Satu: Arya (Bagian-3)

by | May 8, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Pertengkaran kami yang kali ini membuatku gatal sekali untuk memberikan nama panggilan mengejek. Sejak kami kecil, aku enggak pernah melakukannya karena memang enggak terpikir mau memanggil dengan apa. Sementara dia juga melakukan hal yang sama; enggak pernah memanggil dengan sebutan apapun selain nama—namaku Amanda, apa aku sudah pernah menyebutkannya? Dia memanggilku dengan Manda. Iya, semembosankan itu memang.

Siang itu, setelah jam istirahat kedua, aku melihat dia melewati selasar di depan kelasku. Aku pun bangkit dari duduk, cepat-cepat keluar dari kelas, dan menyusulnya. Kakinya panjang, langkahnya pun panjang. Sialnya, hari itu sedang ada pelajaran Agama Islam dan aku harus memakai pakaian panjang dengan kerudung, membuat niatku untuk berlari jadi hanya tinggal setengah berlari—setengahnya lagi berjalan sambil mengangkat rok panjangku sampai ke betis.

“Pepaya!” teriakku dengan nada semanis mungkin. Aku memang berusaha manis-manis padanya karena ingin menawarkan perdamaian. Dia sudah tiga hari enggak datang ke rumah dan aku kehabisan komik untuk dibaca.

Arya berhenti, menoleh, dan melihatku dengan tatapan tajam—dan mungkin agak marah, entahlah.

“Ada apa?” tanyanya setelah aku mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.

Beberapa anak yang sedang nongkrong di luar kelas memperhatikan kami. Segerombolan cewek kelas tiga berbisik sambil lewat. Mereka tersenyum pada Arya lalu berpindah melihatku dengan tatapan sinis.

“Ayo ngebakso!” kataku tanpa basa-basi.

“Kenapa gue dipanggil ‘Pepaya’?” tanyanya. Kalimat itu keluar dari mulutnya dengan tenang tapi aku tahu, dia menuntut jawaban. Aku pun memberikannya.

“Karena tempo hari, waktu kita berantem, lo bawel banget kayak betet abis dikasih pepaya,” jawabku asal.

“Gue kayak betet?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawabku, “kayak betet. Tahu betet, kan?”

“Gue bawel kayak betet?” dia mengulang lagi pertanyaan itu. Kali ini dengan penekanan pada kata ‘betet’.

“Iya,” jawabku lagi.

“Karena gue bawel kayak betet abis dikasih pepaya …,” dia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “jadi lo kasih gue nama panggilan ‘pepaya’?”

Aku terdiam sebentar. Bukan untuk berpikir, bukan. Ketika dia mulai mempermasalahkan panggilan itu di pertanyaan pertama, aku sudah tahu kalau aku memakai pilihan kata yang salah. Harusnya aku memanggilnya ‘betet’ karena yang bawel, kan, betetnya … bukan pepayanya. Oh, bodohnya. Sekarang aku terdiam untuk menyiapkan jawaban brilian untuk ngeles.

“Hmmm … pepaya warnanya orens,” jawabku lagi—dan terdengar lebih bodoh dari yang aku harapkan. “Karena lo, kan, suka orens….”

Ah, sudahlah.

Aku tahu aku enggak akan bisa menemukan jawaban yang tepat untuk kesalahan panggilan ini sementara aku enggak bisa berpikir karena matanya menatap tajam mataku. Beberapa kali aku mengalihkan pandangan ke arah lain tapi setiap kali aku memandang ke arahnya—dengan tatapan yang dibuat sok santai—matanya pun menangkap mataku dan berhasil mengikatnya untuk saling berpandangan selama beberapa detik. Ini yang membuat otakku seolah membeku dan juga dengan suara lonceng tanda kelas akan dimulai.

“Kapan?” tanyanya.

“Nanti malam?” tawarku.

“Oke,” jawabnya menyetujui, “gue jemput?”

“Bisa bawa komik?” tanyaku hati-hati.

“Berapa?” dia balik menantang dengan bertanya tentang jumlah.

“Sepuluh?” jawabku.

“Oke. Gue ada dua belas komik serial cantik baru. Gue bawa semua,” ujarnya.

Kami masih terdiam dan saling memandang ketika kemudian aku tersadar kalau selasar sudah sepi. Aku harus kembali ke kelas. Aku membalik badanku dan berjalan beberapa langkah ke arah pintu kelas, tapi kemudian aku berhenti lalu berbalik ke arahnya. Dia masih berdiri di sana. Memperhatikanku.

“Jam setengah delapan, ya, Pepaya!” kataku dengan suara lumayan lantang.

Reaksinya di luar dugaanku. Dia tertawa dan kemudian pergi. Kelasnya ada di ujung dan aku bisa melihatnya berlari melewati pot-pot bunga yang disusun di bagian luar selasar yang berbatasan dengan lapangan basket.

