Satu: Arya (Bagian-2)

by | May 1, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Arya yang membawa komik, dua sampai lima setiap kali datang. Dia paling suka dengan komik Detektif Conan sementara aku membaca serial cantik. Awalnya, aku tidak menanyakan kenapa dia punya komik seperti Topeng Kaca dan Candy Candy yang ceritanya tentang cinta gadis muda lengkap dengan segala kerumitan tidak penting yang ada di dalamnya—Anthony harusnya bilang saja kalau dia suka dengan Candy, lalu selesai perkara! Tidak perlu dibuat sulit dengan segala drama.

Tapi, ini pikiranku sekarang—hampir lima belas tahun kemudian. Di waktu itu, aku meneteskan air mata ketika tiga bersaudara di komik Miracles mengalami hal buruk. Arya tidak pernah bertanya kenapa aku bisa sampai menangis seperti itu. Dia duduk saja di sampingku dan sesekali melirik.

Kamu tahu, kan, rasanya punya fase di mana kamu melakukan suatu hal, yang ketika itu terasa normal, tapi bertahun kemudian ketika kamu ingat lagi … yah, okelah itu normal—normal untuk umurmu dan cara pikirmu ketika itu. Kamu tidak bisa melakukannya lagi sekarang karena lobus frontalis-mu sudah berkembang sempurna dan bisa berpikir lebih baik. Aku hanya mau bilang; alay itu fase, kok, bukan sifat.

Tentang komik-komik serial cantik itu, akhirnya aku tahu kalau Arya sengaja membeli untukku. Dia menyimpan komik-komik itu terpisah dengan yang suka dia baca di kamarnya. Aku melihatnya sendiri ketika aku main ke rumahnya—waktu itu tidak ada siapapun di rumahnya, lain waktu aku ceritakan tentang hal ini dan alasannya. Sabar, ya. Balik ke urusan dia membelikan komik, ketika aku tahu itu, aku juga menangis seperti tapi aku tahan karena aku tidak ingin terlihat cengeng hanya untuk hal yang tidak penting seperti itu. Selanjutnya, aku mempermasalahkan bagaimana cara dia menyimpan komik-komik itu. Hal yang aku tuduhkan kepadanya waktu itu; sistem kasta.

“Bukan rasisme, ya?” dia balik bertanya.

“Rasisme?” aku mengerenyitkan keningku—pening. “Kok rasisme?”

“Kok sistem kasta?”

“Kok oon, sih?” aku pun jadi gemas.

“Apa yang mau dikastakan?” Arya masih bersikeras kalau istilah yang dia katakan itu benar.

“Menurut lo, rasisme itu apa? Lo coba, deh, buka RPUL. Punya enggak?”

Lalu aku pun memberikan penjelasan panjang-lebar tentang hal itu sambil mengumpulkan komik-komik yang ingin aku baca ulang. Aku juga menebak mana komik paling baru yang dia beli. Tebak-tebakan dengan diriku sendiri yang membuat kedatanganku ke kamarnya jadi sangat mendebarkan. Dua komik baru, aaah … Yaya sangat perhatian. Tiga komik baru … duh, aku terharu. Iya, ini enggak penting. Aku tahu.

Tapi….

Ah!

Oke. Itu hal penting. Sangat penting sampai-sampai aku mulai memperhatikan seberapa baru komik yang dia baca dari penampakan sampul dan mencari barcodenya kalau ada. Sampai sedetail itu. Keluarga Arya punya tiga mobil yang berjejer di garasi rumahnya, satu khusus dipakai untuk antar-jemput dia sekolah. Uang jajannya pun banyak. Untuk membeli beberapa komik setiap pekan, dia tidak akan kesulitan. Tapi, aku baru memahami itu semua ketika kami mulai beranjak remaja. Ketika komik-komik itu mulai aku ketahui harganya dan aku mulai membandingkan cara dia hidup dengan caraku hidup. Selama ini, aku hanya tahu bermain dengannya—tidak yang lain. Sekarang, aku hanya ingin tahu urusan membaca komik di sore hari dengannya—tidak yang lain.

Setelah beberapa bulan, aku mulai membaca komik-komik yang dia suka lalu mulai membaca pada Detektif Conan dan kami pun mulai bicara sambil membaca. Kadang bermain ‘Tebak Siapa Pembunuhnya’ untuk membuat suasana menjadi lebih menarik. Kebanyakan tebakanku benar. Itu mudah, bukan? Kamu hanya perlu tahu siapa yang paling tidak mungkin, paling tidak punya motif, dan paling tidak dicurigai.

