu yang dijadikan setapak itu sudah berganti dengan paving blok segi enam.

Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi main denganku. Tidak bicara denganku di sekolah. Pura-pura tidak kenal kalau berpapasan. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Mungkin kehilangan. Mungkin juga penasaran. Tapi teman-teman perempuanku banyak dan mereka terus saja bercerita tentang cowok-cowok kece di sekolah. Arya termasuk satu yang kece, pintar, dan banyak disukai. Mereka banyak membicarakannya. Tentang apa yang dia sukai dan tidak sukai—kebanyakan mereka hanya tahu hal-hal yang biasa saja. Mereka tidak tahu kalau Arya masih mengompol sampai kelas tiga SD dan aku juga tidak akan memberitahukannya. Mereka tahu kalau Arya tidak suka makan ikan tapi mereka tidak tahu kalau ada cerita di baliknya dan aku tahu.

Suatu malam, telepon di ruang tengah rumah berbunyi. Ayahku yang mengangkat pertama kali dan memanggilku yang ketika itu sedang asyik mengerjakan PR sambil mendengarkan radio. Ada acara kirim-kirim salam dan salah seorang teman perempuanku berencana untuk mengirimkan salam sambil meminta lagu untuk geng kami. Sheila on 7 yang berjudul Dan cocok untuk iringan cerita cinta salah satu dari kami ketika itu yang baru saja putus dengan pacarnya, anak SMA sekolah lain. Aku tidak bisa melewatkannya karena dia pasti mengirimkan salam untuk mantan pacarnya itu dan mengatakan kalau dia masih cinta—seperti malam yang sudah-sudah.

Aku terdiam lama ketika mendengar suara di telepon.

“Manda?” tanya suara itu—yang sudah lebih berat dari tahun lalu, rasanya.

“Yaya?” sahutku.

“Arya,” ralatnya.

“Yaya.”

“Oke.”

“Ada apa?” Aku bertanya begitu karena tidak yakin dengan apa yang dia inginkan. Sudah lama sekali kami lupa—atau melupakan—kalau kami pernah berteman.

“Siapa itu Mirna?” tanyanya.

Nama itu. Aku kenal sekali.

“Anak geng gue. Kenapa?”

“Dia tadi nelpon ke rumah.”

“Terus?” Aku ingin tahu kelanjutannya karena memang aku yang memberikan nomer telepon rumah Arya ke Mirna. Dia sangat tidak sabaran sekali ingin bicara dengan Arya tapi menanyakan nomernya ke teman-teman cowoknya yang lain, dia tidak berani.

“Dia ngajak ngobrol.”

“Terus?”

“Itu doang,” jawab Arya tidak terlalu antusias.

“Terus kok lo nelpon gue?” pertanyaan ini aku tanyakan karena aku sudah pesan kepada Mirna untuk tidak memberitahukan Arya dari siapa dia dapat nomer rumahnya.

“Mau nanya doang,” jawabnya.

“Lo enggak nanya ada apa?” tanyaku.

“Yaaa … paling dia pengen caper ke gue. Apalagi?”

“Apalagi?”

“Minta dipacarin?” jawabnya cuek.

“Lo masih SMP,” ujarku.

“Lo juga.”

“Ah, bego!”

Arya lalu tertawa. Terbahak-bahak. Aku membayangkan dua gigi depannya yang copot dan wajahnya yang bulat dan putih seperti bakpau. Wajahnya yang dulu, yang sudah lama berganti.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Kami terdiam lama. Lalu dia bertanya.

“Gue mau main ke rumah lo. Boleh?”

“Main? Bawa helikopter? Mobil? Batu untuk jadi bakso?” tanyaku.

“Kalo bawa komik?” tawarnya. “Kita, kan, udah gede.”

“Komik?” tanyaku, lalu melanjutkan, “Sejak kapan kita udah gede?”

Mulai esok harinya, dia datang ke rumahku, setiap sore, dan kami duduk di teras sambil membaca komik tanpa banyak bicara. Tanpa teman-teman gengku ada yang tahu. Tanpa menyapa di sekolah. Tanpa pernah membicarakan kebiasaan itu pada siapapun juga—apalagi Mirna.

* * *