Aku masih memikirkan kejadian ini sampai beberapa tahun kemudian. Siang itu, aku baru tersadar kalau pertemananku dengannya berubah. Kami bulan lagi sepasang teman kecil yang bermain di teras rumahku ketika sore datang, kami sudah mandi, dan ibu-ibu kami memakaikan bedak cemong ke wajah kami. Bukan juga pertemanan yang dilekatkan dengan tumpukan komik dan jadwal membaca bersama—masih di teras rumahku, masih ketika sore datang, tapi sudah enggak dengan bedak cemong dan seringkali aku belum mandi.

Ketika aku menatap matanya di selasar tadi, aku merasakan ada yang beda. Hal itu membuatku enggak bisa berpikir dan mengikuti pelajaran sampai jam pulang sekolah—padahal itu pelajaran matematika dan biasanya aku sangat menyukainya. Sepulang sekolah, aku pun kehilangan napsu makan. Aku hanya terdiam di tempat tidur dengan buku fisika terbuka di sebelahku. Besok ada ulangan dan di hari normal, aku akan langsung makan siang ketika sampai di rumah, belajar sampai Arya datang, membaca komik bersama, lalu setelah makan malam, aku melanjutkan lagi belajar sampai mengantuk. Tapi siang sampai sore, aku hanya terdiam. Mengurai dan memahami rumus fisika enggak menarik lagi buatku—aku ingin mengurai kerumitan hatiku sendiri.

Kamu ingat enggak dengan rumus gerak lurus berubah beraturan atau yang disingkat GLBB untuk efek lebih menyeramkan? Aku tahu ini akan membosankan, tapi bersabarlah, ya. Kalau aku ceritakan ini, kamu akan paham dengan apa yang membuatku bengong bego sejak siang sampai sore—dan aku ingat rumus ini karena seharusnya siang itu aku belajar tentang rumus ini.

Vt = V0 + a.t

Karena V0 = 0, lalu a = g, jadi rumus dapat berubah menjadi: Vt = g.t

Keterangan:

Vt = kecepatan (m/s)

g = percepatan gravitasi (m/s2)

t = waktu (s)

Gerak lurus berubah beraturan itu adalah gerakan benda jatuh secara vertikal dan dimulai dari kecepatan 0 m/s. Lalu benda itu dijatuhkan dan kecepatan jatuhnya—kalau melihat rumus di atas—akan sama dengan percepatan gravitasi bumi. Kamu masih ingat? Percepatan gravitasi bumi itu 9,8 m/s2. Kamu lihat tanda kuadrat di sana? Sembilan koma delapan meter persekon kuadrat? Itu artinya, semakin mendekati bumi, semakin cepat jatuhnya—karena itu dia disebut percepatan dan bukan hanya sekadar kecepatan karena kecepatan itu konstan.

Ah, aku mulai berceracau. Tapi aku enggak bisa untuk enggak memikirkan rumus ini sampai sekarang. Arya dan rumus GLBB adalah dua hal yang enggak terpisahkan.

Jadi, aku lanjutkan, ya.

Ini sama dengan apa yang aku rasakan padanya siang itu; mulai dari kecepatan 0 m/s dan jatuh sejauh-jatuhnya sampai ke permukaan bumi dan menghantam sampai remuk, seperti itu rasanya jatuh cinta padanya. Berat badanku—yang kemudian aku jadikan analogi untuk merujuk pada dekatnya pertemanan kami—jadi enggak relevan sama sekali. Di GLBB, yang penting hanya percepatan gravitasi bumi dan waktu untuk mengukur kecepatan jatuhnya. Percepatan gravitasi dan lama waktu jatuh ini bisa dipakai untuk menghitung sejauh apa aku jatuh padanya—tapi aku sudah enggak ingin memahaminya lagi karena aku tahu, pada akhirnya, enggak ada rumus apapun yang bisa menjelaskan ini semua. Satu-satunya hal yang aku inginkan dan bisa lakukan untuk mencari tahu hanya; menutup buku fisikaku, mandi, lalu berpakaian karena ketika aku tersadar, matahari sudah terbenam sore itu.

Aku bangkit sambil mengamini perkataan Einstein: Gravitasi enggak bertanggung jawab pada jatuh cinta.

Tapi tatapan matanya siang tadi, bisa jadi iya. Bisa jadi sangat bertanggung jawab. Kalau gambar yang digunakan untuk menjelaskan GLBB di kelas adalah apel yang jatuh dari pohonnya—untuk menghormati Newton sebagai penemu teori gravitasi yang kepalanya terantuk apel jatuh ketika menemukan teori itu—maka teori jatuh cintaku ini bisa memakai imaji pepaya jatuh dari pohonnya dan mendarat di kepalaku.

Oh, by the way … ulangan fisikaku selalu di atas sembilan. Begitu juga dengan ulangan keesokan paginya walaupun malamnya aku enggak bisa tidur sama sekali. Makan bakso karena menang taruhan itu pun jadi kencan pertama yang mengesalkan tapi juga hampir membuatku menjatuhkan hatiku ke aspal di pinggir jalan—aku enggak akan menghitung dan menjelaskan berapa kecepatan jatuhnya, tenang saja.

Aku akan ceritakan pekan depan.

* * *