“Lo sengaja jawab salah apa emang dari sananya lo emang ogeb?” tanyaku setelah membaca halaman terakhir dan ternyata tebakanku kali ini benar lagi seperti kemarin. Bedanya, kemarin taruhannya tidak ada. Sore ini, kami membuat permainan ini lebih menarik dengan memberikan hukuman pada yang salah menebak. Sebagai pemenang kemarin, aku meminta yang kalah untuk mentraktir pemenang makan bakso di pertigaan dekat gedung kelurahan. Di sana baksonya enak sekali. Aku sudah siap dengan kemungkinan kalau aku kalah dan harus merelakan tabungan yang sudah aku simpan berminggu-minggu untuk membeli tas baru. Tapi, aku menang. Anehnya, Arya kelihatan senang sekali ketika tahu kalau aku menang. Jadi aku menanyakan itu.

“Lo sengaja?” ulangku.

“Enggak,” jawabnya mencurigakan karena dia tersenyum lebar sekali, “emang ogeb, kok.”

“Oh, ya?” aku memperhatikan matanya yang berbinar dengan cara yang aneh—mana ada orang yang mau dikuras isi dompetnya karena kalah taruhan tapi matanya berbinar-binar seperti seolah baru saja mendapat hadiah.

“Ayok!”

“Ayok apaan?” tanyaku bingung.

Arya sudah bangkit dari duduknya dan merapikan komik-komik yang berceceran di meja plastik segiempat berwarna hijau yang ada di depan kami. Dia menumpuknya menjadi dengan cara yang terlalu rapi untuk ukuranku.

“Ngebakso,” jawabnya.

“Sekarang?”

“Kapan lagi?” dia balik bertanya. “Lo enggak laper?”

“Enggak,” jawabku. Tadi siang sepulang sekolah, aku makan nasi hangat dengan ikan asin dan sambal tomat. Jangan tanya enaknya kayak apa karena aku sampai tambah dua kali.

“Terus kapan, dong?” dia bertanya lagi. “Enggak mau sekarang emangnya?”

“Gue kenyang.”

“Nanti malam?”

“Malam?” ulangku. “Nanti malam minggu.”

“Iya, malam Minggu. Emang ada apa?” tanyanya.

Dia masih juga berdiri dan aku masih juga belum ingin berdiri dari dudukku. Tidak sebelum urusan ini diselesaikan dengan kesepakatan. Terlalu banyak bergerak setelah makan banyak itu sungguh sulit dan aku terlalu malas untuk melakukan gerakan kecil sekali pun. Mungkin satu-satunya hal yang tidak akan membuatku malas saat ini hanya gelindingan di lantai sambil membaca komik.

“Anak-anak mau main,” jawabku. Yang aku maksud dengan ‘anak-anak’ ini adalah teman-teman gengku yang memang punya jadwal khusus setiap malam Minggu untuk berkumpul di rumah salah satu anggotanya.

Kalau kamu heran kenapa di hari Sabtu aku masih sekolah, memang begitu di jaman itu. Sekolah sampai Sabtu. Sebelum itu, sekolah bahkan tidak dihitung dengan pembagian semester. Ada sistem lain yang namanya caturwulan—empat bulanan. Sama saja rasanya. Hanya saja, dengan sistem caturwulan, rasanya, ujian itu setiap sebentar datang.

“Emang harus ngumpul? Harus selalu ngumpul?” tanyanya.

“Iya,” jawabku, “kecuali yang mau pacaran.”

“Kalian masih SMP!”

“Lo juga!” balasku sengit.

“Kenapa gue dibawa-bawa?”

Arah pembicaraan ini mulai tidak bisa ditebak.

“Karena … hmmm, lo banyak yang suka,” jawabku asal.

“Kenapa kalau banyak yang suka?” tanyanya lagi. Kali ini dengan intonasi menuntut jawaban.

“Lo bakalan punya pacar.”

“Oh, ya?” dia mendengus kesal dan kembali duduk. Mengambil satu komik di tumpukan paling atas—yang sialnya adalah serial cantik dengan cerita paling menye-menye yang pernah aku baca. Setelah membuka beberapa halaman, dia menutupnya kembali dengan kesal, dan meletakkannya kembali ke meja.

“Gue kira lo suka itu,” sindirku.

“Suka apa?”

“Serial cantik.”

Aku bisa melihat dari sudut mataku kalau wajahnya memerah. Dia bangkit kembali dan berjalan ke ujung teras, memakai sendalnya, dan pergi begitu saja. Aku mencoba menghalangi dengan memanggil namanya.

“Yaya!”

Dia berhenti dan menoleh.

“Arya,” ralatnya. Lalu dia pergi begitu saja. Aku pun bingung harus melakukan apa tapi entah dari mana datangnya, aku malah berteriak kencang, “PEPAYA!”

Arya tidak menoleh lagi.

Di teras hanya tersisa satu tumpukan komik, penyesalan, dan kebingunganku kenapa sore ini bisa jadi seperti ini. Untuk hal ini, aku sangat  menyalahkan lobus frontalis-ku yang waktu itu belum berkembang sempurna.

* * *